Karina Ollen.
Nama itu berputar-putar di kepala Marsha seperti lalat yang enggan pergi. Marsha yakin pernah mendengar nama itu, entah di televisi, entah di majalah gosip yang tak sengaja ia baca saat menunggu giliran syuting. Sayangnya otak Marsha yang baru saja diseret paksa dari tidurnya belum mau diajak bekerja sama.
“Di mana Marco?” tanya wanita itu lagi. Tanpa dipersilakan, Karina melangkah masuk melewati bahu Marsha seolah Marsha hanyalah tiang yang kebetulan berdiri di depan pintu.
“Nyonya,” salah satu penjaga rumah bergerak hendak menahan.
Marsha mengangkat tangannya, memberi isyarat agar penjaga itu berhenti. Bukan karena Marsha rela rumah ini dimasuki orang asing tengah malam, tapi karena ia tahu betul apa yang terjadi jika seorang wanita diseret paksa keluar dari rumah seorang aktor papan atas. Besok pagi fotonya akan tersebar di mana-mana dan Marsha yang akan repot. Cukup sudah masalahnya hari ini.
“Silakan tunggu di luar. Biar saya yang urus,” ujar Marsha pada kedua penjaga itu.
Keduanya saling pandang, lalu mundur.
Marsha menutup pintu dan berbalik. Karina sudah berdiri di tengah ruang tamu, memutar tubuhnya perlahan, menyapu seisi ruangan dengan matanya. Bukan tatapan orang yang baru pertama kali datang. Itu tatapan orang yang sedang mengecek apakah ada yang berubah sejak terakhir kali ia ke sini.
Perut Marsha terasa dingin.
“Vasnya diganti,” gumam Karina. “Dulu di situ ada vas keramik hitam. Aku yang membelinya.”
“Anda datang jam sebelas malam hanya untuk menanyakan vas?” balas Marsha.
Karina menoleh. Untuk pertama kalinya wanita itu benar-benar menatap Marsha, dari ujung rambut sampai kaki telanjang Marsha yang masih memakai piyama tidur. Bibirnya yang merah menyala tertarik ke satu sisi.
“Jadi kau yang itu,” ucap Karina pelan. “Kupikir kau lebih tinggi di foto.”
Marsha menahan diri untuk tidak membalas. Ia sudah bertahun-tahun berada di depan kamera dan ia hafal betul, orang yang ingin membuatmu marah selalu memulai dari penampilan.
“Aku Marsha,” jawab Marsha datar. “Istri Marco. Kalau ada urusan, datang saja besok pagi di jam yang wajar.”
“Istri.” Karina mengulang kata itu seperti sedang mengeja sesuatu yang lucu. “Kau tahu berapa lama aku bersama Marco?”
“Tidak tahu dan tidak ingin tahu.”
“Empat tahun.” Karina mengangkat empat jarinya, mendekat selangkah. “Empat tahun. Lalu kau muncul entah dari mana dan menikah dengannya dalam satu hari. Satu hari. Kaupikir orang bodoh semua?”
Jantung Marsha berdegup lebih cepat. Sialnya, apa yang dikatakan wanita ini benar. Pernikahan itu memang hanya butuh satu hari dan selembar kertas kosong yang ditandatangani Marsha karena terjebak.
Untung saja seharian ini Marsha sudah cukup terlatih berbohong.
“Kami sudah lama bersama. Hanya saja tidak diumbar,” ujar Marsha, mengulang kebohongan yang tadi pagi ia ceritakan pada Erico dan Bella. Diam-diam Marsha bangga pada dirinya sendiri. Ternyata ia berbakat menjadi pembohong.
“Bohong.”
“Terserah Anda mau percaya atau tidak.”
“MARCO REYNAND!”
Suara itu meledak begitu saja sampai lampu gantung di atas kepala Marsha rasanya ikut bergetar. Marsha refleks memundurkan kepalanya. Wanita ini benar-benar tidak punya rem.
“Bisa kah Anda pelankan suara Anda? Ini rumah, bukan pasar,” desis Marsha.
“Ini rumahku juga!”
“Sejak kapan?”
Pertanyaan Marsha berhasil membuat Karina bungkam sepersekian detik. Hanya sepersekian detik, karena setelah itu mata wanita itu mulai berkaca-kaca dan Marsha tahu, drama babak kedua akan segera dimulai.
“Kau merebutnya dariku,” ucap Karina dengan suara bergetar. “Kami sudah mau menikah. Undangannya sudah dicetak. Kautahu itu?”
Marsha tidak tahu. Marsha bahkan tidak tahu wanita ini ada di dunia sampai sepuluh menit yang lalu. Tapi Marsha memilih diam, karena diam adalah satu-satunya jawaban yang tidak bisa dipakai untuk menyerang balik dirinya.
