Tanganku mendorong pintu, setelah membukanya dengan kunci yang memang ditinggalkan ayah kepadaku aku mengajak Adrian dan Rara masuk ke dalam. Selepas meletakkan kardus yang di bawa olehnya, Adrian kembali ke luar ia berniat untuk membeli air minum lagi.
Aku meminta Rara untuk bersikap nyaman, sebagian dari ruangan ini memang sudah aku dan ayah tutupi kemarin malam, itu agar tidak terlalu berdebu. Jika saja nanti pengobatanku selesai, sehingga saat kami kembali tidak perlu kesusahan untuk membersihkannya kembali.
"Kak, hidungnya kenapa berdarah?" tanya Rara cepat, ia bahkan mendekat ke arahku dengan wajahnya yang terlihat bingung dan terkejut.
Aku menggelengkan kepalaku, mengambil tisu dari dalam tasku dan menyekanya. Tisu pertama tidak membuat mimisanku kering, lalu aku mengambil lagi t