Hujan sudah semakin deras bahkan beberapa terlihat kilatan petir di langit gelap dan pencahayaan makin minim. Walaupun sedang basah kuyup di ikuti angin yang cukup kencang, tidak tahu kenapa aku tidak merasakan kedinginan sama sekali.
Mungkinkah karena aku bingung maka tubuh memaksa agar siap siaga atau bisa jadi aku seperti ini karena saking khawatirnya dengan situasi jalan yang sepi dan kami jauh dari rumah penduduk.
Tubuhku tidak merasa dingin tapi tetap merinding. Di tempat kami saat ini sangat banyak ilalang sedangkan televisi dan sosial media menggambarkan bahwa, sedang banyak ular yang keluar dari sarangnya dan mencari tempat panas.
Tempat kami mungkin bukan sesuatu yang ular sukai masalahnya kalau ada yang melintas dan terganggu dengan pergerakan ku kan bisa saja terjadi. Saat yang lainnya selesai mengumpulkan batu dan kayu, aku tidak tahu fungsi kayu itu yang jelas Dito membawanya ke hadapanku.
Batu sudah di kumpulkan, Abi dan Dito bertugas menyusun batu dari samping sedangkan Rahmat mengecek di bawah kolong mobil kondisi genangan air itu. Setelah batu sudah tersusun bagus, akhirnya kami kembali mendorong, tahu bagaimana hasilnya?. Nihil.
Mobil belum juga bergerak seinci pun dari tempatnya, sekuat apa pun kami berusaha nyatanya tidak membuahkan hasil. Aku capek aku jengah dan mulai ke habisan tenaga sampai-sampai aku berkata
“Kampret emang!!. udah agh, aku capek” Rengek ku sambil duduk bersila di atas aspal
“Emang lo aja” Celetuk Rina yang kini bergabung bersama kami untuk mendorong mobil.
Kami semua terdiam, suara beberapa mobil yang lewat, hujan yang sedikit resa dan kilat petir menjadi backsoon di antara kami.
Rahmat dan ditto ternyata tidak putus asa, dia mencoba memberhentikan mobil yang lewat tapi tidak ada satu pun yang sepertinya berniat berhenti dan menolong kami.
Setelah cukup lama mencoba, di tengah rasa lapar, capek dan putus asa kami akhirnya sebuah mobil penumpang berwarna merah berhenti. Mobil itu rela berhenti itu pun karena orang itu berpikir jika Ditto dan Rahmat ingin menjadi penumpangnya.
Setelah menjelaskan situasi kami, bapak supir angkutan umum itu meminjamkan dongkraknya, beliau bahkan suka rela membantu kami mendorong padahal hujan jelas membasahi tubuh beliau.
Setelah beberapa saat kemudian bergelut dengan ban mobil yang terngelam, akhirnya ban mobil keluar dari genangan itu masalah tidak sampai di situ.
Orang yang tidak di kenal dan telah berbaik hati itu baru pergi setelah memastikan mobil kami sudah tidak butuh dongkrak miliknya lagi. Selesai mengucapkan terima kasih pada beliau, akhirnya kami kembali harus mendorong mobil.
Kami mendorong lalu mobil sedikit demi sedikit bergerak, dengan bantuan dongkrak dan dorongan dari orang tidak di kenal itu, mobil berhasil melewati sebuah tanjakan dan meninggalkan kami semua di belakang.
Saat aku iseng menatap ke belakang, ternyata sangat-sangat gelap dan daun-daun yang bergoyang walaupun tidak ada angin membuatku berlari menyusul langkah yang lainnya.
Sumpah, aku itu penakut dan aku apa yang tadi ku lihat yang jelas bulu kudukku merinding. Mobil akhirnya bergerak kembali dengan mulus tapi kami tidak bisa melaju kencang karena kondisi lampu mobil padam.
Untuk memberi tanda jika kendaraan kami berjalan, kami bahkan harus menyusun handphone kami di belakang agar pengendara lain menjaga jarak dengan kami. Pengalaman ini rasanya sangat lucu buatku karena tanpa kami sadari kami harus berkerja sama dengan Rina.
