BAB 1: Ganjalan di Celah Gigi
Malam itu, hujan deras melanda jalur lintas provinsi, membiaskan cahaya lampu jalanan menjadi pendar-pendar kuning yang buram di kaca depan mobil. Aris memegang kemudi dengan kedua tangan yang tegang. Bahunya pegal luar biasa setelah menempuh perjalanan hampir tujuh jam dari lokasi proyek bangunan di luar kota.
Di sampingnya, Laras tertidur lelap dengan kepala bersandar pada celah jendela, napasnya teratur dan tenang.
"Laras... bangung sebentar," panggil Aris pelan, suara seraknya mengalahkan deru pendingin udara mobil.
Laras mengusap matanya, mengerjap pelan sebelum menatap sekeliling yang gelap gulita. "Sudah sampai mana, Mas?"
"Masih jauh dari tol. Lapar banget, perutku sudah mulai perih. Ada warung makan yang buka di depan."
Di tepi jalan yang diapit rindangnya pepohonan tua, sebuah lampu neon redup berkedip-kedip, menerangi papan kayu bertuliskan Warung Makan Bu Saman. Warungnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah menghitam oleh usia dan kelembapan tanah. Tidak ada kendaraan lain yang terparkir di sana—hanya sepi yang pekat dan bau tanah basah yang menyengat saat Aris membuka pintu mobil.
Seorang lelaki tua berdada bungkuk menyambut mereka dari balik etalase kaca yang berkabut. Wajahnya penuh kerutan dalam, dan matanya yang keruh menatap Aris tanpa kedipan sepintas pun.
"Nasi goreng dua, Pak. Sama teh hangat manisnya dua," ujar Aris.
Pria tua itu hanya mengangguk perlahan tanpa bersuara, lalu berjalan lambat menuju dapur belakang. Gesekan langkah kakinya terdengar seperti kayu kering yang diseret di atas semen.
Makanan disajikan tanpa banyak kata. Aris yang memang sudah kelaparan menyantap porsinya dengan cepat. Namun, di suapan terakhir, ia merasakan sesuatu yang keras dan melukai bagian dalam gusinya.
"Sstt... Aww," Aris merintih kecil, melepehkan sekeping serat keras dari mulutnya. "Ada bagian ayam yang keras banget."
"Hati-hati, Mas. Jangan terburu-buru makan," tegur Laras lembut sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Usai makan, rasa tidak nyaman di mulut Aris semakin menjadi-jadi. Ada ganjalan kecil yang menyelip tepat di antara gigi geraham belakang bagian kanan. Sangat mengganggu. Aris meraba-raba meja kayu di depannya, mencari wadah wadah alat makan.
Di sudut meja, di dalam cangkir kaleng tua yang kusam, terdapat beberapa batang tusuk gigi bambu. Berbeda dengan tusuk gigi pabrikan yang rata dan bersih, tusuk gigi ini dibuat secara manual—terlihat dari guratan serat bambunya yang kasar, warnanya yang kecokelatan kusam, dan ujungnya yang sangat runcing.
Tanpa berpikir panjang, Aris mengambil sebatang tusuk gigi bambu tua itu.
"Mas, tusuk giginya kok warnanya aneh gitu? Lusuh banget, jangan dipakai," bisik Laras, menatap ragu pada serpihan bambu di tangan suaminya.
"Cuma tusuk gigi, Ras. Cuma mau ngeluarin ganjalan sebentar," jawab Aris santai.
Aris menyelipkan ujung runcing bambu itu ke celah gerahamnya. Ia menekan pelan, mencoba mengungkit ganjalan makanan yang mengganggu. Namun, alih-alih ganjalan itu terlepas, tusuk gigi tersebut malah menancap terlalu dalam.
CRACK.
Sensasi tajam menusuk langsung ke dalam jaringan gusinya. Rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke saraf kepalanya.
"Argh!" Aris menepis tangannya sendiri. Serpihan bambu itu patah di dalam mulutnya.
Darah segar berwarna merah pekat langsung memenuhi rongga mulut Aris. Wajahnya memerah menahan ngilu yang amat sangat. Darah itu menetes dari bibirnya, jatuh tepat di atas meja kayu warung dan meresap ke dalam sisa patahan bambu tua yang tertinggal di tangannya.
Dari balik kegelapan dapur belakang, lelaki tua pemilik warung melangkah keluar. Matanya yang keruh menatap tetesan darah Aris di atas meja, lalu perlahan bibirnya yang layu terangkat—membentuk sebuah ukiran senyum yang sangat tipis dan mengerikan.
"Sudah terikat..." gumam pria tua itu dengan suara sangat pelan, hampir tak terdengar di antara deru hujan di luar.
Aris yang menyapu darah di bibirnya dengan tisu tidak menyadari ucapan itu. Yang ia tahu saat ini hanya satu: rasa ngilu di dalam gusinya terasa membakar, seolah-olah ada akar kecil yang baru saja tertanam di dalam tulangnya.