rahmat itu tidak romantis setiap saat, kadang juga kalimatnya menyeleneh sampai-sampai membuatku ingin nyekik rahmat.
setiap kami kami telponan sebelum tidur, rahmat seolah punya mantra sendiri hingga membuatku tersenyum sebelum terlelab. sama seperti malam ini, kali ini sebelum menutup telpon rahmat berkata
"tips tidur nyenyak satu" kata rahmat layaknya protokol acara resmi lengkap dengan intonasi dan gaya ucapannya.
"baca doa biar di lindungi allah dan tidak ketemu mantan yang selalu bilang guk guk" ujarnya sok serius tapi sukses membuat menahan tawa agar rahmat tidak berhenti dari candaanya.
"dua, baca pancasila biar dilindungi negara" katanya masih sok serius sedangkan aku masih mendengarkan.
"tiga. baca peta biar mimpinya ngak tersesat"
"empat, baca UUD biar ngak ngelanggar hukum"
"kelima, minum baygon biar ngak di gigit nyamuk" kata rahmat menggakhir ucapannya.
"mati dong" ujarku protes
"bagus dong"
"biar apa coba?"
"biar aku bisa selingkuh dan cari pacar barulah" katanya dengan lancar
"rahmattt" jeritku kesal.
"iya istriku" jawabnya santai
"apaan sih" kataku dengan kesal padahal pipiku sudah memerah bahkan tanpa sadar aku sudah menenggelamkan wajahku dalam bantal saking malunya taoi entah pada siapa.
"lia" panggil rahmat.
"mmm" gumamku singkat padahal aku sedang mencoba mengatur kembali detak jantungku.
"latihan dulu gih" katanya
"apa?"
"latihan manggil aku suami" katanya santai.
"ngak mah ahh" kataku menolak.
"kenapa?"
"belom sah takutnya di sangka takkabur" jelasku.
"ya udah. sekarang aku panggil kamu sayang deh"
"eghh"
"kan aku sayang ma kamu. itu ngak takkabur kan?"
"jangan sok alay. telat banget sumpah" protesku tapi tetap saja aku senang bukan main karena secara tidak langsung rahmat menyatakan sesuatu yang sudah ku nantikan sedari dulu.
"lia" panggil rahmat sekali lagi
"ya" kataku masih tersenyum lebar.
"aku senang deh pacaran ma kamu" kata rahmat yang sukses membuatku ingin melambung tinggi.
"iya.. iya aku juga senang pacaran sama kamu" ada jeda dari kalimatku, setelah itu aku berkata "ya walau pun kamu pelit, kadang pelupa juga tapi aku tuh sayang sama kamu" lanjutku.
"aku tuh lebih sayang kamu, buktinya kalo kita pacaran aku sayang banget ngeluarin duit"
"rahmat ighh pelit" katamu kesal.
"becanda lia" bujuknya singkat.
"kamu kenapa sih selama ini serasa vlog mulu ngak bosan apa? dan apa gunanya coba publik tahu privasi kamu?" kataku
"vlog selain nyimpen momen aku, apa yang ku lakukan kan juga ngasilin duit lia"
"iya tapi kesannya ngak punya privasi banget"
"itu udah koensekuensi lia. aku kerja keras selama ini tuh demi anak-anak kita nanti"
"egh?" kataku tidak menggerti.
"aku pengen suatu hari anak kita bilang keteman-temannya, yuk main di rumah aku aja. di rumah ada wifi kecepatannya secepat cahaya, ada bioskop sama kolam renang yang di tengahnya ada jalan tol" ujarnya sok serius.
"ngawur kamu" semprotku tapi tawaku menyusul setelahnya.
itu rahmat. seperti dia dan seperti itu lelaki yang ku sukai. rahmat adalah tipe laki-laki yang kalo ada masalah selalu di bicarakan bukan menyudahi tanpa perdamaian.
rahmat itu orangnya serba bisa. dalam kesenian oke, ke ilmuan apa lagi, olahraga iya banget, dan setelah kejadian mobil mogok, dia juga belajar teknisi tapi dia ngak pernah nekunin semua bakatnya itu.
rahmat itu, bisa ya bisa aja bukan kayak orang yang bisa sesuatu trus ngasa kemampuannya secara terus-menrus. conttohnya saja, dia bisa nyanyi, main musik, dn suaranya bagus dia jadi penyanyi jelas semua itu mendukung, tapi enggk rahmat tuh ngak kayak gitu. saat aku bertanya, dia dengan santainya menjawab
"aku pengen jadi teman terbaik milik istri dan semua anak-anakku makanya aku harus bisa banyak hal" jawabnya
so sweet banget ngak sih?. bahkan saat aku iseng nyoret-nyoret wajahnya dengan makeup punyaku, dia bukannya marah malah minta di ajarin make semua alatnya.
