"Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi takdir berkehendak lain." itu bukan vonis seorang dokter. Melainkan palu godam yang memukul bendungan kewarasan Mila.
Wanita kurus, yang masih nampak gurat kecantikannya walau wajahnya lebam, itu menjerit begitu keras. Lolongan yang keluar dari kerongkongannya memilukan. Membuat beberapa pasien dan staf rumah sakit yang kebetulan lewat ikut trenyuh walau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dokter yang memberitahu kabar duka berusaha untuk menenangkannya tapi hasilnya nihil. Mila terus menjerit bahkan sampai terduduk memukul-mukulkan kepalan tangannya ke lantai. Telapak tangannya terluka karena kuku yang menancap dalam.
'Ini semua salahku. Seandainya aku tidak memilih untuk bertahan Kika tidak akan meninggal seperti ini. Dia baru 3 tahun.' batinnya menyalahkannya terus menerus.
Kika, putri semata wayangnya, adalah satu-satunya alasan bagi Mila untuk bertahan hidup. Baginya, anak itu adalah setitik cahaya surga dalam hidupnya yang tak beda dengan gelapnya jahannam.
Mila melangkah tertatih menuju bangsal tempat malaikatnya merenggang nyawa. Dipandangnya sosok mungil yang hanya tersisa raga tanpa roh.
Bibir mungil yang selalu memanggilnya 'mama' dengan suara merdu kini tak terdengar. Mata yang bulat berbinar itu tertutup selamanya.
Di sekitar kepala dan rambutnya yang acak-acakan ada begitu banyak kain kasa berlumuran darah. Kika cedera begitu parah di bagian kepala karena benturan keras. Siapapun bisa tahu bahwa gadis kecil itu meninggal karena luka separah ini. Pelaku yang membuat Kika jadi seperti ini tak lain adalah, Mick, ayah kandung terburuk di dunia.
Beberapa jam yang lalu Mick, yang kesal karena Mila tidak punya sepeser uang untuk berjudi, memukuli istrinya dengan raket bulutangkis. Dulu dia adalah calon atlet yang punya potensi masa depan cerah di bidang olah raga tersebut. Namun memilih berhenti karena lelah dengan ketatnya persaingan. Raket yang dulu dibuat untuk memukul smash kok, kini ia gunakan untuk menyakiti wanita yang harusnya ia lindungi.
Kika awalnya bersembunyi di bawah meja karena ketakutan. Namun karena tak tega melihat ibunya yang merintih meminta ampun ia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk maju.
Tubuh kecil yang gemetar itu hanya bisa berlari menjadi tameng orang yang paling disayanginya. Otak mungilnya hanya berpikir 'bagaimana caranya supaya mama tidak sakit lagi'. Ada sedikit harapan ayahnya menghentikan pelampiasan amarahnya karena kedatangannya.
Kejadiannya begitu cepat. Mick pun tidak menyangka akan ada interupsi dari Kika. Karena biasanya anak itu bersembunyi saat ibunya dipukuli seperti ini. Ini bukan kejadian baru.
Pukulan yang terlanjur dilayangkan tak bisa direm. Tidak mungkin mengandalkan reflek seseorang yang selama 5 tahun terakhir lebih banyak minum miras daripada berolah raga. Raket baja berkualitas tinggi itu memukul telak belakang kepala putrinya.
Kedua orang dewasa itu sama-sama terkejut akan apa yang terjadi. Selanjutnya anak kecil itu kejang-kejang dan dari kepalanya mengalir darah dalam jumlah banyak.
"Bukan salahku. Anak ini sendiri yang tiba-tiba loncat ke mari." Mick berkilah. Tapi hati kecilnya tahu bahwa ia sudah melakukan hal terburuk.
"Kita harus ke rumah sakit!" Otak Mila berpikir cepat dan kritis. Meski panik tapi wanita ini masih bisa memegang logika.
Berbeda dengan suaminya. Ia masih sibuk denial. Mungkin pil ekstasi murah yang sering ia konsumsi dan miras oplosan membuat otaknya setumpul bola.
"MICK, cepat siapkan motor. Kepala Kika berdarah!" Air mata mengalir seperti air terjun di wajah bengkak Mila. Dengan jemari yang kebas gemetaran ia menggendong putrinya yang tak sadarkan diri.
Berdua kedua pasangan itu bergegas keluar pintu. Mila mengira Mick menstater vespanya untuk memboncengnya ke rumah sakit. Namun pria pengecut itu malah kabur meninggalkan Mila yang makin shock di area parkiran kost kumuhnya.
Beberapa tetangga datang karena suara ribut. Menyadari kondisi darurat, salah satu dari mereka berbaik hati meminjamkan becaknya untuk mengantar ibu dan anak yang malang itu ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit suster dan dokter jaga UGD dengan sigap berusaha memberi pertolongan. Selama para tenaga kesehatan itu bertindak Mila tak henti-hentinya berdoa. Memohon pada Tuhan untuk keselamatan putrinya.
Ia tak mengindahkan denyut sakit di wajah dan badannya yang tadi dikulu raket. Yang ada di pikirannya cuma Kika, bidadarinya.
