Pagi hari yang cerah, membuat seorang pria, terbangun dari tidurnya yang lelap. Di bukanya tirai jendela, membuat cahaya sang matahari menerpa wajahnya.
“Pagi, Flo. Aku merindukanmu,” ucapnya sambil tersenyum, membayangkan wajah wanita yang selama ini, menjadi pemilik rindunya.
Dia beranjak dari tempatnya, menuju kamar mandi. Tidak memakan banyak waktu, dia telah keluar dengan pakaian rapinya.
“kak Obet, MARI KITA SARAPAN!“ teriak seorang gadis kecil, selaku
adik Robert.
“IYA SAL!“ balas Robert tak kalah keras.
Robert segera merapikan barang – barangnya, lalu memasukkannya kedalam tas ransel. Ia menuruni tangga, menuju ke meja makan dengan makanan yang telah siap diatasnya.
“pagi semua,“ sapa Robert, sambil menarik kursi dan mendudukinya.
“Pagi juga,“ balas keluarganya yang tak lain adalah adik perempuan dan ayahnya.
Robert memang hanya tinggal bersama mereka, di Belanda, tepatnya di kota Amsterdam. Ibu? Robert telah kehilangan ibunya 4 tahun yang lalu, saat itulah ia pertama kali bertemu dengan Flo. Alasan Robert, meninggalkan negara kelahirannya yaitu Indonesia adalah karena ia ingin melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden, dengan tujuan ingin menjadi dokter. Demi tujuannya itulah, Robert, rela meninggalkan sang pemilik rindunya, Flo. Ia berjanji akan segera menyelesaikan pendidikannya, dan segera kembali untuk hidup bersama Flo.
Back to topic
Selesai makan, Robert berpamitan pada adik dan ayahnya. Ia berjalan kaki menuju perhentian bus, sudah banyak bus yang lewat, tapi itu bukan bus yang menuju Universitas Leiden. Ia harus naik bus nomor 1, 2 ,5, atau 45. 20 menit ia menunggu, akhirnya, bus nomor 45 datang, ia pun segera naik, dan mengambil tempat di paling belakang.
Hanya butuh 15 menit, Robert pun sampai di Universitas Leiden. Dengan langkah yang tegas, ia berjalan memasuki universitas itu. Ada beberapa mahasiswa yang menyapanya, yang ia balas dengan senyuman dan anggukan kepala.
Sedangkan, di tempat lain lebih tepatnya di Indonesia, Bandung. Seorang wanita muda sedang membantu umminya yang sedang memasak.
“Ummi, ini teh mau di taruh dimana?“ tanya Tiara, yang sedang memegang jagung.
“Taruh aja di panci,“ balas Ummi menunjuk panci yang berada di belakangnya.
Ummi berhenti mengaduk masakannya karena teringat akan sesuatu, “Kamu tidak kuliah? Kenapa masih disini?“ tanya Ummi
“Kuliah atuh ummi, ini juga baru mau siap – siap,” jawab Tiara, lalu pergi meninggalkan umminya.
****
Tiara yang baru saja sampai di kampusnya, terkejut melihat para mahasiswa yang berkerumun di depan mading.
“Tia!“ panggil seseorang, membuat Tiara mencari asal suara tersebut.
“Iya nis, ada apa?“ tanya Tiara saat mendapati orang yang memanggilnya.
“kamu mau ikutan lomba ini juga?“ Nisa atau lebih tepatnya Annisa Rizky sahabat Tiara sejak masih duduk di bangku SMP, Nisa menyodorkan selembar brosur pada Tiara.
Tiara membaca brosur tersebut, tidak lama kemudian senyum simpul terukir di bibirnya. Bagaimana tidak, ini adalah lomba yang sangat di nantikannya. Lomba menulis cerpen dan puisi, antar jurusan di kampusnya. Sudah lama Tiara merekomendasikannya, tapi baru kali ini diadakan.
“kamu pasti mau ikut kan?“ tebak Nisa, dibalas anggukan oleh Tiara.
Nisa membusungkan dadanya, “hmphh... namamu sudah ku daftarin tadi,“
“Waahh, makasih Nis, tapi kamu kok tau aku mau daftar?“
“Aku, sering baca cerita dan puisi yang kamu tulis di buku,“
“HAH! Dapat dari mana bukunya?“ kaget Tiara.
“kamu sering ninggalin bukumu di kelas loh,”
Tiara menepuk dahinya, “Ah, iya juga, ngomong – ngomong itu ramai banget, ada apa?“ tunjuk Tiara pada gerombolan mahasiswa tadi.
“oh itu, aku tidak tau, hehehe,“ Nisa menampilkan cengiran tengilnya.
Tidak ingin berlama lama disitu, Nisa pun mengajak Tiara ke kelas, yah mereka memang satu jurusan, Farmasi.
“Pagi semua,“ sapa Tiara
“Pagi Ra!“ balas teman Tiara yang sedang berjalan keluar kelas.
“Dosennya ada tidak?“ tanya Nisa pada seseorang yang sedang mengatur makalahnya.
“Entahlah Nis, dari tadi aku tidak liat,“ jawabnya.
“Aku tidak mau tau, dosennya harus datang hari ini titik!!“ seru Nisa, pasalnya Dosennya selalu menyuruh mereka datang, tapi dia sendiri tidak datang.
“Husst Nis,jangan git—“
“Assalamualaikum, selamat pagi semua,“
Ucapan Tiara, terpotong oleh sapaan ramah seorang wanita paruh baya, selaku Dosen mereka, Bu Fitriani. Melihat itu, mereka langsung ke tempat masing – masing, saking terburu – burunya ada salah satu dari mereka yang terjatuh dengan cara yang tidak elit.
