Liburan musim panas berakhir. Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju sekolah s****n itu. Hahaa.. maaf aku menyebutnya sebagai sekolah s****n, aku hanya tidak menyukainya. Tentu saja bukan karena guru-guru yang tidak kompeten, mengingat sekolahku merupakan sekolah terbaik di kotaku. Bukan pula karena aku jengah karena semua siswa yang berlomba-lomba mengejar peringkat, kau tau? Tanpa perlu belajarpun nilaiku memuaskan, ya bisa dibilang aku ini pintar— atau jenius mungkin? Aku korban bulliying di sekolah? Ayolah berhenti menuduhku yang tidak-tidak, walaupun tubuhku sepertinya ringkih namun aku mempunyai banyak teman yang selalu peduli padaku meski aku tak terlalu mengharapkannya.
Sekolah yang mengharuskanku untuk bengun pagi memang membuatku kesal, apalagi sejak kakakku menghilang, tetapi aku bukanlah seorang yang susah bangun pagi, bahkan aku bisa bangun sebelum alarm jam kodok itu berbunyi. Aku hanya sedikit malas melakukan rutinitas di pagi hari. Seperti yang aku katakan di awal aku hanya tidak menyukai sekolah. Hanya itu— tidak lebih. Ah, seandainya ijazah bukan sesuatu yang penting, pasti aku memilih pergi bekerja daripada belajar di sekolah. Namun, kembali lagi pada masalah yang sama, jika aku tidak mempunyai ijazah bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, apalagi usiaku baru 17 tahun.
“Selamat pagi. Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Ku harap kalian semua berteman baik.”
Suara guru wali kelas itu tergantikan oleh suara seorang di sebelahnya, murid baru itu memperkenalkan dirinya. Aku tidak memperhatikannya, terlalu asik dengan PSP yang ada di genggaman tanganku. Bahkan aku tidak sadar jika murid baru itu sedari tadi memperhatikanku.
“Kau bisa duduk di samping Dover,” mendengar namaku disebut aku mendangakkan kepalaku, menatap guru wali kelasku dengan tatapan protes.
“Kau tahu tempatnya kan? Hanya itu satu-satunya kursi kosong di kelas ini,” guru wali berbicara pada anak baru itu, kemudian dengan mata berbinar-binar yang setiap orang menganggapnya jenaka berpaling menatapku sambil terkekeh.
“Guru s****n!” batinku.
Memang benar kursi kosong di kelas ini hanya satu, tepat di sebelahku. Walau banyak teman yang berusaha menjadi teman satu meja denganku, namun mereka semua mengurungkan niatnya begitu melihat meja yang seharusnya dipakai untuk berdua sudah penuh dengan barang-barangku. Ya, aku sengaja mengeluarkan— atau lebih tepatnya menumpahkan semua isi tasku. Cara praktis sebagai bentuk penolakan tentu saja.
Mengingat kursi kosong hanya ada di sebelahku dengan terpaksa ku raup barang-barangku dan menggesernya ke wilayahku, kemudian memalingkan wajahku. Kau tahu? Aku ini bukanlah orang ramah yang suka berbagi.
SREEK
Suara berisik berhasil menarik perhatianku. Dia menumpahkan isi tasnya di meja. Aku memelototkan mataku ke arahnya, siapa lagi kalau bukan anak baru itu.
“Apa-apaan? Dia meniruku?” makiku dalam hati.
Sedangkan orang yang kutatap horor hanya meringis memamerkan gigi gingsulnya.
***
Bel tanda istirahat berbunyi, beberapa temanku mengajak pergi ke kantin bersama, namun dengan halus aku menolaknya. Entah, siang ini aku sangat malas untuk berjalan walau jarak kantin dan kelasku tidak begitu jauh. Selama jam pelajaran pun aku menekuk wajahku, sepertinya aku masih belum bisa berbagi meja dengan murid baru itu. Apalagi kelakuannya yang seolah-olah atau jelas-jelas menyindirku tadi sungguh membuatku kesal.
Sekejap kelas menjadi sepi, hanya ada beberapa orang di kelas sedangkan yang lain, entahlah, mungkin ke kantin, perpustakan, taman, toilet, atau di manapun tempat favorit mereka di sekolah ini yang biasa mereka kunjungi selama jam istirahat.
