Sepanjang perjalanan turun, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka mulut.
Genta memangku kepala perwira yang terluka di jok belakang mobil pak Lurah. Wajah pria itu penuh goresan panjang, seperti bekas cakar, dan darah masih merembes dari sudut bibirnya.
Begitu tiba di RSUD, Genta langsung menangani sendiri kedua polisi tersebut. Ia membersihkan luka, menjahit yang perlu dijahit, lalu meminta foto rontgen untuk memastikan tidak ada tulang iga yang retak.
“Kena benda apa, Dok?” tanya perawat yang membantunya.
Genta menatap luka itu lama sekali.
Empat garis sejajar. Jarak antargaris rata. Kedalaman hampir sama.
Ia sudah pernah menangani luka cakaran anjing, luka kena kawat, luka kena mesin perontok padi. Yang di depannya sekarang tidak mirip satu pun dari itu.
“Belum tahu,” jawabnya jujur.
Komandan polisi berdiri di ambang pintu dengan seragam yang masih kotor oleh debu gudang. Wajahnya kaku.
“Dok, laporan ini saya tulis apa adanya. Tapi soal yang tadi ….” Pria itu berhenti, seperti mencari kata yang tepat. “Saya ndak bakal nulis itu.”
“Kenapa, Pak?”
“Karena kalau saya tulis, saya yang bakal dikirim ke rumah sakit jiwa,” jawabnya datar.
Perkara pasung itu berhenti sampai di situ. Tidak ada penyidikan lanjutan, tidak ada penjemputan Ki Sukmo, tidak ada satu pun berita acara yang menyebut nama Sayekti.
***
Genta pulang menjelang tengah malam.
Ia menemukan ibunya duduk di teras dengan lampu yang sengaja tidak dinyalakan.
“Bu, Genta mau nanya sekali lagi,” ucapnya sambil duduk di kursi seberang.
Padmi tidak menjawab.
“Ibu bilang Ki Sukmo masung Sayekti karena Sayekti yang nyerang bulek Trining,” lanjut Genta. “Berarti ibu sudah tahu dari dulu. Ibu tahu dan ibu diem aja.”
“Ibu diam karena ibu ndak punya bukti, Le.”
“Bulek Trining hampir mati, Bu!” bentak Genta.
Padmi memejamkan mata. “Ibu tahu.”
“Terus kenapa ibu masih nutup-nutupin?”
Wanita itu menoleh. Di kegelapan, mata Padmi tampak berkilat oleh air yang tertahan.
“Kamu kira ibu nutupin buat siapa?” balasnya dengan suara serak. “Buat kamu, Genta. Ibu nutupin buat kamu.”
Genta terhenyak. Ia hendak mendesak lagi, tapi ibunya sudah berdiri dan masuk ke dalam.
***
Dayu terbangun tiga kali malam itu.
Yang ketiga, ia terbangun sambil menjerit. Genta buru-buru menyalakan lampu dan memeluk istrinya yang basah oleh keringat.
“Kenapa, Yu?”
“Ada perempuan berdiri di kaki tempat tidur, Mas,” isak Dayu. “Dia nunjuk perut aku. Terus dia ketawa.”
Genta merengkuh istrinya makin erat.
Kandungan Dayu baru berjalan beberapa minggu. Perutnya bahkan belum terlihat menonjol sedikit pun.
Pagi harinya, Dayu memuntahkan seluruh isi perutnya sampai tiga kali. Bukan mual biasa. Wajahnya pucat sekali dan tangannya dingin.
Padmi memanggil Genta ke ruang tengah selepas sarapan yang tidak Dayu sentuh sama sekali.
“Pulangkan Dayu ke Bali,” ucap ibunya tanpa basa-basi.
“Bu?”
“Sekarang. Jangan tunggu minggu depan.”
Genta menegakkan punggung. “Ibu ngusir istri saya?”
“Ibu nyelametin cucu ibu!” sergah Padmi. Suaranya bergetar. “Trining nyaris mati. Pram sudah ndak bisa diapa-apain. Sekarang giliran siapa, Genta? Perempuan hamil yang baru masuk ke keluarga ini?”
Genta terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka pulang ke desa ini, ia tidak punya bantahan.
Trining, yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan, ikut bersuara dengan lirih.