Doanya berhenti saat dokter memberikan ucapan bela sungkawa.
Mila memeluk tubuh putrinya yang seolah hanya tulang dan kulit. Anak gadisnya ini tidak mendapat cukup makan karena kemiskinan keluarga mereka. Ditambah lagi Mick selalu menghamburkan uang untuk kepentingannya sendiri.
'Maafkan mama, nak. Seandainya mama lebih pintar memilih ayah buatmu. Pasti hidupmu nggak menyedihkan seperti ini.'
Wanita itu terisak sambil terus menyalahkan ketidakberdayaannya. Air matanya jatuh hingga ia kelelahan dan tanpa sadar tertidur di atas jasad putrinya.
Para nakes yang panik dengan kejadian salah satu keluarga pasien pingsan cuma bisa memberikan pertolongan kecil. Mereka menidurkan Mila di samping tubuh putrinya yang bahkan tidak memakan 1/10 luas bangsal.
Salah seorang dokter jaga yang merasa iba memberinya bantuan kecil. Ia merawat luka pukul di tubuh Mila. Luka berdarah yang ada di tangan dan wajah wanita itu diobati dengan antiseptik.
Dokter jaga, yang juga perempuan itu, seperti merasakan apa yang dirasakan pasien. Mungkin karena ia juga punya seorang putri jadi rasa ibanya terpantik lebih dalam daripada saat menangani kasus pasien lain.
Lalu dokter meninggalkan Mila dan Kika karena kedatangan banyak pasien baru akibat peristiwa kecelakaan lalu lintas beruntun. Kesibukan tak memberinya ruang untuk berlama-lama berduka untuk orang asing.
Tak sampai 15 menit kemudian Mila siuman. Entah karena suasana yang berisik atau rasa nyeri di tubuh ia mendapatkan lagi kesadarannya.
Sesaat Mila mengira bahwa kejadian di UGD cuma mimpi dan saat sosok Kika tertangkap matanya ia pun sadar bahwa mimpi buruk masih berlanjut. Nakes menutup wajah Kika dengan selimut putih bernoda darah.
"Anakku… Apa yang harus mama lakukan tanpamu, nak?" rintihnya sambil memeluk sosok mungil terbalut selimut.
Dalam aroma antiseptik dan obat Mila dipaksa sadar bahwa ia harus berpisah dengan bidadarinya. Pada pemikiran selanjutnya ia sadar bahwa untuk membawa mayat yang ada di rumah sakit, pihak keluarga harus membayar sejumlah uang pada rumah sakit. Sebagai bayar jasa usaha mereka mempertahankan nyawa putrinya yang gagal.
'Aku tidak punya uang sama sekali. Seandainya punya tentu, Mick, tidak akan memukuliku dengan raket.'
'Apakah aku dan Kika akan dipisahkan lagi karena aku tidak bisa membayar? Kenapa bahkan sisa tubuh putriku tidak bisa kupeluk lebih lama?'
Mila menengok ke segala arah. Memperhatikan betapa kacaunya UGD saat ini. Para nakes baik yang berjaga di ruang gawat darurat, maupun dokter lain, sibuk ke sana kemari merawat pasien yang terus mengerang kesakitan.
12 bangsal terisi penuh oleh orang-orang yang terluka. Pasien yang luka ringan duduk di kursi yang mampu disediakan.
'Kalau mau kabur sambil membawa Kika, sekaranglah saatnya.' pikir wanita itu.
Ruang UGD memiliki 2 jalur keluar. Satu adalah pintu depan yang terhubung dengan bagian luar gedung, tempat pasien baru berdatangan tanpa henti.
'Kalau lewat situ melawan arus manusia yang datang. Aku harus lewat jalur belakang.'
Perlahan dan berjingkat Mila turun dari bangsal sambil menggendong Kika yang masih terbungkus selimut. Ia berusaha melangkah setenang mungkin agar tidak ada seorang pun yang mencurigai tindakannya.
"Lho? Ibuk? Anaknya mau dibawa ke mana?" suara suster menyeletuk ketika ia sudah berada di ambang pintu belakang. Tanpa menoleh lagi Mila mengambil langkah seribu.
Mila berlari justru semakin ke dalam rumah sakit. Satpam yang melihat tindak mencurigakan Mila dari jauh tak kuasa untuk mendekat. Sekedar bertanya 'apakah anda butuh bantuan?'.
Tindakan satpam itu justru membuat Mila panik karena otaknya yang sedang kalut. Yang ada di pikirannya hanya kabur sejauh mungkin. Ketakutan dipisahkan dari anaknya membiat sisi otaknya untuk berlogika mati.
Mila terus berlari menyusuri lorong. Ketika lorong sudah buntu, ia melompati jendela yang ada. Ketika di hadapannya ada tangga ia pun naik tanpa tujuan jelas.
Hingga langkahnya berhenti di atap rumah sakit. Rumah sakit Hartanto Medika adalah salah satu rumah sakit terbesar di kelurahan tempat mila berdomisili. Gedungnya menjulang hingga 5 lantai. Mila baru sadar kalau ia sudah menaiki tangga setinggi itu.
