Nomor Ajeng tidak kembali aktif ketika penyidik memeriksanya melalui jalur yang tersedia. Catatan panggilan mendukung bahwa ponsel lama Pak Robi pernah menghubungi nomor itu sepekan sebelum ledakan. Catatan tersebut tidak memberitahukan siapa yang menjawab. Maya mengerti perbedaannya, tetapi tetap sulit menerima bahwa nomor seorang perempuan dapat bertahan di telepon suaminya sementara ia sendiri tidak mengetahui namanya.
Dean meminta Maya memisahkan apa yang ia temukan dari apa yang ia takutkan. Amplop itu berisi foto anak kecil dan panggilan sayang kepada Ajeng. Itu bukan alasan menganggap setiap tahun perkawinan mereka sebuah kebohongan. Namun, menghindari kesimpulan juga tidak berarti mereka boleh menolak membuka bagian masa lalu Pak Robi yang belum mereka kenal.
Dengan izin Maya, petugas memeriksa surat keluarga yang tersimpan di rumah. Mereka menemukan salinan lama yang menyebut Ajeng Kurniawati dan kelahiran seorang anak bernama Robi. Tanggalnya mendahului perkawinan Pak Robi dengan Maya. Foto taman kanak-kanak di amplop cocok dengan nama dalam surat, tetapi salinan itu tidak mengandung alamat Panti Mentari ataupun bukti bahwa Pak Robi pernah membayar perawatan anak di sana.
Hal terakhir itulah yang diperiksa Dean terlebih dahulu. Bila panti sudah mengenal ayah Robi selama bertahun-tahun, riwayat anak tanpa keluarga itu akan runtuh. Bunda Ida memastikan nama Ajeng tidak ada pada berkas penerimaan Robi. Maya membawa surat yang selama ini disimpan keluarganya, sementara Bunda Ida menyerahkan catatan penerimaan yang belum mengenali mereka. Dua sumber itu baru bertemu setelah pemeriksaan hubungan darah dilakukan.
Petunjuk dalam surat membawa penyidik ke catatan lama tentang Ajeng. Perempuan itu telah meninggal beberapa tahun sebelum ledakan di Monas. Kerabat yang dapat dihubungi membenarkan riwayat tersebut dan mengenali foto masa mudanya. Mereka juga mengenal kisah anak yang hilang. Setelah pencarian lama tidak membuahkan hasil, hubungan antaranggota keluarga terputus dan alamat mereka beberapa kali berubah.
Nomor yang dihubungi Pak Robi pernah diteruskan kepada orang yang membantu pencarian keluarga. Penerimanya membenarkan panggilan terakhir itu dalam keterangan yang diminta penyidik: Pak Robi masih menanyakan petunjuk tentang anak yang hilang. Nama kontak pada ponsel tidak pernah diganti. Panggilan tersebut tidak berasal dari Ajeng yang hidup kembali, melainkan dari pencarian yang belum selesai ketika Pak Robi dibunuh.
Dean tidak meminta keluarga menyelesaikan ingatan bertahun-tahun dalam satu pertemuan. Ia mengirim foto Robi Suryadi melalui petugas yang menangani keterangan mereka. Jawaban datang sesudahnya: ciri dan riwayat usia anak itu sesuai dengan Robi yang pernah hilang, meskipun pengenalan foto saja tidak diperlakukan sebagai pengganti hasil pemeriksaan keluarga yang sudah ada.
Maya membaca surat itu di meja makan. Untuk pertama kalinya, kecemburuannya harus berbagi tempat dengan kehilangan yang lebih tua. Ajeng bukan perempuan yang baru saja merebut suaminya. Ia seorang ibu yang sudah meninggal tanpa kepastian tentang anaknya. Pak Robi mungkin masih mencari pada hari ia sendiri dibunuh. Maya tidak dapat bertanya lagi kepada keduanya.
'Lalu siapa perempuan di makam?' tanyanya.
Itulah pertanyaan yang tidak dijawab surat keluarga. Penjaga makam mengatakan seseorang menggunakan nama Ajeng ketika meletakkan mawar. Keterangan itu tidak menghidupkan Ajeng Kurniawati kembali. Elly juga mencatat kelemahan pemeriksaannya sendiri: ia memberi uang kepada penjaga sebelum mengambil bunga, sementara wajah pemberi bunga tidak diingatnya dengan baik. Nama yang disebut penjaga harus diuji melalui sumber lain.
