Bian hanya diam, membuatku merasa bingung harus bersikap seperti apa. Ini malah terasa lebih rumit dibandingkan harus menjawab perasaan Bian kepadaku, aku hanya menatap ke arah kuku - kuku tanganku. Menatap Bian juga membuatku merasa semakin bingung, aku berpikir apakah ia akan menjauhiku setelah mendengar semua ini dan menutuskan hubungan pertemanan di antara kami.
"Seburuk apa?" tanya Bian menghentikanku dari lamunan.
Aku mengangkat kepalaku menatap Bian, "entahlah, aku juga tidak bisa menjelaskan dengan baik. Tenang aja, aku akan baik - baik aja."
Bian menghela napasnya panjang dan mengusap kepalanya kasar membuat rambutnya menjadi sedikit berantakan.
"Berapa lama kamu di sana?" tanya Bian dengan nada datar, aku diam sejenak memikirkan kemungkinan tercepat aku di sana.
"Rencananya