Renjana datang ke ruang latihan tujuh bukan dengan cellonya, melainkan dengan amplop cokelat yang dilipat dua di dalam mantel. Arsa mengenali lipatan itu sebelum ia mengenali apa isinya — cara jari Renjana menekan lipatan itu ke dadanya, seperti menahan sesuatu yang bisa terbang. Ia sedang menjajaki sebuah frasa dengan tangan kiri, tuts-tuts rendah yang berat, ketika pintu terbuka dan udara di ruangan itu berubah.
"Aku diterima," kata Renjana. Suaranya rata, terlalu rata, cara orang mengucapkan sesuatu yang sudah dilatih di depan cermin. "Orkestra itu. Yang di luar kota."
Arsa mengangkat tangannya dari tuts. Nada terakhir masih menggantung di ruangan, meredup pelan. Ia tahu ia harus tersenyum, dan ia tersenyum, tapi sesuatu di dalam dadanya turun beberapa senti, seperti lantai yang tiba-tiba kehilangan satu anak tangga.
"Itu—" ia mencari kata yang benar, dan tak menemukannya. "Itu yang kau inginkan sejak semester pertama."
"Sejak sebelum itu." Renjana menutup pintu di belakangnya. Ia tidak duduk. Ia berdiri di samping upright yang bukan grand piano warisan, tangan kirinya menyusuri tepi kayu yang sudah pudar pernisnya. "Sejak aku dengar rekaman mereka main Dvořák di warnet, dua ribu perak per jam, dan aku menangis di bilik itu sampai penjaganya mengetuk."
Arsa tertawa kecil, tapi tawa itu tak sampai ke matanya. Ia tahu ke mana percakapan ini akan pergi. Ia sudah membayangkannya berminggu-minggu, di malam-malam ketika latih-ulang membuatnya terjaga: Renjana pergi, panggung yang lebih besar menelannya, dan ia — Arsa dengan tangan kanan yang mengkhianatinya, dengan resital yang bahkan belum tentu terjadi — tinggal di sini, menjadi berat yang ditinggalkan.
"Kau harus pergi," katanya cepat, mendahului. Ia ingin menjadi orang yang mengucapkannya lebih dulu, supaya ia tidak perlu mendengarnya dari mulut Renjana. "Jangan pikirkan aku. Jangan pikirkan resital. Aku tidak mau kau melihat ke belakang bertahun-tahun lagi dan berpikir, aku tinggal karena seorang laki-laki yang tangannya rusak."
Renjana berhenti menyusuri kayu itu. Ia berbalik, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, matanya tajam.
"Kau pikir aku datang ke sini untuk minta izinmu tinggal?"
"Aku—"
"Karena kalau begitu, kau salah paham soal aku sejak awal." Ia melangkah mendekat, dan suaranya tidak naik, justru turun, menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada teriakan. "Aku tidak akan tinggal, Arsa. Aku akan berangkat. Bulan depan. Aku sudah tanda tangan."
Arsa merasakan sesuatu yang aneh — bukan lega, bukan sakit, tapi keduanya sekaligus, terjalin begitu rapat sampai ia tak bisa memisahkannya. "Bagus," katanya, dan suaranya pecah di tengah kata. "Itu bagus."
"Jangan." Renjana menggeleng. "Jangan pakai suara itu. Suara mulia yang kau pakai waktu kau mendorongku menjauh dulu, waktu kau sembunyikan tanganmu dariku seolah aku terlalu rapuh untuk tahu." Ia berhenti sejenak, menelan sesuatu. "Aku benci suara itu."
Ruangan itu sunyi. Di luar, seseorang menjajaki tangga nada di piano lain, naik dan turun, naik dan turun, sempurna dan dingin.
"Aku sudah kehilangan grand piano," kata Arsa akhirnya, pelan. "Aku sudah kehilangan tangan kananku. Aku tidak—" ia menarik napas. "Aku tidak sanggup menjadi alasan kau kehilangan sesuatu juga."
Renjana menarik kursi kayu di sudut, kursi yang biasa dipakai menaruh tas, dan mendudukkannya berhadapan dengan bangku piano. Ia duduk. Lututnya hampir menyentuh lutut Arsa.
"Dengar aku baik-baik, karena aku hanya mau mengatakan ini sekali." Ia meraih tangan kiri Arsa — tangan yang masih baik, tangan yang belakangan menanggung segalanya — dan menggenggamnya di antara kedua tangannya sendiri, tangan yang keras oleh senar dan bertahun-tahun gesekan. "Aku pergi karena itu jalanku. Bukan pengorbanan, bukan pelarian, bukan karena kau. Aku pergi untuk musikku, seperti kau tinggal untuk musikmu. Itu dua hal yang berbeda, dan keduanya benar."
"Jaraknya—"
"Jaraknya ada." Ia mengangguk, tidak menghindarinya. "Berjam-jam kereta. Latihan yang tak akan cocok jadwalnya. Malam-malam ketika salah satu dari kita terlalu lelah untuk mengangkat telepon. Aku tahu. Aku tidak menjanjikanmu dongeng." Genggamannya mengerat. "Aku menjanjikanmu sesuatu yang lebih kecil dan lebih benar. Aku akan ada di kursi penonton malam resitalmu. Aku sudah minta izin datang terlambat ke latihan orkestra untuk itu. Aku akan naik kereta pertama setelah resital selesai. Dan aku akan menelepon dari kota itu, dan kau akan memainkan frasa-frasamu yang cacat lewat telepon, dan aku akan bilang mana yang jelek, karena tidak ada orang lain yang berani bilang begitu padamu."
Arsa menunduk memandang tangan mereka yang bertaut. Tangan kirinya, yang belakangan ia ajari kembali dari nol, terasa hangat di antara telapak Renjana. Ia teringat perempuan ini menyodorkan partitur tangan kiri ketika ia bahkan belum sanggup menyentuh tuts; teringat Renjana yang tetap tinggal ketika ia mendorongnya menjauh.
"Kau tidak takut," ia berbisik, "kita jadi dua orang yang saling mengirim rekaman lewat kabel dan lupa cara satu ruangan?"
"Aku takut," jawab Renjana jujur, dan kejujuran itu justru menenangkannya lebih dari janji apa pun. "Tapi aku lebih takut menjadi orang yang tidak jadi apa-apa demi menjaga sesuatu tetap nyaman. Kau tahu benda apa yang paling menyedihkan? Bakat yang disimpan supaya tidak melukai siapa-siapa."
Arsa mengangkat wajahnya. Di luar, tangga nada yang dingin itu berhenti, dan untuk sesaat gedung institut sunyi sepenuhnya.
"Mainkan sesuatu," kata Renjana. "Yang tangan kiri. Sebelum aku pergi latihan."
Ia melepaskan tangan Arsa dan mundur ke kursi kayu, melipat tangan di pangkuan, menunggu seperti penonton pertama dan terakhir. Arsa berbalik ke tuts. Ia mulai memainkan frasa yang tadi ia tinggalkan, tuts-tuts rendah yang berat itu, dan di suatu tempat di tengah frasa ada nada B — nada yang di gereja Wonokromo selalu fals — dan ia sengaja membiarkannya sedikit menekan telinga, sedikit tidak lurus, tanda tangan yang mulai ia kenali sebagai miliknya sendiri.
Renjana tidak berkata bagus. Ia hanya menutup matanya, dan Arsa melihat sudut bibirnya bergerak, dan itu sudah lebih dari cukup untuk dibawa ke atas panggung.