Perlahan-lahan aku melangkahkan kakiku ke arah ruang kerja Ayah, segera setelah Anna- pengurus rumah tangga kami menerima pesan dari Ayah yang memintaku untuk datang menemuinya di ruang kerjanya. Entah mengapa, tetapi perasaan cemas sekaligus takut menyelimuti diriku. Tidak biasanya Ayah memanggilku ke ruangan kerjanya, ia bahkan selalu melarangku untuk mendekar ke sana, kecuali jika benar-benar ada hal penting yang perlu dibicarakannya denganku.
Dengan tangan yang sedikit berkeringat, aku mengetuk pintu ruang kerja Ayah. Sayup-sayup aku dapat mendengar suara Ayah yang mengizinkanku untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
Ketika masuk ke dalam, aku melihat Jacob yang berdiri di depan meja kerja Ayah. Seakan menyadari kehadiranku, Ayah segera memerintahkan Jacob untuk meninggalkan ruangan ini. Meninggalkanku sendirian bersama dengan Ayah.
Tanpa bersuara, Ayah menaikkan dagunya ke arah kursi kosong yang berada di seberang meja kerjanya, tepat dihadapanku, mengisyaratkan diriku untuk segera duduk di tempat yang ditunjuknya itu.
“Berapa usiamu saat ini, Louisa?” tanya Ayah segera setelah aku berhasil mendudukkan diriku di kursi itu. Dan jujur saja pertanyaannya itu sedikit mengecewakanku. Aku tidak tahu apakah di luaran sana banyak orang tua seperti Ayah yang juga melupakan usia atau tahun kelahiran dari anaknya sendiri, tetapi di sini, sepertinya Ayah melupakannya, atau mungkin ia benar-benar tidak peduli tentang itu.
“Usiaku sudah sembilan belas tahun, Ayah,” jawabku selanjutnya, sekali pun aku masih merasa kecewa dengannya. Huh, lagi pula aku tidak ingin menimbulkan keributan hanya karena masalah kecil seperti ini…. Dan lagi, aku masih bisa menenangkan diriku dengan menekankan jika Ayah melupakan tahun kelahiranku karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhanku.
Aku menundukkan kepalaku, mencoba bersikap menghormati Ayah dengan tidak menatapnya secara langsung. Mungkin di luaran sana, seorang anak tidak hanya menganggap Ayahnya sebagai orang tua saja, tetapi mereka juga menganggap Ayahnya sebagai teman, kakak, atau bahkan kekasihnya. Namun, dalam kehidupanku hal itu tidak akan pernah terjadi. Ingat ketentuan paling utama, harus ada dan selalu ada jarak di antara kami.
“Kau masih ingat dengan putra Jenderal Whelan?” Lanjut Ayah bertanya padaku.
Putra Jenderal Whelan? Ya, tentu saja aku sangat mengingatnya. Bagaimana bisa aku melupakan Peter Whelan- teman kecil yang notabennya sudah menjadi prince charming-ku sejak dahulu, bahkan sampai sekarang?
“Tentu saja aku masih mengingatnya, Ayah,” jawabku terlalu cepat. Ah… selalu saja seperti ini, aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku, apa lagi dengan hal-hal yang berhubungan dengan Peter.
Menarik napas sejenak, aku memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan pada Ayah, “Apa ia akan kembali kemari Ayah?” Aku menunduk dan ingin mengutuk diriku sendiri ketika menyadari kesalahanku. Aku lupa meminta izin untuk bertanya padanya.
Dalam aturan keluarga kami, kami tidak diperbolehkan untuk bersuara sebelum Ayah- atau seseorang yang dianggap sebagai tetua memberi kesempatan untuk berbicara. Inilah salah satu hal yang dimaksud dengan menjaga jarak.
Ayah terlihat menyadari kesalahanku, tetapi ia memilih mengabaikannya. “Ya, ia akan kembali dalam waktu dekat ini.” Aku mengangguk dan tersenyum kecil, kali ini mencoba menutupi rasa senang yang begitu meluap dalam diriku ini.
Terdiam cukup lama, Ayah kembali melanjutkan perkataannya, “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” aku memperhatikan Ayah yang terlihat serius itu. Aku yakin jika sesuatu yang akan disampaikannya itu adalah hal yang begitu penting.
