Alilea menatap mata Dani dengan perasaan bersalah. Seandainya hatinya bukan untuk Raka, Dani tak perlu menunggunya selama itu. Ia adalah sosok seorang kekasih yang selama ini diharapkan oleh Alilea. Pengertian, tidak egois, sabar, dan dewasa. Sangat berbeda dengan Raka yang egois dan tidak peka, terkadang membuat Alilea bingung mengapa ia bisa lebih menyukai pemuda yang satu itu.
"Tapi Raka 'kan sahabat kamu, Dan ...." Hanya itulah pembelaan yang bisa Alilea katakan.
"Iya, aku tahu dia sahabat aku. Tapi aku bener-bener nggak terima sama perlakuannya ke kamu. Hubungan kalian itu nggak sehat. Dia cuma manfaatkan kamu. Seenggaknya dia itu bisa berusaha buat lebih menghargai perasaan kamu meskipun dia sendiri nggak punya perasaan yang sama. Aku di sini yang susah payah rebut hati kamu malah nggak bisa dapetin kamu," terang Dani dengan wajah kesal.
"Kamu bilang gini ke aku, apa kamu nggak inget sama Seany, Dan?" tanya Alilea. Kini wajahnya yang terlihat sedikit kesal.
Seany adalah kekasih Dani sejak dua tahun yang lalu, bahkan sebelum Alilea dan Raka memulai hubungan rumit mereka. Ya, selain karena Alilea masih mencintai Raka, hal lain yang membuat kisahnya tak bisa berakhir baik dengan Dani adalah karena Dani memiliki kekasih.
"Aku 'kan udah pernah bilang sama kamu, Al. Aku bertahan sama dia itu karena terpaksa. Terlepas dari apapun hubungan aku sama dia, hatiku tetep buat kamu. Aku bisa lepas-"
"Dan, masih pagi," sela Alilea dengan segera. "Nggak enak ngomongin beginian pagi-pagi. Bisa-bisa suasana hatiku seharian rusak."
Meskipun karakter Dani menyiratkan sosok kekasih yang Alilea dambakan selama ini, ia sama sekali tak menyukai ide Dani untuk melepaskan kekasihnya begitu saja jika Alilea bersedia menerima cintanya. Sebenarnya Alilea sudah bisa mempelajari sesuatu dari hubungan Dani dan kekasihnya, bahwa hubungan berstatus jelas pun tak menjamin adanya sebuah kebahagiaan. Namun pikirannya seolah tertutupi oleh sebuah tameng tebal.
Dani hanya bisa menghela napas melihat Alilea yang bebal dan keras hati itu. "Ya udah ... Maaf ya, Al. Aku cuma nggak mau kamu sakit hati terus-terusan. Pokoknya kalau kamu butuh orang buat bersandar, aku akan selalu siap. Aku sayang sama kamu," ujarnya sambil tersenyum simpul ke arah Alilea. Tak lupa tangannya sedikit mengusap-usap kepala Alilea dan memberantakkan rambutnya, membuat Alilea pun akhirnya bisa tertawa pelan.
Andai aja Raka bisa seperti kamu, Dan. Andai juga kamu masih sendiri... mungkin kisahku nggak akan sesakit ini.
***
Sekelompok anak muda tampak berkumpul di dalam sebuah cafe dengan papan neon bertuliskan "Moreno" terpampang di depannya. Cafe Moreno adalah salah satu tempat favorit para mahasiswa Kampus Tunas Harapan untuk bercengkerama karena selain letaknya yang sangat dekat dengan area kampus dan tempatnya yang nyaman, waktu tutupnya pun cukup larut yaitu pukul 01.00 malam.
Tampak delapan orang mahasiswa Jurusan Sastra Inggris memadati sebuah meja besar di salah satu sudut cafe bernuansa Eropa modern itu. Terdapat 5 orang perempuan dan 3 orang laki-laki duduk di meja yang sama, termasuk Alilea dan Lina. Malam itu mereka merayakan selesainya ujian kelompok mereka.
Ghea Nandini, wanita berambut pendek dengan cat pirang, adalah si empunya acara malam itu. Ia dan beberapa orang anggota kelompok kerjanya berada di sana, salah satunya adalah Lina. Ia yang merasa tak nyaman datang sendirian pun mengajak Alilea untuk datang bersamanya. Alilea mengenal semua yang ada di sana karena ia juga sekelas dengan mereka.
"Malem ini pesen aja sepuas kalian. Gue yang bayar!" ujar Ghea dengan sombongnya.
