Lelaki tua itu menghampirinya tiga hari kemudian, di saat yang paling tidak diinginkan Wulan: tengah hari, ketika ia sedang mengangkat dan keringatnya menetes ke debu, dan ia sama sekali tidak ingin diajak bicara.
"Permisi," katanya. Suaranya berat dan tenang, suara orang yang tidak terburu-buru. "Boleh saya tanya sesuatu?"
Wulan meletakkan karung di timbangan, menyeka dahi dengan lengan, dan menatap lelaki itu dengan tatapan yang ia tujukan ke semua orang asing: setengah curiga, setengah lelah. Lelaki itu mungkin enam puluhan, rambut sudah putih hampir semua, tubuh yang dulunya pasti tebal sekarang menyusut tapi masih meninggalkan jejak — bahu yang lebar, leher yang pendek, cara berdirinya yang kokoh dengan kaki sedikit terbuka. Ada tongkat di tangan kanannya, dipakai ringan, lebih untuk berjaga daripada bersandar.
"Tanya apa, Pak?" Wulan menjawab datar.
"Cara kamu ngangkat karung itu. Yang turun ke bawah itu. Siapa yang ngajarin?"
Wulan mengernyit. "Nggak ada yang ngajarin. Ya, ngangkat aja."
Lelaki itu tersenyum, dan senyumnya bukan senyum mengejek. "Nama saya Maman. Saya jaga sasana angkat besi di belakang gudang olahraga, yang di gang sana itu." Ia menunjuk dengan dagu. "Gerakan kamu tadi itu namanya squat clean. Orang latihan bertahun-tahun belum tentu sebagus itu masuknya. Kamu lakukan tanpa mikir."
"Angkat besi." Wulan mengulang kata itu seolah mencicipinya, dan tidak menyukainya. Yang ia tahu tentang angkat besi cuma gambar samar di televisi: orang-orang berteriak, barbel raksasa, wajah memerah seperti mau pecah. "Saya nggak ngerti yang begituan, Pak."
"Saya tahu. Tapi tubuh kamu ngerti." Maman mengetuk tongkatnya pelan ke tanah. "Saya nggak minta apa-apa. Cuma nawarin. Kalau kamu mau coba latihan, sasana saya buka. Gratis. Sore, habis kamu kerja. Saya lihat sendiri kamu kerja sampai sore."
Gratis. Kata itu langsung membuat punggung Wulan menegang. Ia sudah cukup sering ditawari hal gratis untuk tahu bahwa gratis biasanya berarti kasihan, dan kasihan adalah satu hal yang tidak bisa ia terima tanpa rasa panas naik ke wajahnya. "Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak ada waktu. Sore saya bantu Bibi, malam urus ibu sama adik. Lagian," ia menambahkan, lebih keras dari yang ia maksud, "saya nggak butuh dikasihani."
Maman menatapnya sebentar, dan dalam tatapan itu Wulan tidak menemukan kasihan yang ia takutkan. Ia menemukan sesuatu yang lebih mengganggu: pengakuan. Seolah lelaki tua ini melihat sesuatu di dirinya yang ia sendiri belum lihat.
"Bukan kasihan," kata Maman akhirnya. "Saya dulu lifter. Ikut PON dua kali. Sekali dapat perunggu." Ia berhenti, dan ada jeda di mana wajahnya berubah, seperti orang yang membuka pintu ke ruangan yang sudah lama ia kunci. "Pinggang saya jebol di percobaan terakhir, kejurnas. Setelah itu nggak ada dana buat operasi yang bener, jadi ya begini." Ia menepuk pahanya, dan baru sekarang Wulan menyadari ada yang tidak beres dengan cara lelaki itu menumpu berat badannya. "Saya nggak nawarin kamu jadi juara. Saya nawarin kamu lihat apa yang bisa tubuh kamu lakukan. Itu aja. Kalau nggak mau, ya sudah."
Ia membalikkan badan dan berjalan kembali ke gang, langkahnya pelan, tongkatnya mengetuk tanah dalam ritme yang sabar. Wulan berdiri di antara tumpukan karung, dengan kata-kata itu menggantung di udara panas. Lifter PON. Pinggang jebol. Tidak ada dana. Cerita itu terlalu mirip dengan banyak cerita yang ia tahu — orang punya bakat, lalu hidup menggilingnya sampai habis. Ia tidak mau menambah satu lagi cerita seperti itu, apalagi cerita tentang dirinya sendiri.
Tapi sore itu, setelah jam kerja, kakinya membawanya ke arah yang salah. Bukan ke rumah, tapi ke mulut gang. Ia bilang pada dirinya sendiri ia cuma penasaran, cuma lewat, cuma ingin tahu seperti apa tempat yang membuat lelaki tua itu menyebut gerakan mengangkat karung dengan nama asing.
Sasana itu ada di bagian belakang gudang yang separuh atapnya seng berkarat. Pintunya geser, terbuka setengah. Wulan berdiri di luar, di balik tiang, dan mengintip.
Di dalam, ada panggung dari papan kayu setebal beberapa senti, dipasang rapat dan kokoh, ukurannya sekitar empat kali empat meter, dengan permukaan yang sudah dipoles kasar oleh entah berapa ribu kali besi dijatuhkan ke atasnya. Di sudut, barbel-barbel dengan piringan karet hitam yang sebagiannya sudah retak di pinggir, ditambal lakban. Sebuah rak besi tempat barbel disandarkan. Ember plastik berisi bubuk putih — magnesium, meski Wulan belum tahu namanya — di samping panggung. Cermin besar yang sudah berbintik di sudut-sudutnya. Dan di langit-langit, sebuah kipas angin tua berputar lambat, mengaduk bau yang asing dan tajam: keringat, karet, dan sesuatu yang seperti kapur kering.
Maman ada di dalam, membersihkan panggung dengan sapu, tidak menyadari ada yang mengintip. Sesekali ia berhenti, menatap rak barbel, dan tangannya bergerak sedikit — gerakan kecil, seperti orang yang mengingat sesuatu yang dulu bisa ia lakukan dengan mudah. Lalu ia menyapu lagi.
Wulan menonton lebih lama dari yang ia rencanakan. Ada sesuatu di tempat itu yang ia tidak bisa namai. Bukan kemegahan — tempat itu jauh dari megah. Tapi keheningannya berbeda dari keheningan toko atau rumah kontrakan. Di sini sepi terasa seperti ada yang menunggu. Ia melihat panggung kayu itu, dan untuk satu detik yang aneh, ia membayangkan dirinya berdiri di atasnya.
Lalu ia mendengar suara peluit kecil di dadanya sendiri — bukan, itu cuma angin di seng berkarat — dan ia ingat ibu, dan obat, dan dua belas karung besok. Ia mundur dari tiang dan pulang. Tapi sepanjang jalan, kata itu terus berputar di kepalanya. Squat clean. Seolah tubuhnya sudah punya nama yang baru ia dengar.