“Dover, aku membawakanmu bekal, makanlah.”
Seorang murid perempuan datang ke mejaku dan memberikan kotak bekalnya. Kau lihat? Tanpa merasa lelah berjalan ke kantin, aku tetap bisa makan, gratis pula. Tanpa sadar aku terkekeh sendiri.
“Terimakasih Clara, kau baik sekali,” aku langsung membuka dan memakannya. “Enak! Beruntung sekali orang yang akan menjadi suamimu kelak,” lanjutku memuji bekal buatannya.
See? Kau lihat wajahnya? Ku rasa warnanya tidak berbeda dengan kepiting rebus. Hanya bermodal sedikit pujian dariku anak perempuan bisa merona seperti itu. Ya, Clara adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang menyukaiku. Walaupun banyak orang mengatakan aku cantik tapi bagiku dan bagi anak perempuan lainnya aku tetaplah seorang laki-laki keren yang tampan hahaa.. Aku narsis? Hei, aku hanya mengatakan kebenaran.
Aku menoleh pada sosok yang sedari tadi memperhatikanku. Bagaimana aku tahu? Ck, terlihat jelas dia memperhatikanku, dia mengubah posisi duduknya menghadapku, sebelah tangannya menyangga dagunya dan menatapku sambil cengengesan.
“Dia pikir sedang melihat acara komedi?” batinku.
“Kenapa kau masih di sini?” aku membuka suara tanpa menghentikan aktivitas mengunyah.
“Mengawasimu,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
“Aku tidak akan membagi apa yang telah di berikan padaku. Kau tahu? Aku tidak suka berbagi,” aku beranggapan pasti anak baru ini menginginkan bekal yang sedang ku makan.
“Ya, aku tahu. Begitu pula dengan meja kan?” katanya masih tersenyum.
Senyumannya membuat dirinya menjadi terlihat semakin tampan. Baiklah, dengan berat hati ku akui wajah anak baru ini tampan, tentu saja tidak lebih tampan dariku, aku berkali-kali lipat lebih tampan darinya. Tubuhnya pun bagus, tubuh yang diidam-idamkan laki-laki, berani bertarus dia pasti membentuknya dengan menghabiskan banyak uang di gym. Aku iri? Haha.. kau bercanda? Tanpa membentuk badan menjadi atletis saja aku mempunyai banyak penggemar. Bisa kau bayangkan jika aku mempunyai bentuk badan yang digilai wanita? Jangan kau bayangkan! Aku tidak akan seserakah itu.
“Rave, jika kau menginginkannya besok aku akan membawakan bekal untukmu juga,” Clara bersuara.
Oh, jadi namanya Rave? Tunggu dulu, apa yang baru saja dikatakan Clara? Membawakan bekal? Untuk apa Clara merepotkan dirinya untuk membawa dua bekal hanya untuk diberikan pada orang. Jika benar seperti itu pasti dia akan mengurangi porsinya. Dan aku hanya mendapat setengah dari porsi ini? Sebentar, apa mungkin dia hanya akan membawakan bekal untuk anak baru ini dan mengabaikanku? Ck, setelah aku berbagi mejaku, apa aku juga harus membagi para penggemarku padanya? Hah, ini tidak bisa dibiarkan.
***
Benar saja, setelah berita tentang adanya anak baru tampan tersiar ke seluruh sekolah, sebagian para penggemarku berpaling padanya. Yang membuatku kesal, Rave, si anak baru ini selalu membuntutiku kemanapun aku pergi.
“Teman satu meja adalah sahabat pertamaku di sekolah ini,” begitu katanya.
Hah.. kau pikir aku bodoh? Taktik merebut para pengagumku adalah berdekatan denganku tentu saja.
***
Sore ini aku aku duduk di bangku taman kota, menyandarkan punggungku dan merentangkan kedua tanganku pada sandaran kursi panjang yang aku duduki. Menengadahkan kepalaku mamandang hijau daun dari rimbunnya pohon-pohon. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan ketenangan seperti ini. Kau tahu? Sejak anak baru itu muncul hidupku tidak pernah damai, dia terlalu antusias dengan suatu hubungan yang dinamakan pertemanan, parahnya sepertinya dia benar-benar menganggapku sebagai sahabatnya. Begitu sampai sekolah Rave selalu menungguku di pintu gerbang dan setelahnya tidak pernah membiarkanku hilang dari pandangannya. Kau tahu? Ke toilet pun aku diikutinya. Pulang sekolah pun dia selalu mengikutiku, apapun rencanaku setelah pulang sekolah, kemanapun itu dia selalu ikut. Ternyata begini melelahkan rasanya mempunyai ekor.