Kami semua sempat menghembuskan nafas lega dan harapan agar mobil ini tetap melaju hingga kami sampai di kota Pinrang tapi belum juga kami lupa rasa lelahnya mendorong mobil, mobil kembali menggeluarkan suara anehnya
walaupun suara aneh itu menggangu, Abi tetap memaksa jalan hingga pada saat kami tidak jauh dari lokasi kami bertuliskan BARRU, mobil kembali berhenti dan sekali lagi kami semua turun dari mobil.
Entah sudah lama kami mendorong dengan sekuat tenaga untuk melewati pendakian. Awalnya aku masih sempat tertawa mengejek kesialan kami, tapi itu tidak lama. Ternyata saat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, mobil berhenti tepat di tikungan tajam.
Abi masih di atas mobil sedangkan kami di belakang sementara mengumpulkan nafas yang terputus-putus. Aku sedang bertolak pinggang sembari sedikit tersenyum entah kenapa, tiba-tiba dari arah belakang kami sebuah bis besar melaju kencang dan sukses ingin membuat jantungku ingin melompat dari tempatnya.
Sumpah dari kesialan itu, aku tidak bisa membayangkan jika musibah yang kami alami berujung maut. Mobil bis melaju dengan kecepatan penuh dan seandainya supirnya tidak menghindar atau menyetir mobil dengan benar, aku yakin Abi tinggal nama saat ini.
seandainya benar bis jatuh menimpa mobil yang masih ada abi di dalamnya Aku pasti tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Saat hal itu terjadi, Kami semua sampai berteriak karena kaget tapi saat bis itu sudah melaju meninggalkan kami, abi malah keluar dari mobil dengan wajah datarnya.
Tanpa ku sadari aku berlari memeluk Abi dan meneteskan air mata dalam pelukannya. Selama ini aku tahu Abi sudah menyakitiku berulang-ulang kali, tapi kebaikannya seakan membuatku lupa. Sudah tahu aku menangis Abi dengan santainya malah berkata
“Kamu kenapa?” Tanya santai.
“Nggak” Jawabku menetralkan suara dan menghentikan tangisanku.
“Kalo capek udah liatin aja nggak usah bantu” kata Abi menatapku dan melepaskan pelukanku.
“Kayaknya harus dorong dikit lagi deh biar nggak disini. di sini tikungan tajam, salah-salah dikit kita jalan kaki ke Pinrang” kata Rahmat
“Maksudnya?” TanyaAbi bingung.
“Udah yuk. Rin lo yang nyetir” Kata Dito.
Seperti sebelum-sebelumnya, akhirnya kami mendorong dan tahu ke ajaiban apa yang kami dapat? Mobil berfungsi kembali sehingga kami bisa naik dan duduk dalam mobil lalu meninggalkan lokasi itu.
“Kalian ada dosa nggak sih sebelum ke sini?” Tanya Rina seketika pada kami semua.
“Maksud lo” Balas Ilmi nyolot.
“Nggak, maksud gue perjalanan kita kayak ngak di ridhoi gitu, kalian bener pamit dan di izinin orangtuanya masing-masing kan?” Ucap Rina layaknya orang paling dewasa di antara kami.
Kami tidak ada yang menjawab karena mungkin mereka yakin jika jawabannya dari pertanyaan rina adalah “iya” tapi bagiku tidak, boro-boro meminta izin berkomunikasi pun tidak tuh dan sangat jelas mama tidak tahu jika aku akan mendatanginya.
Mobil terus melaju pelan, beberapa kali mobil memang masih menggeluarkan bunyi aneh itu lagi tapi semuanya masih aman ketika kami memasuki pare-pare.
Sebelum kami memasuki kota madya pare-pare, salah satu kelurahan bernama Bojo. Di kelurahan Bojo itulah kami menemukan bengkel yang masih buka padahal jam digital di HP ku sudah menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit. Setelah di cek, ternyata itu hanya bengkel motor.
