“Loh, kenapa? Kan nanya mau minum apa? Harusnya Kak Robis kasih pilihan lah, dia adanya apaan. Kalo ditanya gitu kan berarti bebas jawab apa aja.” Nida berkelit dengan ucapannya sendiri, berusaha membela dirinya yang menurutnya jelas tidak salah. Ia hanya menyahuti pertanyaan Robis yang memang bersifat luas, jadi ia bisa memilih apa saja dong.
Robis melotot menatap Nida, cewek yang usianya dau tahun di bawahnya ini memang suka ada ada saja dalam bersikap. Robis tahu, Nida hanya bercanda, karena itu lah ia menjitak Nida tepat di kepalanya.
“Buat lo, gue Cuma ada air putih. Gak ada pilihan apa apa.” Robis berkata demikian, agar Nida tak bertingkah memesan apa pun juga.
“Buset, lo tuan rumah pelit amat sih. Bayangin! Kita nyaris empat jam perjalanan ke sini, kaki kesemutan, punggung peg