Menara rumah mewah
Jakarta, Indonesia
*
Mahawira bisa dikatakan tidak pernah benar - benar menempati seluruh ruangan di lantai itu.
Dari sekian banyak kamar yang tersedia, ia hanya memakai dua. Satu untuk tidur, satu lagi untuk bekerja. Sisanya kosong, bersih, dan tidak pernah tersentuh kecuali oleh petugas kebersihan gedung yang datang tiga kali seminggu.
Malam itu pria itu pulang lebih awal dari biasanya.
Jas hitamnya ia lempar ke sandaran sofa, dasinya ia longgarkan, lalu ia berjalan ke arah dinding kaca yang membentang dari lantai sampai ke langit - langit.
Dari ketinggian itu, Jakarta terlihat seperti kumpulan lampu yang tidak pernah tidur.
Mahawira berdiri di sana cukup lama sambil memegang gelas air putih yang bahkan tidak ia minum.
Ia sudah tahu sejak dua bulan yang lalu bahwa Pandawa Group akan diakuisisi. Ia sendiri yang menandatangani seluruh berkasnya. Ia juga sudah membaca daftar seluruh karyawan yang akan ikut pindah ke Jakarta untuk proyek baru perusahaan.
Tapi membaca sebuah nama di atas kertas dan melihat pemilik nama itu berdiri di lobi kantornya sendiri ternyata dua hal yang sangat berbeda.
Wanita itu berdiri di barisan paling belakang tadi pagi. Rambutnya diikat, pakaiannya rapi, punggungnya tegak. Dan ketika namanya dipanggil, wanita itu maju, menjabat tangannya, lalu mengucapkan satu kalimat yang sama seperti yang diucapkan oleh empat orang lainnya.
"Selamat pagi, Pak."
Tidak lebih. Tidak kurang.
Bahkan matanya pun tidak bergetar sedikit pun.
Mahawira meletakkan gelasnya di atas meja marmer, lalu memijat pangkal hidungnya sendiri.
Tiga tahun.
Tiga tahun ia menghabiskan waktunya dengan meyakinkan diri sendiri bahwa keputusannya waktu itu adalah keputusan yang paling masuk akal. Dan hanya butuh satu pagi untuk membuat seluruh keyakinan itu terasa seperti bangunan yang dibangun di atas pasir.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Ayu.
Pak, besok jadwal survei ke Fritz Hotel jam 10. Apakah tim Surabaya ikut?
Mahawira menatap layar itu cukup lama.
Jari - jarinya kemudian bergerak.
Ikut.
* * * * *
Gedung Utama Perusahaan Rasendriya
Keesokan harinya
*
Ruang rapat lantai dua puluh delapan itu penuh pagi ini.
Callista duduk di kursi ketiga dari ujung, bersama Dylan, Anggara, Ajeng dan Agita. Di seberang mereka, duduk tim dari Jakarta yang wajahnya belum satu pun ia hafal.
Dan di ujung meja, duduk seseorang yang wajahnya justru terlalu ia hafal.
"Jadi begini," ujar Mahawira sambil membuka mapnya, "Rasendriya tidak membeli Pandawa untuk tekstilnya."
Beberapa orang dari Surabaya saling melempar pandangan.
"Yang kami butuhkan adalah lahannya. Pandawa punya lima aset tanah di tiga kota, dan tiga di antaranya berada di lokasi yang sangat bagus untuk properti," lanjut Mahawira.
Dylan mengangkat tangannya, "Maaf, Pak. Berarti pabrik tekstilnya?"
"Tetap jalan. Saya tidak menutup pabrik yang masih untung," jawab Mahawira, "Tapi fokus kita tahun ini bukan di sana."
Pria itu kemudian mengarahkan pandangannya ke layar di depan ruangan.
"Ini Fritz Hotel. Tiga puluh lantai, umurnya delapan belas tahun, dan pemiliknya ingin melepasnya," ujar Mahawira, "Kita tidak akan langsung membelinya. Kita akan pelajari dulu bagaimana hotel sekelas ini dikelola, berapa biaya operasionalnya, dan di mana kebocorannya. Setelah itu baru kita putuskan apakah kita membeli atau membangun sendiri."
"Siapa yang mengerjakan studinya, Pak?" tanya salah seorang dari tim Jakarta.
"Tim Surabaya."
Ruangan itu langsung hening.
Dylan menoleh ke arah Callista, dan Callista sendiri sempat berhenti mencatat.
"Maaf, Pak," ujar Dylan, "tim kami latar belakangnya tekstil semua. Kami tidak punya pengalaman di perhotelan."
"Saya tahu," jawab Mahawira.
"Lalu kenapa kami, Pak?"
Mahawira menutup mapnya, "Karena tim Jakarta sudah terlalu lama bekerja dengan cara yang sama. Kalau saya minta mereka mencari kebocoran, mereka akan mencari di tempat yang biasa mereka cari."