dia dengan serius belajar dan meraktekin hasil belajarnya padaku dan tahu hasilnya gimana?, hasilnx lumayan untuk pemula apa lagi laki-laki seperti dia.
aku sering membayangkan gimana bahagianya wanita yang menjadi istri si rahmat nanti. ibarat avatar nih ya, dia harus mengguasai empat elemen untuk menstabilkan bumi, dan semua itu udah rahmat punya menurutku.
tampang oke gila, modal ekonomi dan body maco sangat mendukung wajahnya, bisa masak, baik walaupun mulutnya jago nyinyir dan walaupun dia badung di sekolah, itu tuh ngak ngurngin nilai kesempurnaan dia di mataku.
ada satu hal yang paling membedakan abi dan rahmat. kalo aku bertengkar dengan abi, dia akan diam saja lalu membiarkan aku pergi untuk menenangkan diri sendiri, kalo aku tenang dan udah pake otak rasional, udah kami baikan lagi seolah tidak ada apa-apa.
sedangkan dengan rahmat, rahmat tidak pernah membiarkan masalah itu terjadi di waktu lama. entah sudah ke biasaan atau bagaimana, setiap aku tidak sependapat dengan orang lain, aku bakal memilih pergi.
ada satu kejadian saat kami bertengkar, rahmat juga membiarkan aku pergi tapi aku tidak pergi seorang diri. dengan bodohnya rahmat bakal menggikutiku.
ketika aku melangkah dia juga melakukannya tapi saat aku berhenti lalu berbalik untuk berhadapan dengan dia, dia dengan santainya berkata
"katanya mau pergi, kenapa masih di sini?" tanyanya dengan sok cool.
aku melangkah dan melangkah, tapi rasanya seperti ada yang menggikuti jadi sekali lagi aku berbalik dan benar adanya rahmat kedapatan menghentikan langkahnya.
"ngapaen ikut?" tanyaku
"siapa yang ikutin kamu. aku mau ke sana kok" tunjuknya pada arah mobilnya.
"ya udah gih duluan" ujarku kesal.
dia melakukan yang ku lakukan hingga rahmat melangkah jauh di depanku. ku pikir dia akan santai memasuki mobilnya lalu pergi begitu saja, nyatanya rahmat kembali dengan sedikit berlari menuju ke arahku.
tepat saat dia berdiri di hadapanku, aku dengan bodohnya malah diam memperhatikan dia yang menjulang lebih tinggi dariku. aku berkata
"ngapaen kembali, ada yang ketinggalan?"
"mmm" gumamnya sambil mengangguk beberapa kali.
"apa?" tanyaku dengan kerutan di kening.
"kamu" ujarnya sedikit membungkuk lalu menyamaratakan tinggi kami tapi kepalanya sedikit bergerak ke kanan dan
"cup" sebuah kecupan di pipi rahmat lakukan. aku terpaku di tempatku hingga lupa harus merespon seperti apa. tangan rahmat lalu menggelus kepalaku dengan lembut lalu berkata
"maaf ya" katanya sembari menatap mataku intens.
sumpah aku tidak tahu bagaimana rahmat bisa semanis dan semudah itu meluluhkan amarahku. katakan aku bucin tapi semua orang akan bucin pada orang yang tepat.
om Hafiz bisa berubah demi tante aira, om hafiz rela sedikit merendahkan egonya demi tante aira dan ku rasa aku juga sudah menemukan laki-laki yang rela melakukan itu untukku.
Rahmat benar-benar bisa membuatku seakan jatuh cinta setiap saat padanya. aku cinta rahmat? kurasa iya. jika cinta dan kebahagian adalah satu, kurasa memang aku mencintai rahmat.
*****
apa-apan tuh abi. setelah lebaran ID tiba-tiba abi posting vidio di sosial medianya dan dalam caption dia nge tag namaku. semua teman-teman sekolah yang masih akrap denganku seketika hebo menghubungiku lalu membahasnya.
kalo vidio lucu atau moment kebersamaan kami dari kecil sih aku tidak masalah, tapi sekarang ini aku sudah berstatus sebagai kekasih rahmat mana di vidio itu menyanyi seakan sangat menghayati lagu.
