Aroma kulit jok mobil Rolls-Royce yang mahal biasanya memberikan ketenangan bagi siapa pun yang duduk di dalamnya, namun bagi Zevarian Galdur—yang kini sepenuhnya melebur dalam identitas BeJo—ruang kabin ini adalah laboratorium pengintai. Matahari mulai condong ke barat, membiarkan bayangan gedung-gedung pencakar langit Astra City memanjang seperti jari-jari raksasa yang mencoba mencengkeram aspal. Zevarian duduk di kursi kemudi, tangannya yang terbungkus sarung tangan putih memegang setir dengan santai, namun telinganya menajam, menangkap setiap desis napas dan gumaman dari kursi belakang.
Guinevere Rastafara sedang sibuk dengan tabletnya. Cahaya biru dari layar perangkat itu memantul di kacamata hitamnya yang mahal, memperlihatkan deretan angka dan grafik yang sedang ia tinjau. Sejak meninggalkan salon, gadis itu tidak berhenti mengomel tentang betapa membosankannya pertemuan bisnis ayahnya yang akan datang. Zevarian tetap diam, membiarkan dirinya menjadi bagian dari dekorasi interior mobil. Baginya, setiap keluhan Guinevere adalah kepingan teka-teki. Ia sedang membangun profil psikologis yang mendalam tentang majikannya, mencari celah sekecil apa pun yang bisa menghubungkannya secara tidak langsung ke pusat saraf operasi Daren Christ dan Jennifer Lawrence.
"BeJo, kenapa kau diam saja dari tadi?" Guinevere tiba-tiba bersuara, memecah kesunyian yang telah berlangsung selama lima belas menit. "Sopir-sopirku sebelumnya selalu mencoba menjilat dengan memuji gaun atau riasanku. Kau... kau seperti patung yang bisa menyetir. Apa kau tidak punya lidah?"
Zevarian melirik spion tengah sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan. "Tugas saya adalah memastikan Anda sampai ke tujuan dengan selamat dan nyaman, Nona. Pujian saya tidak akan menambah kecepatan mobil atau kenyamanan perjalanan Anda."
Guinevere mendengus, namun ada sedikit binar ketertarikan di matanya. "Kaku sekali. Papi benar, kau memang didikan militer yang membosankan. Tapi setidaknya kau tidak berisik." Ia kembali menatap tabletnya. "Jen baru saja mengirimkan laporan keuangan bulanan dari firma teknologi mereka. Dia bilang mereka sedang mengembangkan sistem cloud baru yang akan merevolusi penyimpanan data medis. Papi sangat tertarik untuk menyuntikkan dana di sana."
Zevarian merasakan denyut kemarahan di pelipisnya. Sistem cloud baru? Ia tahu persis sistem itu. Itu adalah pengembangan dari prototipe yang ia rancang sendiri setahun lalu, sebelum ia dikhianati. Daren dan Jennifer bukan hanya mencuri hartanya, mereka mencuri ide-idenya dan menjualnya kembali kepada orang-orang seperti keluarga Rastafara.
"Apakah firma itu... D&J Empires, Nona?" tanya Zevarian dengan nada yang sangat netral, hampir acuh tak acuh.
"Kau tahu tentang mereka?" Guinevere mengangkat alisnya.
"Saya sering membaca berita ekonomi saat sedang menunggu di parkiran, Nona. Nama mereka cukup sering muncul akhir-akhir ini sebagai bintang baru di industri teknologi Astra," jawab Zevarian.
"Ya, mereka sangat hebat. Jennifer adalah wanita paling cerdas yang pernah kutemui, dan Daren... dia pria yang sangat ambisius," Guinevere memuji tanpa tahu bahwa ia sedang berbicara dengan pria yang mereka hancurkan. "Malam ini, mereka mengadakan perayaan kecil di kediaman mereka. Aku ingin kau mengantarku ke sana. Pastikan mobil ini berkilau, aku tidak mau dipermalukan di depan Jennifer."
Zevarian mengangguk pelan. "Baik, Nona."
Inilah saat yang ia tunggu-tunggu. Masuk ke kediaman Daren dan Jennifer bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bayangan yang tak terlihat. Sambil mengemudi, Zevarian mulai memetakan koneksi tak langsung. Ia menyadari bahwa Guinevere adalah jembatan finansial utama bagi Daren. Jika ia bisa memutus kepercayaan keluarga Rastafara terhadap D&J Empires, maka fondasi kekuasaan musuhnya akan runtuh seketika.
Namun, di tengah perencanaan dingin itu, sebuah pertentangan mulai muncul di batin Zevarian. Ia menatap pantulan Guinevere di spion. Gadis ini manja, keras kepala, dan sering kali kasar, namun ada semacam kepolosan yang berbahaya di sana. Guinevere benar-benar menganggap Jennifer sebagai sahabat baik, tanpa menyadari bahwa Jennifer hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan akses ke pundi-pundi kekayaan ayahnya. Zevarian merasa seolah ia sedang menggunakan seorang anak kecil sebagai umpan untuk memancing hiu.