Para satpam yang mengejarnya cukup gigih mengikutinya hingga ke tempat setinggi ini bersamanya.
"Ibuk! Tenang dulu, buk!" pekik salah satu dari mereka. Namun Mila tak mengindahkannya.
Ia mencoba berkeliling area atap berusaha mencari jalan keluar lain. Tapi nihil. Atap gedung hanya punya satu jalan.
"Hati-hati, buk. Berbahaya kalau jalan di pinggir gitu!" salah seorang satpam menegur karena ngeri melihat Mila berlari-lari di perbatasan pijakan dan udara bebas. Wanita itu begitu frustasi berusaha meloloskan diri.
Mila pun terpojok di sudut atap gedung. Tangannya yang memeluk mayat putrinya yang semakin kaku terasa lelah. "Saya mohon, Pak. Jangan pisahkan saya dari anak saya." ia mengemis.
Biasanya ia memohon hanya pada Mick, agar tidak memukulnya, atau pada atasannya di tempatnya bekerja agar bisa pulang lebih cepat untuk merawat Kika. Kali ini ia membuat permohonan yang paling tulus yang pernah ia ucapkan.
"Iya, kita ngerti buk. Kita nggak akan misahin ibuk dari anak ibuk." seorang satpam memberikan janji sambil mengulurkan tangannya. "Ibuk pegang tangan saya ya. Di tempat ibuk berdiri itu licin dan berbahaya."
Mendengar suara ketulusan sang satpam hati Mila sedikit tergerak untuk percaya. Saat ia memutuskan untuk menggenggam tangan orang yang menawarkan bantuan, kaki lelahnya kehilangan kekuatan. Di waktu yang sama tangannya yang letih membuat genggamannya pada gumpalan selimut terlepas. Tubuh Kika pun jatuh ke luar gedung.
Histeris, Mila menjerit memanggil nama putrinya. Sekuat tenaga ia melompat untuk memeluk lagi anaknya yang tak bernyawa. Ia berharap usahanya itu bisa menyelamatkan sisa keberadaan eksistensi nyata sang buah hati.
Nahas, ia ternyata ikut terlempar dan jatuh dari atap gedung yang tinggi. Momen jatuh mereka begitu singkat, juga terasa lama. Dalam waktu, yang seperti hanya ada mereka berdua, itu Mila memeluk erat Kika sambil menutup mata.
Ia sudah pasrah akan takdirnya bila memang sekarang ajal menjemput. Bahkan ia merasa itu adalah kebaikan terakhir yang bisa diberikan Tuhan padanya, membiarkannya ikut bersama putri kesayangannya.
****
Pernahkah kamu merasakan jatuh saat tidur lalu terbangun?
Itulah yang dirasakan oleh Mila saat ini.
Nafasnya ngos-ngosan dengan keringat deras sebesar pipilan jagung. Sejenak ia merasa linglung dan memandang ke segala arah, memindai lokasi dimana ia berada saat ini.
Sebuah kamar berukuran 4x5 dengan ventilasi kecil dekat pintu, satu-satunya akses masuk. Banyak perabot murah mengisi ruang kecil yang dihidupi oleh 3 nyawa. Namun ada satu yang menjadi perhatiannya saat menyadari adanya suara tangis bayi
'Kika?! Ini Kika kan?' Mila yang kebingungan memeriksa tanda lahir putrinya yang berada di siku dalam kakinya. Semua tanda-tanda, yang membuktikan bahwa bayi merah di hadapannya ini adalah anak kandungnya, cocok.
Mila yakin sekali bahwa ia baru saja jatuh dari gedung setinggi 5 lantai. Tapi kenapa berakhir tanpa luka apapun?
Yang lebih membingungkan adalah putrinya. Kenapa Kika yang sudah berusia 3 tahun sosoknya seperti newborn yang menangis dengan kuat?
"BERISIK?!" hardikan seseorang menyadarkan Mila bahwa ada manusia lain selain mereka berdua. Pria itu, Mick yang sedang tidur di kasur matrasnya, terganggu dengan tangis Kika yang tanpa henti.
"Kasih s**u kek. Gendong kek. Suruh anakmu itu diam!" omelnya lagi sebelum menutup telinganya dengan bantal.
Karena masih tenggelam dalam kebingungan Mila langsung menuruti perintah tersebut. Ia langsung menggendong sang bayi dan menyusuinya dalam dekapan.
Bibir mungil sang bayi yang menyusu di bagian sensitif seorang manusia membuat Mila sadar bahwa yang terjadi ini adalah kenyataan. Air matanya meleleh penuh rasa tidak percaya sekaligus haru.
Ia dipertemukan lagi dengan bidadarinya. Mukjizat seperti ini bahkan tidak ada di buku dongeng negara mana pun.
Perih luka menyusuinya ia rasakan dengan suka cita. Karena dengan begitu ia semakin yakin bahwa hal ini bukan mimpi.
'Apa ini yang dinamakan kesempatan kedua?'
'Oh Tuhanku, terima kasih atas keajaiban ini. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan karunia Mu. Aku pasti akan membuat Kika bahagia.' batinnya berjanji penuh tekad.
****