Ruang rapat komite beasiswa terletak di lantai dua gedung administrasi, jauh dari deretan ruang latihan yang biasa menyerap seluruh waktu Arsa. Ia belum pernah masuk ke sana. Meja panjang berlapis kayu jati mengilap menghadap satu kursi tunggal di seberangnya, dan di kursi itulah Arsa duduk, punggung tegak, tangan kanan ia letakkan di pahanya seolah ingin menyembunyikannya dari pandangan orang-orang yang telah memutuskan nasib begitu banyak mahasiswa sebelum dirinya.
Ia mengenali beberapa wajah. Ibu Widari duduk di ujung kiri, wajahnya seperti biasa—tenang, tak menampakkan apa pun yang bisa ditebak. Profesor Danupraja di sebelahnya, menatap map di depannya, bukan menatap Arsa, seakan sengaja menjaga jarak yang pantas antara guru dan murid dalam forum seformal ini. Tiga orang lain yang belum ia kenal—salah satunya seorang perempuan berkacamata tebal yang diperkenalkan sebagai kepala bagian akademik, dan seorang pria tua yang duduk membisu sepanjang pertemuan, tangannya menopang dagu seolah menimbang sesuatu yang tak bisa diucapkan.
"Saudara Arsa," kata kepala bagian akademik, membuka map di depannya, "peringkat Saudara turun drastis dalam dua semester terakhir. Dari posisi lima besar menjadi—" ia memeriksa angka itu seperti tak percaya pada tulisannya sendiri, "—di luar dua puluh lima besar. Ini bukan penurunan biasa. Ini jatuh bebas."
Arsa merasakan telinga kanannya berdenging, bukan karena rasa takut yang biasa mendahului kebohongan, melainkan karena ia tahu inilah momen yang telah ia tunda sepanjang bulan lalu, dengan penjarian ulang, dengan trik satu tangan, dengan kepura-puraan yang membuatnya lelah lebih dari latihan itu sendiri. Ia sudah berlatih kalimat ini semalaman di kamar kosnya yang sunyi, tapi kini semua kalimat itu terasa kecil di depan meja jati yang mengilap ini.
"Saya bisa jelaskan," katanya, dan suaranya sendiri terdengar asing—terlalu pelan untuk ruangan seluas ini.
"Silakan," kata perempuan berkacamata itu, dengan nada yang bagi Arsa terdengar seperti orang menunggu alasan yang sudah ia dengar berkali-kali dari mahasiswa lain: sakit, masalah keluarga, kelelahan sesaat. Alasan yang bisa dimaafkan dan dilupakan dalam satu semester.
Arsa menarik napas. Ia teringat Pak Pendeta, suara paraunya yang berkata bahwa nada B gereja sudah fals empat puluh tahun dan jemaat tetap bernyanyi. Ia teringat tangan kirinya sendiri di atas tuts upright, malam ketika ia menangis karena akhirnya bisa bermain lagi, meski cacat, meski jujur.
"Saya menderita distonia fokal," katanya, dan kata-kata itu keluar lebih mudah dari yang ia kira, seperti sesuatu yang sudah lama menekan dari dalam dan akhirnya menemukan pintu keluar. "Tangan kanan saya kehilangan kendali sejak semester lalu. Bukan cedera biasa. Dokter bilang belum tentu bisa pulih sepenuhnya."
Ruangan itu diam. Kepala bagian akademik melepas kacamatanya, seakan ingin melihat wajah Arsa tanpa penghalang. Pria tua yang sejak tadi diam mengangkat alis, tapi tak berkata apa-apa.
"Saya sudah mencoba menyembunyikannya," lanjut Arsa, karena setelah kalimat pertama keluar, ia tak sanggup berhenti setengah jalan. "Saya memakai trik penjarian, saya berbohong pada Profesor Danupraja, saya bahkan berbohong pada Ibu Widari soal keadaan tangan saya, karena saya takut—" ia menelan ludah, "—karena saya tahu kalau ketahuan, grand piano warisan akan ditarik. Dan ternyata memang ditarik, karena akhirnya semua tahu juga."
Ia melirik Ibu Widari sekilas. Wanita itu tidak bergerak, tapi ada sesuatu di matanya yang bukan kemarahan.
"Jadi peringkat saya turun bukan karena saya malas, atau karena saya tidak lagi mencintai musik ini," kata Arsa, suaranya mulai stabil, meski jantungnya masih berdegup seperti metronom yang dipercepat paksa. "Peringkat saya turun karena saya menghabiskan enam bulan berpura-pura sehat, dan pura-pura itu jauh lebih menghancurkan daripada kejujuran yang seharusnya saya katakan sejak awal."
Kepala bagian akademik menoleh ke Danupraja, seolah mencari konfirmasi. Danupraja mengangkat wajahnya untuk pertama kali sejak pertemuan dimulai, dan menatap Arsa—bukan dengan tatapan menilai seperti biasanya di ruang kelas, melainkan tatapan yang lebih dekat dengan pengakuan.
"Yang dikatakannya benar," kata Danupraja, singkat, tanpa emosi berlebihan, seperti biasa. "Saya yang pertama kali melihat gejalanya, di masterclass, dan saya yang menyuruhnya periksa ke dokter."
"Lalu apa rencana Saudara sekarang?" tanya pria tua itu, suaranya berat, pertanyaan pertamanya sepanjang sidang. "Kalau tangan kanan tak lagi bisa diandalkan, apa gunanya beasiswa ini bagi Saudara?"
Ini pertanyaan yang paling Arsa takuti, dan sekaligus yang paling siap ia jawab, karena inilah yang telah ia bangun malam demi malam di ruang latihan tujuh bersama tangan kirinya yang canggung.
"Saya sedang menyiapkan repertoar untuk tangan kiri," katanya. "Bukan sebagai jalan pintas, tapi karena saya baru sadar ada tradisi panjang komposer yang menulis untuk pianis yang kehilangan tangan kanan mereka. Saya tidak tahu apakah saya bisa kembali menjadi seperti dulu. Tapi saya tahu saya masih bisa bermain. Dan saya lebih memilih dinilai dari yang bisa saya mainkan sekarang, daripada terus berpura-pura menjadi pianis yang sudah tidak ada."
Tidak ada yang menjawab segera. Kepala bagian akademik menuliskan sesuatu di kertasnya, dan Arsa tak bisa membaca apakah itu pertanda baik atau buruk. Ibu Widari akhirnya bergerak—hanya sedikit, menegakkan punggungnya yang sudah tegak—tapi tak mengucapkan sepatah kata pun untuk membelanya, dan Arsa memahami bahwa ini bukan lagi soal ada yang membelanya. Ini soal apakah kejujurannya cukup untuk berdiri sendiri.
"Kami akan meninjau ini," kata kepala bagian akademik akhirnya, menutup map di depannya. "Keputusan akan disampaikan minggu depan."
Arsa mengangguk, berdiri, dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang berusaha ia jaga agar tak gemetar. Di koridor, matahari sore memantul dari lantai marmer yang sama yang pernah membuatnya merasa seperti ikan di darat, hari pertama ia datang. Kini ia berjalan di atasnya bukan dengan menyembunyikan sesuatu, melainkan dengan tangan kosong—dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, itu terasa lebih ringan daripada tangan yang penuh kepura-puraan.