Hujan turun seperti panah perak ketika api pertama menjilat atap Padepokan Awan Putih.
Bagas terbangun karena bau yang salah. Bukan bau hujan, bukan bau tanah basah, melainkan bau kayu yang dipaksa menjadi abu. Ia melompat dari ranjang bambunya, dan saat membuka pintu kamar, dunia yang ia kenal sejak kecil sudah berubah menjadi neraka oranye.
"Guru!" teriaknya, suaranya tenggelam di antara derak api dan jerit saudara seperguruan.
Halaman utama padepokan, tempat ia berlatih sejak usia tujuh tahun, kini dipenuhi bayangan-bayangan bersenjata. Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang ular melingkar di dada—lambang yang tidak Bagas kenali, namun akan ia ingat seumur hidupnya. Pedang mereka bergerak cepat, dingin, tanpa ragu. Satu per satu murid Awan Putih roboh.
Bagas menyambar pedang latihannya yang tergantung di dinding. Bilahnya tumpul, hanya untuk berlatih, tetapi ia tidak punya pilihan lain.
"Bagas! Mundur!"
Suara itu milik Paman Wira, murid tertua padepokan. Tubuhnya bersimbah darah, tetapi ia masih berdiri tegak, menahan tiga penyerang sekaligus dengan tongkat besinya.
"Tidak! Aku akan—"
"Dengarkan aku!" Wira menangkis sabetan, lalu memutar tongkatnya menghantam dada seorang penyerang. "Guru ada di Aula Belakang. Pergi ke sana. Lindungi dia. Sekarang!"
Bagas mengertakkan gigi. Setiap seratnya ingin tinggal, ingin melawan, ingin menebas leher orang-orang berjubah hitam itu. Tetapi tubuhnya bergerak menuruti perintah, kakinya membelah asap menuju aula belakang.
Sepanjang lorong, ia melewati wajah-wajah yang ia kenal. Kakak Sari yang selalu membaginya bubur saat ia sakit, kini terbaring tak bergerak. Adik Tomo yang baru dua musim belajar, matanya terbuka menatap langit-langit yang terbakar. Bagas menelan teriakannya. Air mata bercampur jelaga di pipinya.
Aula Belakang. Pintunya setengah terbuka.
Di dalam, di bawah cahaya lentera yang bergoyang, Bagas melihat gurunya—Resi Janaka—berlutut. Di hadapan sang guru berdiri seorang pria tinggi berjubah hitam dengan ular emas di dadanya. Pemimpin mereka.
"Di mana Kitab Tujuh Jurus, orang tua?" suara pria itu rendah, sabar, seperti menanyakan harga ikan di pasar.
Resi Janaka tertawa, meski darah mengalir dari sudut bibirnya. "Kau membakar seluruh perguruanku hanya untuk dongeng?"
"Dongeng tidak membuat Perguruan Awan Putih bertahan tiga ratus tahun." Pria itu mengangkat pedangnya. "Untuk terakhir kali. Di mana kitabnya?"
Bagas hendak menerjang masuk. Tetapi sebuah tangan menahan bahunya dari balik tirai. Paman Wira—entah bagaimana ia tiba lebih dulu—menggeleng pelan, jari di bibir.
Resi Janaka menatap ke arah tirai. Hanya sekejap. Namun Bagas tahu gurunya melihatnya. Mata tua itu berkata: hidup.
"Kitab itu," Resi Janaka berbisik, "sudah lama tidak ada di tangan manusia."
Pedang turun.
Bagas tidak ingat ia berteriak atau tidak. Yang ia ingat hanyalah Paman Wira menyeretnya keluar lewat jendela belakang, ke dalam hujan, ke dalam gelap hutan, jauh dari api yang menelan satu-satunya rumah yang pernah ia miliki.
Mereka berlari hingga paru-paru Bagas terbakar. Akhirnya, di tepi sungai, Wira ambruk. Tongkat besinya jatuh berdenting di atas batu.
"Paman!" Bagas berlutut di sisinya. Baru kini ia melihat luka menganga di perut lelaki itu.
"Dengar... dengar baik-baik," Wira meraih kerah Bagas dengan tangan gemetar. "Ular emas itu... Perguruan Naga Hitam. Pemimpinnya bernama Sengkuni Hitam. Dia mencari Kitab Tujuh Jurus Terlarang."
"Aku tidak peduli kitab apa pun. Aku akan membunuhnya."
Wira tersenyum getir. "Dengan pedang tumpul itu? Mereka tiga puluh orang, semua tingkat lanjut. Kau... kau bahkan belum menamatkan jurus dasar."
Bagas menunduk. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada luka mana pun.
"Tapi ada cara," bisik Wira. Napasnya semakin pendek. "Kitab Tujuh Jurus Terlarang itu nyata, Bagas. Tersembunyi. Guru menjaganya seumur hidup karena ia berbahaya. Tujuh jurus yang membuat pemakainya tak terkalahkan... tapi dengan harga."
"Harga apa?"
Mata Wira meredup. "Jiwamu... satu kepingan demi satu kepingan..."
Tangan itu jatuh.
Bagas duduk di tepi sungai sepanjang sisa malam, memeluk tubuh Paman Wira yang mendingin, sementara di kejauhan langit memerah oleh padepokannya yang terbakar habis. Saat fajar tiba, hanya tersisa abu—dan satu tekad yang mengeras menjadi baja di dadanya.
Ia akan menemukan Kitab Tujuh Jurus Terlarang.
Ia akan menguasainya, berapa pun harganya.
Dan ia akan membuat Sengkuni Hitam dan seluruh Perguruan Naga Hitam membayar dengan darah.