Pria itu kemudian menatap ke arah barisan tim Surabaya.
"Saya butuh orang yang belum tahu apa - apa tentang hotel, tapi tahu betul bagaimana caranya menekan biaya sampai ke rupiah terakhir," lanjut Mahawira, "Dan menurut laporan yang saya baca, orang seperti itu ada di cabang Surabaya."
Beberapa pasang mata langsung menoleh ke arah Callista.
"Bu Callista," panggil Mahawira.
"Iya, Pak," jawab Callista tanpa mengangkat kepalanya dari buku catatannya.
"Anda yang memimpin studi ini."
Pulpen di tangan Callista berhenti bergerak selama satu detik penuh.
Lalu wanita itu mengangkat kepalanya dan menjawab dengan suara yang sama datarnya seperti sebelumnya.
"Baik, Pak."
* * * * *
Rapat itu selesai pukul setengah sepuluh.
Callista membereskan berkasnya paling akhir, sengaja menunggu sampai ruangan agak kosong. Tapi ternyata Ajeng menunggunya di depan pintu dengan wajah yang jelas menahan sesuatu.
"Bu," bisik Ajeng begitu Callista keluar.
"Kenapa?"
"Ibu kenal Pak Mahawira?"
Langkah Callista sempat tertahan setengah detik.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Ya habisnya, dari sekian banyak orang, kok Ibu yang ditunjuk. Padahal Pak Dylan lebih senior."
"Karena laporan kinerja saya yang dia baca," jawab Callista.
"Oh. Ya sudah kalau begitu."
Callista tersenyum lalu berjalan lebih dulu, dan Ajeng tidak melihat bagaimana genggaman wanita itu pada berkas di tangannya mengencang.
Di ujung lorong, Ayu sudah menunggu dengan map di tangan.
"Bu Callista," panggil Ayu.
"Iya?"
"Jam sepuluh survei ke Fritz Hotel. Mobilnya sudah menunggu di basement."
"Saya berangkat dengan siapa?"
Ayu tersenyum tipis, "Dengan Pak Mahawira."
Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap di tengah lorong yang sibuk itu.
Tiga tahun yang lalu, wanita ini pernah menelepon nomor Ayu di tengah malam sambil menahan tangis, hanya untuk menanyakan apakah suaminya baik - baik saja di Jepang.
Dan sekarang, wanita yang sama berdiri di hadapannya sebagai kepala tim proyek.
"Bu Callista," panggil Ayu.
"Iya?"
"Selamat bergabung di Rasendriya."
"Terima kasih," jawab Callista.
Callista menatap sekretaris itu beberapa saat, "Pak Dylan tidak ikut?"
"Pak Dylan diminta menyelesaikan data pabrik dulu."
"Dan tim lainnya?"
"Menyusul besok."
Callista mengangguk pelan, "Baik. Terima kasih."
Wanita itu berjalan menuju lift tanpa menoleh lagi. Sedangkan Ayu masih berdiri di tempatnya sambil memandangi punggung Callista sampai pintu lift tertutup sepenuhnya.
* * * * *
Mobil hitam itu keluar dari basement tepat pukul sepuluh.
Di dalamnya hanya ada tiga orang. Sopir di depan, Mahawira di kursi belakang sebelah kanan, dan Callista di kursi belakang sebelah kiri, dengan jarak satu tempat duduk kosong di antara mereka.
Tidak ada yang bicara selama sepuluh menit pertama.
Callista membuka berkasnya dan membaca data yang sama untuk ketiga kalinya tanpa satu pun kalimat yang benar - benar masuk ke kepalanya.
"Berapa lama perjalanannya?" tanya Mahawira tiba - tiba.
"Dua puluh menit, Pak," jawab sopir dari depan.
"Terima kasih."
Hening lagi.
Callista menatap ke luar jendela. Jalanan Jakarta pagi itu padat seperti biasa, dan dari kaca mobil ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri bertumpuk dengan pemandangan di luar.
"Bu Callista," panggil Mahawira.
"Iya, Pak."
"Anda pernah tinggal di Jakarta?"
Pertanyaan itu keluar dengan nada yang sangat datar, seperti pertanyaan basa - basi kepada karyawan baru.
Callista tidak langsung menjawab.
"Pernah, Pak," jawabnya akhirnya.
"Berapa lama?"
"Cukup lama."
"Kenapa pindah?"
Wanita itu menoleh untuk pertama kalinya sejak masuk ke dalam mobil itu, dan menatap langsung ke arah pria yang duduk di seberangnya.
"Karena di Surabaya lebih murah, Pak," jawab Callista.
Mahawira menatapnya beberapa saat, lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Sisa perjalanan itu berlangsung tanpa satu pun kata lagi, sampai akhirnya mobil hitam itu berbelok masuk dan berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit dengan papan nama besar berwarna emas di atas pintu utamanya.