“Mbak Padmi bener, Le. Bawa Dayu pergi.”
***
Perdebatan dengan Dayu berlangsung sepanjang siang.
“Dayu istrimu, Mas. Bukan barang yang dititipin waktu rumah lagi banjir!” bantah Dayu dengan mata merah.
“Yu ….”
“Kalau ada apa-apa sama kamu gimana? Kalau ibu yang berikutnya? Kalau bulek Trining ….”
“Kalau anak kita yang berikutnya, gimana?” potong Genta.
Kalimat itu membuat Dayu terdiam seketika.
Genta bersimpuh di depan istrinya dan meletakkan telapak tangannya di perut Dayu yang masih rata.
“Aku ndak minta kamu ninggalin aku. Aku minta kamu jaga dia dulu,” ucapnya dengan suara pecah. “Cuma sampai semua ini rampung. Habis itu aku jemput kamu sendiri, aku janji.”
Dayu memandang wajah suaminya. Ada garis kelelahan di sana yang tidak pernah ia lihat selama dua tahun pernikahan mereka.
Akhirnya wanita itu mengangguk.
***
Totok mengantar mereka ke bandara di Semarang keesokan paginya, ketika embun masih menggantung di daun kopi.
Trining menangis di teras sambil bertumpu pada tongkatnya. Sri membekali Dayu dengan rempeyek dan kopi bubuk yang dibungkus rangkap tiga. Padmi tidak keluar kamar, tapi Dayu melihat gorden jendela ibu mertuanya bergerak waktu mobil mulai menjauh.
Di ruang tunggu, Genta menggenggam tangan istrinya sampai panggilan terakhir terdengar.
“Mas, jangan sok kuat,” pesan Dayu. “Kalau capek, ngomong. Kalau takut, ngomong.”
“Iya.”
“Dan jangan naik ke bukit itu lagi.”
Genta tersenyum tipis, lalu mengangguk. Dayu tahu betul, anggukan itu tidak berarti apa-apa.
Wanita itu berjalan masuk sambil menahan diri untuk tidak menoleh. Karena kalau ia menoleh, ia yakin dirinya tidak akan sanggup melangkah lagi.
***
Rumah di Bali itu menyambut Dayu dengan bau dupa dan wangi bunga jepun yang jatuh di halaman.
Ni Luh, pembantu mereka, memekik senang begitu melihat mobil masuk. Made bergegas menurunkan koper.
“Astaga, kok kurus begini?” tegur Binari sambil memegang kedua pipi cucunya.
“Kecapekan, Nebin,” dalih Dayu.
Neneknya tidak percaya. Wanita tua itu memandangi wajah Dayu lama sekali, lalu memandang perutnya, lalu memandang pergelangan tangannya.
Tidak ada komentar apa pun yang keluar. Hanya kening Binari yang berkerut makin dalam.
Ayahnya baru pulang menjelang maghrib. Jetro langsung memeluk putrinya dengan wajah cerah, sebelum kemudian menyadari ada yang tidak beres.
“Genta ndak ikut?”
“Nggak, Pa. Dia kerja.”
“Kamu hamil sendirian terus dipulangkan sendirian juga?” tanya ayahnya dengan nada meninggi.
Dayu tidak menjawab.
Malam itu, setelah meja makan dibersihkan dan Made mematikan lampu teras, Dayu meminta ayah dan neneknya duduk di ruang tengah.
“Ada yang harus Dayu ceritain,” ucapnya pelan.
Jetro dan Binari saling berpandangan, lalu duduk tanpa bertanya apa-apa.
Dayu meremas jarinya sendiri di pangkuan. Ia sudah menyiapkan kalimat pembuka sejak di pesawat tadi, dan semuanya buyar begitu ia membuka mulut.
Maka wanita itu memulai dari yang paling awal saja.
Dari wangsit bapak mertuanya. Dari gumaman Pram di depan televisi. Dari dua perempuan berambut sebahu di pantulan cermin. Dari ternak yang mati tergorok. Dari leher suaminya yang membiru. Dari lumbung padi, dari Trining yang nyaris tidak selamat, sampai kepada seorang gadis yang dipasung ayahnya sendiri di dalam gudang.
Dayu bercerita tanpa berhenti, tanpa satu pun bagian yang ia sembunyikan.