Empat puluh hari setelah pemakaman Sigit, dusun Bedono masih membicarakan hal yang sama.
Bukan tentang Pram yang bangun dari kematian. Bukan juga tentang Arum yang kehilangan kedua lututnya.
Yang mereka bicarakan adalah keluarga Amandaru.
Warung kopi di dekat pasar punya versinya sendiri. Ibu-ibu arisan punya versi yang lain lagi. Semuanya berujung pada satu kesimpulan yang sama, bahwa siapa pun yang menempel pada rumah joglo di ujung dusun itu akan mendapat celaka.
Trining berhenti belanja ke pasar. Ia menyuruh Sri saja, dan Sri pun sekarang pulang lebih cepat daripada biasanya.
Kebun kopi mereka mulai ditumbuhi rumput setinggi lutut. Sawah dibiarkan tidak ditanami satu musim penuh, karena tidak ada satu pun buruh yang mau turun.
Pardi masih sesekali datang, tapi hanya sampai pagar. Ia menyerahkan hasil timbangan, menerima upahnya, lalu pamit sebelum sempat ditawari minum.
**
Pram menghabiskan hampir seluruh harinya di rumah Arum.
Setiap pagi ia berangkat membawa rantang. Ia yang menyeka tubuh Arum, ia yang menjemur kasurnya, ia yang mengangkat perempuan itu dari tempat tidur ke kursi roda dan sebaliknya.
Asmi tidak pernah menyapanya sekali pun. Kalau Pram masuk lewat pintu depan, Asmi keluar lewat pintu belakang.
“Mas, ibu ndak bakal luluh,” ucap Arum suatu sore.
“Ndak apa-apa,” balas Pram sambil melipat kain.
“Kamu ndak capek dimusuhin terus?”
Pram berhenti melipat dan menoleh pada perempuan itu.
“Rum, aku lima tahun ndak bisa ngomong. Ndak bisa milih mau makan apa, ndak bisa milih mau tidur jam berapa,” ucapnya pelan. “Sekarang aku bisa milih. Dan yang aku pilih ya kamu.”
Arum menggigit bibirnya supaya tidak menangis.
**
Genta mengambil semua jadwal jaga yang ditawarkan padanya.
Malam, akhir pekan, tanggal merah, ia ambil semuanya. Bukan karena butuh uang, melainkan karena rumah itu terlalu sunyi dan pikirannya terlalu berisik.
Padmi tetap tidak mau bicara. Sejak hari pemakaman Sigit, ibunya hanya keluar kamar untuk salat dan makan.
Suatu malam, Genta duduk di teras dan mengetik pesan panjang untuk istrinya.
‘Yu, aku kangen. Aku pengen ada di sana pas anak kita lahir. Aku janji ndak bakal bawa apa-apa dari sini. Aku cuma pengen megang tanganmu.’
Ia membaca ulang pesan itu tiga kali. Lalu ia menghapusnya, kata demi kata, sampai kolomnya kosong lagi.
Bukan karena tidak berani. Melainkan karena ia sendiri tidak yakin janji itu bisa ia tepati.
Trining yang akhirnya menjadi jembatan.
Setiap dua hari sekali, buleknya menelepon Dayu. Mereka bicara tentang hal-hal kecil, tentang perut yang makin berat, tentang mual yang sudah reda, tentang nama bayi yang belum diputuskan.
Dan setiap kali sambungan diputus, Trining selalu melaporkan hal yang sama pada Genta.
“Sehat. Bayinya aktif. Sudah masuk bulan.”
“Dia nanyain aku ndak, Bulek?”
Trining selalu diam sebentar sebelum menjawab.
“Nanti kalau sudah waktunya, Le.”
**
Di Bali, rumah itu justru sedang paling ramai sepanjang tahun.
Jetro mengambil cuti sepuluh hari penuh, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak istrinya meninggal. Made bolak-balik membeli keperluan yang sebenarnya sudah lengkap sejak dua minggu lalu.
Binari memeriksa segalanya sendiri, satu persatu.