Parahnya, teman-temanku dan para penggemarku sedikit memandang aneh kedekatan antara aku dan Rave. Kau tebak? Mereka mengatakan bahwa kami ini pasangan gay! Tidak masuk akal, tentu saja aku langsung mengklarifikasi fitnah itu, sedangkan Rave? Tidak ada yang bisa dia lakukan dengan benar selain cengengesan. Sepulang sekolah inipun Rave bersiap membuntutiku, namun beruntung karena suatu hal dia dipanggil seorang guru untuk mengurus sesuatu. Alhasil disinilah aku, merasakaan kebebasanku kembali setelah sekian lama— kenyataannya Rave baru satu minggu bersekolah di sekolahku tapi rasanya sudah seperti satu dekade.
“Kakak..”
Terdengar suara anak kecil. Aku mengalihkan pandanganku dari hijaunya daun-daun dan mendapati sosok gadis kecil dengan rambut dikucir dua. Gadis itu membawa sebuah buku besar dalam pelukannya, buku cerit bergambar.
“Ya..” aku membungkukkan badanku, agar gadis kecil itu tidak perlu mendangakkan wajahnya untk berbicara padaku.
“bisakah kau membacakan cerita buku ini kak?” mata gadis kecil itu berbinar-binar.
“Dimana orang tuamu?” aku bertanya.
“Aku tidak punya,” jawabnya singkat. “Tapi aku punya seorang kakak,” lanjutnya bersemangat. “Aku biasa menunggunya di taman ini sampai kakak pulang dari kerjanya dan menjemputku di sini.”
Ah, aku sangat familiar dengan apa yang dikatakan gadis kecil itu. Dahulu, sewaktu aku seusianya, akupun sering menunggu kakakku pulang dengan gembira.
“Siapa namamu gadis kecil?”
“Alice.”
Aku tersenyum kemudian ku angkat tubuhnya dan membawanya duduk dipangkuanku.
“Kita lihat buku apa yang kau punya,” Alice memberikan buku yang sedari tadi dipeluknya. “Petualangan Marco Polo?” dan ditanggapi dengan sebuah anggukan mantap dari kepala gadis kecil ini. “Jadi Alice, sudah sampai mana kakakmu membacakannya?”
Kemudian Alice membuka-buka halaman buku itu sedangkan aku memegangi bukunya agar gadis kecil ini tidak kesulitan membuaka tiap halamannya. Sampai akhirnya Alice menghentikan aksinya pada sebuah halaman. Gadis kecil ini mendangakkan kepalanya ke atas, menatapku.
“Aku harus mulai dari sini?” aku tersenyum melihatnya kembali menganggukkan kepalanya mantap.
Ditengah gurun pasir yang menyengat, Marco Polo beserta anak buah kapalnya melihat sesuatu yang sungguh menabjubkan sekaligus mengerikan. Langit tampak gelap, matahari seketika menghilang. Bukan kerena kejadian alam yang disebut gerhana, namun sekawanan burung berukuran raksasa berwarna putih terbang melintasi gurun sehingga menutupi sinar matahari. Sesaat mereka terpana, namun kemudian Marco Polo berseru dengan lantang, ‘Lari dan selamatkan diri kalian!’
Aku berhenti sejenak, ikut memperhatikan ilustrasi yang ada pada buku cerita ini. Tampak orang-orang berlari dan beberapa berada pada cengkraman cakar raksasa dan dibawa pergi entah ke mana.
“Roc..,” tanpa sadar aku bergumam.
Alice kembali mendangakkan kepalanya ketika aku bergumam. Kemudian wajah gadis kecil itu tiba-tiba berubah menjadi ketakutan.
SRAAK
Angin yang sangat kencang berhembus. Tiba-tiba suasana sekitar taman berubah menjadi gelap. Terlalu cepat jika sore yang cerah berganti menjadi malam. Tanganku terasa diremas, ya, Alice meremas tanganku. Ku lihat wajah gadis kecil ini, ketakutan dan hampir menangis.