“Putra Jenderal Whelan menginginkanmu menjadi istrinya dan Ayah telah menyetujuinya,” aku terkejut mendengar pejelasan Ayah, tetapi sedetik kemudian keterkejutan itu membawaku pada kegembiraan yang begitu besar.
Aku telah menyukai Peter sejak lama, ia merupakan pria yang baik, perhatian dan begitu menyenangkan. Menikah dengannya tentu saja sudah menjadi salah satu impian terbesar ku sejak dulu. Memikirkannya terus saja membuatku tersenyum.
“Apakah aku boleh menanyakan sesuatu, Ayah?” kali ini aku tidak melupakan aturan sopan santun kami.
Ayah menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
“Kapan pernikahannya akan dilaksanakan?”
***
Briana terus saja memperhatikanku dengan senyuman aneh yang terpampang di wajahnya, sedari tadi, bahkan sejak kami memasuki dan menghabiskan beberapa jam lamanya di dalam perpustakaan yang ada di rumah ini, untuk menikmati beberapa bacaan novel romansa kesukaan kami.
"Louisa, apa kau percaya jika sesuatu yang berbau romansa itu akan terjadi pada orang-orang seperti kita?" aku tersenyum mendengar pertanyaan polosnya itu.
Briana masih begitu belia, ia baru berusia lima belas tahun, jadi sangatlah wajar jika ia masih memikirkan hal-hal fiksi seperti itu. Oh iya… Briana merupakan putri dari Anna, salah satu pengurus rumah kami. Jika muncul pertanyaan mengapa ia memanggilku tanpa embel-embel nona atau apapun… Itu semua karena aku sengaja melarangnya untuk melakukannya. Ia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, dan adik tentu tidak perlu memanggil kakaknya sendiri dengan sebutan nona, bukan?
"Mungkin saja," aku menjawabnya disertai senyuman lebar di bibirku, yang kemudian membuatnya ikut tersenyum.
"Kisahku akan seperti Cinderlella dan kau akan seperti- kisah siapa yang kau inginkan menjadi kisahmu Lou?" Tanyanya bersemangat.
"Entahlah," aku kembali tersenyum. Mengingat Peter yang sebentar lagi akan menjadi suamiku, membuatku menyadari akan kisahku yang sebentar lagi akan terwujud. Ini mungkin bukan kisah tentang pencarian cinta dari Cinderlella, Belle, atau putri-putri yang lainnya, tetapi ini adalah murni, kisah cinta dari Louisa dan Peter.
Aku tidak dapat berhenti tersenyum memikirkannya. Ya, bagaimana mungkin aku berhenti tersenyum ketika mengetahui cinta masa kecilku akan menjadi cinta terakhirku dalam waktu dekat ini?
"Kau pasti sangat bahagia ya, Lou? Kisahmu sebentar lagi akan segera terwujud," aku berjalan mendekati Briana, kemudian meraih tangannya dan mengenggamnya, tidak lupa memberikan sebuah senyuman kepadanya.
"Kau akan menemukan sendiri kisahmu, Briana. Aku yakin itu, mungkin tidak sekarang, tetapi suatu saat nanti hal-hal romansa itu akan terjadi kepadamu. Emm...mungkin kau akan menemukan hal itu ketika kau berusia delapan belas tahun sepertiku," kami tertawa bersama.
"Pria yang akan mendapatkanmu merupakan pria yang beruntung, Lou. Kau sangat cantik dan begitu baik hati," ujarnya.
Aku menggeleng mendengar pujiannya itu.
"Berhentilah memujiku. Kau seharusnya juga memuji dirimu sendiri karena kau juga cantik dan baik hati," ia melemparkan senyumnya kepadaku.
Tiba-tiba saja dari arah pintu, terlihat Anna yang tersenyum menghampiri kami.
"Sepertinya pembicaraannya sangat menyenangkan ya, Nona Louisa."
Beberapa kali aku telah memintanya untuk memanggilku dengan namaku saja, Louisa, tetapi ia tidak pernah mengindahkannya sama sekali. Aku tahu jika mungkin dirinya merasa tidak nyaman dengan itu dan mungkin ia terlalu takut jika Ayah mengetahui hal ini, tetapi Anna seharusnya tahu jika Ayah tidak pernah sekalipun menegur Briana karena memanggilku dengan nama depan saja, sehingga Ayah mungkin juga tidak akan mempermasalahkan jika dirinya memanggilku dengan namaku. Namun, ia tetap tidak ingin melakukannya, dan karena itu aku tidak akan memaksanya lagi, aku menghargai keputusan apapun yang Anna pilih.
