Kawasan Dago
Bandung, Indonesia
*
Malam pergantian tahun itu udara Bandung dingin sekali.
Di halaman belakang vila, Eric dan Budi sibuk mengipasi arang yang tidak mau menyala sejak setengah jam yang lalu, sedangkan Yunita duduk di kursi rotan sambil menyelimuti cucunya dengan jaket tebal.
"Rik, itu apinya kapan hidupnya?" tanya Callista dari teras.
"Sebentar lagi."
"Dari tadi sebentar lagi terus."
"Ini arangnya basah, Callis. Bukan salah saya," balas Eric.
"Salah yang beli arang," sahut Budi.
"Yang beli arang kamu."
Budi langsung terdiam dan kembali mengipas dengan lebih semangat, membuat Yunita tertawa terbahak - bahak sampai Grayson ikut tertawa meski jelas tidak mengerti apa yang lucu.
Anak laki - laki berusia tiga tahun itu duduk di pangkuan neneknya dengan hidung yang sudah memerah karena dingin.
"Bunda, itu apa?" tanya Grayson sambil menunjuk ke arah langit.
Callista menoleh, "Yang mana, sayang?"
"Yang kelap - kelip."
"Itu bintang."
"Kok banyak?"
"Karena di sini bukan Surabaya," jawab Callista sambil tertawa.
Api akhirnya menyala sekitar pukul sepuluh malam, dan sejak saat itu halaman belakang vila kecil itu berubah menjadi ramai. Bau jagung bakar, suara kayu yang meletup, dan suara Budi yang berkali - kali mengeluh karena tangannya terkena percikan.
Menjelang tengah malam, langit Bandung mulai dipenuhi kembang api dari berbagai penjuru.
Grayson memekik dan langsung memeluk leher Ibunya karena terkejut.
"Tidak apa - apa. Itu cuma kembang api," ujar Callista sambil menggendong anaknya.
"Bunyinya keras."
"Iya, tapi bagus, kan?"
Anak itu mengintip dari balik bahu Ibunya, lalu perlahan mendongak dan matanya membulat menatap langit yang penuh warna.
"Bagus," gumam Grayson.
Callista tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
Tiga tahun yang lalu, di malam pergantian tahun, wanita ini duduk sendirian di sebuah kamar sewaan sambil menyusui bayi berusia beberapa bulan dan menghitung sisa uang di dompetnya.
Sekarang ia berdiri di halaman sebuah vila, dengan ibunya di kursi rotan, anaknya di gendongan, dan dua orang pria konyol yang masih bertengkar soal arang di belakang sana.
"Selamat tahun baru, Nak," bisik Callista.
* * * * *
Keesokan paginya, meja makan vila itu sudah dipenuhi kue.
Bukan kue mewah. Hanya kue tar cokelat berukuran sedang yang dibeli Callista dari toko di dekat vila, dengan lilin angka yang dipasang miring oleh Grayson.
"Selamat ulang tahun, Bu," ujar Callista.
Yunita menatap kue itu lalu menatap anaknya, "Ya ampun, Ibu sampai lupa."
"Ibu memang selalu lupa."
"Ibu kan sibuk."
"Sibuk apa? Warung sudah ditutup dua tahun," balas Callista.
Semua orang tertawa. Grayson yang paling bersemangat, meski ia sendiri belum sepenuhnya paham apa yang sedang dirayakan.
"Nenek, tiup!" pekik Grayson.
"Iya, iya. Nenek tiup," balas Yunita.
Wanita paruh baya itu menutup matanya sebentar sebelum meniup lilinnya. Dan ketika ia membuka matanya lagi, matanya sudah basah.
"Ibu kenapa?" tanya Callista.
"Tidak apa - apa," jawab Yunita sambil mengibaskan tangannya, "Ibu cuma tidak menyangka bisa ulang tahun di tempat seperti ini."
"Bu -"
"Sudah, potong kuenya. Nanti dingin," potong Yunita cepat.
* * * * *
Sore itu, sementara Yunita tidur siang dan Budi mengajak Grayson bermain di halaman, Callista dan Eric duduk di teras depan sambil memegang gelas teh masing - masing.
"Kapan kalian balik ke Surabaya?" tanya Eric.
"Besok pagi."
"Cepat sekali."
"Kantorku masuk lusa, Rik."
Eric mengangguk sambil menyesap tehnya, "Callis."
"Hm?"
"Kamu tidak pernah kepikiran menikah lagi?"
Callista menoleh, "Kenapa tiba - tiba tanya begitu?"
"Tidak apa - apa. Ibumu yang tanya ke aku kemarin. Katanya kamu tidak pernah mau membahas kalau ditanya langsung."
Callista tertawa, "Dasar Ibu."
"Jadi?"
Wanita itu menatap ke arah halaman, ke arah anaknya yang sedang berlari mengejar bola sambil dikejar Budi.
"Belum kepikiran," jawab Callista akhirnya.
"Belum, atau tidak mau?"
"Belum, Rik. Sungguh."
