Sejak subuh, halaman rumah joglo itu sudah ramai. Trining membuktikan ucapannya. Kendurian benar-benar ia gelar hari itu juga.
Sri dan Eti sibuk menanak nasi dalam dandang besar di dapur belakang. Bau kelapa parut yang disangrai untuk urap bercampur dengan asap tungku, menguar sampai ke pekarangan.
Dayu ikut membungkusi berkat dengan daun pisang. Punggungnya masih terasa ngilu sisa pijatan mbah Puji kemarin, tapi wanita itu tidak mengeluh sedikit pun.
“Ndak usah dipaksa, Nduk. Kamu duduk aja,” tegur Trining.
“Nanggung, Bulek. Tinggal dua puluh bungkus,” balas Dayu sambil tersenyum.
Padmi keluar dari kamar dengan kebaya berwarna hijau lumut dan rambut tersanggul rapi. Wanita itu berjalan mengelilingi meja panjang, memeriksa satu persatu suguhan.
“Ingkungnya mana?” tanyanya.
“Sampun, Mbak. Masih di kukusan,” sahut Sri buru-buru.
“Jangan lupa jajan pasar sama pisang raja. Sekalian bikin bubur merah putih,” pesan Padmi. “Kalau pamongan, ya harus lengkap.”
Trining mengangguk dengan wajah senang. Sudah bertahun-tahun ia tidak melihat kakak iparnya mengurus selamatan dengan bersemangat seperti ini.
Genta mengambil cuti setengah hari. Pria itu menata tikar pandan di ruang tengah bersama Totok, sementara Pram duduk di sudut dengan tatapan kosong seperti biasa.
Menjelang azan asar, para tetangga berdatangan. Pak Sulis, ketua RT, datang paling awal dengan peci hitam dan sarung kotak-kotak.
Doa dipimpin oleh modin dusun. Suara amin bersahut-sahutan memenuhi ruangan. Dayu menunduk dengan mata terpejam, dadanya hangat oleh rasa syukur yang sulit ia lukiskan.
Di tengah doa, Pram yang sedari tadi anteng mendadak berdiri.
Semua mata menoleh. Modin tetap melanjutkan bacaannya, tapi suaranya sedikit tersendat.
Pram melangkah ke arah pintu depan, berhenti di ambangnya, lalu memandang ke luar. Ke arah bukit yang puncaknya sudah tertutup kabut.
Totok bergegas menyusul dan menuntun pria itu duduk kembali. Pram menurut tanpa melawan sedikit pun.
Dayu melirik mertuanya. Wajah Padmi tidak berubah sama sekali, tapi jari-jari wanita itu mencengkeram selendang di pangkuannya sampai memutih.
Setelah berkat dibagikan dan tamu terakhir pulang, rumah kembali sepi. Kabut sore turun lebih cepat dari biasanya.
***
Malam itu Padmi memanggil Dayu dan Genta ke ruang tengah. Trining ikut duduk, meski memilih tempat paling ujung dan menunduk terus-menerus.
“Ibu mau ngomong sekali ini saja. Habis ini jangan ditanya lagi,” ucap Padmi membuka.
Genta dan Dayu saling melirik.
“Genta bilang mau sowan ke Ki Sukmo. Ibu larang. Kamu ndak terima, tho?” tanya Padmi pada putranya.
“Ya jelas ndak terima, Bu. Ibu ndak kasih alasan apa pun,” jawab Genta terus terang.
Padmi menghela napas panjang. Tangannya meremas ujung selendang di pangkuan.
“Enam tahun yang lalu, setelah bapakmu mangkat, ibu sendiri yang naik ke bukit itu,” tuturnya pelan. “Ibu ndak sendirian. Pram yang nganter.”
Dayu menegakkan punggung. Trining mengangkat wajah dengan mata mulai berkaca-kaca.
“Ibu ke sana buat matur, minta perjodohan itu dibatalkan. Ibu pikir gampang. Namanya cuma janji orang tua, ya bisa dicabut sama orang tua juga,” lanjut Padmi.
“Terus?” desak Genta.
“Ibu ndak boleh masuk. Cuma Pram yang dipersilahkan.”
Ruangan mendadak hening. Bahkan Sri yang sedang menyapu di lorong berhenti bergerak.