Tim memperoleh salinan gambar dari anggota Dewan yang pertama menyebarkan foto mawar di makam. Ia bersedia menjelaskan kapan memotretnya dan tidak mengaku bertemu Ajeng. Foto di akunnya adalah foto bunga yang sudah berada di sana. Hal itu berbeda dari gambar mawar yang lebih dahulu beredar melalui Keen365. Kemiripan lambang tidak membuktikan kedua unggahan berasal dari kamera atau tangan yang sama.
Hanung menyusun urutan gambar tersebut di dinding. Kematian dua Robi, pemakaman, foto mawar, penculikan Nono, ancaman kepada Dean, lalu foto beruang. Tidak ada alasan menukar urutannya demi membuat satu pelaku terlihat mengetahui segalanya. Seseorang bisa meniru lambang yang sudah dikenal publik dan memperoleh kesan seolah-olah ia menguasai peristiwa sebelumnya.
Rekaman rumah sakit menunjukkan perempuan berkacamata yang membawa Nono. Dean mengenali gerak tubuh yang mengingatkannya kepada perempuan di dekat taksi, tetapi ia tidak mengklaim melihat wajah dengan jelas pada kedua kejadian. Merlin mengingat perempuan yang menyapanya di pemakaman. Tiga pengamatan itu membuka kemungkinan sosok yang sama, tanpa menghapus perbedaan keadaan ketika masing-masing saksi melihatnya.
Maya mendengarkan penjelasan terakhir dengan wajah makin tegang. Sesudah Dean selesai, ia menanyakan apakah meminta pertolongan kepada seseorang yang salah dapat membahayakan orang lain. Dean meminta ia menerangkan maksudnya. Maya membuka riwayat panggilan pribadinya. Ia pernah menelepon nomor Bokeh yang diberikan kerabat setelah pertengkarannya dengan Danu.
'Saya ingin tahu siapa Ajeng. Saya marah. Orang yang menjawab bilang mereka bisa mencarinya.'
Ia belum pernah melihat Jalal Bokeh. Namun, atas permintaan orang di telepon, ia mengirim salinan nama Ajeng dan foto dari amplop melalui seorang perantara. Ia juga menceritakan dugaan hubungan anak itu dengan panti. Saat itu baginya hanya ada satu tujuan: mendapatkan jawaban yang tidak diberikan suaminya ketika masih hidup.
Dean meminta bukti penyerahan yang masih ada. Maya menyerahkannya dengan tangan gemetar. Panggilan itu belum membuktikan Bokeh memerintahkan pembunuhan, tetapi menyediakan jalan yang masuk akal bagi jaringan tersebut memperoleh nama Ajeng dan riwayat keluarga Robi. Mereka tidak lagi perlu membayangkan seorang perempuan yang hidup kembali untuk menjelaskan bunga di makam.
'Saya harus bilang apa kepada Danu?' tanya Maya.
'Katakan yang Anda lakukan. Dan dengarkan bagian yang sudah dia ketahui sejak awal.'
Maya meminta kesempatan menyerahkan sendiri surat yang berkaitan dengan Robi kepada Bunda Ida melalui penyidik. Ia ingin pihak panti menerima penjelasan yang sama, termasuk bagian tentang panggilannya kepada Bokeh. Dean mengatakan penyerahan itu bisa diatur sesudah pemeriksaan salinan selesai. Tidak ada gunanya menghibur orang-orang di panti dengan kisah keluarga yang sengaja menghilangkan bagian paling memalukan bagi dirinya.
Hanung membawa salinan bukti itu melalui Kaluma. Maya meminta agar anak-anak di rumah tidak mendengar seluruh percakapan orang dewasa malam itu. Dean menyetujuinya tanpa berjanji menyembunyikan perbuatan yang perlu diperiksa. Sebelum pergi, ia melihat foto keluarga di ruang tengah. Dua kematian telah menutup kemungkinan pertemuan ayah dan anak. Tugas yang tersisa adalah memastikan nama mereka tidak terus dipakai orang lain untuk menciptakan korban berikutnya.