Rumah Eric
Jakarta, Indonesia
*
Awalnya Asti kaget karena tamu majikannya itu justru berdiri di dapur pukul enam pagi sambil memegang lap.
"Astaga, Mbak Callista! Itu biar saya saja," pekik Asti sambil buru - buru menghampiri.
"Sudah hampir selesai kok, Mbak."
"Nanti kalau Mas Eric tahu, saya yang dimarahi."
"Ya sudah, jangan bilang - bilang," balas Callista sambil terus mengelap permukaan meja dapur.
Asti berdiri diam sambil memegang kedua pinggangnya, "Mbak ini kan baru melahirkan."
"Sudah tiga minggu, Mbak. Bukan tiga hari."
"Tetap saja."
Callista tertawa kecil lalu meletakkan lapnya, "Mbak Asti, saya ini kalau tidak pegang apa - apa malah tambah pusing. Sungguh."
Wanita paruh baya itu akhirnya menghela napas dan menyerah. Selama tiga tahun bekerja untuk Eric, baru kali ini ia bertemu tamu yang justru bangun lebih pagi darinya dan membersihkan rumah yang bukan miliknya.
"Ya sudah. Tapi yang berat - berat biar saya," ujar Asti.
"Siap."
Dari dalam kamar terdengar suara tangis kecil. Callista langsung meletakkan semuanya dan berjalan cepat ke arah kamar.
"Sudah bangun, ya," ujar Callista sambil mengangkat anaknya dari boks.
Grayson berhenti menangis begitu berada di gendongan Ibunya. Bayi itu menggerakkan mulutnya, mencari, sampai akhirnya Callista duduk di tepi tempat tidur dan menyusuinya.
Kamar itu bukan kamarnya. Boks itu bukan boks yang dirakit sampai jam dua pagi oleh seseorang. Selimut, tirai, bahkan bau ruangannya semua berbeda.
Tapi anaknya tidur nyenyak di sini, dan itu sudah cukup untuk sekarang.
Ponsel Callista bergetar di atas nakas. Nama Ibunya muncul di layar.
Wanita itu menghela napas sebentar, mengatur nada suaranya, lalu menerima panggilan itu.
"Halo, Bu."
"Halo, Nak. Lagi apa?" tanya Yunita.
"Lagi menyusui."
"Grayson sehat?"
"Sehat, Bu. Tadi malam cuma bangun dua kali."
"Suamimu bagaimana? Sudah tidak terlalu sibuk?"
Callista menatap dinding kamar di depannya.
"Sudah lumayan," jawabnya, "Tadi pagi dia berangkat pagi sekali."
"Ya sudah, kamu jangan capek - capek. Nanti kalau warung sudah agak sepi, Ibu ke sana lagi."
"Tidak usah repot, Bu."
"Repot apanya."
"Sungguh, Bu. Nanti kalau aku butuh, aku telepon," ujar Callista cepat.
Setelah panggilan berakhir, wanita itu meletakkan ponselnya di kasur, lalu menunduk menatap anaknya yang masih menyusu dengan mata terpejam.
"Maaf ya, Nak," bisik Callista, "Ibu bohong lagi."
* * * * *
Eric pulang sekitar pukul delapan malam.
Pria itu meletakkan tasnya di sofa, melepas dasinya, lalu berjalan ke arah meja makan tempat Callista sudah duduk lebih dulu.
"Mbak Asti sudah pulang?" tanya Eric.
"Sudah, jam enam."
"Kamu masak?"
"Cuma sup."
Eric menarik kursi dan duduk, "Kamu ini disuruh istirahat malah masak."
"Kalau aku diam saja seharian, aku bisa gila, Rik."
Keduanya makan tanpa banyak bicara selama beberapa menit. Sampai akhirnya Callista meletakkan sendoknya dan menatap sahabatnya itu.
"Rik," panggil Callista.
"Hm?"
"Aku mau cerai."
Eric berhenti mengunyah.
Pria itu meletakkan sendoknya perlahan, menyeka mulutnya dengan tisu, lalu menatap Callista dengan wajah yang jauh lebih serius dari biasanya.
"Kamu yakin?" tanya Eric.
"Sudah lima belas hari aku di sini, Rik. Dia tidak menelepon sekali pun."
"Sekali pun?"
"Sekali pun."
Eric menyandarkan punggungnya ke kursi, "Callis, aku tanya sekali lagi. Kamu yakin? Bukan karena marah, bukan karena capek, tapi karena kamu memang sudah memutuskan?"
Callista terdiam cukup lama.
Sebenarnya ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu sejak seminggu yang lalu. Ia bahkan sudah melatihnya di depan cermin kamar mandi. Tapi begitu pertanyaan itu benar - benar keluar dari mulut orang lain, semua latihan itu langsung hilang.
"Aku tidak yakin," jawab Callista akhirnya.
"Nah."
"Tapi aku juga tidak mau anakku besar di rumah yang ayahnya berpikir dia bukan anaknya," lanjut Callista.
Eric terdiam.