SRAAK SRAAK
Akupun menengadahkan kepalaku, penasaran dengan apa yang dilihat Alice sehingga membuatnya ketakutan. Ku lihat daun-daun hijau di atasku tersingkap dan tampak dua burung raksasa seperti yang diilustrasikan pada buku bergambar milik Alice mengepak-epakkan sayap-sayap raksasanya sehingga bahkan batang pohon berukuran sedang yang ada di bawahnya ikut bergoyang. Tanpa berpikir panjang aku segera mengangkat tubuh Alice, menggendongnya dan berlari menjauh dari bangku taman.
Dua burung raksasa itu menyadari pergerakanku. Bagaimana bisa burung-burung itu melihat kutu? Ah, karena besarnya ukuran burung-burung itu, aku mengkin hanya sededar kutu di hadapannya. Biarpun aku tidak mau memikirkannya namun logikaku yang sangat baik ini tetap berjalan. Secepat apapun aku berlari, bahkan dengan kecepatan maksimal yang ku punya aku pasti tidak akan lolos dari burung-burung raksasa itu. Mau bagaimana lagi? Hanya dengan sekali kepakan sayap raksasanya burung-burung itu dengan mudahnya menyamai jarak yang ku tempuh. Meskipun begitu aku tetap berlari, setidaknya sedikit memperpanjang waktu hidupku dan kau gadis kecil yang ada dipelukanku saat ini.
Tiba-tiba dari arah depan melompat sesosok— entahlah kurasa dia manusia yang membawa sebilah pedang berpendar keperakan. Apapun dia, sosok itu sedikit memberikanku kesempatan untuk berlari. Aku berlari sambil menoleh ke belakang, sedikit khawatir dengan sosok penolong yang rela mengorbankan diri menghampiri burung-burung raksasa itu. Dan benar saja, sosok itu menangkis cakaran salah satu burung raksasa dengan pedangnya. Terlihat keren, namun aku tak bisa menatap kagum padanya terlalu lama, karena seekor burung raksasa mengabaikan sosok itu dan tetap mengejarku. Sialnya, begitu tergesa-gesanya aku berlari sebelah kaki bodoh ini tersandung oleh kakiku yang lainnya. Alhasil dengan tidak elegannya aku jatuh terjerembab dan dapat dipastikan burung raksasa itu pasti akan mencapai tempatku saat ini sebelum aku mempu bangkit dan kembali berlari terlebih dengan rasa sakit yang menjalar pada kakiku.
Ku peluk Alice semakin erat di dadaku. Berharap gadis kecil ini tidak melihat burung raksasa mengerikan itu semakin mendekat. Dan kini bayangan makhluk mengerikan itu tepat berada di atas kepalaku. Sungguh, saat ini juga aku ingin memejamkan mataku, pasrah mempersembahkan tubuh yang teramat sangat elok ini sebagai makanan yang tentu saja sangat lezat bagi burung raksasa itu, namun kedua mata ini menangkap sosok lain di kejauhan di hadapanku. Sosok itu merentangkan busur panah yang juga berpendar keperakan, siap membidikkan anak panahnya. Aku menypitkan mataku, fokus pada sosok di hadapanku itu memestikan bahwa bukan aku yang akan dibidiknya. Sebuah anak panah terlepas dari genggapannya dan meluncur ke arah di mana aku berada saat ini. Seketika bayangan raksasa di atas kepalaku lenyap, digantikan dengan sinar jingga matahari sore.
“Sudah ku bilang kau harus mengincar jantungnya Rave!” sosok indah yang membawa busur panah itu kini berdiri di sampingku. Perempuan ini walaupun tidak ada kesan feminim pada penampilannya namun dapat kupastikan dia cantik.
“Aku tahu cerewet!”
Kemudian sosok dengan pedang berpendar keperakan itu melompat dan menusuk d**a burung raksasa. Seketika buruk raksasa itu pecah menjadi butiran-butitan debu dan kemudian sirna dibawa angin. Setelah dirasa aksinya selesai sosok itu berbalik dan berjalan ke arah kami. Dapat ku lihat dalam sosok itu tersenyum padaku.
Tunggu dulu, sepertinya aku mengenalinya. Dan apa kata perempuan tadi— Rave? Sosoknya semakin mendekat, dan benar saja ternyata dia adalah Rave. Murid baru di kelasku yang selama seminggu ini selalu membuatku jengah dengan acara ‘mengekor’ padaku.
