Enam tahun berlalu kini kehidupan Hasana semakin membaik dengan adanya tiga buah hatinya yang begitu menggemaskan nan baik hati, meskipun dirinya menjadi bahan gosip orang kampung tentang dirinya yang hamil tak memiliki suami bahkan keluarga, warga sekitar sudah berspekulasi bermacam-macam tentang dirinya dan ketiga anaknya, tak jarang ketiga anaknya mendapatkan cemoohan dan kata-kata dari para ibu-ibu tukang gosip.
"Kalian jangan pergi main jauh-jauh ya, tunggu bunda pulang nanti?" ucap seorang wanita cantik menatap sedu ke arah tiga buah hatinya itu.
"Buna, nanti halus cepat pulang ya?" rengek gadis kecil dengan hijab mungil yang terpasang apik di kepalanya.
"Insyaallah kalo kerjaan bunda cepat selesai, Aisyah di sini baik-baik ya sama Abang jangan nakal-nakal!" peringat Hasana menjawil hidung mungil gadis kecilnya.
"Abang, jaga adik baik-baik ya? Kalo mau makan siang bunda udah taruh di tempat biasa," ucap Hasana lalu bangkit dan berpamitan pergi pada ketiga buah hatinya itu.
Hasana menutup pagar kayu yang menjadi gerbang rumah reot milik almarhum ibu Suliati yang dengan rendah hati mau menampung dirinya yang hanya sebatas orang asing.
Tiga anak kembar itu memandang sedih ke arah tubuh sang bunda yang sudah mulai menjauh, setiap hari harus di tinggal pergi oleh sang bunda untuk mencari rezeki' katanya.
"Abang Isyah lapel?!" rengek si bungsu.
"Tadi kan udah sarapan sama bunda kok sekarang laper lagi?" tanya sang Abang ke dua.
"Ga, tau Isyah lapel lagi!" serunya dengan cengiran khas bocah miliknya mana giginya ompong.
"Ihh, adek giginya ompong!" ejek sang Abang lalu berlari masuk ke dalam rumah.
* * *
Para bodyguard berjejer dengan rapi menunggu kehadiran sang tuan, yang baru tiba di bandara para pengunjung tak luput menatap para pria berjas hitam tak lupa dengan earphone di telinga mereka masing-masing.
Seolah tau watak tuannya mereka tak banyak omong, sebuah mobil hitam bermerek sudah menunggu di depan bandara lalu pria itu masuk dan setelah pintu mobil ditutup dia membuka masker mulutnya. "Hah, langsung ke kediaman utama!" titahnya sembari melihat jalanan kota jakarta yang sudah sangat berubah.
Butuh keberanian besar untuk dirinya pulang ke tanah air, dirinya begitu sakit saat mengingat akan masa lalunya yang begitu menyakitkan jika diingat. "Hah, tenang!" batinnya.
.
.
Seorang wanita tampak sangat kelelahan akibat mendorong sepeda motornya yang bocor terkena paku, jalanan cukup ramai tetapi tidak ada yang mau berhenti untuk menolongnya. "Ya Allah, ga ada bengkel lagi," lesunya melihat kiri kanan untuk menyebrang ke samping kanan.
"Halo?"
"Ya halo, dengan mbak Sasa? Maaf jika pesanannya terlambat soalnya saya mengalami kendala, tak apa-apa kan?" tanya Hasana menutup telinganya sebelah akibat suara bising motor.
"Waduh, kalo begitu pesanannya gak jadi deh, saya batalin aja!" ketus si customer mematikan telpon sepihak.
Hasana menatap nanar hp Samsung j2 prime yang lcd nya sudah pecah, dengan terpaksa Hasana mendorong motornya kembali ke kafe tempat dirinya bekerja dirinya merasa deg-degan akan di omelin oleh sang atasan, mana di depan banyak orang lagi.
"Permisi?" sahut Hasana masuk ke dalam ruangan atasannya.
Brak!
"Sebenarnya apa maumu Hasana? Saya sudah cukup sabar dengan kelalaian mu dalam bekerja di sini, kalo ini apa masalahnya, hah!?" bentak pria paruh baya itu menatap tajam Hasana yang menunduk.
"Ban motornya bocor pak, lalu costumernya membatalkan pesanannya," beritahu Hasana sebenarnya kejadian seperti sering terjadi.
"Cukup! Mulai saat ini kamu berhenti kerja di kafe saya, saya tidak mau menerima karyawan tak becus sepertimu!" sentak pria itu melemparkan amplop coklat berisi gaji Hasana.
"Pak saya mohon jangan pecat saya pak, saya mohon kasih saya kesempatan sekali lagi pak?" mohon Hasana bahkan sampai berlutut di samping pintu.
"Saya sudah memberimu banyak kesempatan, tapi kalo ini saya dengan senang hati akan memecatmu!" pungkas pria itu lalu pergi keluar meninggalkan Hasana yang mulai menitikkan air matanya.
