"Aku pinjam sepatumu ya, Kak," ujar Mahesa sambil mengangkat sepatu hitam itu ke udara.
"Itu memang punyaku."
"Makanya aku bilang pinjam."
Mahawira menghela napasnya lalu bersandar lebih dalam ke sofa, "Kamu ini baru pulang dari Amerika atau baru pulang dari kelas satu SD?"
Mahesa tertawa lalu duduk di lantai untuk memakai sepatunya, "Kak, aku sudah doktor lho sekarang."
"Doktor yang pinjam sepatu kakaknya."
"Doktor juga butuh sepatu."
Pria yang lebih muda itu mengikat tali sepatunya, lalu berdiri sambil merapikan jaket denimnya di depan cermin dekat pintu.
"Kakak tidak mau ikut?" tanya Mahesa.
"Tidak."
"Sekali saja."
"Mahesa."
"Ya sudah, ya sudah," balas Mahesa sambil mengangkat kedua tangannya.
Tapi pria itu tidak langsung pergi. Ia justru berbalik dan bersandar di dinding sambil menatap kakaknya cukup lama.
"Kenapa?" tanya Mahawira.
"Kakak kelihatan aneh dari minggu lalu."
"Aneh bagaimana?"
"Ya aneh. Pulang cepat tapi tidak makan. Duduk di sofa tapi tidak menyalakan televisi. Kemarin malah aku lihat Kakak berdiri di depan jendela sampai jam dua pagi."
Mahawira tidak menjawab.
Mahesa berjalan mendekat lalu duduk di kursi di seberang kakaknya, "Ada apa, Kak?"
"Tidak ada apa - apa."
"Kak."
"Kerjaan."
"Bohong."
Mahawira mengangkat kepalanya dan menatap adiknya, "Kamu tidak jadi pergi?"
"Nanti. Temanku masih di jalan," jawab Mahesa santai sambil bersedekap.
Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan suara kota dari balik dinding kaca.
"Pandawa Group," ujar Mahawira akhirnya.
"Yang tekstil itu? Yang Kakak akuisisi bulan lalu?"
"Iya."
"Kenapa dengan Pandawa?"
Mahawira meletakkan gelasnya di atas meja, "Ada lima orang dari cabang Surabaya yang dipindahkan ke Jakarta untuk proyek properti."
"Terus?"
"Salah satunya Callista."
Mahesa yang tadinya bersedekap langsung menegakkan punggungnya.
"Kak Callista?" tanya Mahesa.
"Iya."
"Kak Callista yang itu? Yang -"
"Iya, Mahesa. Yang itu."
Mahesa membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Pria itu bahkan sampai berdiri dan berjalan dua langkah tanpa tujuan sebelum akhirnya berbalik lagi.
"Terus Kakak apakan dia?"
"Apa maksudmu aku apakan?"
"Ya jangan - jangan Kakak pindahkan dia ke gudang atau apa."
"Aku menunjuk dia memimpin studi kelayakan proyek hotel," jawab Mahawira datar.
Mahesa terdiam beberapa detik, lalu menepuk dahinya sendiri.
"Kak."
"Apa."
"Kakak itu kadang pintar sekali, tapi kadang bodohnya luar biasa," ujar Mahesa.
"Terima kasih."
"Aku serius. Kakak menceraikan istri Kakak, tiga tahun tidak pernah mencari, lalu sekarang Kakak jadikan dia bawahan Kakak sendiri," lanjut Mahesa, "Kakak mau apa sebenarnya?"
Mahawira tidak menjawab.
Karena jujur saja, pertanyaan itu sudah ia tanyakan kepada dirinya sendiri setiap malam selama satu minggu terakhir, dan sampai sekarang ia belum menemukan jawaban yang bisa ia terima.
"Dia yang paling cocok untuk pekerjaan itu," ujar Mahawira akhirnya.
"Itu jawaban untuk rapat, Kak. Bukan jawaban untukku."
Klakson mobil terdengar dari luar.
Mahesa melirik ponselnya, lalu menghela napas dan mengambil kunci di atas meja.
"Ya sudah, aku pergi dulu," ujar Mahesa.
"Hati - hati."
Pria itu berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar dan menoleh.
"Kak."
"Apa lagi?"
"Anaknya sudah besar lho sekarang," ujar Mahesa.
Mahawira menoleh cepat, "Kamu tahu dari mana?"
Tapi adiknya sudah lebih dulu menutup pintu.
* * * * *
Tiga minggu berikutnya adalah tiga minggu yang paling padat dalam hidup Callista.
Hari pertama sampai hari keempat dihabiskan di dalam Fritz Hotel. Mereka menyusuri setiap lantai, mencatat jumlah kamar, memeriksa ruang cuci, dapur, gudang, sampai ke ruang mesin di lantai paling bawah yang panasnya luar biasa.
"Bu, ini serius kita hitung sampai jumlah lampu?" tanya Ajeng di hari kedua.
"Serius."
"Semuanya?"
"Semuanya. Termasuk yang mati."
"Yang mati juga?"
