Gedung Utama Perusahaan Rasendriya
Jakarta Selatan
*
Lift itu berhenti di lantai dua puluh delapan dan pintunya terbuka.
Mahawira keluar sambil merapikan lengan jasnya. Sepanjang lorong menuju ruangannya, semua orang yang berpapasan dengannya langsung menghentikan pembicaraan mereka lalu menundukan kepala.
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi, Pak Wira."
Pria itu hanya mengangguk sekali tanpa menoleh.
Ayu sudah menunggu di depan pintu ruangannya dengan setumpuk map di tangan.
"Selamat pagi, Pak. Ini laporan selama Bapak di Jepang," ujar Ayu.
"Taruh di meja."
"Hari ini jadwalnya cukup padat. Jam sepuluh rapat direksi, jam satu dengan tim keuangan, jam tiga -"
"Semuanya jalan," potong Mahawira.
Ayu terdiam sesaat, "Semuanya, Pak?"
"Iya."
"Tapi Bapak baru pulang tadi malam. Biasanya Bapak ambil satu hari untuk -"
"Ayu."
"Baik, Pak."
Wanita itu pun mengikuti atasannya masuk ke dalam ruangan lalu meletakkan map - map itu di atas meja.
Setelah Ayu keluar, Mahawira duduk di kursinya dan menyalakan komputernya. Layar itu menyala dan menampilkan gambar latar yang sudah dua tahun tidak pernah ia ganti.
Foto pernikahannya sendiri.
Pria itu menatap foto itu beberapa detik, lalu membuka aplikasi kerja sampai foto itu tertutup sepenuhnya.
* * * * *
Ponselnya berdering pukul dua siang.
"Halo, Pa," sapa Mahawira.
"Kamu sudah di Jakarta?" tanya Bara dari seberang telepon.
"Sudah. Tadi malam."
"Sudah lihat anakmu?"
Mahawira menyandarkan punggungnya ke kursi, "Sudah."
"Bagaimana? Sehat?"
"Sehat."
Hening beberapa saat di seberang telepon.
"Wira," panggil Bara.
"Iya, Pa."
"Kamu ini kalau bicara dengan Papa, jangan seperti bicara dengan klien."
Mahawira memijat pelipisnya sendiri, "Maksud Papa apa?"
"Maksud Papa, dua bulan yang lalu kalau Papa tanya soal istrimu, kamu bisa cerita sampai setengah jam. Sekarang jawabanmu cuma satu kata," ujar Bara.
"Saya sedang banyak kerjaan, Pa."
"Kerjaan itu memang tidak pernah habis. Yang bisa habis itu yang lain."
"Papa mau bicara soal apa lagi?"
Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon.
"Ya sudah. Kalau kamu belum mau cerita, Papa tidak akan memaksa," ujar Bara, "Tapi ingat satu hal. Papa membangun perusahaan itu supaya keluarga kita tidak susah. Bukan supaya keluarga kita hancur."
Panggilan berakhir.
Mahawira meletakkan ponselnya di atas meja dan menatapnya cukup lama.
Sore itu, pria yang biasanya pulang pukul enam justru masih duduk di ruangannya sampai pukul sepuluh malam, dengan setumpuk dokumen yang sebenarnya sudah selesai ia periksa sejak jam delapan.
Ayu sempat mengetuk pintu sekitar pukul delapan sambil membawa sekotak makanan.
"Pak, saya belikan makan malam."
"Taruh saja."
"Bapak belum makan dari siang."
"Saya bilang taruh saja."
Wanita itu meletakkan kotak makan itu di sudut meja, lalu berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, "Pak, apakah semuanya baik - baik saja di rumah?"
Mahawira mengangkat kepalanya dari layar.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak apa - apa, Pak. Saya cuma -"
"Keluar."
Ayu langsung membungkuk lalu keluar dari ruangan itu tanpa berkata apa - apa lagi.
Setelah pintu tertutup, Mahawira menatap kotak makan di sudut meja itu cukup lama.
Lalu ia membuangnya ke tempat sampah tanpa membukanya sama sekali.
* * * * *
Rumah Mahawira dan Callista
Pukul 23.10
*
Lampu ruang tamu masih menyala ketika Mahawira membuka pintu.
Callista duduk di sofa dengan Grayson dalam gendongannya. Wanita itu langsung menoleh begitu mendengar suara pintu.
"Kamu belum tidur?" tanya Mahawira sambil melepas sepatunya.
"Belum."
"Ibumu mana?"
"Pulang tadi sore. Warungnya sudah dua minggu ditinggal."
Mahawira mengangguk lalu berjalan melewati ruang tamu menuju kamar.
"Mas," panggil Callista.
Pria itu berhenti tapi tidak berbalik.
"Kamu belum menggendongnya," ujar Callista.
Hening.
"Sudah dua hari, Mas."
"Aku capek, Callista."
