Ayana kembali ke kamar pelayan dengan langkah cepat. Ia memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya sebelum duduk di tepi ranjang. Tangannya masih dingin setelah percakapan singkat dengan Seungwoo.
Miran yang sedang merapikan selimut menoleh. "Kau kelihatan habis melihat hantu."
"Aku hanya kaget. Raja masuk ketika aku sedang membersihkan kamar."
Miran membelalakkan mata. "Beliau bicara denganmu?"
"Beliau bertanya tentang aroma yang tercium di kamar. Aku bilang mungkin bau roti dari dapur."
"Lalu?"
"Beliau menyuruhku menyelesaikan pekerjaan dan pergi."
Miran menghela napas lega. "Setidaknya beliau tidak marah. Tapi kau harus lebih hati-hati. Kalau ada yang tidak disukai Raja, semua pelayan bisa ikut terkena akibatnya."
Ayana mengangguk. Ia tidak menceritakan bahwa aroma itu mungkin berasal dari dirinya atau Baby Wulf. Semakin sedikit orang yang tahu, semakin aman bayinya.
Malam itu ia mengirim pesan singkat kepada Hangyul melalui jalur yang sudah mereka sepakati. Ia menulis bahwa Seungwoo masuk ketika ia berada di kamar dan bertanya tentang aroma yang tercium. Ia juga memberi tahu bahwa ia menjawab dengan alasan bau roti panggang.
Hangyul membalas setelah beberapa waktu: jangan mengubah dosis ramuan, jangan memakai wewangian tambahan, dan tetap keluar sebelum Seungwoo kembali. Ayana membaca pesan itu berulang kali. Ia tahu Hangyul berusaha menenangkannya, tetapi situasinya semakin rumit.
Di sisi lain istana, Seungwoo duduk di ruangannya dengan segelas air. Ia teringat pelayan bernama Aya yang berdiri kaku di dekat meja. Ada sesuatu pada suaranya yang membuatnya ingin bertanya lebih banyak, tetapi ia sendiri tidak mengerti alasannya.
Malam berlalu tanpa kejadian lain. Namun ketika ia berbaring, pikirannya tetap berputar. Ia tidak langsung tertidur seperti malam sebelumnya.
Ayana pun berbaring dengan telapak tangan di perut. "Maaf, Nak. Ibu harus berbohong supaya kita bisa tetap di sini."
Ia berharap kebohongan kecil itu cukup untuk menjaga rahasia mereka, setidaknya sampai ia menemukan cara yang lebih aman.
***
Keesokan paginya, Ayana kembali mengikuti jadwalnya. Ia membersihkan kamar raja lebih awal, sebelum Seungwoo kembali dari pertemuannya. Kali ini ia menghindari dapur dan memakai sarung tangan bersih agar tidak membawa aroma makanan ke dalam ruangan.
Ia bekerja cepat. Saat sampai di meja dekat jendela, ia berhenti sejenak dan memeriksa setiap benda sebelum menyentuhnya. Pertanyaan Seungwoo kemarin masih membayang. Ia tidak ingin memberi alasan baru untuk dicurigai.
Setelah tugas selesai, ia mengunci pintu dan menyerahkan kunci kepada penjaga. Di lorong, Madam Ra Mi menghampirinya.
"Raja menyampaikan bahwa kamarnya kembali bersih pagi ini. Kau bekerja dengan baik."
"Terima kasih, Madam."
"Pertahankan. Tapi jangan sampai pekerjaan ini mengganggu tugas lain."
Ayana mengangguk dan melanjutkan langkah. Ia merasa lega, meskipun belum tahu apakah kebersihan kamar benar-benar alasan Seungwoo memperhatikannya.
Malamnya, Seungwoo kembali ke kamar setelah urusan istana selesai. Ia duduk di kursi, membaca beberapa dokumen, lalu mencoba beristirahat. Namun tidur tak kunjung datang. Ia membolak-balikkan tubuh dan merasa pikirannya terlalu gaduh.
Ia teringat malam sebelumnya, ketika kamar sudah tertata rapi dan udara terasa lebih tenang. Pada malam itu, ia tidur lebih nyenyak daripada biasanya. Barangkali hanya kebetulan. Meski begitu, ia ingin menguji dugaan tersebut.
Pagi berikutnya ia memanggil Seungyoun.
"Siapa yang membersihkan kamarku sebelum aku kembali kemarin?"
Seungyoun menjawab, "Aya, Yang Mulia. Pelayan baru yang ditugaskan Madam Ra Mi."
"Pastikan kamar ini dibersihkan sebelum aku pulang malam ini."
"Apakah Yang Mulia ingin pelayan yang sama?"
Seungwoo diam sebentar. "Ya. Jangan biarkan siapa pun mengganggunya saat bekerja."
Seungyoun menerima perintah itu. Ia tidak bertanya mengapa Raja memilih pelayan baru tersebut. Namun rasa ingin tahunya tentang Aya semakin besar.
