Pranggg........
Suara pecahan gelas memecah suasana, membuat perhatian semua orang semakin tertuju pada mereka. Maira akhirnya menangkap sosok temannya yang sejak tadi ia cari-cari dan hanya terlihat berdiri diam di lantai atas, tak menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya hendak membantu Maira.
"Kau harusnya menurut saja, temanmu bilang kau membutuhkan uang makanya menjual dirimu padaku" kesal pria itu lalu memukul pipi Maira hingga membuat Maira terjatuh berlutut kelantai.
Pria itu ikut berlutut lalu menarik dagu Maira dan memaksanya meminum sebotol alkohol yang di pegangnya.
Maira menatap pria itu dengan tatapan nanar lalu beralih ke temannya yang kini tersenyum licik ke arahnya.
"Ak...uhuk....ti...dak..." Maira mencoba membela diri dengan terbata-bata namun efek alkohol yang tadi pria itu masukan dengan paksa begitu kuat membuat kepala Maira begitu pusing hingga tidak dapat melihat dengan jelas.
Pria itu tampaknya tidak mau mendengar penjelasan Maira, ia menarik tangan Maira lalu membawa wanita itu keluar dari klub dan langsung melemparkan tubuh gadis itu kearah seorang pria yang berdiri di luar club sambil menghisap rokoknya.
"Aku membawakan barang bagus untukmu" ujar pria itu pada pria blonde yang sejak tadi merokok, pria itu buru-buru meleparkan rokoknya dan menyambut wanita itu kedalam pelukannya.
Bola matanya melebar begitu melihat wajah wanita yang ada di pelukannya, wanita yang sejak tadi ia perhatikan dan tak cocok dengan tempat ini sekarang malah berada di pelukannya sambil menangis tersedu.
Pria itu tak menjawab ucapan temannya dan hanya membuka pintu mobil lalu memasukan wanita itu ke dalam mobil dengan hati-hati.
"Sialan, kau memukulnya?" Tanya pria blonde itu dengan wajah marah begitu melihat jejak merah pada pipi wanita itu.
"Wanita sialan itu terus melawan, mau tidak mau aku harus memukulnya, lagipula temannya sudah menerima uangku untuk apa memikirkan hal-hal merepotkan"
"Kenapa kau selalu melemparkan wanita-wanita yang kau beli padaku" gerutu pria itu sambil berjalan masuk ke dalam mobil dengan kesal.
"Kau juga menerima mereka begitu saja, jadi buat apa merengek begitu, aku tidak suka wanita yang suka merengek itu bukan tipeku, aku baru saja membayar yang lain yang cocok denganku" tambah pria itu dari balik kaca mobil yang terbuka.
"b******n gila" umpat pria berambut blonde itu dan langsung tancap gas dari sana.
Pria itu meninggalkan temannya dan memacu mobilnya dengan cepat menuju sebuah hotel mewah yang berada di pusat London. Wanita di sampingnya tampak membuka mata, terlihat jelas kalau wanita itu tampak setengah mabuk. Ia menatap pria di sampingnya kemudian kembali tertidur.
Pria itu hanya bisa tersenyum kecil melihat ekspresi lucu wanita di sampingnya. mobil mereka akhirnya tiba di halaman sebuah hotel. seorang petugas Valet buru-buru menghampiri mobil mereka. Pria itu keluar dari mobil memberikan kunci mobilnya pada petugas dan membuka pintu penumpang.
Wanita itu tampak berusaha berpura-pura memejamkan matanya begitu melihat seseorang membuka pintu mobil. Pria itu lagi-lagi tersenyum geli dan mengangkat tubuh mungil itu bak seorang tuan putri.
Pintu sebuah president suite terbuka seolah telah menyambut kedatangan keduanya. Pria itu melemparkan tubuh wanita itu ke atas kasur seolah tau kalau wanita itu sedang berpura-pura tidur.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur wanita itu membuka mata dan langsung duduk bersimpuh.
"ku mohon lepaskan aku" Pinta wanita itu dengan mata nanar.
"Aku tidak menerima uang apapun, dan..."
Ucapan Maira terputus, matanya memperhatikan keseluruh ruangan dan tak terlihat minuman keras ataupun alat kontrasepsi di sana. Matanya lalu kembali menatap pria di hadapannya yang kini tengah membuka kemeja miliknya.