“Ibu nunggu di teras sampai maghrib. Waktu Pram keluar, adikmu itu sudah ndak bisa diajak ngomong,” ucap Padmi dengan suara serak. “Sepanjang jalan pulang dia diam. Sampai rumah, dia mulai ngoceh ndak jelas. Sampai sekarang.”
Trining menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan isak.
Dayu memandang Pram yang duduk di kursi dekat pintu. Pria itu menatap lantai dengan wajah hampa, seolah-olah yang sedang dibicarakan bukan dirinya.
“Jadi Ki Sukmo yang bikin Paklek jadi begini?” tanya Genta dengan rahang mengeras.
“Ibu ndak tahu,” jawab Padmi cepat. “Itu yang bikin ibu ndak berani ngambil kesimpulan. Ibu cuma tahu satu hal, Genta. Yang masuk ke rumah itu buat mbatalin perjodohan, ndak pernah pulang utuh.”
Genta terpekur. Kalimat ibunya menghantam ulu hatinya.
“Makanya ibu nunggu mbah Darmo,” pungkas Padmi. “Cuma beliau yang pernah masuk ke sana dan keluar dalam keadaan waras.”
Dayu meraih tangan suaminya dan menggenggam erat-erat. Jari-jarinya gemetar.
“Mas, Dayu tarik permintaan Dayu waktu itu,” bisiknya. “Jangan ke sana. Jangan pernah.”
“Yu ….”
“Janji sama Dayu, Mas!” pinta istrinya dengan mata berkaca-kaca. “Biar ibu marah sama Dayu terus, nggak apa-apa. Asal Mas Genta nggak jadi kayak Paklek.”
Genta memandang wajah istrinya. Ada ketakutan yang sangat telanjang di sana.
“Iya. Aku ndak ke sana,” jawabnya pelan.
Dayu mengembuskan napas lega dan bersandar di bahu suaminya. Trining menyeka mata dengan ujung kebaya, lalu bergegas ke dapur dengan alasan mau memanaskan air.
Padmi bangkit lebih dulu. Sebelum masuk kamar, wanita itu berhenti sebentar di ambang pintu.
“Genta,” panggilnya tanpa berbalik.
“Nggih, Bu.”
“Kalau nanti kamu tetap nekat, jangan bawa-bawa nama ibu di depan Ki Sukmo. Ibu sudah pernah minta maaf, dan ibu ditolak.”
Kalimat itu terdengar seperti larangan. Tapi di telinga Genta, yang terdengar justru lain sama sekali.
***
Genta tidak bisa tidur.
Ia berbaring memandangi langit-langit kamar sementara Dayu sudah terlelap sejak pukul sembilan. Napas istrinya terdengar tenang dan panjang.
Pikirannya berputar terus di tempat yang sama.
Ibunya berhenti berjuang dan memilih menunggu orang tua yang entah ada di mana. Pakleknya kehilangan akal. Bapaknya sudah tidak ada. Warga sedusun membicarakan kematian mas Paidi seperti membicarakan cuaca.
‘Kalau bukan aku, siapa lagi?’ batin Genta.
Ia bangkit dan duduk di tepi pembaringan. Lehernya terasa kaku.
Dayu memintanya berjanji, dan ia sudah berjanji. Tapi janji itu ia ucapkan untuk menenangkan istrinya yang ketakutan, bukan karena hatinya sepakat.
Genta menoleh pada Dayu. Wajah istrinya damai, tangannya masih memegang ujung bantal.
Perempuan ini yang setiap hari ibunya sudutkan. Perempuan ini yang dituduh mandul, yang dicap penghalang wangsit bapak, yang menangis diam-diam di kamar mandi supaya tidak ada yang dengar.
‘Aku yang mulai. Aku juga yang harus nyelesein,’ tekad Genta dalam hati.
Ia meraih ponsel dan mengetik pesan pada Drajat, sahabatnya di RSUD.
‘Jat, besok siang aku pinjam namamu sebentar. Nanti tak jelasin.’
Balasan datang beberapa menit kemudian, hanya berupa tanda tanya. Genta tidak membalas lagi.
Pria itu meletakkan ponsel, lalu berbaring memunggungi istrinya. Dadanya berdebar, campuran antara takut dan tekad yang sama besarnya.
Dari arah ruang tengah, terdengar Pram bergumam sangat pelan, hampir seperti orang berbisik.
Genta memejamkan mata rapat-rapat dan mulai melafalkan ayat kursi dalam hati, berulang-ulang, sampai ia sendiri tidak tahu kapan tertidur.