Apakah aku benar-benar harus menyeret gadis ini ke dalam api dendamku? Pertanyaan itu muncul sesaat, namun segera ia tepis. Di dunia yang ia tinggalkan, tidak ada ruang untuk belas kasihan. Pengkhianatan Daren telah membunuh sisi lembut Zevarian. Kini yang tersisa hanyalah kalkulasi dan eksekusi.
Mobil Rolls-Royce itu meluncur masuk ke area perumahan paling elit di Astra City, tempat di mana mansion Daren Christ berdiri dengan angkuh. Zevarian menurunkan kecepatan, matanya dengan cepat memindai setiap sudut jalan, posisi kamera CCTV, dan jadwal patroli keamanan swasta di kompleks tersebut. Ia mencatat semuanya di dalam benaknya dengan presisi militer.
"Berhenti di sini, BeJo," perintah Guinevere saat mereka sampai di depan gerbang kayu besar yang sangat familiar bagi Zevarian. "Aku harus memoles lipstikku sebentar. Kau tunggu di luar saja nanti. Jangan masuk kecuali aku memanggilmu lewat interkom."
Zevarian menghentikan mobil dan turun untuk membukakan pintu. Saat Guinevere keluar, ia sempat mencium aroma parfum Jennifer yang terbawa angin dari balik gerbang—aroma yang dulu ia sukai, namun kini membuatnya mual.
"Kau tampak gelisah, BeJo. Apa kau takut melihat rumah orang kaya?" ejek Guinevere sambil merapikan gaunnya.
"Saya hanya sedang mengamati lingkungan untuk memastikan rute pelarian tercepat jika terjadi keadaan darurat, Nona," jawab Zevarian, sebuah kebenaran yang dibungkus dalam kebohongan tugas.
Guinevere tertawa kecil, suara tawanya terdengar sedikit lebih tulus daripada biasanya. "Kau benar-benar aneh. Tapi setidaknya kau bisa diandalkan." Ia melangkah masuk ke halaman mansion, meninggalkan Zevarian berdiri di samping mobil yang masih menyala.
Zevarian kembali ke kursi pengemudi dan segera mengeluarkan ponsel khusus yang tidak bisa dilacak. Ia menghubungkan perangkat itu ke sistem audio mobil yang telah dimodifikasi oleh Marcus. Dalam sekejap, suara-suara dari dalam mansion mulai terdengar samar melalui pemancar frekuensi rendah yang ia pasang di tas tangan Guinevere secara diam-diam pagi tadi.
"Gwen! Akhirnya kau datang!" suara Jennifer terdengar melalui earpiece Zevarian. Suaranya terdengar begitu ceria, begitu palsu.
"Hai, Jen! Maaf terlambat, sopir baruku menyetir seperti kura-kura," balas Guinevere.
Zevarian mendengarkan dengan saksama. Ia mendengar suara tawa Daren di latar belakang, suara dentingan gelas sampanye, dan percakapan tentang saham. Ia menutup matanya, memvisualisasikan tata letak ruangan di dalam rumah itu—ruang kerja Daren, brankas tersembunyi di balik lukisan, dan ruang server di bawah tanah.
Ia berada sangat dekat. Hanya terpisah oleh dinding beton dan beberapa lapis baja. Namun, penyamaran ini adalah segalanya. Ia tidak boleh terburu-buru. Ia harus menjadi udara yang mereka hirup—tidak terlihat, namun esensial, hingga saatnya ia berubah menjadi racun yang mematikan.
Tiba-tiba, suara di earpiece Zevarian berubah menjadi bisikan serius antara Jennifer dan Daren di sudut ruangan yang jauh dari Guinevere.
"Kau yakin Rastafara akan menandatangani kontraknya besok?" tanya Daren dengan nada cemas.
"Tenanglah, Daren. Guinevere sudah ada dalam genggamanku. Dia akan membujuk ayahnya. Kita hanya perlu memastikan 'masalah' kecil di server pusat tidak ketahuan sampai uangnya cair," jawab Jennifer dingin.
"Masalah apa?" Daren bertanya lagi.
"Ada seseorang yang mencoba meretas kita tadi siang, Daren. Seseorang dengan protokol yang sangat... sangat mirip dengan protokol lama Zevarian."
Zevarian tersentak di kursi kemudi. Jantungnya berdegup kencang. Apakah Marcus melakukan kesalahan? Atau apakah Daren dan Jennifer jauh lebih waspada dari yang ia duga? Ia segera mematikan perangkat penyadap tepat saat sebuah ketukan keras terdengar di jendela mobilnya.
Seorang penjaga keamanan mansion Daren berdiri di sana, menatapnya dengan curiga. "Hei, Sopir! Buka jendelanya! Apa yang kau lakukan di dalam sini dengan mesin menyala begitu lama?"
Zevarian menatap balik penjaga itu. Salah satu langkah salah saja, dan seluruh rencananya akan hancur sebelum babak pertama berakhir. Akankah ia mampu mempertahankan ketenangannya di depan orang-orang yang mengenalnya di masa lalu?