“Waalaikumussalam, pagi bu!“ sahut mereka, sambil menahan tawa melihat Riki terjatuh.
“Makanya kalau jalan itu lihat – lihat dulu, nak Riki,“ kekeh Bu Fitriani
Ledak tawa langsung terdengar menghiasi ruangan, membuat Riki menutupi wajahnya malu.
“sudah, sudah, jangan ribut lagi. Mari kita bahas tentang praktek yang akan kalian lakukan,“ ucap Bu Fitriani
“kali ini, kalian akan meneliti tentang kecoa dan cangkang siput,“ lanjutnya
Terdengar helaan napas gusar dari para wanita yang sangat geli dengan kecoa, tak terkecuali Tiara dan Nisa.
“Tidak ada yang lain kah bu?“ tanya Nisa memelas
“Tidak ada sayang, nanti juga ada yang lebih parah, berdoa saja kalian pasti bisa,“ balas Bu Fitriani tersenyum yang terkesan jahil.
****
“hufftt... aku pilih yang cangkang siput aja deh,“ ujar Nisa lalu menyeruput minumannya.
“aku juga, nanti kita cari sama – sama yah,“ ajak Tiara
“oke, di sawah pasti banyak kan?“
“kalau yang hidupnya sih pasti banyak atuh, tapi aku tidak tau kalau yang sudah tidak ada isinya,“
Nisa melirik jam tangannya, “mau pulang sekarang? Matkul juga sudah selesai,“ tanya Nisa.
“eh iya aku pulang sekarang, hmm ... kita cari cangkangnya kapan?“
“besok saja, kan tidak ada matkul besok,“
“oke, aku pulang duluan yah Nis, Assalamualaikum,“ pamit Tiara
“Wa’alaikumussalam, hati – hati Ra,“ Nisa melambaikan tangannya.
Tiara pun langsung menaiki angkutan umum yang berhenti di depan kampusnya.
“Assalamualaikum, ummi, abbah, Tia pulang!“ salam Tiara saat memasuki rumahnya.
“Wa’alaikumussalam!“ sahut umminya
Tiara celingak celinguk mencari keberadaan abahnya, “abah masih di sawah?“
“iyalah, abahkan pulangnya nanti jam 2,memangnya ada apa? Tumben banget kamu nyari abah,“
“ummi mau tau aja atau mau tau banget?“ tanya Tiara menjahili umminya.
Ummi hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, “sudah sana kamu mandi, terus makan dulu, ummi mau ke rumah teh anggun.“
“ummi disana lama?“
“mau tau aja atau mau tau banget?“ tanya Ummi jahil, sambil mengikuti gaya Tiara tadi.
“ck ck ck dasar ummi,“
“hahaha... ummi pergi dulu, assalamualaikum.”
“wa’alaikumussalam,“
****
“see you next time, bye.“ pamit seorang dosen, sambil keluar dari kelas.
“Bye, miss!!“ sahut para mahasiswa, kini mereka pada berhamburan keluar dari kelas.
Robert yang masih membereskan barang – barangnya di kejutkan oleh seseorang dari belakang yang langsung merangkulnya kuat.
“Den, bisa tidak sehari saja, jangan gitu? Sakit loh!“ kesal Robert
“tidak bisa my beb, soalnya aku sudah terlanjur mencintaimu,” balas Deni dengan nada yang membuat orang geli.
“ku tampol juga ya muka kau,” Robert sangat geram dengan tingkah sahabatnya, seperti ingin memukul tapi itu sahabatnya.
“Ampun bang,” Deni menampilkan cengiran tengilnya yang membuat Robert tambah kesal.
Dosa apa yang telah kulakukan sehingga engkau memberiku sahabat seperti dia, ya tuhan. Suara hati Robert.
“Heh muka apaan tuh? Jangan bilang kau ngadu ke tuhan lagi ya?” tebakan Deni sangat tepat sasaran.
“Aku berharap kau kan jadi milikku,” Robert malah bernyayi.
“Diih gila kau, najis banget. Aku masih normal,” kini giliran Deni yang geli dengan tingkah Robert.
Seperti inilah Robert melewati hari – harinya bersama sahabat somplaknya. Terkadang mereka tidak tahu diri saat saling menghina, tapi walaupun begitu, sangat jarang melihat mereka musuhan.
“Bet, pacarmu apa kabar?” tanya Deni, kali ini ia memasang wajah serius.
“Pacar yang mana?” tanya Robert
Deni terkejut bukan main mendengar penuturan Robert, ia tidak menyangka sahabatnya telah berubah. Kemana Robert yang sangat menghargai wanita? Robert yang tidak akan menyakiti perasaan wanita? Apa yang terjadi? Deni tidak dapat berkata apa – apa lagi.
“Kau mau tinggal disini?” tanya Robert membuyarkan lamunan Deni.
“Hah?” bingung Deni
“Ampuni aku tuhan, mengapa engkau mempertemukan aku dengan manusia ini?” lirih Robert
“Heh! Lambemu bet, bet,” Deni langsung meninggalkan Robert begitu saja
“Jangan tinggal daku,” Robert mengejar Deni sambil tertawa.
Tak jauh dari tempat mereka tadi, ada seseorang yang sedang berbahagia mendengar perbincangan mereka.
“This is my time,” ucapnya sambil menyeringai.
~ Aku tidak tahu untuk apa kau berjanji, jika kau berjanji hanya untuk mengingkarinya. Jadi apa sebenarnya janji itu? ~ Quokka
TBC