Perusahaan Tekstil Pandawa
Surabaya, Indonesia
*
Sementara Callista yang menjadi alasan seluruh orang berkumpul pagi itu justru berdiri paling belakang, di antara barisan karyawan bagian administrasi.
"Bu Callista, kok di sini?" bisik Ajeng sambil menarik lengan atasannya itu.
"Memangnya harus di mana?"
"Ya di depan, dong. Ini kan acaranya buat Ibu."
"Acaranya buat Pak Dawa. Aku cuma kebetulan disebut namanya," balas Callista.
Ajeng memutar bola matanya, lalu menarik Callista maju sampai ke barisan kedua tepat ketika mobil hitam itu berhenti di depan lobi.
Pintu mobil terbuka dan seorang pria paruh baya dengan kemeja putih tanpa dasi keluar dari dalamnya. Rambutnya sudah setengah memutih, tapi langkahnya masih tegap dan cepat.
Seluruh karyawan langsung bertepuk tangan.
"Selamat datang, Pak Dawa!" sapa mereka bersamaan.
Dawa mengangkat tangannya sambil tersenyum lebar, "Pagi semua! Aduh, kenapa jadi ramai begini. Saya kan cuma mampir."
Beberapa karyawan tertawa.
Dylan yang berdiri paling depan langsung maju dan menyalami pria itu, "Selamat datang di Surabaya, Pak."
"Bagaimana kabarnya, Dylan?"
"Baik, Pak. Semua baik."
"Mana orangnya?"
Dylan menoleh ke belakang lalu tersenyum, "Bu Callista, silakan maju."
Seluruh mata langsung tertuju pada satu titik. Callista menarik napas dalam - dalam, lalu melangkah maju sambil berusaha membuat wajahnya sebiasa mungkin.
"Selamat pagi, Pak," sapa Callista sambil menjabat tangan Dawa.
"Jadi ini yang bikin angka cabang Surabaya naik dua puluh delapan persen dalam dua kuartal terakhir?" tanya Dawa.
"Itu kerja satu tim, Pak."
"Semua orang yang berhasil selalu bilang begitu," balas Dawa sambil tertawa.
Pria itu kemudian mengambil sebuah map dari tangan asistennya, lalu menyerahkannya kepada Callista di depan seluruh karyawan.
"Callista Evanora, mulai hari ini resmi menjabat sebagai manajer umum cabang Surabaya," ujar Dawa.
Tepuk tangan langsung memenuhi lobi. Ajeng bahkan sampai memekik dari barisan belakang dan langsung ditegur oleh orang di sebelahnya.
Callista menerima map itu dengan kedua tangan. Untuk sesaat, tangannya sempat bergetar sedikit.
Kurang dari setahun yang lalu, wanita yang berdiri di sini adalah seseorang yang tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, dan tidak punya satu lembar pun surat pengalaman kerja. Yang ia punya waktu itu hanya seorang bayi berusia dua bulan, seorang ibu, dan satu koper pakaian.
"Terima kasih, Pak," ujar Callista.
Wanita itu sempat menoleh sedikit ke arah kerumunan karyawan yang masih bertepuk tangan. Di antara mereka ada Adi dan Bu Sri, dua orang yang juga mengikuti rangkaian tes yang sama beberapa minggu lalu.
Bu Sri tersenyum dan ikut bertepuk tangan. Adi hanya menepuk dua kali, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku.
Callista pura - pura tidak melihat.
* * * * *
Acara itu tidak berlangsung lama. Setelah sesi foto dan sedikit sambutan, Dawa mengajak Dylan dan beberapa kepala bagian masuk ke ruang rapat, sedangkan karyawan lain kembali ke meja masing - masing.
Sebelum masuk, Dawa sempat menahan langkah Callista.
"Bu Callista," panggil Dawa.
"Iya, Pak?"
"Keluarganya di Surabaya juga?"
Callista mengangguk, "Iya, Pak. Saya tinggal dengan ibu saya."
"Suaminya kerja di sini juga?"
Satu pertanyaan yang selalu datang, dan selalu datang dari orang yang tidak bermaksud apa - apa.
"Saya tinggal berdua dengan ibu saya, Pak. Sama anak saya," jawab Callista sambil tersenyum.
Dawa mengangguk pelan tanpa bertanya lebih jauh, "Anaknya umur berapa?"
"Sembilan bulan."
"Wah, masih repot - repotnya," ujar Dawa, "Ya sudah, nanti kalau ada urusan anak, jangan sungkan bilang. Di perusahaan saya, orang yang tidak boleh pulang cepat itu cuma satu, yaitu saya sendiri."
Callista tertawa, "Siap, Pak."
* * * * *
Selesai rapat, Dylan menghampiri meja Callista sambil membawa dua gelas kopi.
"Nanti malam makan bersama, ya. Pak Dawa yang traktir," ujar Dylan sambil meletakkan salah satu gelas di meja Callista.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa."
"Loh, kenapa?"
"Hari ini jadwal imunisasi anak saya," jawab Callista sambil merapikan berkas di mejanya.