***
“Lama.”
“Ya! Kau tidak lihat senjataku bukan panah sepertimu.”
“Setidaknya kau bisa melemparkan pedangmu tepat di jantungnya kan?”
“Iya juga ya..” Rave menggaruk kepalanya, entah malu atau mungkin memang kepalanya berketombe.
Aku hanya terbengong-bengong menyaksikan pertengkaran dua makhluk penolongku. Serangan tiba-tiba dan datangnya dua makhluk penolong yang sekarang sedang asik berdebat ini membuatku keningku berkerut, terlalu banyak keanehan.
“Tapi bagaimana bisa Roc muncul di sini?”
“Rainmaker! Sudah pasti dia yang memanggilnya. Sini manis, ikut kakak!” kini Rave mengambil Alice dari gendonganku, baru kusadari Alice menangis. “Cup cup, kau pasti sangat ketakutan ya tadi,” lanjutnya sambil tersenyum ke arahku seakan— atau memang mengejekku.
“Gadis kecil ini Rainmaker? Menurut laporan yang kuterima, Rainmaker seumuran kita.” Kemudian perempuan itu berpaling kepadaku dan menatapku intens, “Jangan bilang—”
“Hei, apa yang kau lihat?” tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan namun segera kututupi bagian tubuhku yang dilihat penuh selidik oleh perempuan itu.
“Dia Rainmaker?” dahi perempuan itu berkerut. “Walaupun tidak meyakinkan, tapi dia laki-laki!” lanjut perempuan itu sambil menunjukku. Tidak! Dia tidak menunjukku, tapi menunjuk milikku yang menegaskan bahwa aku laki-laki. Ish, perempuan ini sangat tidak sopan.
“Apa maksudmu tidak meyakinkan?” aku meninggikan suaraku. Dia mengatakan aku tidak menyakinkan sebagai laki-laki? Hei, ketampananku ini bahkan mendekati sempurna, bukankah itu menegaskan kalau aku laki-laki?! Hah, yang benar saja?
“Walaupun dia bukan perempuan, dia cantik,” Rave terkekeh dan mengedipkan sebelah matanya padaku. Dan demi apa sikapnya membuatku merinding.
***
Keesokan harinya kelasku kehadiran satu lagi murid baru, siapa lagi kalau bukan perempuan tidak sopan yang menolongku kemarin. Kini, aku hanya bisa pasrah dengan bertambahnya makhluk yang setia mengekor kemanapun aku pergi. Tentu saja orang satu sekolah bertanya-tanya, menebak-nebak, bahkan sampai menyebarkan rumor murahan. Kini aku mendapatkan julukan baru, ‘Dover si pemikat murid baru’ Hah, ada-ada saja.
Aku teringat perbincangan dengan Rave dan Levine kemarin— ya, perempuan tidak sopan itu bernama Levine.
“Bisakah kalian jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Lalu sebenarnya kalian ini siapa?” tanyaku mengharap jawaban dari kedua orang ini.
“Ah, perkenalkan. Aku Levine dan dia Rave— bukannya kalian satu kelas?”
“Satu meja,” Rave memperjelas dan menatapku dengan pandangan yang errrrrrrr... lupakan.
“Dan kami adalah warrior yang akan mengawalmu,” terang Levine.
Aku hanya melongo mendengar pengakuannya. Ku amati dandanan mereka, keduanya berpakaian biasa seperti kebanyakan orang, sikapnya pun tidak menunjukkan seperti warrior yang ku tonton di film kolosal tentang kerajaan.
“Mengawal? Semacam bodyguard?”
“Bisa dikatakan semacam itu,” Rave yang menjawab karena Levine tidak menjawabnya dan hanya mencibir. Terlihat perempuan tomboy ini sebenarnya tidak setuju dengan kesimpulanku hahahaa.
“Tu-tunggu dulu kau tadi bilang apa? Mengawal siapa?” sepertinya ada bagian yang terlewat oleh pendengaranku.
“Kami adalah warrior yang akan me-nga-wal-mu,” Levine mengulangi dengan memberi penekanan pada kata terakhir.