"Aku belum pernah melakukannya" Teriak wanita itu sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
Pria dengan bola mata biru yang memiliki tatapan mata tajam terlihat hanya diam, namun beberapa saat berlalu dapat terdengar suara tawa kecil dari balik sana. Pria itu berbalik dan berjalan mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada Maira.
"Minumlah, aku juga tidak berniat tidur dengan wanita mabuk" ujarnya sambil duduk di samping Maira.
Maira yang ragu, meraih gelas dengan gemetaran lalu meneguk air putih yang ada di gelas dengan sekali teguk hingga membuatnya terbatuk.
"Pelan, pelan..." ujar Pria itu sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya.
"Lalu kenapa kau membawaku ke sini? dan kenapa membuka kemejamu?" Maira meraih sapu tangan yang di berikan pria itu dengan kasar, lalu menatap tubuh telanjang pria di hadapannya.
"Pemilik hotel ini adalah pria yang memukulmu tadi, jika dia tidak melihat aku membawamu ke sini malam ini, dia pasti akan mengejarmu besok, pria itu cukup perhitungan soal uang"
"Aku tidak menerima uang darinya"
"Ya, ya, tentu saja, sepertinya wanita yang kau sebut temanlah yang menjualmu padanya"
Maira terdiam mendengar penjelasan pria di hadapannya, ia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Air mata menetes di pelupuk matanya, rasa kesal dan juga marah bercampur dengan kesedihan karena Pengkhianatan yang tidak pernah ia duga dari seseorang yang sudah ia anggap sebagai teman dekat itu.
"Aku..." Suara Maira terasa tercekat, air yang tadi masuk ke dalam mulutnya seolah menghilang begitu saja.
"Aku....huaaa....huaaa....." Tangis Maira semakin kencang dan tak dapat terbendung lagi, ia benar-benar mengutuk gadis berambut brunette itu karena melakukan hal seperti ini padanya, bahkan ia sangat takut untuk pulang ke rumah esok hari.
"Aku tidak bisa pulang... barang-barangku.....hiks.....gadis itu.....dia teman.....kami sekamar.....bagaimana aku pulang.....hiks....." tangis Maira membuat pria di hadapannya kebingungan dengan ucapan Maira yang sepotong-sepotong itu.
"Berhenti menangis, aku tidak mengerti dengan ucapanmu"
Namun bukannya mendengarkan tangis Maira malah semakin kencang membuat pria di hadapannya berdecak kesal, lalu menarik bahu Maira menghadap kearahnya.
"Jika kau masih menangis aku akan menciummu"
Maira langsung mengatup kedua mulutnya rapat-rapat dengan tangan meskipun air mata tetap mengalir di pipinya. Terlihat pria itu menyeringai kecil merasa lucu dengan sikap wanita di hadapannya .
"Tidurlah sekarang dan pikirkan lagi besok soal itu" perintah pria itu membuat Maira buru-buru berbaring di kasur dan menutup dirinya dengan selimut.
"Hah.." pria itu terlihat tak dapat berkata apa-apa melihat Maira yang langsung menuruti ucapannya begitu saja. Namun, di lain sisi ia merasa gemas akan setiap hal yang di lakukan oleh wanita itu entah kenapa ada perasaan menggelitik di hatinya setiap kali ia melihat wajah wanita yang kini sudah membenamkan dirinya ke dalam selimut dan aroma permen s**u strawberry tercium jelas dari wanita itu mengingatkan pria itu pada gadis kecil yang dulu menghibur dirinya.
Sebuah pergerakan terasa dari samping Maira membuat wanita itu buru-buru menurunkan selimutnya, ia melirik ke samping dan mendapati pria itu berbaring di sebelahnya. Matanya melotot tajam menarik seluruh selimut kearahnya dengan kasar.
"Kenapa kau ikut berbaring di sini?" tanyanya sambil bergeser ke sudut kasur menatap awas ke arah pria di sebelahnya bak seekor kucing yang tengah siaga.
"Hanya ada satu kasur disini"
Maira tak menjawab namun ia menatap ke sekeliling dan memang benar ada satu kasur di kamar itu. Ia kemudian semakin bergeser agar memberikan jarak antara dirinya dengan pria itu. Senyum kecil terlihat di wajah pria itu, ia mengabaikan tingkah Maira dan menutup matanya dengan lenganya berusaha menutup suara jantungnya yang sejak tadi bergemuruh.