***
Madam Ra Mi menyampaikan perintah Raja kepada Ayana setelah makan siang.
"Mulai malam ini, kau akan membersihkan kamar beliau sebelum beliau kembali. Selesaikan semuanya lebih awal dan keluar sebelum Raja tiba."
Ayana terpaku sesaat. "Setiap malam, Madam?"
"Ya. Itu perintah Yang Mulia. Kau harus mengatur pekerjaanmu agar tugas lain tetap selesai."
"Baik, Madam."
Ayana menerima jadwal baru. Tugas itu membuatnya lega sekaligus takut. Berada dekat kamar Seungwoo mungkin membantu Baby Wulf, tetapi ia juga harus memastikan tidak tertangkap ketika berada di sana.
Malam pertama, ia masuk ketika langit mulai gelap. Ia menata kamar dan membersihkan lantai, lalu memeriksa waktu berkali-kali. Sebelum meninggalkan ruangan, ia memastikan tidak ada barang yang berubah tempat. Ia keluar lebih awal dan menyerahkan kunci kepada penjaga.
Seungwoo kembali beberapa saat kemudian. Kamar itu sudah rapi dan sunyi. Ia segera merasa lebih tenang. Malam itu, ia tertidur tanpa banyak membolak-balikkan tubuh.
Seungyoun menyadari perubahan tersebut. Ia juga memperhatikan bahwa Raja selalu meminta Aya mengurus kamar sebelum dirinya kembali. Rasa curiga yang sempat muncul di lorong kembali menguat.
Pagi berikutnya, Seungyoun menuju ruang administrasi pelayan. Chang bin sedang memeriksa daftar nama dan catatan penempatan.
"Aku ingin melihat data pelayan bernama Aya," kata Seungyoun.
Chang bin mengangkat wajah. "Ada masalah dengan pelayan itu?"
"Aku hanya memastikan semua data penempatan lengkap. Raja meminta dia bekerja di kamar pribadi."
Chang bin membuka buku catatan. Nama Aya tercantum di antara pelayan baru, dengan keterangan bahwa ia datang dari Taewan dan direkomendasikan melalui Madam Ra Mi. Tidak ada catatan keluarga yang lebih rinci.
Seungyoun membaca informasi itu dengan saksama. "Siapa yang mengajukan namanya?"
"Madam Ra Mi yang menyampaikan berkasnya. Saya hanya mencatat."
Seungyoun menutup buku itu. "Terima kasih. Jangan membicarakan pertanyaan ini kepada pelayan lain."
Ia pergi membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Sementara itu, Ayana menjalani tugas malam berikutnya tanpa mengetahui bahwa asal-usulnya mulai diperiksa.
***
Seungyoun menyimpan salinan informasi tentang Aya di ruang kerjanya. Catatan itu tampak biasa: seorang pelayan baru dari Taewan, diterima melalui Madam Ra Mi, tanpa keterangan keluarga yang jelas. Namun justru bagian yang kosong membuatnya bertanya-tanya.
Ia tidak ingin langsung menuduh Aya. Pelayan baru sering datang dengan catatan sederhana, dan belum ada bukti bahwa perempuan itu mengancam Raja. Tetapi jika ada sesuatu yang disembunyikan, ia harus mengetahuinya sebelum masalah muncul.
Sore itu ia kembali menemui Chang bin dan meminta tanggal kedatangan Aya serta nama orang yang mengantarnya ke gerbang. Chang bin memeriksa buku lain, lalu menggeleng.
"Tidak ada nama pengantar, Tuan. Dia datang bersama berkas yang dibawa Madam Ra Mi."
"Begitu."
Seungyoun tidak menunjukkan kecurigaannya. Ia meminta Chang bin menjaga berkas itu tetap tersimpan dan tidak menyebarkan kabar pemeriksaan tersebut.
Di kamar pelayan, Ayana merapikan seragam untuk tugas malam. Ia menyadari jadwalnya membuatnya semakin jarang bertemu Hangyul. Ia perlu meminta tambahan ramuan, tetapi belum tahu kapan mereka bisa bicara tanpa menarik perhatian.
Malam itu ia tetap menyelesaikan tugas kamar raja dengan tenang. Ia keluar sebelum Seungwoo datang, seperti yang diperintahkan. Dari ujung lorong, ia melihat Seungyoun berdiri dekat ruang kerja sambil membaca dokumen.
Ayana menunduk dan terus berjalan. Seungyoun sempat mengangkat wajah, tetapi tidak memanggilnya.
Mereka sama-sama menyimpan pertanyaan. Ayana takut rahasianya terbuka, sedangkan Seungyoun berusaha memastikan siapa sebenarnya pelayan baru itu. Di antara mereka, Seungwoo belum mengetahui apa pun—ia hanya tahu kamar yang dibersihkan Aya membuat malamnya lebih tenang.