Aku terbengong sesaat. Oh, siapa sangka murid sekolah menengah yang tinggal seorang diri sepertiku dilahirkan bukan sebagai orang yang biasa-biasa saja. Bisa jadi aku adalah cucu ke seribu satu dari Queen Victoria atau keturunan ke seratus sekian dari Tsar Nicholas yang telah lama menghilang, atau—
“The Rainmaker!” lanjut Levine membuyarkan imajinasiku.
“HAH?! Rainmaker?” aku mengarahkan telunjuk ke arah mukaku sendiri. Memasang wajah bodoh, tidak mengeti dengan istilah yang mereka gunakan. Otak cerdasku mulai bekerja, menganalisa kata yang beberapa waktu lalu mengganggu telingaku. Rainmaker = pembuat hujan = pawang hujan = dukun = orang katrok.
“Huaaaa, kau pikir aku pawang hujan?” lanjutku panik. Dan tiba-tiba aku terdiam, teringat ketika aku berharap hujan turun di tengah liburan musim panas yang lalu, dan secara ajaib keinginanku akan turunnya hujan terkabul dengan begitu cepatnya. Saat itu kupikir itu hanyalah kebetulan semata. Yang benar saja, pasti bukan hanya aku, sebagaian besar orang pasti akan berpikiran sama jika itu hanyalah sebuah kebetulan. Sebagai manusia masa kini yang berteknologi tinggi dan mengutamakan rasional tentu saja hal yang tidak masuk akal— seperti ilmu memanggil hujan merupakan suatu kegilaan.
“Ti-tidak mungkin,” lanjutku nyaris berbisik.
“Kau menyadarinya?”
“Bahkan aku tidak menusuk cabai dan telur waktu itu,” aku teringat cara kerja seorang pawang hujan pada pelajaran antropologi yang kupelajari di sekolah.
“Apa yang kau bicarakan?” Levine mulai frustasi dengan ocehanku, sedangkan Rave tertawa terbahak-bahak menyaksikan dua orang yang diyakininya sedang membicarakan hal yang sama sekali berbeda. Melihat tawa Rave yang sungguh memuakkan, aku kembali tersadar oleh kata-kata mereka di awal tadi.
“Oke, jika aku Rainmaker lalu apa maksud kalian aku yang memanggil makhluk menyeramkan yang menyerang kami tadi. Bukannya seorang Rainmaker hanya pemanggil hujan?”
“Kau tadi membacakan buku itu untuk si kecil kan?” Rave melirik buku yang tergeletak tak jauh dari kursi taman yang sempat kududuki dengan Alice. “Kalau tidak salah ada cerita Marco Polo pernah bertemu dengan Roc. Kau membaca bagian itu dan secara tidak kau sadari kau telah memanggil Roc,” lanjut Rave.
“Seperti Brendan Fraster dalam film Inkheart?” Begitu hebatnya kah diriku? Jika memang seperti itu aku tidak perlu lagi kelaparan. Langsung saja, setelah ini aku akan pergi ke toko buku membeli berbagai buku kuliner dari seluruh dunia.
“Sebenarnya tidak perlu membaca sih,” Rave menggaruk pipinya pelan dengan telunjuknya.
“Jadi aku bisa mendatangkan apapun jika aku mengucapkannya?” tanyaku antusias, sepertinya aku mulai tertarik dengan Rainmaker.
“Y-ya,” Rave menjawab ragu-ragu.
“Jadi bisa dikatakan Rainmaker itu semacam sang pembawa mukjizat,” kali ini Levine bersuara. Aku mengangguk-angguk, sepertinya menjadi Rainmaker tidaklah buruk.
“Yang mengherankan, selama ini Rainmaker adalah seorang gadis, sedangkan kau-” Levine menggantungkan ucapannya.
“Maaf mengecewakanmu!” cibirku.
“Yah, setidaknya wajahmu tidak mengecewakan Rave,” Levine berkata sambil melirik Rave yang tertangkap basah –atau lebih tepatnya selalu— terpesona menatapku.
***
“Hari ini patron-mu akan datang.”