Ada rasa kecewa sebenarnya tapi ketika si pemilik bengkel menjelaskan kalau dia sepertinya bisa membantu kami karena dia sendiri memiliki mobil yang terparkir tepat di samping bengkelnya. Tahu bagaimana rasanya? Kami serasa mendapat genangan air di gurun pasir dan itu bukan fatamorgana semata.
Malam ini memang benar-benar berkesan bagiku. Di tempat pertama kali kami berhenti, hujan turun dengan lebat dan kami basah kuyup sedangkan di lokasi kami sekarang ini, kondisi jalan kering tahu apa artinya? Hujan lokal sudah membuat kami layaknya orang aneh.
Kami semua sempat mengganti pakaian sembari menunggu mobil sedang di kerjakan dan setelah hampir dua setengah jam, berjibaku dengan semua alat bengkel, mobil akhirnya di nyatakan sudah kembali sedikit normal.
********
“Selamat datang di hotel kami, ada yang bisa kami bantu?” Tanya resepsionis hotel pada kami.
Aku memilih duduk di sofa yang di sediakan di depan resepsionis begitu pun dengan yang Rahmat, Ditto, Ilmi dan Abi sedangkan Rina sudah berdiri di depan meja dan berhadapan langsung dengan pekerja hotel.
Belum sempat Rina menjawab ketika telinga kami mendengar suara muadzin melapalkan iqoma sholat shubuh.
“Ya kami mau cek in” Kata Rina dengan wajah lesu pada resepsionis itu.
“Berapa kamar?” Tanya lelaki berseragam dan berlogo hotel yang kami datangi.
“Berapa kamar?” Ucap Rina pada kami semua.
“Kamarnya ada presidential suite ngak?” Tanya Rahmat.
“Maaf kami hanya menyediakan deluxe double Junior Suite” jawab lelaki itu lagi
“Kondisi kamarnya gimana?” Tutur Rahmat lagi.
“Yang membedakan hanya kapasitas kamar dan luas tempat tidur” jawab lelaki itu lagi
“Deluxe aja deh biar cepat” kata Rahmat.
“Berapa kamar?”
“Dua kamar” Jawab Rahmat lalu menyerahkan kartu ATMnya yang bewarna hitam.
Setelah selesai registrasi, resepsionis itu akhirnya resepsionis mengantarkan kami ke kamar yang kami sewa. Satu di huni oleh aku, Ilmi dan Rina sedangkan satunya di untuk Abi, Rahmat dan Dito. Sumpah setelah memasuki kamar, aku segera mendatangi kamar mandi untuk wudhu dan bergegas sholat agar bisa istrirahat.
Apa yang ku lakukan ternyata juga di lakukan oleh Rina, tapi tidak dengan Ilmi karena katanya dia sedang halangan. Tahu rasanya sholat dan mengimami saingan mu?, aku serasa itu yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain tapi itu terjadi padaku.
Tidak ada yang beda dari sholat kami ini, kami sholat bersejajar sehingga rina tahu apa yang aku kerjakan setelahnya mengikuti ku walaupun tidak ada suara yang Rina dengarkan. Sumpah rasanya sangat canggung saat kami selesai melapalkan doa kami masing-masing.
Rasanya seperti apa? Yang jelas rasanya Aneh apa lagi saat Rina memeluk dan menangis dalam pelukanku. Aku bukannya jijik setelah mengetahui citra diri Rina, cuman rasanya kami tidak seakrab itu untuk berpelukan.
“Udah agh ngantuk” kataku melepaskan pelukan Rina dan membiarkan mukena ku berantakan di lantai sedangkan aku sudah bergabung dengan Ilmi di atas kasur.
Entahlah mungkin karena saking lelahnya Ilmi, atau emang dia tipe orang yang neplok di kasur langsung tidur atau bagaimana-bagaimana, dia sudah terlelap dalam tidurnya padahal durasi antara setelah berbenah diri dan mendarat di kasur sangat singkat.
