Laura terduduk kikuk di bangku nya di belakang nya adalah malaikat maut nya ,di samping nya dua wanita pembawa maut nya dan di depan nya adalah gugus bintang .
" Hidup gini amat dah ,mana gue pengen berak lagi ,ah tai emang " batin Laura tertekan udara di dikelas XI IPA begitu dingin bagaikan rumah yang terendam salju abadi .
Susana kelas pun terlihat begitu kondusif mungkin karena perubahan dari Laura yang dulu nya suka caper dengan kelas dan ingin selalu di perhatikan,kini ia duduk di bangku seperti patung yang nahan berak tapi memang Laura sedang nahan berak nya . Apa lagi kini jam pelajaran pertama dua menit lagi kelas di mulai .
Lima menit berlalu pelajaran yang tenang dan dingin tiba-tiba berubah menjadi cair .
"Pak " suara Laura membuat atensi siswa siswi memandang nya dengan penuh penasaran, mereka ingin melihat pertunjukan seperti apa yang akan di tujukan oleh Laura si caper itu .
" Ya, ada apa Laura ? " Tanya guru matematika itu .
" Anu pak, saya izin ke toilet " jawab Laura sopan wajah terlihat sudah menahan berek begitu lama guru matematika itu pun mengiyakan saja , merasa kasihan melihat wajah pucat Laura itu .
" Silahkan" jawab guru tersebut.
" Terima kasih pak " jawab Laura sambil berjalan cepat ke arah toilet siswa .
Penghuni kelas termasuk Orion tersenyum tipis melihat tingkah Laura tadi , wajah pucat nya terlihat lucu di mata nya .
Sementara Raphael terlihat bingung dengan perubahan Laura biasanya ia akan Cepu ke guru matematika itu karena ada yang mencontek saat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru matematika yang terkesan kiler itu .
Dan Laura kini sedang berdebat dengan perut nya , ia tidak tahan dengan kondisi kelas yang suram yah bagi yang lain mungkin ayem tentrem tidak ada caperan dari Laura tapi bagi laura itu adalah neraka karena ada empat tokoh yang perlu ia hindari.
Kalo ia berbeda kelas pun ia akan menggoda para wanita cantik dan pria tampan.
" Hilang sudah mood ku di pagi hari ini " . Laura memandang wajah cantik dan tubuh seksi nya di cermin , Laura selalu mengenakan baju kebesaran untuk menutupi aset nya yang cukup besar bagi nya .
" Pantesan aja ya si antagonis wanita selalu mengatakan Laura jalang , lihat lah kalo gue jadi cowok melihat body gue yang aduhai gini ya man tahan ,haha dah lah gue dah 10 menit di toilet nanti pada curiga lagi " kata Laura lirih dan hanya bisa di dengar oleh nya .
Saat keluar toilet Laura dikagetkan oleh kehadiran pria tampan yang sedang menyenderkan bahu nya di samping pintu toilet .
" Laura " . Suara cowok yang terdengar merdu di pendengar Laura .
" Eh , copot, buntut singa , eh maap tuan Ardita, hehe ada apa ya ? " Tanya laura setelah menenangkan jantung hampir keluar dari wadah nya .
" Nih , malaikat maut ,kenapa ada di sini dah " batin Laura bingung dan sedikit takut , tapi boong Laura takut setengah mati cui.
Raphael hanya menatap datar Laura dan tanpa di aba-aba menyeret Laura masuk kembali ke dalam toilet.
" Eh ...eh .... Lo mau ngappphmmm....." Sebelum selesai berbicara Laura sudah di bekap dengan tangan Raphael yang dingin.
" Anjir ,nih orang gak birahi liat gue kan ? Atau dia dengar gue pas ngomong tadi ?" Tanya laura dalam hati dan mata nya melotot tak terima karena tiba tiba di bekap mulut nya .
" Tapi ,nih tangan halus dan wangi anjir " ujar Laura dalam hati .
Meraka saling tatap dalam diam , dan tangan yang mendekap nya pun lepas ibu jari pria di depan nya itu tiba tiba mengusap dengan lembut dan mendapatkan tatapan honor dari Laura .
" Lo ngapain sih " tanya laura bingung dan mulai emosi.
" Hehhhh....,sudah mulai berani dengan gue ?" Jawab Raphael dengan nada bercanda dan sedikit menekan. Tangan yang tadi nya mengelus bibir Laura dengan lembut kini beralih memegang dagu turus Laura .
" Anjir ,nih orang gila apa ya ,pengen mukul nih orang pukul aja kali ya , di kira gue cewek murahan apa ya walaupun gue suka adegan sus gitu tapi ya gak gini anjir " suara batin nya menggebu-ngebu.
Hening tidak ada jawaban dari mulut merah Cherry Laura yang ada suara dorongan tangan dari Laura yang cukup keras .
Bugh
Badan Raphael sedikit mendur dan tangan yang ada di dagu Laura terlepas.
Raphael sedikit terkejut karena Laura berani mendorong nya cukup keras yah walaupun si pemilik tubuh tidak merasakan sakit sama sekali.
" Kau ....." Sebelum Raphael selesai berbicara Laura sudah berlari dari pandangan tajam nya .
Tatapan tajam nya hilang digantikan dengan tatapan terterkejutan, ketertarikan karena perubahan Laura jika di lihat baik baik ada kilatan obsesi dan hilang seakan tidak pernah muncul.
" Ahhh, lucu sekali wajah nya saat panik seperti itu , kenapa gue gak sadar kalo Laura begitu cantik dan menggoda bahkan bau nya pun berbeda " suara lirih Raphael yang hanya bisa di dengar oleh nya sendiri.
Sementara Laura kini berlari begitu kencang tanpa menoleh ke belakang dan langsung pergi ke mesin minuman untuk menghilangkan dahaga nya .
" Anjir , serem banget tuh orang, gak salah minum obat apa ya , atau dia mastiin gue Laura yang asli apa bukan gitu, gak gak, gak ada yang tau kalo Laura asli dah metong ,ya gue yakin dia cuma mau nakutin gue aja " . Kata Laura dalam hati buat menenangkan jatuh murah nya itu .