"Wah ... kaya, nih!" sahut salah satu teman mereka.
"Kaya dong ... Nggak kayak kamu." Jawaban Ghea itu menurutnya adalah sebuah candaan, tapi sifatnya yang ceplas-ceplos terkadang membuatnya mengatakan hal-hal yang menyakiti hati lawan bicaranya. Sayangnya ia seringkali tak menyadari hal itu sehingga membuatnya hanya bisa berteman baik dengan segelintir orang saja.
"Hus! Nggak boleh ngomong gitu! Aminin aja," sahut Destina Maharani, sahabat Ghea.
Banyak teman kampus mereka yang merasa heran dengan kedekatan Ghea dan Destina karena keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Ghea yang bawel, ceplas-ceplos, dan ratu gosip justru bersahabat dengan Destina yang cenderung diam, lugu, dan tak banyak tingkah.
"Ih, kamu nih! Alim banget sih? Sayang alim, tapi nggak punya pacar," sindir Ghea dengan nada bercanda.
Destina yang sudah terbiasa dengan candaan sarkas Ghea pun hanya bisa tertawa pelan, menganggap hal itu lucu. Destina mau bersahabat dengan Ghea karena Ghea yang keras itu selalu melindungi dan membelanya. Banyak temannya yang mempertanyakan kedekatannya dengan Ghea namun ia sama sekali tak ambil pusing.
"Nggak apa-apa nggak punya pacar. Yang penting kan bahagia. Ya nggak, Des?" ujar Lina pada Destina, menyanggah perkataan Ghea secara tidak langsung.
Gadis itu hanya menanggapinya dengan mengangguk sambil merapatkan bibirnya dan menoleh ke arah Ghea. Tak banyak reaksi yang diberikan oleh Destina karena ia merupakan seorang gadis yang cenderung pendiam.
"Ih, dasar jomblo ngenes kalian ini!" balas Ghea tak mau kalah.
"Emangnya kalau udah pacaran itu dijamin pasti bakalan seneng terus?" tanya Alilea, hanya penasaran dengan jawabannya karena ia memang belum mengetahui bagaimana rasanya.
"Iya, dong! Seneng, dong! Kepuasan lahir batin dapet semua," jawab Ghea dengan gamblangnya. Jawaban itu justru membuat Alilea merasa iri, meskipun bukan hal-hal itu yang ia cari dari sebuah hubungan percintaan, melainkan sebuah kebahagiaan.
Seketika itu juga pembicaraan seru mereka terhenti dengan datangnya seorang pemuda berjaket kulit berjalan ke arah meja mereka. Raka datang ke Cafe Moreno dan langsung menuju ke salah satu kursi kosong di meja itu. Ghea yang melihat kedatangan Raka segera menyenggol Destina dengan sikunya.
"Apaan, sih? Sakit tau!" bisik Destina pada Ghea. Gadis berambut panjang bergelombang dengan kulit kecoklatan itu memasang wajah agak kesal pada sahabatnya.
"Itu, pacar kamu dateng," bisik Ghea. Memang Raka bukan pacar Destina yang sebenarnya. Ucapan Ghea itu hanyalah merupakan sebuah candaan pada Destina yang sangat menyukai Raka sejak lama.
Raka dengan langkah percaya dirinya langsung duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah Destina, membuat gadis itu menjadi salah tingkah dan malu-malu. Sementara itu, Alilea hanya melihat kedatangan Raka dengan wajah datar, sama sekali tak menyangka ia akan datang malam itu. Suasana pasti akan berubah menjadi tak nyaman jika pemuda itu datang.
"Udah lama kalian di sini?" tanya Raka sambil menoleh ke arah Destina, karena kebetulan gadis itu yang duduk paling dekat dengannya.
"Masih ... baru dateng, kok," jawab Destina dengan agak malu-malu. Orang yang ia sukai duduk tepat di sebelahnya, tentu saja ia akan merasa canggung sekaligus salah tingkah.
"Cie ... Raka duduk di sebelah Destina! Udah, langsung jadian aja!" goda Ghea.
Selama ini Ghea sangat mendorong agar sahabatnya itu bisa berpacaran dengan Raka karena tentunya akan bisa menaikkan popularitas Destina sekaligus popularitasnya di kampus. Semangatnya untuk menjodohkan kedua anak manusia itu bahkan lebih membara daripada Destina sendiri.