Aku niatnya ingin tidur tapi aku malah menatapi langit-langit kamar, Rina ternyata melakukan hal yang sama di sampingku. Aku terdiam padahal aku sedang berperang dengan pikiranku sendiri seketika Rina berkata
“Rasanya aku ingin seperti ini terus sama kalian” Kata Rina gamang
“Maksudmu?” Kataku menatap Rina sesaat lalu menatapi langit-langit kamar lagi.
“Kamu kok benci banget sama aku?” Ujar Rina malah kembali bertanya.
“Aku nggak benci cuman kesal aja” Jujur Ku.
“Kenapa?” Tanya dengan mimik wajah serius.
“Nggak tahu, aku sama kamu itu bukan teman dan kamu tiba-tiba mau dekat denganku rasanya itu aneh”
“Emangnya aku terkesan buruk banget ya?” tanya Rina dengan suara lirih di akhir kalimat.
Aku tidak menjawab malah menatap Rina yang masih menatap langit-langit kamar dengan intens. Air matanya seketika kembali turun saat dia berkata
“Aku itu anak satu-satunya. Sedari dulu aku selalu menyogok orang lain dengan harta yang ku punya biar ada yang mau berteman sama aku” Kata Rina menjelaskan. Mendengar itu aku memilih diam tapi tetap menunggu Rina melanjutkan ucapannya.
“Aku pikir walaupun mereka menilaiku dengan uang, tapi mereka teman yang baik tapi sampai aku berteman dengan santi, aku benar-benar berpikir kembali” Jelas Rina dengan air mata yang menggalir semakin deras.
“Aku...” Kata Rina terjeda karena tanggisnya. setelah mencoba mengguasai diri, rina sekali lagi berkata
“Orangtuaku sibuk dengan urusan kantor, mereka cuman tahu cara memintaku bersikap dewasa. Aku pikir itu okey karena tanpa mereka aku bisa membeli banyak hal tapi ada satu kejadian saat aku lupa bawa dompet, dan Santi menggomeli ku hanya karena dia yang harus bayar makanan kami” Kata Rina di akhiri tawa aneh di akhir kalimat.
Aku masih diam dan tatapanku enggan beralih pada Rina. Mendengar cerita Rina seketika aku binggung karena cerita yang ku dengar dari Rina dan Santi itu jelas berbeda.
“Ada satu kejadian di mana aku dan Santi kecelakaan hanya karena Santi ngotot minta di ajari naik mobil” Kata Rina lagi, masih dengan tawa aneh juga gelengan yang tidak jelas beberapa kali.
Aku semakin diam karena otakku terus bekerja menyaring informasi yang kudapat dan memilah informasi mana yang harus ku percaya saat ini.
“Uang jajanku di kurangi bahkan hampir di berhentikan untuk beberapa bulan” Ujarnya menghembuskan nafas secara kasar dari mulutnya. “Kamu tahu apa yang Santi lakukan?”
“Tidak” Jawabku cepat dan jujur.
“Saat kecelakaan itu, dia tidak minta maaf dan menyesal sama sekali. Dia malah menjauhi aku hanya karena aku tidak bisa ke kantin dan selalu membawa bekal” mendengar itu, Aku hanya mendengus kasar tidak sangka jika itu bisa dilakukan Santi.
“Saat aku sudah selesai dengan hukuman, dia jelas tahu dan dengan santainya meminta tas bermerek sama aku sebagai kado ultahnya padahal jelas dia tahu kalo masa hukumanku di perpanjang hanya karena aku bertengkar dengan mami.”
“terus?” kataku mulai penasaran.
“Dia terus nyindir, tapi aku sudah masa bodoh dengannya. Minggu berikutnya dia baik lagi tapi dia ngenalin aku ke om-om yang awalnya dia akui sebagai omnya” Kata Rina dengan intonasi suara sedikit lebih tinggi.
“Terus?”
“Orang itu bawa kami ke hotel, dia bilang dia cuman mau ngambil barangnya ketinggalan tapi anehnya dia minta kami turun dan ikut ke kamarnya”
“Aghh” Kataku binggung dan merasa ada yang ganjil dari cerita Rina.