“Sudah cukup.”
Suara berat itu datang dari arah tangga. Marsha mendongak. Marco berdiri di anak tangga ketiga dari bawah, memakai kaos hitam dan celana panjang rumahan, rambutnya berantakan. Wajahnya tidak menunjukkan terkejut sedikit pun. Yang ada di sana hanya satu hal, muak.
“Marco,” Karina hendak melangkah menghampirinya.
“Berhenti di situ.”
Karina berhenti. Marsha memperhatikan itu dan diam-diam mencatatnya. Wanita yang tadi berteriak seperti sirene ambulans itu ternyata bisa dihentikan hanya dengan tiga kata.
“Siapa yang memberitahumu alamat ini?” tanya Marco.
“Kenapa? Kau menyembunyikan rumahmu dariku sekarang?”
“Aku bertanya siapa.”
“Apa itu penting?!” Karina memekik. Air matanya akhirnya jatuh juga, tepat waktu, persis seperti aktris yang menunggu aba-aba sutradara. “Yang penting kau menikah tanpa mengabariku sepatah kata pun! Aku tahu dari berita, Marco. DARI BERITA!”
Marco menuruni sisa anak tangga dengan tenang, berjalan melewati Karina tanpa menoleh sedikit pun, lalu berhenti di samping Marsha. Tangannya melingkar di pinggang Marsha begitu saja.
Marsha menegang. Tubuhnya kaku seperti papan. Ia ingin sekali menyikut rusuk pria itu tapi ia sadar sedang ditonton.
“Kau mau kabar? Ini kabarnya,” ujar Marco. “Aku sudah menikah. Sekarang keluar dari rumahku.”
“Kau tidak mencintainya!” pekik Karina.
“Itu bukan urusanmu.”
“Dia tidak akan bertahan sebulan!” Karina menunjuk wajah Marsha dengan jari telunjuknya yang berkuku panjang. “Kau tahu siapa pria yang kaunikahi? Kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Kau hanya perempuan yang kebetulan lewat di depannya!”
Ada satu kalimat di antara semua itu yang tersangkut di kepala Marsha. Kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Anehnya, Marsha tidak bisa membantah kalimat itu. Ia memang tidak tahu apa-apa.
“Cukup,” ujar Marco. Nada suaranya turun satu tingkat dan entah kenapa justru itu yang membuat bulu kuduk Marsha berdiri. “Kalau kau menyentuh istriku, aku tidak akan sopan lagi.”
Marsha menoleh cepat ke arah Marco. Istriku. Kata itu keluar dari mulut Marco dengan sangat enteng, seolah sudah dipakainya bertahun-tahun.
“Marco, kumohon.” Suara Karina berubah, kali ini benar-benar pecah. “Aku bisa jelaskan yang waktu itu. Kau bahkan tidak mau mendengarku sekali saja.”
“Empat kali.”
Karina terdiam.
“Aku sudah mendengarmu empat kali,” lanjut Marco. “Aku tidak punya telinga untuk yang kelima.”
Marsha menatap keduanya bergantian. Ada sesuatu yang terjadi di antara dua orang ini, sesuatu yang jelas-jelas besar, dan Marsha berdiri persis di tengahnya sambil memakai piyama tidur bergambar beruang. Sungguh posisi yang terhormat.
Marco melepaskan tangannya dari pinggang Marsha, lalu berjalan ke pintu dan membukanya lebar-lebar. Angin malam masuk membawa bau tanah basah.
“Antar dia sampai gerbang,” ujar Marco pada dua penjaga di luar. “Dan mulai malam ini siapa pun yang tidak ada di daftar, tidak masuk. Aku tidak mau mendengar kata memaksa lagi.”
“Baik, Tuan.”
Karina tidak bergerak. Ia menatap Marco lama sekali, lalu memindahkan tatapannya pada Marsha. Air matanya masih ada, tapi tatapannya sudah kering sama sekali.
“Aku tidak akan pergi jauh,” ucapnya pada Marsha. Pelan. Hanya untuk Marsha. “Kau akan lelah sendiri.”
Lalu wanita itu melangkah keluar dengan punggung tegak, seolah dialah yang memutuskan untuk pergi.
Pintu ditutup. Rumah kembali sunyi. Yang tersisa hanya bau parfum mahal yang menempel di udara ruang tamu.
Marsha menghembuskan napas panjang dan menjatuhkan dirinya ke sofa merah maroon.
“Jadi,” Marsha mendongak menatap Marco. “Siapa dia?”
“Tidur sana.”