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Rik?" ujar Callista sambil menatap ke arah piringnya sendiri, "Bukan waktu dia bilang menyesal menikah denganku. Itu masih bisa aku maafkan. Orang kalau marah bisa bicara macam - macam."
"Lalu?"
"Yang tidak bisa aku maafkan itu yang satunya."
Eric mengangguk pelan. Ia tidak perlu bertanya bagian mana yang dimaksud.
"Aku punya teman pengacara," ujar Eric akhirnya, "Namanya Budi. Anaknya baik, tidak suka memperkeruh."
"Aku belum punya uang untuk bayar pengacara."
"Siapa yang menyuruh kamu bayar?"
"Rik."
"Sudah, nanti aku hubungi dia dulu. Kamu belum harus memutuskan apa - apa malam ini," ujar Eric sambil berdiri dan membawa piringnya ke wastafel.
"Rik."
"Apa lagi?"
"Kalau nanti aku berubah pikiran, kamu marah tidak?"
Eric menoleh sambil mengerenyitkan dahinya, "Kenapa aku harus marah?"
"Ya siapa tahu."
"Callis, ini rumah tanggamu. Bukan rumah tanggaku," jawab Eric, "Aku cuma menyiapkan payung. Mau dipakai atau tidak, terserah kamu."
Callista menatap punggung sahabatnya itu.
"Rik," panggilnya lagi.
"Apa?"
"Maaf ya."
Eric menoleh sambil mengerenyitkan dahinya, "Maaf kenapa?"
"Karena aku merepotkan kamu. Karena gara - gara kamu mengantar aku ke rumah sakit, kamu jadi ikut kena."
Pria itu menyalakan keran, mencuci piringnya, lalu menjawab tanpa berbalik.
"Kalau malam itu aku tidak mengantar kamu, aku yang tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," ujar Eric, "Jadi jangan minta maaf untuk hal itu. Sekali pun."
* * * * *
Gedung Utama Perusahaan Rasendriya
Kamis sore
*
"Selamat ya, Pak Wira!"
Mahawira berhenti di tengah lorong dan menoleh. Seorang manajer dari divisi keuangan berjalan menghampirinya sambil tersenyum lebar dan mengulurkan tangan.
"Selamat untuk apa?" tanya Mahawira.
"Loh, anaknya sudah lahir kan? Saya dengar dari orang HRD. Laki - laki ya, Pak?"
Untuk beberapa detik, Mahawira tidak menjawab apa pun.
"Iya," ujarnya akhirnya sambil menyambut uluran tangan itu.
"Wah, selamat, Pak! Sudah umur berapa sekarang?"
"Tiga minggu."
"Pasti masih sering bangun malam ya, Pak. Anak saya dulu juga begitu. Tapi capeknya beda, Pak. Capek yang bikin senang."
Mahawira tersenyum tipis, lalu mengangguk.
"Terima kasih," ujarnya.
Pria itu melanjutkan langkahnya menuju lift, dan begitu pintu lift tertutup, senyum di wajahnya langsung hilang sepenuhnya.
Ia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan paling sederhana yang bisa ditanyakan orang kepada seorang ayah baru.
Karena ia tidak tahu berapa berat anaknya. Tidak tahu jam berapa anaknya biasa bangun. Tidak tahu apakah anaknya lebih suka digendong miring atau tegak.
Ia bahkan belum pernah menggendongnya sama sekali.
* * * * *
Rumah Mahawira dan Callista
Kamis malam
*
Rumah itu gelap ketika Mahawira membuka pintunya.
Sudah lima belas hari rumah ini seperti ini. Tidak ada lampu ruang tamu yang menyala, tidak ada bau masakan, tidak ada suara televisi, dan yang paling terasa, tidak ada suara tangis bayi di tengah malam.
Pria itu melempar jasnya ke sofa lalu duduk di sana sambil menyalakan lampu meja.
Di atas meja itu, sejak hari pertama, masih tergeletak sebuah benda kecil yang belum pernah ia sentuh.
Sebuah cincin.
Mahawira menatapnya cukup lama, lalu akhirnya mengambilnya dan memutarnya perlahan di antara jari - jarinya. Di bagian dalamnya ada ukiran dua huruf dan satu tanggal yang dulu ia pilih sendiri di sebuah toko kecil di Jakarta Pusat.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bara.
Papa dengar Callista tidak ada di rumah. Papa tunggu penjelasanmu, Wira.
Mahawira mengunci ponselnya tanpa membalas.
Pria itu bersandar di sofa dan menatap langit - langit ruang tamu. Besok pagi ada rapat pukul sembilan, ada presentasi pukul satu, dan ada tiga berkas yang harus ia tanda tangani sebelum akhir pekan.
Tapi untuk pertama kalinya sejak dua tahun ia memimpin perusahaan itu, ia sama sekali tidak ingin datang.
"Besok tidak usah," gumam Mahawira kepada dirinya sendiri.
Lalu pria itu memejamkan matanya di sofa yang sama, dengan cincin istrinya masih tergenggam di telapak tangannya.