Kain, gunting, benang, minyak kelapa, sampai bidan yang sudah ia pesan sejak bulan ketujuh.
“Nebin, ini kebanyakan,” keluh Dayu sambil memandangi tumpukan perlengkapan di sudut kamar.
“Kebanyakan itu lebih baik daripada kurang satu,” balas neneknya.
Janur menempati kamar di sebelah kamar Dayu. Setiap malam, sebelum tidur, gadis itu berkeliling rumah. Ia berhenti di setiap pintu, setiap jendela, setiap sudut halaman.
Dayu pernah bertanya apa yang ia lakukan.
“Ngitung, Mbak,” jawab Janur.
“Ngitung apa?”
“Ngitung, berapa jauh mereka berani mendekat.”
Dayu tidak bertanya lagi setelah itu.
**
Malam ke sekian sebelum hari perkiraan lahir, Jetro terbangun karena mendengar suara di halaman.
Pria itu keluar dengan senter, menyusuri teras, memeriksa gerbang. Semua terkunci. Tidak ada apa pun.
Ketika ia berbalik, sorot senternya melintasi jendela kamar Dayu.
Ada bayangan berdiri di sana. Di luar, menghadap ke dalam, dengan kepala hampir menyentuh kusen atas.
Jetro menjatuhkan senternya.
Ketika ia memungutnya dan menyorot ke arah yang sama, tidak ada siapa-siapa. Hanya pot bunga dan tembok.
Ia tidak menceritakan hal itu pada putrinya. Tapi pagi harinya, Jetro mendapati Janur sedang duduk bersila persis di bawah jendela tersebut, dengan mata terpejam dan wajah yang lelah sekali.
“Nur, semalam kamu ….”
“Dia ndak masuk, Om,” potong Janur pelan. “Tapi dia sudah ngukur.”
“Ngukur apa?”
Janur membuka matanya dan menatap Jetro.
“Ngukur berapa lama saya kuat,” jawabnya.
**
Siang itu, langit di atas Bali bersih tanpa awan.
Dayu sedang melipat popok di ruang tengah ketika ia merasakan perutnya mengeras. Bukan kencang biasa yang sudah sering ia rasakan sebulan terakhir. Yang ini menjalar dari punggung ke depan, lalu menghilang, lalu datang lagi.
Wanita itu meletakkan popoknya dan menunggu.
Delapan menit kemudian, rasa itu kembali.
“Nebin,” panggilnya.
Binari muncul dari arah dapur sambil mengelap tangannya.
“Kenapa?”
“Kayaknya sudah mulai,” ucap Dayu.
Neneknya tidak panik. Wanita tua itu justru duduk di sebelah cucunya, meletakkan telapak tangannya di perut Dayu, lalu menghitung dalam diam.
“Jarak berapa menit?”
“Delapan. Tadi sepuluh.”
Binari mengangguk. “Masih lama. Kamu makan dulu yang banyak, jalan-jalan di halaman, jangan tiduran terus.”
“Nebin ndak mau telepon Papa?”
“Ndak usah,” balas Binari. “Nanti ayahmu malah ngaco.”
Dayu tertawa, lalu meringis lagi.
Janur muncul di ambang pintu dengan wajah yang langsung berubah waspada.
“Mbak?”
“Iya, Nur,” jawab Dayu sambil tersenyum menahan sakit. “Kayaknya adikmu ini sudah ndak sabar.”
Janur bergegas mendekat dan langsung memegang tangan Dayu. Sejak siang itu, gadis tersebut tidak beranjak lagi dari sisi kakak angkatnya.
Sore berjalan lambat. Kontraksi datang dan pergi dengan jarak yang makin memendek.
Menjelang maghrib, Jetro pulang dan langsung kehilangan seluruh ketenangannya begitu tahu apa yang sedang terjadi.
Dan ketika langit di luar akhirnya menghitam, bulan naik dari balik pohon di ujung halaman.
Bulat. Utuh. Terang sekali.
Binari berdiri di teras, memandang ke atas cukup lama, lalu mengucapkan sesuatu yang sangat pelan sehingga tidak ada seorang pun yang mendengarnya.