Kertas itu masih terlipat di tangan Renjana ketika Arsa masuk ke ruang latihan, dan caranya menggenggam—terlalu erat, dengan buku-buku jari memutih—membuat Arsa berhenti di ambang pintu sebelum menyapa.
Cello-nya bersandar di sudut, belum dikeluarkan dari sarungnya. Itu yang aneh. Renjana tak pernah datang ke ruang latihan tanpa membuka sarung cello dalam lima detik pertama, seolah instrumen itu perlu bernapas begitu pintu tertutup.
"Kau tidak latihan?" tanya Arsa, meletakkan map berisi partitur tangan-kirinya di kursi kosong.
Renjana mengangkat wajah, dan senyumnya datang terlambat setengah detik—cukup lama untuk Arsa, yang telinganya terlatih menangkap jeda sekecil apa pun, untuk tahu ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya.
"Aku dapat surat," katanya, lalu menyodorkan kertas itu seperti ingin cepat-cepat melepaskannya dari tangannya sendiri.
Arsa membacanya dua kali. Undangan audisi—posisi cellist tetap di orkestra profesional, di luar kota, kontrak penuh setelah lulus seleksi. Bukan sekadar magang musim panas atau proyek jangka pendek. Ini kursi tetap, gaji tetap, nama Renjana Larasati di program sebuah orkestra yang namanya pernah disebut dosen-dosen institut dengan hormat yang jarang mereka berikan pada apa pun.
"Ini besar," ujar Arsa pelan, mengembalikan kertas itu.
"Aku tahu." Renjana duduk di kursi piano, meski tak ada yang ia mainkan. "Itu sebabnya aku belum bilang siapa-siapa. Belum ke Ibu Widari, belum ke dosen pembimbingku, belum—" ia berhenti, "—belum ke siapa pun."
"Sampai sekarang."
"Sampai sekarang."
Arsa menarik kursi lain, duduk berhadapan dengannya, cukup dekat hingga ia bisa melihat urat halus yang selalu muncul di leher Renjana saat ia menahan sesuatu. Ia mengenal urat itu dari resital-resital kecil, dari malam-malam Renjana berlatih delapan jam berturut-turut demi mempertahankan beasiswanya sendiri—beasiswa yang, sama seperti milik Arsa, bisa dicabut sewaktu-waktu kalau nilainya jatuh.
"Kau senang, kan?" tanya Arsa, meski pertanyaan itu terasa bodoh begitu keluar dari mulutnya.
"Aku harus senang," jawab Renjana. "Orang sepertiku—dari keluarga yang menghitung ongkos bus tiap bulan—tidak sering dapat surat seperti ini. Ini yang selalu kubilang kuinginkan sejak SMA. Kursi tetap. Gaji tetap. Ibuku tidak perlu lagi menjahit sampai jam dua pagi."
"Tapi."
"Tapi orkestra itu di luar kota, Arsa." Suaranya pecah sedikit di kata terakhir, dan ia buru-buru menahannya, seolah menyesal telah membiarkannya lepas. "Bukan seberang kota. Bukan yang bisa kutempuh naik kereta pagi lalu pulang malam. Kalau aku ambil ini, aku harus pindah sebelum semester depan. Aku harus keluar dari sini, sebelum lulus."
Arsa diam. Ia pikir tentang bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang seharusnya membuatmu bahagia—ia baru saja melewati versi lain dari perasaan itu, ketika grand piano warisan ditarik dan ia menyadari betapa sebuah anugerah bisa datang berlapis syarat yang menagih balik. Tapi ini berbeda. Ini bukan sesuatu direnggut dari Renjana. Ini sesuatu yang ditawarkan, dan justru karena ditawarkan, jadi lebih berat untuk ditolak atau diterima.
"Kalau aku jadi kau," kata Arsa akhirnya, memilih kata-katanya seperti memilih jari yang tepat untuk sebuah pasase, "aku akan ambil."
"Secepat itu kau bilang begitu?"
"Bukan secepat itu." Ia menatap partitur tangan-kirinya yang tergeletak di kursi sebelah, huruf-huruf penjarian yang ditulis Danupraja dengan tinta merah di setiap birama sulit. "Aku memikirkannya sejak kau membuka kertas itu tadi."
Renjana menunduk, jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi, gerakan yang biasa ia lakukan saat menghitung tempo dalam kepala tanpa metronom. "Kau tidak marah kalau aku pergi?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena—" Renjana berhenti, lalu memaksakan kalimatnya keluar utuh, "—karena kau sedang di titik paling rapuh dalam hidupmu, dan aku baru saja diberi tiket keluar dari sini, dan rasanya jahat sekali untuk senang tentang tiket itu di depanmu."
Ada sesuatu di dada Arsa yang mengetat, bukan seperti kejang di jarinya, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih manusiawi—rasa takut kehilangan yang tak ada hubungannya dengan piano sama sekali. Ia ingat ibunya, bertahun-tahun menyembunyikan kekhawatiran di balik wajah tenang supaya Arsa tak merasa bersalah pergi merantau ke institut. Ia tak mau melakukan hal yang sama pada Renjana—memberinya beban rasa bersalah yang tak seharusnya ia pikul.
"Aku tidak mau jadi alasan kau menolak sesuatu yang kau perjuangkan sejak SMA," kata Arsa, dan ia mendengar suaranya sendiri lebih tegas dari yang ia rasakan. "Kalau kau tinggal karena aku, lalu suatu hari kau menyesal, aku tidak akan bisa menanggung itu."
"Dan kalau aku pergi, lalu aku menyesal karena tidak ada di sini saat kau membutuhkan seseorang?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, tak terjawab, karena Arsa sendiri tak tahu jawabannya. Ia hanya tahu bahwa Renjana adalah salah satu dari sedikit orang yang melihatnya bukan sebagai prodigi yang jatuh atau anak miskin yang beruntung, melainkan hanya sebagai Arsa—dan kehilangan itu, sekalipun demi kebaikannya sendiri, tetap terasa seperti kehilangan.
"Kau belum harus menjawab hari ini, kan?" tanya Arsa.
"Seminggu," jawab Renjana. "Mereka beri waktu seminggu."
Ia mengambil kembali kertas itu, melipatnya lagi menjadi bentuk yang sama seperti saat Arsa pertama melihatnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ruangan, ia membuka sarung cello-nya—tapi tidak memainkan apa-apa. Hanya duduk dengan instrumen itu di antara lututnya, seperti mencari jawaban dari kayu dan senar yang selama ini paling memahami dirinya.
Arsa tidak memaksanya bicara lagi. Ia kembali ke partitur tangan-kirinya, mencoba membaca not-not yang seharusnya bisa ia mainkan dengan mata terpejam, tetapi pikirannya terus melayang ke satu bayangan: kursi kosong di ruang latihan ini, minggu-minggu setelah minggu ini, dan betapa sunyinya ruangan itu akan terasa tanpa suara cello yang selama ini menjadi latar dari setiap kemajuannya.