“Saat itu aku iya’in aja karena nggak pernah percaya berani ngejual aku”
“Terus?” Tanyaku lagi.
"Terus, terus mulu udah kayak tukang parkir" kata Rina sarkis mendengar tanggapanku sedari tadi.
"Sorry, sorry. lo mau lanjut cerita kagak, kalo ngak gue tidur nih" Ancamku. Mendengar responku seperti itu, Rina mendenggus tapi tetap melanjutkan ucapannya.
“Saat kami tiba di depan kamar, sialnya saat itu aku udah ke belet pengen pipis, jadi masuklah aku. Eghh pas aku keluar kamar mandi, aku udah nggak nemuin Santi dan hanya ada om itu di sana”
“Kalian lakuin itu?” Tebakku spontan
“Nggak” jawab Rina tegas bahkan saat mengucapkan itu, dia menatap mataku seolah tidak ada keraguan untuk membantah kalimatku dan menyatakan kejujuran lewat matanya.
“Jadi?”
“Aku berontak dan sempat nendang bagian vital itu om-om dan mukul kepanya sampai dia pingsan” Geram Rina dengan tangan yang di kepal kuat.
Aku seketika diam kembali lalu mengalihkan pandangan karena bayangan aku berada di posisi itu membuatku tidak tahan.
“Saat itu aku keluar dari kamar dengan kondisi berantakan dan beberapa tubuhku lebam”
“Jadi?”
“Aku lari dan untungnya aku ketemu Abi di pinggir jalan” Jelas Rina. Mendengar nama Abi di sebut, keningku sedikit berkerut.
“Abi nolongin aku, Abi bantu ngobatin luka di wajah tanpa bertanya sepatah kata tanya saat itu”
“Ya dia memang irit ngomong” Kataku sebagai respon.
“Saat itu aku sadar kenapa kamu bisa sangat betah dengan Abi selama ini. Tanpa sadar meluk Abi sekencang-kencangnya dan dia biarin aku ngelakuin itu”
“Abi balas meluk kamu dan keinginan kamu milikin Abi makin besar iya” Tebakku dengan nada sedikit mencemoh. Aku bukannya tidak percaya cuman rasanya kayak sinetron banget.
“Tidak” jawab rina lirih.
“Abi nganterin aku pulang, jelasin semuanya ke orangtuaku, orangtuaku tidak percaya sampai mereka pukul Abi berkali-kali”
“Heroic sekali” kataku sembari menggangguk-angguk beberapa kali.
“Aku nyesal banget saat Abi di perlakukan kasar seperti itu sama orangtuaku tapi aku juga bersyukur” Kata Rina lagi menatap mataku semakin intens saja.
“Kenapa? Karena kamu ngenalin Abi ke orantuamu begitu?”
“Bukan” Aku hanya diam mendengar bantahan Rina
“Abi dengan berani ngomelin orangtuaku dan bilang kalau aku yang buruk itu semua karena mereka. Abi nyebutin semua keburukan yang dia dengar di luar sana sampai orangtuaku tidak bisa berkata apa-apa”
“Ogh ya?” responku lagi. “Abi ngomong apa lagi?” sambungku.
“Nyeramahin orangtuaku tentang tanggung jawab orangtua, dosa melalaikan anak dan siksaan yang bakal di terima mereka kalo hanya menggejar duniawi doang”
“Dan orangtuamu percaya?”
“Iya”
“Hebat sekali dia” Kataku “Lalu ucapan Santi yang bilang keluarga kalian di kejar depkolektor?”
“Iya, papi pernah jadi caleg dan bukannya menjabat malah buntung besar sampai-sampai beberapa asset harus kami jual dengan harga yang tidak sepadan”
Aku memilih menggangguk saja sebagai tanggapan.
“Lia”
“Ya” Jawabku dengan mata yang mulai tertutup sebentar lagi.
“Aku iri sama kamu” Kata Rina
“Kamu bodoh kalo begitu. Tidur gih” Ujarku membelakanggi Rina dan benar adanya, aku akhirnya tertidur setelahnya.