Levine bersuara riang di tengah perjalanan pulang dari sekolah. Hari ini aku pulang hanya berdua dengannya. Entah kenapa kesan pertama yang kukira dia orang yang keren hancur sudah. Memang dandanannya terlihat tomboy dan terkesan dingin, Begitupun di awal perjuampaanku dengannya. Namun, sesaat setelah pembicaraan kemarin, seperti seorang artis yang mendengar suara clapperboard, Levine berubah menjadi sosok yang ceria dan selalu menempel padaku seolah aku ini sahabat perempuannya. Hah, entahlah, aku tidak bisa menduga yang mana sifat aslinya. Sulit dipercaya memang, manun setelah ini kau pasti akan tahu sifat dan sikap Levine padaku sekarang.
“Patron?” aku menghentikan langkahku, menatap Levine meminta penjelasannya.
“Pelindung. Sekaligus pelatihmu.”
“Apa? Aku tidak butuh pelatih, lagipula aku sudah punya kalian kan?” aku memajukan bibirku, “jangan bilang kalian hanya mengawal tanpa melindungiku?” lanjutku memasang wajah kecewa.
“Tentu saja, kami melindungimu juga. Ah, sadarlah banyak yang mengincarmu Dover,” Levine memberikan tatapan prihatinnya padaku. “Percaya atau tidak, kau itu ada dalam bah-”
“Hei!” Rave berlari menghampiri kami tidak lupa dengan senyuman yang selalu terkembang di jawahnya. Melihat Rave yang semakin mendekat, Levine memeluk lenganku kananku.
“Bisa kau lepaskan Dover, Lev. Lihatlah, dia tidak nyaman denganmu,” lanjut Rave menggenggam tangan kiriku.
“Tidak mau, seperti aku tidak tahu akal licikmu Rave. Kau ingin memonopoli Dover untuk dirimu sendiri kan?”
Dan mulailah pertengkaran kedua pengawalku. Dengan aku ditengah-tengah mereka, tertarik ke kanan dan ke kiri, menutup kedua mataku, meringis terpaksa mendengar ocehan keduanya menembus kedua genderang telingaku. Terpaksa, karena bagaimana aku bisa menutup kelingaku jika kedua tanganku diperebutkan seolah tanganku bukan milikku. Aku terlihat pasrah? Hahaa, sepertinya aku memang sudah mulai pasrah karena sedari kemarin aku sudah mulai bosan ikut berteriak untuk menghentikannya. Bukan, bukan pertengkaran mereka yang ingin kuhentikan, namun perlakuan mereka padaku yang seperti ini— kau tahu? Berlebihan.
“Kau darimana?” tanyaku pelan pada Rave. Bukan karena peduli, hanya untuk mengalihkan teriakan Levine-Rave yang saling bersahutan.
“Oh, itu. Aku beru saja bertemu dengan patron-mu.”
Terbukti manjur, kini pertengkaran mereka terhenti. Rave melepas genggaman tangannya padaku. Sedangkan Levine, melonggarkan pelukannya pada lenganku. Ku biarkan saja, setidaknya aksi tarik menarik berakhir dan telingaku terselamatkan dari ketulian.
“Lalu mana dia?” Levine bersuara sok imut masih menempel padaku.
“Katanya dia ada sedikit urusan. Kau tidak melihat Dover tidak suka dengan kelakuanmu Lev?”
“Begitu juga denganmu Rave,” aku berkata tegas. “Patron. Seperti apa ya dia?” aku berguman.
“Tenang saja Dover, patronmu baik, bijak lagi,” Rave mengomentari gumamanku. Asal kalian tahu Dover mempunyai telinga yang tajam. Hah, bahkan gumamanku terdengar olehnya. “Kau pasti akan menyukainya,” lanjut Rave.
“Jujur, aku tidak begitu menyukainya,” Levine bersungut disebelahku dengan posisi yang sama.
“Kenapa?” aku sedikit penasaran.
“Tentu saja karena aku menyukaimu Dover.”
PLAK
Suara Levine yang terdengar dibuat-buat berubah menjadi desahan sakit, yang tadinya kedua tangannya semakin dieratkankan padaku kini mengelus-elus pucuk kepalanya yang terkena pukulan Rave. Tidak lupa mulutnya mulai memberikan sumpah serapahnya pada Rave.
“Alasan macam apa itu?” ejek Rave setelah memberikan pukulan yang tidak bisa dikatakan pelan itu.
“Yah, dia memang bijak.” Levine menghela napas panjang dan menurunkan kedua tangannya dari kepala yang tadinya menjadi sasaran Rave. “Tapi ku rasa sikap baiknya itu dibuat-buat,” lanjut Levine memasang mimik serius.
