Murasakibara Tetsu memasuki ruang kerja Hakim Kojiro pada hari Selasa jam dua belas siang. Walaupun waktu itu merupakan jam makan siang, tak ada makanan yang terlihat di sana. Haim Kjiro duduk di belakang meja tulisnya, dan Tetsu duduk di kursi berjk kulit yang sangat dikenalnya.
Tetsu belum meninggalkan rumah kabinnya sementara hari Jumat malam. Hari Senin, dia tidak menelepon ke kantor, dan para stafnya tak tahu apa pun mengenai keberadaannya. Dua persidangannya, keduanya di hadapan Hakim Kojiro, telah ditunda. Dia tampak cekung, letih, pucat dengan lingkaran lingkaran yang lebih dalam di bawah matanya. Gaya angku jaksanya yang biasa telah lenyap.
“Gimana kabarmu akhir akhir ini, Tetsu?” tanya Hakim Kojiro dengan ramah.
“Aku pernah mengalami yang lebih baik dari ini.”
“Tentu saja,