Raka tak menjawab, hanya tertawa pelan. Ia sudah tahu Destina menyimpan rasa padanya dan sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Pandangan matanya pun segera beralih pada Alilea yang ternyata duduk tepat berhadapan dengannya.
Alilea terlihat tak nyaman dengan kehadiran Raka yang tak terduga di acara malam itu. Sejenak Alilea sempat melupakan bahwa Raka merupakan salah satu teman dekat Ghea sehingga tak menyangka ia akan datang. Wajah Alilea pun semakin terlihat tak nyaman dengan perjodohan Raka dan Destina tepat di depan matanya. Senyum di wajah Raka mendadak hilang saat melihat ekspresi wajah tak ramah yang ditunjukkan Alilea.
"Hei, Raka! Jangan senyum-senyum aja. Lagi seneng ya, duduk deketan sama Destina? Wah ... Berarti besar harapan kalian jadian, nih!" goda Ghea sekali lagi. Gadis itu sangat hobi menggoda dan menguji kesabaran orang lain.
Namun Raka tak terlihat terganggu sama sekali dan malah kembali tertawa pelan. Untung saja Ghea adalah teman baiknya sehingga ia tak terlalu merasa keberatan dan menganggapnya hanya sebagai candaan saja.
Ekspresi Raka itu membuat Alilea terkejut sekaligus heran. Biasanya Raka akan langsung mengelak dan sangat menghindari pembicaraan mengenai dirinya yang dijodoh-jodohkan dengan orang lain. Tapi dengan Destina, mengapa ia bersikap biasa saja seperti itu?
Lina dengan pelan menyenggol Alilea. "Kamu nggak cemburu tuh sama mereka?" bisiknya pada Alilea.
Alilea memperhatikan gerak-gerik Raka yang sepertinya berusaha untuk menghindari kontak mata dengannya, kemudian matanya beralih pada Destina yang dengan diam-diam mencuri pandang pada Raka sambil tersenyum-senyum sendiri. Raka tampaknya nyaman-nyaman saja terlihat dekat dengan Destina, benar-benar berbeda dengan Raka biasanya yang akan langsung menghindar dengan situasi seperti itu. Malam itu adalah pertama kalinya Alilea bercengkerama dengan Ghea dan Destina sehingga ia baru tahu jika Raka akan menunjukkan reaksi seperti itu.
Kenapa Raka nyaman-nyaman aja dengan situasi ini? Apa bener Raka mulai ada rasa sama Destina? Tapi itu nggak mungkin. Phobia Raka 'kan belum membaik.
Meskipun masih bertanya-tanya, hati Alilea terasa panas melihat kedekatan Raka dengan gadis yang menyukainya sejak lama itu. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena Raka bukanlah kekasihnya dan pemuda itu selalu berpesan padanya agar tak membongkar kedekatan mereka di depan teman-temannya, sekali lagi untuk menjaga citranya.
"Seenggaknya sahabat gue udah nemuin calon pacar lah, ya. Tapi... gue jadi kasihan sih sama si Al," ujar Ghea secara tiba-tiba sambil melirik ke arah Alilea. Kata-kata dan gerak-geriknya seperti mengandung kesengajaan.
Hmm ... mulai lagi deh pasti olok-olokkannya.
Alilea tahu pasti, seperti biasa Ghea pasti akan mengolok perasaannya pada Raka meskipun gadis itu tak mengetahui apa saja yang telah terjadi di antara Raka dan dirinya. Yang Ghea tahu, Alilea selama ini menyimpan perasaan pada Raka namun menurutnya hanya Destinalah yang sangat mungkin menjadi kekasih temannya itu.
"Ada apa memangnya sama Alilea?" tanya Lina merasa tak terima.
"Kasihan harus lepasin orang yang dia suka buat Destina. Yaudah deh Al, ikhlasin aja. Daripada kamu terus-terusan bertepuk sebelah tangan," canda Ghea sambil tertawa getir. Mulutnya benar-benar pedas dan tak memiliki filter sama sekali.
Sekali lagi Alilea harus dibuat sakit hati, kali ini bukan oleh Raka melainkan temannya. Hubungannya dengan Raka membawanya masuk dalam lingkaran orang-orang yang sangat lihai membuat hatinya sakit.
