Sigit dan Arum pamit menjelang pukul sepuluh malam.
Janur mengantar keduanya sampai ke pagar. Lampu jalan di depan rumah itu mati sejak dua hari yang lalu dan belum ada yang mengurus penggantiannya.
“Nur, kalau ada apa-apa, jangan sungkan nelepon,” pesan Sigit sebelum menstarter motornya.
“Nggih, Mas.”
“Aku serius. Jam berapa pun,” tegasnya.
Janur mengangguk dan tersenyum tipis. Arum melambaikan tangan dari boncengan, lalu suara motor itu menjauh, menuruni jalan berbatu.
Gadis itu tidak langsung masuk.
Ia berdiri cukup lama di halaman, memandangi rumah joglo yang gelap. Hanya lampu ruang tengah yang menyala, redup, seperti biasa.
Udara terasa berat. Bukan dingin biasa yang turun bersama kabut. Ini semacam tekanan yang menempel di kulit dan membuat bulu tangan berdiri sendiri.
Janur mengelilingi rumah sekali. Ia memeriksa ambang pintu, sudut pagar, dan bawah jendela, tempat ia dan Sri menabur pagar tadi pagi.
Semuanya masih utuh. Tidak ada satu pun yang terlangkahi.
Justru itu yang membuat Janur berhenti melangkah.
Kalau pagarnya utuh, kalau tidak ada yang masuk dari luar, berarti yang mengeluarkan tekanan seberat ini sudah ada di dalam sejak lama.
Gadis itu berjalan ke arah lorong kamar Pram.
Pintu kayu itu tergembok dari luar seperti biasa. Janur menempelkan telapak tangannya di daun pintu, lalu buru-buru menariknya kembali.
Kayunya dingin. Bukan sejuk. Dingin seperti besi yang ditinggal semalaman di luar.
“Ngapain kamu di situ?”
Janur berbalik. Trining berdiri di ujung lorong dengan lampu senter di tangan.
“Nggak ngapa-ngapain, Bu. Cuma lewat,” jawab Janur tenang.
Trining menyorot wajah gadis itu beberapa detik, lalu menurunkan senternya.
“Tidur sana. Besok subuh kamu yang nyiapin sarapan,” ucap Trining.
Janur menunduk dan berlalu. Sepanjang jalan menuju kamar belakang, ia merasa ada yang berjalan tepat di belakangnya, dengan jarak yang selalu sama.
Ia tidak menoleh sekali pun.
**
Trining yang menemukan Pram keesokan paginya.
Wanita itu membuka gembok seperti biasa, membawa handuk basah dan baju ganti, sambil menggerutu karena Pram pasti sudah bangun sejak tadi dan tidak bisa memanggil siapa pun.
“Pram, mandi dul ….”
Kalimat itu tidak sempat selesai.
Adiknya terbaring telentang di atas pembaringan. Matanya terbuka, menatap lurus ke langit-langit. Mulutnya sedikit terbuka.
“Pram?”
Trining meletakkan handuknya dan menepuk pipi adiknya. Kulit Pram dingin sekali.
“Pram! Prambudi!”
Tidak ada reaksi. Tidak ada kedipan, tidak ada gerakan jari, tidak ada suara.
Trining menjerit sampai seisi rumah terbangun.
**
Genta datang berlari dari kamar depan dengan rambut masih berantakan.
Ia memeriksa nadi pakleknya, lalu napasnya, lalu menyorotkan cahaya kecil ke arah pupil.
Jantungnya berdetak. Napasnya ada, teratur, meski dangkal. Pupilnya masih bereaksi terhadap cahaya, walau sangat lambat.
Tapi tidak ada satu pun rangsang yang membuat Pram bergerak.
“Panggil Totok! Siapkan mobil!” teriak Genta.
Sri berlari ke belakang. Padmi berdiri di ambang pintu dengan tangan mencengkeram kusen, wajahnya putih seperti kertas.
Janur muncul paling belakang. Gadis itu berhenti tiga langkah dari pembaringan dan tidak maju lagi.
Matanya menyapu seluruh ruangan, dari sudut ke sudut, dari lantai sampai langit-langit.
Trining menoleh dan menangkap tatapan itu.
“Kamu,” desis Trining.
“Bu ….”
“Kemarin kamu apain adikku, hah?!” pekik Trining tiba-tiba, lalu menerjang ke arah Janur.
