Entah kapan doanya akan terkabul, entah kapan penantiannya akan berakhir. Thella bahkan tidak tahu jawaban dari semua itu. Yang ia tahu, kini dirinya sendirian dan Riza tidak ada. Hubungan mereka terombang ambing begitu saja, membuatnya semakin merasa sesak.
Tentu saja hal itulah yang selalu Thella permasalahkan. Bukan karena Thella ingin mencari yang baru. Tapi karna Thella sesungguhnya benci akan hal ini. Thella benci akan kenyataan pahit yang tidak jelas ini, kenyataan yang penuh misteri.
Thella merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Sejenak ia menutup matanya. Lalu perlahan ia membukanya. Pandangannya kian menerobos langit-langit kamarnya. Menerawang jauh tentang apa yang ada di fikirannya. Bayangan segala tentangnya bersama Riza seolah terekam jelas di kepalanya, hingga matanya