Abi menyanyikan satu lagu dengan bahasa jawa yang jelas tidak ku mengerti awalnya, setelah ku cari arti dari setiap lirik, kesannya tuh kayak aku yang ninggalin dia demi orang lain.
hal yang lucu dari vidio itu adalah, aku tidak tahu kalo abi masih bisa bahasa jawa. kedua, kesannya lucu aja, bukannya dia yang pergi dan selingkuh? tapi kenapa dia meratap seolah ini salahku.
awalnya aku kesal karena itu membuat aku dan rahmat bertengkar, tapi setelah bercerita singkat dengan tante dewi, aku bungkam juga mengacuhkan rahmat begitu saja.
masalah tentang abi kudiami. tidak jauh dari posisiku sekarang, sedang duduk wanita yang melahirkanku, di sampingnya ada si suami yang sedang beramah-tama dengan keluarga tante dewi.
awalnya aku diam dan menggurung diri di kamar tamu yang di sediakan untukku, tapi saat tante dewi mengatakan jika sebenarnya keluarga wanita itu tidak baik-baik saja seperti yang ku bayangkan, akhirnya aku mau bertemu dan berbicara dengannya.
inti dari pembicaraan kami adalah, alicia akhirnya harus masuk sekolah tapi jangankan punya akte lahir, surat nikah orangtua kandungnya saja tidak ada.
fakta itu jelas menggejutkan suami si wanita. si suami menerima wanita itu dengan paket komplit tapi yang si suami baru tahu bahwa, alicia bukan anak yang lahir dari rahim istrinya.
si suami sempat kecewa karena wanita itu tidak jujur sedari awal. aku yang mendengar itu seketika hanya berpikir bahwa, apa masalahnya? toh dia sisa ngadopsi alicia hingga alicia bisa punya akte lahir dan sebagainya.
nyatanya semua tidak semudah itu, lelaki itu tidak mau merawat alicia lagi karena baginya alicia bukan muhrim dan bukan tanggung jawabnya apa lagi kedua orangtua kandung alicia masih hidup.
saat wanita itu menceritakannya, dia menanggis terisak di depanku sedangkan aku hanya menatap dengan wajah datar seolah tiada iba.
bukankah wanita itu yang mengatakan jika kami harus hidup di atas pilihan kami masing-masing? bukankah dia yang memintaku menjauh dan membiarkan dia hidup bahagia dengan pilihannya?, sekarang ini apa?.
mungkin saja bahasa indo ku yang hancur lalu aku tidak menggerti arti semua ucapannya dulu, atau bisa jadi kami sedang berada di dunia terbalik, jadi jika orang bilang jangan maka artinya lakukan.
otakku yang super minimalix tidak bisa menyerap kalimatnya. dia juga sempat menunjukkan perut buncit di balik hijab panjangnya, dan saat itu aku tahu jika memang sudah waktunya alicia di buang.
orang pertama yang ingin ke telpon adalah om hafiz tapi menggingat kondisi om Hafiz, aku menelpon rahmat. nyatanya nomor Rahmat tidak aktif.
saat aku menelpon ke rumahnya, ART si Rahmat berkata jika Rahmat ada tapi dia cuman tidak ingin bicara denganku. saat itu perasaanku hancur dan semakin hancur saja.
Tidak tahan memendamnya sendiri, ku telpon Abi pukul dua lewat tiga puluh tujuh menit. seharusnya di seperti malam seperti ini, untungnya Abi menerima telponku, bukannya menggucap salam atau menggucapkan masalahku, aku hanya menanggis terisak.
Abi tidak bertanya, Abi tidak mencoba menghentikanku. Dia membiarkanku menanggis dan berkata sesuatu yang jelas tidak bisa dia menggerti.
Aku berbicara terputus-putus. Aku menggadu layaknya orang merancau karena isak tanggis belum juga bisa ku kontrol.
tidak lama setelahnya tanpa ku sadari tante dewi masuk ke dalam kamar lalu memelukku tanpa suara juga. beliau hanya memeluk, membiarkan aku menanggis dalam pelukannya sampai puas hingga aku lelah sendiri.
setelah sedikit merasa tenang, tante dewi menyodorkan segelas air putih yang ku minum hingga tandas. kami berdua lalu berbaring di atas kasur dengan nyaman. saat itulah tante dewi baru berkata
"mamamu tadi bilang apa?" katanya memulai pembahasan.
"alicia mau di titipkan di panti asuhan" jelasku dengan air mata yang kembali turun.
"alicia benar bukan anak dari mamamu?" tanya tante dewi lagi.
"mmm" jawabku lalu kembali masuk dalam pelukan tante dewi.
"lalu kamu menolak?"
