"Dimana Bibi Yun?" tanya Lisa.
"Bibi tengah pergi mengambil obat untukmu pada Tabib Ahn," jawab Jennie.
"Ak-"
"Tuan Putri, Bibi kembali"
Ucapan Lisa terpotong oleh seruan seseorang dari luar kamar. Tak lama pintu kamar terbuka dan menampilkan sesosok wanita paruh baya dengan membawa buntalan kecil ditangannya.
"Putri Kedua, anda telah sadar!" seru wanita yang tak lain adalah Bibi Yun dengan nada yang terdengar senang dan penuh kelegaan.
Lisa tersenyum ke arah Bibi Yun. Ia melihat binar haru dimatanya. Bahkan matanya juga terlihat berkaca-kaca.
"Iya Bibi aku merasa lebih baik," ucap Lisa.
"Terima kasih telah menjaga kakak saat aku belum bangun," lanjutnya.
"Itu sudah kewajiban Bibi," ucap Bibi Yun seraya melangkahkan kakinya mendekati pembaringan dan menaruh buntapan kecil itu disamping Lisa.
Lisa duduk dengan perlahan karena badannya sangat lemas. Jennie dengan sigap membantu Lisa. Bibi Yun pun mengambil gelas yang telah terisi air.
"Minumlah," ucap Bibi Yun.
Lisa mengambil gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Ia memberikan gelas yang sudah tak terisi itu kembali kepada Bibi Yun.
"Aku ingin berbicara sesuatu," ucap Lisa mengawali pembicaraan.
"Ada apa Lisa? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Jennie.
"Tidak," jawab Lisa seraya menggelengkan kepalanya.
"Setelah aku kembali pulih, ayo kita pergi!" seru Lisa.
"Pergi?" ucap Jennie dan Bibi Yun serempak.
"Iya. Ayo kita pergi dari istana bak neraka ini. Aku tidak mau berada disini lagi kak," ujar Lisa.
"Lagipula mereka tidak membutuhkan kita. Kita hanya akan terus tersakiti disini. Aku tidak mau kehilangan kakak," tambahnya.
"Tapi ayahanda-"
"Dia tidak memperdulikan kita kak! Untuk apa kita tinggal disini jika tidak diperdulikan?!" ujar Lisa lantang.
"Benar Putri. Lebih baik kita pergi dari sini. Bibi tidak mau kalian terus tersakiti disini," ucap Bibi Yun menyetujui Lisa.
Jennie hanya termenung mendengarnya. Jujur dari lubuk hatinya ia juga ingin pergi. Tapi disisi lain, ia ingin ayahnya kembali menyayanginya dan juga Lisa.
'Ibu apa yang harus aku lakukan?!' batinnya.
Jennie kembali melihat adiknya. Wajahnya pucat, tak ada binar keceriaan seperti dulu. Yang ada hanya tatapan kosong dalam mata itu. Ia kembali mengingat bahwa mereka mencoba membunuh adiknya. Akhirnya ia pun menghela nafas berat.
"Baiklah ayo kita pergi," ucap Jennie seraya tersenyum lembut ke arah adiknya. Ia pun menggenggam tangan putih adiknya.
"Jika kau memang tidak ingin tinggal, kakak akan selalu ada bersamamu adik kecil. Tapi, bagaimana caranya kita pergi?" ucap Jennie gusar.
"Aku yang akan mengurus semuanya," ucap Lisa sambil menyeringai kecil.
Entah kenapa Jennie dan juga Bibi Yun merasa merinding melihat seringai Lisa. Suasana menjadi berubah mencekam membuat bulu kuduk mereka bergidik ngeri.
"Istirahatlah. Aku pastikan besok pagi kita sudah bisa pergi dari neraka ini," ucap Lisa.
Jennie dan Bibi Yun mengangguk dan mulai beranjak menuju pembaringan mereka.
Di kamar itu memang terdapat tiga tempat pembaringan. Yang mana terdapat juga lemari pakaian, perapian dan beberapa kursi.
-000-
Malam harinya disaat Jennie dan Bibi Yun terlelap. Lisa membuka matanya yang tadi terpejam hingga menampakan iris mata hitamnya yang tajam. Perlahan ia turun dari pembaringan. Ia hanya memakai hanbok tidur yang tidak terlalu tebal, padahal cuaca malam sangat dingin. Tetapi, ia tidak peduli karena dimasanya ia telah mengalami banyak hal.
Lisa berjalan pelan tanpa suara menuju pintu. Sebelum menuju pintu, Lisa mengalihkan pandangannya kepada sepasang katana yang tidak terlalu panjang dan juga sepasang belati dengan ukuran unik. Ia pun mengambil sepasang belati itu dan diselipkannya pada hanbok yang ia kenakan. Setelah itu, ia membuka pintu itu dengan pelan dan hati-hati agar tidak membuat Jennie dan Bibi Yun bangun.
Setelah berhasil, ia pun berjalan dikegelapan malam menuju ke suatu tempat. Tanpa suara ia berjalan santai. Tak jarang ia juga melompat menuju batang pohon yang ada disepanjang perjalanan. Tak berapa lama ia sampai pada tempat tujuan. Terlihat dua orang penjaga yang berjaga didepan pintu besar.
"Putri kedua, ada apa anda kemari?" tanya salah satu penjaga.
"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja!" ucap Lisa dengan suara dingin.
Kedua penjaga itu seketika merasakan bulu kuduk mereka berdiri saat mendengar suara dingin yang keluar dari bibir cherry Lisa. Apalagi melihat tatapan tajam yang menusuk itu serasa menguliti kulit mereka hingga mereka bergidik ngeri.