Beberapa yang ada di sana tertawa pelan, sementara Alilea, Lina, dan Raka hanya terdiam. Alilea menelan ludahnya, berusaha menahan emosi yang sebenarnya sudah membakar sampai ke ubun-ubun. Meskipun ia sudah sangat tahu Ghea pasti akan mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya, tapi tetap saja ia merasa tersinggung dengan olokan Ghea di depan orang banyak. Sementara itu, Raka terlihat setengah terkejut dengan perkataan teman dekatnya itu namun ia seperti tak mampu berkata apa-apa untuk membela Alilea.
"Aku udah punya pacar, kok," sahut Alilea tiba-tiba.
"Oh, ya? Pacar beneran?" Ghea lagi-lagi berusaha bercanda dengan menggunakan nada satirnya.
"Beneran lah!" jawab Alilea sambil tersenyum lebar. Senyumnya ia paksakan untuk menutupi keresahan hatinya. Ia terpaksa harus berbohong demi menyelamatkan harga dirinya yang lagi-lagi dijatuhkan oleh Ghea.
"Wah, bagus dong! Selamat, ya!" ujar Ghea dengan senyum sumringah, disambut dengan tepuk tangan kecil dari teman-teman mereka yang lain. Namun nada Ghea itu sama sekali terdengar tak tulus.
Alilea yang pura-pura tersenyum dengan kabar baik yang palsu itu mendadak menghilangkan senyum dari wajahnya begitu ia bertukar pandang dengan Raka lagi. Ia menatap Raka dengan penuh rasa kecewa di matanya. Ia tahu Raka pasti mampu menangkap rasa kecewanya itu.
Sementara itu, teman-teman mereka yang lain terlihat sudah kembali sibuk dengan pembicaraan mereka mengenai topik yang berbeda. Alilea tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kursinya. Mereka semua tak menaruh kecurigaan sama sekali dan hanya menganggap Alilea sedang pergi ke toilet untuk urusan buang air seperti biasanya. Namun Lina tentu saja mengetahui sahabatnya itu pasti sedang sedih.
Di dalam kamar mandi, Alilea segera membuka bilik-bilik toilet untuk memeriksa apakah ada orang lain di dalam selain dirinya. Sesuai harapannya, tak ada orang lain lagi selain dirinya di sana. Ia pun berdiri di depan wastafel dan memperhatikan dirinya di cermin. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat dirinya yang baru saja dipermalukan di depan teman-temannya sendiri.
"Memalukan kamu, Al! Demi cowok yang nggak mencintai kamu, kamu rela diperlakukan seperti ini," gumamnya merasa kesal pada dirinya sendiri.
Air mata pun mulai menetes di pipinya. Kepalanya tertunduk dan ia mulai menangis. Hatinya terasa sangat sakit namun ia tak bisa berhenti mencintai Raka. Pria itu menjelma bak sesosok malaikat di depan banyak orang lainnya tapi malah menjadi sesosok penyiksa batin baginya. Tak terhitung berapa kali pria itu telah menyakiti hatinya selama ini. Alilea sekali lagi merasa dirinya sangatlah bodoh dan naif.
Di dalam cafe, Lina menunggu Alilea dengan gelisah di kursinya. Ia tahu sahabatnya itu pasti menangis di toilet. Dan ia pun tahu saat Alilea menangis, ia hanya ingin sendiri.
Setelah lewat beberapa menit, Lina merasa lega karena Alilea akhirnya muncul dan berjalan kembali ke tempat duduknya. Matanya masih terlihat sedikit memerah setelah menangis di toilet tadi. Pemandangan itu malah membuat Lina merasa semakin khawatir.
Alilea tak langsung duduk dan justru mengambil tasnya di kursi. "Temen-temen, aku pulang dulu ya," pamitnya tiba-tiba.
"Loh, mau ke mana? Makanannya 'kan belum keluar," tanya Ghea.
Sambil melihat ke arah Raka dengan tatapan mata kesalnya, Alilea menjawab, "Aku ada janji mendadak sama pacar aku." Alilea berbohong lagi. Ia benar-benar harus pergi dari situ karena ia merasa sudah muak. Tak sanggup rasanya ia harus berhadapan dengan Raka dan Ghea sekaligus untuk waktu yang lebih lama lagi.
"Kok dadakan, sih? Kamu pulang bukan karena cemburu sama Raka dan Destina, 'kan?" tanya Ghea dengan nadanya yang sekali lagi menyindir. Tak ada lelahnya ia bercanda dengan perasaan Alilea.
"Aku sama Alilea nggak ada hubungan apa-apa," sahut Raka dengan segera di depan orang banyak itu, seolah tak peduli dengan apa yang Alilea rasakan.