"Kamu kenapa, Lun?" tanya Ayah yang baru saja kembali, aku menaikkan kembali kepalaku lalu menyentuh dahiku.
"Luna gak kenapa - kenapa Yah," ucapku mencoba menenangkan ayah yang terlihat panik melihatku.
Aku mencoba menahan rasa sakit di kepalaku, aku tidak ingin ayah terus - terusan cemas karena aku.
"Permisi Pak, Bu saya mau menghidangkan makanan.",
Pelayan yang membawa pesanan kami datang lalu mulai menyusun satu persatu hidangan di atas meja.
"Mas, saya mau tambah minta teh hangatnya dua, ya. Hangat aja, jangan panas," ucap Ayah kepada pelayan menambah pesanan kami.
Ayah menyendokkan nasi ke piringku, lalu mendekatkan mangkuk soto ke dekat piringku. Aku bersyukur, di saat keadaanku seperti ini aku mempunyai ayah yang selalu bisa kuandalkan. Meskipun aku juga merasa bersalah karen