“Bagaimana kau bisa kau menjudge seseorang yang bahkan kau sendiri juga seperti itu?” aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat mimik yang terpasang pada wajah Levine— jelas dibuat-buat. “Patron itu, siapa namanya?” lanjutku. Kurasa aku sedikit penasaran dengan patron ini.
“Namanya Ke—”
“Kakak!” belum sempat Rave menyebutkan nama patronku tiba-tiba terdengar suara imut dari arah belakang kami dan pemilik suara imut kini sedang berlari ke arahku.
“Alice.”
Aku berjongkok dan merentangkan kedua tanganku, tidak lupa senyuman yang luar biasa menawan kupersembahkan untuk gadis kecil yang sungguh menggemaskan ini. Dan tidak lama Alice sudah ada dalam gendonganku, tertawa senang.
“Kemarin kau pulang dengan selamat?” tanyaku setelah mencium pipinya.
Tunggu dulu, sebelum kau mencurigaiku, aku harus menjelaskan sesuatu. Aku hanya tidak bisa menghiraukan seorang anak kecil. Dan juga kakakku selalu mengajarkan untuk mencintai alam dan menyayangi sesama— hahaa benar kakakku juga pernah menjadi pembina pramuka. Jadi jangan kau coba-coba membuat kesimpulan jika aku ini seorang p*******a, aku tidak akan menyalahi hak asasi anak-anak apalagi melecehkan mereka. -_-
“Uhmm,” Alice mengangguk mantap. “Kak Rave mengantarku sampai rumah dan menemaniku bermain hingga kakak pulang,” lanjutnya.
“Apa-apaan sikapmu itu Dover? Sangat manis jika berhadapan dengan Alice namun dingin jika bersamaku,” protes Levine. “Padahal aku tidak kalah imut dibandingkan dengannya,” lanjut Levine sambil mencibirkan mulutnya.
“Benar-benar imut dan merasa imut itu berbeda Lev,” suara Rave terdengar mengejek, setidaknya ditelinga Levine.
Dan, lagi, mulailah pertengkaran kedua warrior ini. Aku hanya bisa menatap kesal pada mereka berdua. Tak terbayangkan sebelumnya aku yang dahulu hidup hanya berdua dengan kakaku kemudian setahun belakangan ini malah hidup seorang diri dan walau tidak mau mengakuinya aku sering merasa kesepian, namun aku merasa akhir-akhir ini di sekitarku terlalu bising dengan adanya kedua warrior ini. Mungkin tak lama lagi suasana ramai ini akan terus bertambah. Patron itu, siapapun dia yang jelas namanya diawali dengan huruf K hahaha..
“Apa yang kak Levine dan kak Rave ributkan kak?” Alice bertanya padaku, karena sedari tadi gadis kecil ini juga memperhatikan Levine dan Rave.
“Kau jangan pedulikan mereka Alice, jika tidak mau masa kanak-kanakmu ternodai.”
“Uhmm,” sekilas Alice nampak bingung, namun sedetik kemudian gadis kecil ini mengangguk mantap seolah dia mengerti apa yang aku bicarakan. Hahaha.. sangat menggemaskan akupun memencet hidung mungilnya pelan.
“Alice.”
Tidak lama, setelah mendengar sebuah suara yang menyebut namanya, Alice menggeliat di gendonganku. Aku pun menurunkannya, karena ku pikir dia ingin turun.
“Kakak~” kini Alice berlari kecil menghampiri sosok yang kini telah berdiri disebelah Rave.
“Terimakasih untuk yang kemarin, maaf telah merepotkanmu,” suaranya terdengar ramah ketika dia menyapa Rave.
“Hehe, bukan apa-apa,” Rave sedikit tersipu.
Alice menarik tangan meminta perhatian dari orang yang kusimpulkan merupakan kakaknya itu. Sang kakak menunduk sehingga sang adik mendapatkan perhatian penuh darinya, “Kakak, ayo kukenalkan pada temanku yang aku ceritakan kemarin.”
Sang kakak mengangkat wajahnya, menghadap padaku. Ku lihat wajahnya yang tampan. Dan, oh tidak, senyum kakak Alice tampak seperti pangeran rupawan dalam negeri dongeng.
“Kau..”
*****