"jelas. aku tuh ngak bisa bayangin bagaimana seandainya aku yang jadi alicia sekarang ini" kataku mulai kembali meneteskan air mata tapi ada sedikit rasa sakit hati sekaligus marah yang ikut andil dalam perasaanku.
"tante juga, tapi bagaimana pun cara itu bagus untuk keadaan mamamu yang sedang hamil muda"
"salah alicia apa sih tante?. memangnya dia yang minta untuk di lahirkan dalam keadaan ini? memangnya dia yang buat wanita itu ada di kondisi seperti sekarang?" kataku tidak terima perkataan tante dewi.
"bukan, mamamu kan baru memulai keluarganya lagi. alicia bukan anak mamamu jadi bukan tanggung jawab mamamu"
"tante seolah menyamakan alicia kayak anak haram ya?" tudingku sarkis lalu melepaskan pelukan tante dewi.
tante dewi seketika bungkam tapi bukan karena tidak tahu harus berkata apa, beliau malah berkata
"tidak semua orang berpikir rasional, tidak semua orang baik. tante tahu kamu tidak tega tapi situasi ini sudah benar karena orangtua alicia tidak punya akte nikah dan alicia tidak punya akte lahir" jelas tante dewi lembut
aku diam bahkan berbaring membelakangi tante dewi. aku memilih diam dan menahan tanggisku. ku pikir pembicaraan kami sudah usai, nyatanya tante dewi memelukku dari belakang dan berkata
"kesannya memang jahat tapi, di sana alicia masih bisa sekolah, punya teman yang mungkin senasib bahkan pendidikan agamanya juga terjamin di sana"
"siapa yang bisa menjamin kalo alicia akan baik-baik saja di sana?. siapa yang bisa memastikan jika alicia tumbuh seperti orang lain" kataku lalu berbalik agar bisa bersitatap dengan tante dewi.
mendengar perkataanku, tante dewi yang diam. dia menatap mataku nanar lalu dengan lembut dia menyentuh tanganku dan berkata
"jadi mau mu sekarang bagaimana?"
"aku yang akan menggurus alicia" putusku tegas.
"kamu yakin bisa?. kamu diri sendiri saja masih bergantung pada Hafiz. kamu masih sekolah dan tidak punya pekerjaan untuk membiayai hidupmu apa lagi alicia" kata tante dewi menggingatkan.
aku yang kini terdiam ketika menggingat fakta itu. aku bodoh ya aku bodoh memikirkan hasil tanpa proses. aku merawat alicia tanpa akte dan surat-surat penting untungnya apa untuk alicia?.
"jangan egois. alicia butuh sekolah untuk masa depannya, biarpun dia juga butuh keluarga tapi dengan kondisi orangtua kandungnya yang sama-sama di penjara hasilnya apa?"
"aku. aku yang akan jadi orangtua alicia"
"bodoh. untuk jadi wali, kau harus menikah punya suami yang bisa membiayai kalian dan melindunggi kalian berdua" decak tante dewi sinis.
"aku akan menikah dengan abi. abi kaya, berpenghasilan dan kuyakin dia mau bantu kami berdua" tuturku tegas.
"kau lucu ya lia. kau bilang kamu dan habib tidak ada hubungan apa pun lagi. habib sudah dengan rina, kau dengan rahmat tapi kau minta bantuan pada habib?" ujarnya menggejek.
aku seketika bungkam dan tetap bungkam saat tante dewi beranjak dari atas kasur lalu bergerak pergi. sebelum tante dewi pergi, tente dewi menyempatkan diri berbalik dan berkata
"tadi habib yang menelpon menyuruh tante kesini memeluk kamu. sesayang-sayangnya tante sama kamu, tante tidak akan pernah mau kamu memanfaatkan habib" katanya lalu benar-benar pergi dari kamar yang ku tempati.
karena perdebatan singkat kemarin, aku menjadi sedikit canggung dengan tante dewi. awalnya aku berencana mengginap selama empat hari empat malam, nyatanya malam kedua aku sudah pamit.
aku merasa bersalah pada keluarga ini. aku juga sudah tidak sanggup jika wanita itu datang dan mengatakan dimana alicia akan di titipkan.
sekarang aku memilih egois, ya aku egois dengan pikiranku dan hatiku yang terluka. nomor probadiku sudah ku unreg sedang gadget sekaligus nomor tante aira ku tinggal di pinrang.
aku butuh sendiri aku butuh merenung dan aku butuh merelakan alicia menjalani takdir hidupnya yang semakin menderita sedangkan aku tidak bisa memberi solusi apa pun lagi.