“Aku serius. Aku baru saja diteriaki tengah malam di rumah yang katanya sekarang rumahku juga. Aku berhak tahu.”
Marco memijat pangkal hidungnya. “Kau tidak berhak apa-apa. Baca lagi kontrakmu.”
Marsha melotot. “Kau benar-benar-”
“Besok,” potong Marco sambil berjalan ke tangga. “Kalau besok kau masih penasaran, akan kuceritakan. Sekarang aku mengantuk dan aku tidak sudi membicarakan wanita itu di dalam rumahku lewat jam sebelas malam.”
Marsha membuka mulut hendak protes tapi Marco sudah menaiki tangga dan hilang di lantai dua.
Marsha kembali menghempaskan punggungnya di sandaran sofa dan menatap langit-langit yang tinggi. Karina Ollen. Karina Ollen. Ia memaksa otaknya bekerja, dan akhirnya ingatan itu datang juga. Bukan model iklan sabun seperti dirinya, tapi bintang iklan parfum yang wajahnya pernah terpampang besar di baliho dekat kantor agensi tempat Marsha dulu menunggu jadwal. Lengkap dengan judul berita yang waktu itu Marsha lewati begitu saja tanpa peduli. Marco Reynand dan Karina Ollen segera menikah.
Marsha memijat keningnya sendiri.
Bagus sekali, Sha. Kau kabur dari satu pria b******k dan mendarat tepat di tengah drama pria b******k yang lain, gumam Marsha pada dirinya sendiri.
Malam itu Marsha butuh waktu lama sekali untuk bisa memejamkan matanya.
*****
Pukul enam pagi Marsha sudah berdiri di dapur.
Bukan karena rajin. Marsha bangun karena perutnya lapar dan karena semalaman kalimat Karina menempel di kepalanya seperti permen karet di sol sepatu. Dia tidak akan bertahan sebulan. Marsha bukan tipe wanita yang bisa tidur nyenyak setelah diremehkan.
Marsha membuka kulkas dua pintu yang isinya lebih rapi dari pada lemari baju Marsha sendiri. Semua bahan tersusun berdasarkan warna. Siapa yang menyusun isi kulkas berdasarkan warna? Orang sakit, jawab Marsha dalam benaknya.
Ia mengambil dua butir telur. Telur adalah satu-satunya benda di dapur ini yang Marsha yakin bisa ia taklukkan. Mamanya dulu pernah mengajarinya sekali, dan sekali seharusnya cukup.
Ternyata tidak.
Minyaknya terlalu banyak sehingga meletup-letup dan Marsha memekik dua kali. Api kompornya terlalu besar dan Marsha baru menyadarinya setelah bagian bawah telur itu berubah menjadi cokelat pekat yang tidak ada di dalam kamus warna makanan. Ia buru-buru membaliknya dengan sendok sayur karena tidak menemukan spatula, dan telur itu robek di tengah.
Marsha menatap hasil karyanya di atas piring putih. Satu telur gosong yang bentuknya menyerupai peta pulau Sulawesi, satu lagi setengah matang dengan pinggiran hitam.
Tidak apa-apa. Yang penting rasanya, hibur Marsha pada dirinya sendiri.
“Apa itu?”
Marsha berbalik. Marco berdiri di ambang dapur, memakai kaos abu-abu, wajahnya masih bantal sekali.
“Sarapan,” jawab Marsha, mengangkat dagunya. “Aku memasak. Duduk sana.”
Marco mendekat perlahan. Ia menunduk, menatap piring itu dari jarak dekat, memiringkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan seperti orang yang sedang menilai lukisan di galeri.
“Kau menyebut ini sarapan?”
“Itu telur.”
“Itu bukan telur.” Marco menegakkan tubuhnya. “Telur tidak berbau seperti ban terbakar. Kau menggorengnya dengan api besar, minyaknya kebanyakan, dan kau membaliknya sebelum putihnya matang. Tiga kesalahan dalam satu benda sekecil ini. Aku belum pernah melihat orang segagal ini menggoreng telur, dan aku pernah berdiri di dapur berisi tiga puluh orang.”
Wajah Marsha memanas. “Kau bahkan belum mencobanya.”
“Aku tidak perlu mencoba makanan yang bentuknya saja sudah minta maaf.”
Sebelum Marsha sempat membalas, Marco mengambil piring itu dari meja, berjalan ke tempat sampah di sudut dapur, menginjak pedalnya, lalu menjatuhkan seluruh isi piring itu ke dalam.
Tuk.
Setelah itu Marco meletakkan piring kosongnya di bak cuci, membuka kulkas, mengeluarkan bawang merah dan bawang putih, dan mulai menyusunnya di atas talenan tanpa mengatakan apa pun lagi.