"Ti- tidak bisakah besok pagi saja Putri? I-ini sudah larut dan Yang Mulia Raja juga pasti sedang beristirahat," ucap penjaga itu tergagap.
Lisa hanya mengangkat sebelah alisnya dan hanya menyeringai kecil membuat kedua penjaga itu meneguk lidah pelan.
"Aku.tak.peduli!" ucap Lisa penuh penekanan.
"Beritahu saja bahwa aku ingin bertemu," tambahnya.
Salah satu penjaga pun mulai mengangguk dan mengetuk pintu itu pelan karena dia ingin Lisa segera pergi dari sana.
'Auranya menakutkan' batin kedua penjaga itu.
Saat terdengar seruan dari dalam, salah satu penjaga itu masuk untuk melapor. Tak lama ia keluar dan menyuruh Lisa masuk.
-000-
Lisa masuk ke dalam ruangan itu dengan raut tenang namun auranya sangat menyeramkan membuat siapa saja yang ada didekatnya bergidik ngeri. Sama halnya dengan sang raja. Dia mengernyitkan alisnya saat merasakan aura kuat dari sang putri. Padahal setaunya, putrinya ini sangat lemah. Tapi melihat mata tajam, raut datar dan juga aura yang menyeramkan ini, kepalanya menjadi banyak pertanyaan.
'Apakah dia benar Lisa? Tapi kenapa auranya sangat berbeda!! Tatapan itu, aku seperti melihat mendiang ayah.' batinnya.
"Ada apa kau malam-malam kemari?" tanya sang raja datar.
"Biarkan kami pergi," ucap Lisa dingin.
"Maksudmu?" sang kaisar semakin mengernyitkan alisnya.
"Biarkan aku, kak Jennie dan Bibi Yun pergi dari sini. Aku muak berada ditempat ini!" ujar Lisa lugas.
'Pergi? Apa mereka berdua akan meninggalkanku seperti Jira yang meninggalkanku?!' batinnya Raja San Dool.
Raja San Dool mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia membalas tatapan Lisa dengan tajam.
"Kalian tidak akan pergi kemanapun!" ujarnya tegas.
Lisa hanya mengangkat sebelah alisnya dan tertawa sinis. Ia pun bersidekap d**a dan mulai tersenyum sinis.
"Kenapa tidak? Belum puaskah kau menyiksa kami? Apa kau benar-benar ingin membunuh kami eh?" ujar Lisa sinis.
"Tak cukupkah kau biarkan ibuku tewas diracun oleh selir ah salah lebih tepatnya ratumu itu!? Tak cukupkah kau biarkan dia terus-terusan memasukkan racun pada tubuhku dan kakakku!? Oh, apa kalian memang bersekongkol untuk membinasakanku, ibuku dan kakakku hah?! Apa kau memang ingin membinasakan kami? Jadi dulu kau memberi perhatian pada kami dan saatnya tiba kau akan membunuh kami begitu?!"
Semua ucapan Lisa terus berputar memenuhi kepala Raja San Dool. Ia hanya bisa duduk mematung disinggasananya.
"Tanpa seizinmu pun aku akan pergi bersama kakak dan Bibi Yun. Aku tak akan membiarkan orang-orang yang aku sayangi mati konyol ditangan permaisurimu itu. Camkan ini baik-baik dikepalamu, aku tak akan membiarkan mereka berdua celaka. Seujung rambutpun mereka menyentuh kakak dan Bibi Yun maka aku akan memberikan kesakitan yang lebih kejam. Meskipun kau adalah ayah kami, tapi menurutku kau sudah mati tepat saat kau dan wanita kesayanganmu itu membunuh ibuku. Ingat itu baik-baik dalam benakmu!" ucap Lisa tajam.
Lisa pun berbalik pergi tanpa menghiraukan raut ayahnya. Tepat saat ia akan membuka pintu ia pun berucap.
"Aku pastikan besok kami tidak menginjak tanah istana ini! Jangan menghalangiku. Ingatlah aku akan membalas darah dengan darah dan nyawa dengan nyawa tak peduli itu kau sekalipun jika kau berniat menyakiti kakakku dan Bibi Yun aku tak akan segan membunuhmu! Peringatilah wanitamu itu agar ia tak macam-macam pada kakakku dan Bibi Yun atau aku pastikan jantungnya tidak ada ditempatnya lagi!!" ucap Lisa.
Lisa pun keluar tanpa menutup pintu. Kedua penjaga yang berjaga dibuat gemetar saat ucapan Lisa itu terdengar sampai keluar karena posisi Lisa yang memang saat itu berada didepan pintu. Apalagi suara Lisa itu sangat dingin dan tajam. Hingga sampai Lisa hilang dari penglihatan mereka pun, mereka masih merasakan takut yang luar biasa.
Tak lama Raja San Dool pun keluar dengan tergesa. Ia melihat sekeliling namun matanya sudah tidak menemukan Lisa. Ia pun melihat ke arah dua penjaga yang wajahnya pucat pasi.
"Beritahu penjaga yang lain agar mereka berjaga di paviliun teratai merah. Pastikan Lisa, Jennie dan pengasuh Yun tidak kemana-mana!" ucap Raja San Dool tegas.
Kedua penjaga itu mengangguk dan segera melaksanakan perintah sang raja. Sedangkan sang raja hanya berdiri sambil mengusap wajahnya gusar.
"Ayah mohon kalian jangan meninggalkan ayah. Maafkan ayah yang tidak tegas ini. Jangan hukum ayah dengan ini. Ayah mohon," gumamnya pelan hingga tak terasa sebulir air bening meluncur dari sudut matanya.