"Ya Allah ... ya rabb, kuatkan lah hati hamba ya Allah," batin Hasana mengusap air matanya lalu beristighfar tiga kali untuk menenangkan hatinya yang tengah tak baik-baik saja. Dia menatap miris pada amplop coklat itu, dia bingung harus mencari kerja di mana lagi.
.
.
"Pergi, kalian jangan main di sini!" usir seorang bocah laki-laki mendorong tubuh kecil Derren hingga tersungkur, bahkan anak perempuan lainnya mulai memukul pundak Aisyah hingga menangis.
Darell menangis melihat kedua saudaranya yang tengah ditindas oleh anak-anak kampung itu. "Kalian jangan macem-macem sama kakak dan adik aku ya!" teriak Darell menarik Aisyah yang sudah menangis sesenggukan.
"Dasar gak punya ayah! Pasti kamu anak yang tak diinginkan!" ejek bocah yang satunya.
"Kata mamaku, olang yang ga punya ayah itu disebut anak halam," celetuk anak gadis itu dengan nada cadel.
"Wah ..., berarti mereka anak haram dong, secara kan mereka gak punya ayah!" seru bocah laki-laki sehingga sorakan para bocah itu menggema di jalan setapak yang cukup sepi.
Lontaran kata anak haram tak henti-hentinya keluar dari bibir ketujuh bocah no have akhlak itu. Derren menarik kedua adiknya menjauh bahkan para bocah itu mengambil batu dan berhasil menghantam kepala Aisyah hingga menangis histeris kesakitan memegang kepalanya yang dilapisi jilbab mungilnya.
"Bunda!" tangis Aisyah memegang kepalanya.
Dengan mata berkaca-kaca Derren langsung menghantam pipi bocah laki-laki itu hingga tersungkur dan menangis histeris sehingga suara tangisan kedua bocah itu mengundang para warga yang berada di ladang datang untuk melihat.
"Dasar anak haram! Kuadukan kamu sama mami aku!" tangis anak laki-laki itu pergi berlari dan diikuti oleh kawan-kawannya.
"Apa yang terjadi nak?" tanya tukang kebun itu.
"Tak ada paman, kami pergi dulu assalamualaikum!" pamit Darren menarik tangan kecil adik bungsunya yang menangis sesenggukan, hatinya begitu panas bahkan airnya tak berhenti mengalir 'pasti kepala adek memar, pikirannya. "Anak laki-laki gak boleh cengeng!" batin Derren mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir.
Para warga di kampung itu memang tak begitu menyukai adanya Hasana dan ketiga anaknya itu, maka dari itu tak heran para anak-anak itu sering mengganggu si kembar tiga, dulu saja si kembar sering mendapatkan cemoohan dan tak segan-segan pula para ibu-ibu yang tak suka sama si kembar malah mencubitnya hingga menangis.
Hasana hanya bisa menangis dan menangis, ingin sekali dirinya membawa pergi ketiga anaknya dari kampung ini tetapi apa daya bahkan untuk makan saja susah.
"Kalian kenapa kok matanya pada merah gitu?" tanya Hasana yang bertemu ketiga anaknya di depan pagar rumah.
"Bunda, sakit!" tangis Aisyah memegang kepala bagian belakangnya yang sudah berdarah.
"Astaghfirullah kok bisa berdarah gini, bang kok kepala adik berdarah kalian abis ngapain?" tanya Hasana membawa buah hatinya ke dalam rumah, Hasana membuka jilbab kecil anaknya betapa terkejutnya ia saat melihat benjolan kecil yang mengeluarkan darah.
"Anak Bu Ageng leparin adek pake batu bunda, Abang juga udah bales!" jawab Darell meringis ngeri melihat darah di kepala adiknya itu.
"Seharusnya kamu jangan bales nak, bunda kan udah sering ingetin posisi kita di sini itu udah gak aman," gumam Hasana menatap sedu anak pertamanya itu.
"Lalu apa aku harus diam saat adik dilempari batu seperti tadi?" tanya Derren menatap mata Hasana yang menatapnya sendu. "Jawab bunda, Derren harus apa? Mereka sudah sangat keterlaluan!" sungut Derren. "Apa salah kami bunda? Kami hanya lewat kenapa mereka memandang kami seolah-olah kami ini seonggok kotoran!?" beber Derren dengan nafas naik turun mengeluarkan unek-uneknya.
"Cukup Derren siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu? Kalian bukan kotoran, kalian permata bunda, bunda melahirkan kalian dengan suci dan bersih, kalian anak-anak bunda, nyawa bunda, permata bunda," tangis Hasana memeluk ketiga anaknya.
"Ya Allah, kapan hari bahagia itu tiba, hamba tak kuasa melihat buah hati hamba seperti ini!" batin Hasana menangis dalam diam.
.
.
Stay Wak Wak gaes ?