Dylan menaikkan sebelah alisnya, "Hari ini juga?"
"Jadwalnya memang hari ini. Kalau lewat, harus tunggu bulan depan."
"Ya sudah. Nanti saya sampaikan ke Pak Dawa," ujar Dylan.
"Terima kasih, Pak."
"Bu Callista," panggil Dylan lagi.
"Iya, Pak?"
"Anaknya sudah bisa apa sekarang?"
"Sudah berdiri sambil pegangan meja, Pak."
"Wah, cepat sekali."
"Iya. Kadang saya yang tidak siap," balas Callista sambil tertawa kecil.
Pria itu sempat berdiri sebentar di samping meja Callista, seolah masih ada yang ingin ia katakan. Tapi akhirnya ia hanya mengetuk meja itu dua kali dengan buku jarinya.
"Selamat ya, Bu Callista," ujar Dylan.
"Terima kasih, Pak."
* * * * *
Posyandu Melati
Surabaya
*
Callista sampai di rumah pukul dua siang, mengganti pakaian kerjanya dengan kaus dan celana panjang, lalu menggendong Grayson keluar sementara Yunita menyiapkan tasnya.
"Buku imunisasinya sudah?" tanya Yunita.
"Sudah, Bu."
"Susunya?"
"Sudah semua."
"Hati - hati bawa motornya."
"Aku naik taksi online, Bu," balas Callista.
Posyandu itu terletak di balai RW, tidak sampai sepuluh menit dari rumah mereka. Begitu masuk, Callista langsung disambut suara tangis anak - anak dari berbagai penjuru ruangan.
"Ya ampun, Nak. Belum apa - apa sudah ramai begini," gumam Callista sambil mengusap punggung anaknya.
Grayson justru terlihat santai. Bayi itu malah menoleh ke kanan dan ke kiri sambil memasukkan tangannya sendiri ke dalam mulut.
"Nomor dua belas!" panggil salah seorang kader.
Callista maju, meletakkan Grayson di atas timbangan, lalu menahan napas ketika jarum suntik itu menyentuh paha anaknya.
Oaaaa!
Tangis Grayson langsung pecah dan Callista buru - buru menggendongnya lagi.
"Sudah, sudah. Sudah selesai," ujar Callista sambil menepuk punggung anaknya.
"Bu Callista?"
Callista menoleh.
Di dekat pintu, berdiri seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi lain, dengan wajah yang jelas sama terkejutnya.
"Ajeng?" ujar Callista.
"Ya ampun, Bu! Ibu tinggal di sini juga?"
"Dua blok dari sini. Kamu?"
"Rumah kakak saya persis di belakang balai ini. Saya nemenin keponakan saya imunisasi," jawab Ajeng.
Ajeng melangkah mendekat, dan pandangannya langsung turun ke arah bayi dalam gendongan atasannya.
"Ini anak Ibu?"
"Iya."
"Ya Tuhan, lucu sekali! Namanya siapa?"
"Grayson."
"Halo, Grayson," ujar Ajeng sambil melambaikan tangannya, meski yang disapa masih menangis sesenggukan.
Untuk beberapa saat keduanya hanya berbicara tentang hal - hal biasa. Umur, berat badan, dan berapa kali bangun di malam hari.
Sampai akhirnya pertanyaan itu datang juga.
"Suami Ibu tidak ikut?" tanya Ajeng.
Callista menepuk punggung anaknya beberapa kali sebelum menjawab.
"Saya sudah tidak punya suami, Jeng," jawabnya.
Wajah Ajeng langsung berubah, "Astaga. Maaf, Bu. Saya tidak tahu."
"Tidak apa - apa. Memang saya tidak pernah cerita."
"Maaf ya, Bu. Sungguh."
"Sudah, jangan minta maaf. Kamu tidak salah apa - apa," ujar Callista sambil tersenyum.
"Tapi Bu," ujar Ajeng lagi, "kok Ibu bisa kuat sekali sih?"
Callista menoleh, "Maksudnya?"
"Ya itu. Kerja, urus anak, hari ini dipromosikan, sorenya sudah antre imunisasi di posyandu."
Callista tertawa kecil, "Kelihatannya saja begitu, Jeng. Di rumah saya juga sering menangis."
"Serius?"
"Serius. Cuma saya pilih waktunya. Biasanya di kamar mandi, sambil keran dinyalakan."
Ajeng ikut tertawa meski matanya justru berkaca - kaca.
Ajeng masih tampak salah tingkah sampai akhirnya keponakannya dipanggil, dan wanita itu pamit sambil berkali - kali menoleh.
Setelah Grayson tenang, Callista membereskan tasnya dan berjalan keluar dari balai RW itu.
Di luar, matahari sore sudah condong dan angin bertiup cukup kencang.
Wanita itu berdiri di tepi jalan sambil menunggu mobil pesanannya, dengan satu tangan menopang anaknya yang sudah berhenti menangis dan mulai memainkan kerah bajunya sendiri.
"Sudah, ya. Kita pulang," ujar Callista sambil mencium kepala anaknya.