"Terutama yang mati," jawab Callista, "Lampu mati yang tidak diganti selama berbulan - bulan itu artinya ada yang salah dengan sistem perawatannya. Dan sistem perawatan yang buruk itu selalu berujung ke biaya."
Ajeng menatap atasannya dengan mulut sedikit terbuka, lalu buru - buru mencatat.
Minggu kedua, mereka pindah ke lapangan.
Tiga lahan milik Pandawa disurvei satu persatu. Yang pertama di kawasan Jakarta Timur, yang kedua di pinggiran kota, dan yang ketiga yang paling jauh sampai harus berangkat pukul lima pagi.
Callista berdiri di tengah lahan kosong itu dengan sepatu yang sudah tertutup lumpur, memegang peta, dan berdebat dengan Anggara soal arah matahari.
"Bu, ini kalau bangunannya menghadap ke sana, kamarnya kena matahari sore semua," ujar Anggara.
"Makanya kita balik."
"Tapi kalau dibalik, aksesnya jadi jauh dari jalan utama."
"Ya sudah, kita hitung dua - duanya. Biar angkanya yang memutuskan, bukan kita."
Di beberapa kunjungan itu, mobil hitam yang lain juga ikut datang.
Mahawira tidak pernah banyak bicara di lapangan. Pria itu hanya berjalan di belakang rombongan, mendengarkan, sesekali bertanya satu atau dua kalimat, lalu pergi lebih dulu.
Tapi Callista selalu tahu persis di mana pria itu berdiri, bahkan tanpa menoleh.
Dan hanya sekali, hanya satu kali, keduanya sempat berdiri berdampingan di tepi lahan sambil menunggu tim lain selesai mengukur.
"Anda tidak pakai topi?" tanya Mahawira tiba - tiba.
"Lupa, Pak."
Pria itu melepas topi lapangan yang ia bawa lalu menyodorkannya.
Callista menatap topi itu tanpa mengambilnya.
"Terima kasih, Pak. Tapi tidak usah," jawabnya.
Mahawira menarik tangannya kembali, memakai topi itu sendiri, lalu berjalan pergi tanpa berkata apa - apa lagi.
Sore harinya, Ajeng mendekati Callista di dalam mobil sambil berbisik.
"Bu, tadi Pak Mahawira nawarin topi ya?"
"Kamu lihat?"
"Semua orang lihat, Bu."
Callista menghela napasnya, "Terus kenapa?"
"Ya tidak kenapa - kenapa," jawab Ajeng sambil menahan senyum, "Cuma seumur - umur saya kerja, belum pernah ada bos yang nawarin topinya sendiri ke bawahannya."
"Mungkin topinya kebesaran."
"Bu."
"Sudah, kerjakan datanya," balas Callista sambil membuka berkasnya lagi.
Ajeng tertawa lalu kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Callista menatap ke luar jendela dengan wajah yang sengaja ia buat sebiasa mungkin.
* * * * *
Malam - malam Callista dihabiskan di apartemen sewaan di Jakarta Selatan, di depan laptop, dengan gelas kopi yang selalu dingin sebelum sempat diminum.
Satu - satunya jeda adalah pukul delapan malam.
"Bunda!" pekik suara kecil dari layar ponsel.
"Halo, sayang. Sudah makan?"
"Sudah! Tadi Grayson makan telur."
"Pintar. Nenek mana?"
"Nenek lagi cuci piring," jawab Grayson sambil mengarahkan kamera ke arah dapur, membuat gambar di layar bergoyang - goyang sampai Callista pusing sendiri.
"Sayang, ponselnya jangan digoyang - goyang."
"Bunda pulang kapan?"
Pertanyaan yang sama, setiap malam, di jam yang sama.
"Sebentar lagi," jawab Callista.
"Sebentar lagi itu berapa hari?"
Callista tertawa meski matanya panas, "Kamu ini sudah pintar menghitung ya sekarang."
"Nenek yang ajari."
"Ya sudah, tidurnya jangan malam - malam. Bunda telepon lagi besok."
"Iya, Bunda."
Setelah panggilan itu berakhir, Callista selalu duduk diam selama beberapa menit sebelum kembali membuka laptopnya.
Dan malam itu, di hari kedua puluh satu, wanita itu mengetik kalimat terakhir dari halaman terakhir rencana kerjanya pada pukul satu dini hari.
Callista membaca ulang seluruh dokumen itu dari awal, memperbaiki dua salah ketik, lalu menekan tombol simpan.
Wanita itu menutup laptopnya perlahan, menyandarkan punggungnya ke kursi, dan menghela napas panjang sekali.
"Selesai," gumamnya kepada dirinya sendiri.
Delapan puluh empat halaman. Tiga skenario biaya. Dua rekomendasi lahan. Dan satu bab tambahan yang tidak diminta oleh siapa pun, berisi hitungan kerugian kalau proyek ini justru dibatalkan di tengah jalan.
Bab terakhir itu sengaja ia tulis. Karena menurutnya, orang yang hanya berani menghitung untung biasanya adalah orang yang belum pernah benar - benar kehilangan apa pun.
Lalu ia meraih ponselnya, membuka foto anaknya yang sedang tertawa dengan mulut belepotan telur, dan menatapnya sampai matanya sendiri terasa berat.