Gemuruh hujan di luar terdengar sampai ke dalam. Ketukan high heel hitam menggema di lorong sempit hotel itu. Setiap langkah terasa menancap di udara yang sudah berat oleh hawa malam. Liora berhenti tepat di depan pintu 369. Jantungnya berdetak kencang, tapi tatapannya dingin. Tidak peduli risiko setelah ini, ia hanya ingin lepas dari tekanan siapa pun.
Tangannya memutar gagang. Pintu terbuka dengan suara berdecit pelan. Kamar gelap, hanya diterangi bias pucat sinar bulan yang menembus tirai tipis. Bau parfum maskulin bercampur aroma hujan menyambutnya.
Suara napas berat terdengar dari sudut tempat tidur.
"Siapa?!" suara itu rendah, serak, seperti harimau yang baru terbangun.
"Aku," jawab Liora, bibirnya melengkung sinis. "Kenapa? Kau minum obat?"
Tidak ada jawaban, hanya nafas yang semakin berat.
Dia melangkah mendekat, tumit sepatunya bergeser di karpet. "Apa kau takut tidak sanggup menghadapiku?" bisiknya. Ia menunduk, duduk di pangkuan pria itu, jarinya mengelus rahang kokoh itu pelan, seolah memetakan setiap lekuknya.
"Jangan gila, pergi!" geramnya.
"Oh, tidak-tidak..." Liora menunduk lebih dekat, suaranya nyaris menjadi gumaman di telinga pria itu. "Kita akan sama-sama gila malam ini."
Dia hendak mendorongnya, tapi bibir Liora sudah lebih dulu membungkam. Hangatnya mengejutkan. Pria itu membalas dengan cepat, keras, membuat nafas Liora tersengal.
"Ciuman yang buruk," ejeknya saat menarik diri sebentar.
"Kau juga," balas Liora, tangannya mulai membuka kancing kemeja pria itu satu per satu.
Tatapan mereka saling mengunci, panas, penuh tantangan.
"Apa ini? Kau bilang aku buruk, tapi lihat kenyataannya?" Liora menekan tubuhnya, menggesekkan pinggulnya perlahan. Pria itu menggeram, tangannya menahan pinggang Liora dengan cengkeraman yang nyaris menyakitkan.
Dalam hitungan detik, dia menarik tubuh Liora dan membalikkan mereka di kasur. Suara kain gesek, dentum kepala ranjang, dan degup jantung yang berpacu. Bibir pria itu berpindah ke lehernya, meninggalkan jejak panas yang membuat Liora hampir kehilangan nafas.
Tapi Liora belum menyerah. Dengan satu dorongan terlatih, kode halus membuat posisi berbalik, dia berada di atas. Tatapan tajamnya jatuh ke mata pria itu.
"Giliran aku yang mengatur permainan," bisiknya, sambil mulai bergerak perlahan, menguji setiap reaksi di bawahnya.
Liora menunduk, ujung rambutnya jatuh membingkai wajah pria itu. Sinar bulan menyapu garis rahangnya, membuatnya terlihat semakin tajam. Telapak tangannya bergerak perlahan dari d**a bidang itu, meraba otot yang menegang setiap kali ia menekan pinggulnya.
“Kau… benar-benar nekat,” gumam pria itu, matanya memperhatikan setiap gerakan Liora.
“Bukan nekat,” bibir Liora menyentuh telinganya, suaranya hangat, berbisik. “Aku hanya tahu apa yang ku mau malam ini.”
Dengan gerakan perlahan tapi penuh percaya diri, tangannya meraih tali dress yang sedikit melorot. Jari-jarinya menyusuri kain halus itu, menggoda dan perlahan ia melepaskan satu tali demi satu tali, membiarkan dress itu turun sedikit demi sedikit.
Sinar bulan menari di kulitnya yang terekspos, cahaya lembut membuat lekuk tubuhnya semakin menggoda. Ia menyunggingkan senyum tipis, menatap pria itu dengan mata penuh tantangan. Saat dress itu akhirnya tergelincir, Liora membiarkan dirinya benar-benar terbuka, tubuhnya menyentuh hangat kulit pria itu.
lalu merambat ke kemeja pria di bawahnya. Jari-jarinya bergerak pelan membuka sisa kancing satu per satu, membiarkan kulit bidang pria itu semakin terekspos di bawah sentuhannya. Nafasnya hangat menyapu d**a pria itu, membuatnya merinding.
Setelah kemeja itu terbuka lebar, Liora menurunkan tangannya ke gesper pinggang pria itu, perlahan melepasnya dengan gerakan menggoda. Mata pria itu menatap tajam, namun ada getar tak sabar yang mulai muncul.