Eric mengangguk lalu tidak bertanya lagi.
"Kenapa?" tanya Callista, "Kamu mau mengenalkan aku ke siapa?"
"Tidak ada. Cuma tanya."
"Kalau ada, bilang saja."
"Sudah, minum tehmu," balas Eric sambil menghindari tatapan sahabatnya itu.
Callista tertawa lalu benar - benar meminum tehnya.
"Rik," panggilnya lagi beberapa saat kemudian.
"Apa?"
"Terima kasih, ya."
"Untuk apa lagi?"
"Untuk semuanya. Untuk tiga tahun ini."
Eric menghela napasnya panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, "Kamu itu kalau berterima kasih selalu di waktu yang aneh. Tadi malam waktu arangnya tidak mau menyala, kamu malah menertawakan aku."
"Ya itu memang lucu."
"Tidak lucu."
"Lucu, Rik."
Keduanya tertawa bersama - sama sampai suara Grayson terdengar dari halaman, memanggil Ibunya untuk melihat bola yang berhasil ia tendang sampai ke pagar.
* * * * *
Perusahaan Tekstil Pandawa
Surabaya, Indonesia
*
Hari pertama masuk kerja setelah libur panjang biasanya adalah hari yang paling malas.
Tapi pagi itu, suasana kantor terasa berbeda sejak Callista menginjakkan kaki di lobi.
"Bu Callista!" panggil Ajeng sambil setengah berlari menghampiri.
"Kenapa? Pagi - pagi sudah lari."
"Ibu belum dengar?"
"Dengar apa?"
Ajeng menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menurunkan suaranya, "Katanya semua karyawan dikumpulkan jam sembilan di aula. Pak Dawa datang dari Jakarta."
Callista mengerenyitkan dahinya, "Pak Dawa? Baru kemarin liburan sudah datang lagi?"
"Itu makanya semua pada panik, Bu."
Pukul sembilan tepat, seluruh karyawan sudah berkumpul di aula lantai dua. Dylan berdiri di samping podium bersama Anggara, sedangkan Pak Dawa berdiri di tengah sambil memegang mikrofon.
Pria paruh baya itu terlihat lebih tua dari terakhir kali Callista melihatnya.
"Selamat pagi semua," ujar Dawa.
"Selamat pagi, Pak," jawab seluruh ruangan.
"Saya tidak akan lama. Saya juga tidak pandai memutar - mutar kalimat, jadi saya bilang langsung saja."
Ruangan itu langsung hening sepenuhnya.
"Mulai bulan ini, Pandawa Group resmi diakuisisi," ujar Dawa.
Suara bisik - bisik langsung memenuhi aula. Ajeng menoleh ke arah Callista dengan wajah pucat, sedangkan Callista sendiri hanya berdiri diam dengan tangan yang mengepal di sisi tubuhnya.
"Saya minta semuanya tenang dulu," lanjut Dawa, "Tidak ada yang dipecat. Saya sudah pastikan itu di dalam perjanjian. Semua karyawan tetap, semua jabatan tetap, semua hak tetap. Yang berubah hanya pemiliknya."
"Perusahaan apa, Pak?" tanya seseorang dari barisan belakang.
Dawa terdiam sebentar sebelum menjawab.
"Nanti akan diumumkan resmi minggu depan bersama manajemen barunya," jawab Dawa.
Bisik - bisik itu kembali terdengar, kali ini lebih keras.
"Sudah, sudah," ujar Dawa sambil mengangkat tangannya, "Saya ini sudah tua. Anak saya tidak ada yang mau mengurus tekstil. Daripada perusahaan ini pelan - pelan mati di tangan saya, lebih baik saya serahkan ke tangan yang lebih kuat."
Ruangan itu hening lagi.
"Tapi ada satu hal yang tidak mau saya lewatkan," lanjut Dawa dengan suara yang mulai bergetar, "Saya sudah tiga puluh dua tahun bekerja bersama kalian. Masa iya saya pergi begitu saja tanpa makan bersama."
Beberapa karyawan tertawa kecil di tengah suasana yang berat.
"Jadi begini. Minggu ini, saya traktir semuanya. Semua divisi, semua bagian, tidak ada yang boleh tidak datang," ujar Dawa, "Anggara, tolong kamu yang atur tempatnya."
Anggara mengangguk cepat, "Siap, Pak."
"Cari yang porsinya banyak. Jangan yang piringnya besar tapi isinya sedikit."
Seluruh aula tertawa, dan untuk sesaat suasana yang tadinya mencekam berubah menjadi sedikit lebih hangat.
Tapi Callista tidak ikut tertawa.
Wanita itu justru menatap Pak Dawa yang sedang menyeka sudut matanya sendiri sambil pura - pura membetulkan letak kacamatanya.
Dan di dalam kepalanya, satu pertanyaan terus berputar tanpa mau pergi.
Perusahaan mana yang cukup besar untuk membeli seluruh Pandawa Group dalam satu kali tanda tangan?