Genta buru-buru menahan buleknya. Sri ikut memegangi dari samping.
“Bulek, sabar! Ini bukan waktunya!” bentak Genta.
“Aku lihat sendiri kemarin! Dia pegang tengkuk Pram!” raung Trining sambil meronta.
Janur tidak membantah. Ia tidak juga menunduk. Gadis itu hanya berdiri diam menerima semua tuduhan tersebut dengan wajah datar.
Padmi yang akhirnya bersuara.
“Sudah!” ucapnya pendek.
Ruangan itu mendadak senyap.
“Bawa Pram sekarang,” lanjut Padmi. “Yang lain diurus nanti.”
**
Sepanjang perjalanan ke RSUD, Trining memangku kepala adiknya sambil terus mengaji dengan suara pecah.
Genta duduk di depan, menghubungi rumah sakit lewat ponsel agar tim di IGD sudah bersiap ketika mereka tiba.
Janur ikut di mobil, duduk paling belakang, tanpa bicara sepatah kata pun.
Pemeriksaan berjalan sepanjang hari.
Tekanan darah Pram normal. Kadar gula normal. Elektrolit normal. Tidak ada tanda infeksi, tidak ada demam, tidak ada kaku kuduk.
Foto kepala tidak menunjukkan perdarahan maupun sumbatan.
Bram, dokter senior yang menangani, berdiri lama sekali di depan layar hasil pemeriksaan sebelum akhirnya menoleh pada Genta.
“Dok, saya jujur saja,” ucapnya. “Secara organ, paklek sampeyan ini sehat. Semua sistemnya jalan. Yang ndak jalan cuma satu, kesadarannya.”
“Jadi apa penyebabnya, Dok?”
“Itu yang saya ndak bisa jawab,” balas Bram. “Kalau saya harus nulis di rekam medis, ya saya tulis penurunan kesadaran yang belum diketahui sebabnya.”
Genta menunduk. Sebagai dokter, ia sudah menduga jawaban itu sejak subuh tadi. Sebagai keponakan, ia tetap saja merasa dihantam.
“Dok,” panggil Bram sebelum pergi. “Boleh saya tanya satu hal di luar urusan medis?”
“Monggo, Dok.”
“Berapa orang lagi dari keluarga sampeyan yang bakal masuk ke rumah sakit ini?”
Genta mengangkat wajah. Bram tidak sedang menyindir. Wajah dokter senior itu justru terlihat prihatin sekali.
“Saya ndak tahu, Dok,” jawab Genta jujur.
Bram menepuk bahu juniornya sekali, lalu berlalu tanpa berkata apa-apa lagi.
**
Menjelang maghrib, Genta menemui bagian pendaftaran.
“Sus, ada kamar kosong di sebelah kamar pasien atas nama Dayu Alinari?” tanyanya.
Perawat itu memeriksa papan dan mengangguk. “Ada, Dok. Tapi itu bagian maternal, khusus ibu melahirkan.”
“Saya tahu. Saya yang tanggung jawab,” ucap Genta. “Tolong bantu saya, Sus. Saya ndak bisa jaga dua orang di dua lantai yang beda.”
Perawat itu memandang wajah dokter muda yang sudah dua hari tidak berganti baju tersebut, lalu mengalah.
Malam itu, Pram dipindahkan ke kamar tepat di sebelah kamar Dayu.
**
Janur menunggu di lorong sampai semua orang masuk.
Gadis itu duduk di kursi besi panjang, memandangi lantai yang mengilap oleh pantulan lampu.
Ia tahu Trining tidak sepenuhnya salah.
Ia yang membuka jiwa Pram kemarin. Ia yang memancing pria itu bicara. Dan sesuatu di dalam sana rupanya tidak suka pintunya disentuh.
‘Maafkan saya, Paklek,’ batinnya dengan hati perih.
Tapi menyesal saja tidak akan mengembalikan apa pun.
Janur mengangkat wajah dan menatap pintu kamar Pram yang tertutup rapat.
Satu hal justru menjadi makin jelas baginya. Kalau sesuatu itu sanggup mengunci seorang manusia serapat ini hanya karena beberapa patah kalimat, berarti yang Pram simpan bukan sekadar rahasia keluarga.
Yang Pram simpan adalah nama.
Dan nama itulah yang mati-matian dijaga supaya tidak sampai keluar dari mulut siapa pun di rumah joglo tersebut.