"Sangat menyenangkan, Bu," Briana menjawabnya sembari tertawa.
"Nona, mohon maaf karena menggangu kegiatan Anda, tetapi saya ingin memberitahukan jika ada telepon masuk dari Tuan muda Whelan," mendengar berita menggembirakan itu, membuat jantungku seketika itu juga berdegup kencang, kebahagiaan memenuhi diriku.
Tanpa diminta dua kali, aku segera berlari dan menggambil telepon yang ada digenggaman Anna, lalu berjalan menjauh darinya dan Briana.
"Hallo? Apakah saat ini saya berbicara dengan Miss Louisa Hale?" ujar seseorang di seberang sana, dengan suara yang sangat dibuat-buat… dan hal itu tentu saja membuatku tertawa.
"Hentikan Peter," terdengar suara tawanya dari seberang sana. Ugh, aku sangat merindukan suara tawa ini.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya selanjutnya.
"Aku? Aku sangat baik," aku tersenyum, sebelum balas bertanya padanya, "bagaimana denganmu?"
"Tidak pernah sebaik ini sebelumnya," godanya. Aku dapat membayangkan jika sekarang ini ia sedang tersenyum jahil sembari menggengam gagang telepon di salah satu tangannya.
"Aku sangat curiga, tumben sekali kau menelponku? Kurasa sudah sekitar dua bulan kau tidak mencoba untuk menghubungiku," ya, dan selama itu aku berpikiran yang tidak-tidak tentang kondisi kesehatannya.
"Entahlah, aku hanya ingin menelponmu," ia kembali menggodaku. Entah mengapa aku tidak merasa marah dengan apa yang dilakukannya, aku malah tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengar suaranya.
"Jadi baru sekarang kau ingin menelponku? Tidak dengan dua bulan terakhir ini?"
"Aku minta maaf akan hal itu, aku tidak bermaksud melakukannya," ujarnya meminta maaf.
Aku tersenyum… Tiba-tiba saja aku teringat akan rencananya untuk menikahiku, aku ingin menanyakan mengapa ia tidak mengatakannya lebih awal, tentang maksudnya yang ingin menikahiku dalam waktu dekat ini.
"Peter, aku ingin bertanya apakah-" belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, Peter menyelaku dengan berujar, "maafkan aku Louisa, jam istirahatku sudah habis, aku akan segera menelponmu, aku berjanji," rasanya sunggu mengecewakan, tetapi yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk dan menuruti perkataannya.
Rasanya begitu menyedihkan, aku bahkan tidak sempat menanyakan tentang rencana pernikahan kami dan hal-hal lain yang menyenangkan dengannya. Namun, bagaimana lagi, aku tentu tidak bisa menyalahkan pekerjaannya.
"Ya tentu saja, Peter. Aku berharap kau segera menelponku kembali, jaga dirimu," lebih tepatnya lagi, aku berharap bisa segera bertemu dengannya.
"Jaga dirimu juga," aku menunggu hingga ia memutuskan sambungan teleponnya.
Saat ini, Peter masih ditugaskan untuk pengamanan di perbatasan negara, tentu saja ia memiliki batasan waktu untuk menelpon atau beristirahat. Selain itu, rasanya juga perlu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan koneksi yang mendukung untuk membuat sebuah panggilan.
Menunggu dan bersabar… hanya itu yang dapat kulakukan sekarang. Semoga saja ia dapat menjalankan tugas ini dengan baik, sehingga ia bisa segera mendapat pangkat yang dijanjikan padanya dan segera bisa kembali kemari dengan cepat dan selamat.
Dari balik pintu perpustakaan, aku dapat mendengar suara Briana yang bebisik memohon padaku, "Sudah selesai Lou? Jika sudah ayo bacakan lagi kisah Romeo and Julliet untukku? kumohon," orang mana yang akan berani menolak tatapan menggemaskan yang Briana berikan itu?
“Baiklah.”
***