"Aku tidak minta kamu menggendongnya sekarang. Aku cuma minta kamu bicara denganku," ujar Callista sambil berdiri perlahan agar tidak membangunkan anaknya.
Mahawira akhirnya berbalik.
Dan begitu Callista melihat wajah suaminya di bawah lampu ruang tamu, wanita itu langsung tahu bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar lelah.
"Kamu kenapa?" tanya Callista pelan.
"Tidak apa - apa."
"Mas."
"Aku bilang tidak apa - apa."
"Kalau tidak apa - apa, kenapa kamu tidur di sofa? Kenapa kamu bahkan tidak mau melihat anakmu sendiri lebih dari dua detik?"
Mahawira menoleh cepat, "Anakku?"
Satu kata itu keluar dengan nada yang salah, dan Callista langsung merasakannya.
"Apa maksudmu?" tanya Callista.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru berjalan ke arah kamar, membuka lemari, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan melemparkannya ke atas tempat tidur.
Sebuah amplop cokelat.
Callista mengikutinya masuk ke kamar sambil tetap menggendong Grayson, "Apa ini?"
"Buka saja."
Dengan satu tangan, Callista membuka amplop itu dan menarik isinya keluar.
Empat lembar foto jatuh ke atas seprai.
Wanita itu menatapnya satu persatu. Eric membukakan pintu mobil. Eric menuntunnya masuk ke rumah sakit. Eric duduk di kursi tunggu. Eric berdiri di samping boks bayi.
"Ini," ujar Callista, "ini malam aku melahirkan."
"Aku tahu."
"Eric yang mengantar kami, Mas. Aku dan Ibu. Jam dua belas malam. Karena aku tidak bisa menyetir dan Ibu tidak punya SIM," ujar Callista dengan suara yang mulai bergetar.
"Aku juga tahu."
"Lalu kenapa kamu melemparkan ini ke depanku?!"
"Karena aku sudah menatap foto ini setiap malam selama tiga hari, Callista!" balas Mahawira dengan suara yang akhirnya meninggi.
Grayson menggeliat di gendongan Ibunya. Callista langsung mengusap punggung anaknya sambil menahan diri agar tidak ikut meninggikan suara.
"Terus kamu mau bilang apa?" tanya Callista.
Mahawira berdiri di ujung tempat tidur dengan dada naik turun.
"Aku pergi satu bulan," ujar pria itu.
"Iya."
"Satu bulan, Callista. Dan yang berdiri di samping kamu malam itu bukan aku."
"Kamu yang memilih pergi."
"Aku tidak memilih!"
"Kamu bisa menolak, Mas. Kamu CEO. Kamu yang paling bisa menolak di seluruh perusahaan itu."
"Itu perintah Papa."
"Dan aku istrimu!" balas Callista, "Aku menelepon kamu lima kali malam itu. Lima kali, Mas. Dan tidak satu pun kamu angkat."
Mahawira terdiam.
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan waktu aku di ruang bersalin?" lanjut Callista, "Aku memikirkan kamu yang berlutut di lantai kamar ini sambil bilang bahwa rapat bisa diulang tapi anak lahir tidak bisa diulang."
"Callista -"
"Jadi jangan berdiri di sana sambil melempar foto ke mukaku seolah aku yang bersalah."
"Tapi kamu juga tidak memilih untuk pulang!" balas Callista akhirnya.
Ruangan itu hening seketika.
Mahawira menatap istrinya lekat - lekat, dan untuk sepersekian detik, wajahnya melembut.
Lalu sesuatu yang lain naik ke permukaan dan menutupinya kembali.
"Kadang aku berpikir," ujar Mahawira dengan suara yang jauh lebih pelan tapi jauh lebih dingin, "kalau saja aku tidak pernah menikah denganmu."
Callista membeku di tempatnya.
"Mas -"
"Dan kadang aku berpikir," lanjut pria itu, "apa benar anak itu anakku."
Waktu seolah berhenti di ruangan itu.
Callista tidak berteriak. Ia bahkan tidak menangis. Wanita itu hanya berdiri diam sambil memeluk anaknya lebih erat, seolah baru saja ada seseorang yang mencoba mengambil bayi itu dari tangannya.
"Kamu," ujar Callista dengan suara yang nyaris tidak terdengar, "kamu bilang apa barusan?"
Mahawira memalingkan wajahnya.
"Ulangi," ujar Callista.
Pria itu tidak mengulanginya. Ia justru berbalik dan berjalan keluar dari kamar.
Brakk ! ! !
Pintu itu tertutup.
Callista berdiri diam di tengah kamar selama beberapa detik yang terasa seperti bertahun - tahun. Lalu perlahan, kakinya melemas dan wanita itu terduduk di tepi tempat tidur.
Grayson mulai menangis di dalam gendongannya, dan barulah setelah itu air mata Callista jatuh, satu persatu, tanpa bisa ia hentikan lagi.