Bian dan Cika sudah datang menjengukku dari hampir 30 menit yang lalu, untungnya alat yang aku tidak mengerti apa itu sudah banyak dilepaskan dari tubuhku.
Hanya meninggalkan selang oksigen di hidung dan infus yang masih berada di tanganku.
Aku tidak menyangka jika mereka akan datang secepat ini, lucunya Cika menangis saat pertama kali melihat kondisiku. Sedangkan Bian, dia hanya terdiam.
"Luna tapi beneran 'kan lo gak sakit apa - apa?"
"Beneran, gue cuma sesak napas aja."
Aku tertawa saat sedang menenangkan Cika yang masih sulit meyakini ucapanku.
"Udah makan belum? Ada yang mau dimakan?"
Aku tersenyum kecil melihat Bian yang terlihat peduli padaku.
"Ada, bantuin duduk dulu dong."
Aku meminta pertolongan dari Bian, sejak tadi aku sudah ingin duduk tapi tidak ada orang sehingga ak