Dengan gerakan yang sama hati-hati dan sensual, Liora menurunkan resleting celana pria itu sedikit demi sedikit, menyentuh kulit hangat di bawahnya. Sentuhan-sentuhan kecil itu membuat pria di bawahnya tak mampu menahan diri, nafasnya memburu dan genggaman tangannya menjadi lebih kuat.
“Kau mengujiku!” Suara pria itu dalam, penuh gairah dan sedikit tantangan. Dengan sekali tarikan, Liora terhempas lembut ke atas tubuhnya. Kulitnya yang hangat menyentuh kulit pria itu tanpa ada batasan kain di antara mereka, menciptakan gelombang listrik yang menggetarkan.
Pria itu mendesah pelan, merasakan kehangatan tubuh Liora yang menempel erat. Dalam gerakan yang cepat dan penuh percaya diri, ia melepaskan celananya, seolah sudah mahir dalam ini. Dress Liora pun terlepas dan dilemparkan begitu saja ke sudut ruangan, meninggalkan mereka dalam keintiman yang murni.
Dengan keberanian yang memuncak, Liora mulai menggesekkan tubuh bagian bawahnya perlahan ke bagian tubuh pria yang sudah menegang di bawahnya. Sentuhan hangat dan gerakannya yang menggoda membuat pria itu tak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Pria itu mencoba membalikkan posisi lagi, tapi Liora menahan dadanya dengan telapak tangan. “Jangan buru-buru… kita belum benar-benar mulai,” ujarnya sambil menelusuri lehernya dengan bibir, memberi gigitan ringan yang membuat pria itu mengerang pelan.
Tanpa peringatan, dengan sekali hentakan penuh tenaga, pria itu menerobos masuk, membuat tubuh mereka menyatu dalam ledakan gairah yang tak tertahankan.
Liora menjerit kecil, tubuhnya meringis merasakan hentakan itu. Suara desahnya mengisi ruangan, memecah keheningan malam. Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam dan senyum mencemooh di bibirnya.
“Baru pertama kali, hm?” goda pria itu dengan nada penuh ejekan, membuat Liora hanya bisa terdiam, tak mampu menjawab.
Dengan tenaga dan kecepatan yang tak terduga, pria itu membalikkan posisi mereka. Kini, ia yang berada di atas, menggenggam tubuh Liora dengan kuat sambil mulai bergerak menggila.
Gerakannya cepat, penuh gairah dan kekuatan, membuat Liora kewalahan mengikuti irama yang liar dan tak kenal ampun. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya berguncang mengikuti ritme yang terus memuncak.
Udara di kamar itu kini pekat oleh suara nafas, desahan, dan gesekan tubuh. Hujan di luar masih mengguyur, namun di dalam sini, badai yang lain sedang pecah.
Liora yang masih merasakan sisa sakit dan kesal perlahan mengumpulkan tenaga. Dengan gerakan kasar namun penuh tekad, dia membalikkan posisi, kini dirinya berada di atas. Tatapannya tajam, menguasai permainan yang sempat membuatnya kewalahan.
Pria itu hanya tersenyum tipis, menyerah pada kendali Liora tanpa perlawanan. Ada kenikmatan tersendiri baginya melihat wanita yang awalnya sedikit kaku mulai menunjukkan sisi dominan dan percaya diri. Perlahan, mereka pun mulai menari dalam ritme baru yang diciptakan oleh Liora sendiri.
Gaya demi gaya berganti tanpa henti, seolah waktu berhenti untuk mereka berdua. Setiap sentuhan dan gerakan membakar hasrat, mengukir kenangan malam yang tak terlupakan di kamar itu.
Panas tubuh mereka saling berpadu, menari dalam irama gairah yang terus memuncak, hingga tengah malam tiba, nafas mereka sama-sama tersengal dan tubuh terbaring letih di atas kasur yang sedikit berantakan. Ruangan dipenuhi aroma hangat dan sisa-sisa gairah yang baru saja terlepas.
Dengan sedikit oleng, pria itu meraih selimut yang tadi terjatuh di lantai dan menutupi tubuh mereka berdua. Mata mereka bertemu sesaat, tersenyum lelah namun, penuh kehangatan, sebelum akhirnya terbuai dalam keheningan malam yang damai.
Sementara itu sebuah denting pesan masuk, memecah kesunyian malam. Dari dalam tas kecil, benda persegi menyala
, layar kecil itu menampilkan sebuah pesan singkat.
"Kamu di mana? Kamar 396.”