Enam bulan sudah Dee dan kawan-kawan mengarungi kehidupan awal kampus yang melelahkan. Ditemani tugas kuliah yang menumpuk berat di pundak mahasiswa serta menyaksikan sengit nya persaingan memperebutkan perhatian para Dosen dengan maneuver-manuver cerdas pada saat dikelas.
Mahasiswa yang paling terkesan ambisius akan pundi-pundi nilai akademik adalah dua mahasiswa bernama Rocky dan Christy. Mereka selalu memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk menjajalkan isi otak mereka dan memamerkannya kepada mahasiswa lain. Hal tersebut tidak begitu menarik perhatian teman sekelas mereka yang lain, karena ketika kalian berkesempatan belajar di Lucian Art Academy, kalian merupakan gen terbaik diantara manusia yang hidup di negeri ini, terutama dalam bidang seni musik dan sastra.
Suasana kelas musik pagi ini sangat riuh. 15 menit berlalu, tapi dosen yang ditunggu tak kunjung datang. Tidak ada sosok orang tua yang biasanya mengajar mata kuliah, atau sekedar memberi pengumuman mengenai nilai ujian, liburan atau even yang akan diadakan oleh kampus. Saat ini di depan kelas hanya terlihat dua buah piano yang diletakkan berhadapan. Menunggu dosen yang telah digaji puluhan juta untuk mengajar Dee dan kawan-kawan tentang simfoni Mozart atau sekedar tangga nada.
Suhu udara membekukan urat nadi akibat AC yang disetel terlalu dingin. Glory yang berdiri di depan kelas pada saat itu, dengan mengenakan atasan berwarna biru dan rambut diikat kebelakang, memperparah kegaduhan dengan lantunan seriosa-nya yang membuat telinga berdarah. Di deretan paling atas tempat duduk mahasiswa yang berbentuk seperti stadium, terdapat gerombolan mahasiswa pencinta korea yang sementara mengelu-elukan artis favorit mereka.
Dee sendiri sedang menyanyikan lagu-lagu pop-rock dengan diiringi alunan gitar yang agak sumbang dari Dedi, diikuti ritme yang tidak beraturan hasil tabuhan kursi dan meja oleh drummer amatiran bernama Rocky. Christy yang memiliki tingkat konsentrasi diluar mahasiswa normal, sedang sibuk membaca kata demi kata buku teori musik milik-nya tanpa mempedulikan keadaan disekitar.
“Apakah kalian tahu, kelas ini pernah menjadi saksi bisu kasus bunuh diri dua tahun lalu” tiba-tiba kelas menjadi hening oleh sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh Della. Seketika semua orang menghentikan aktivitas mereka dan mencoba menanggapi se bisa mungkin terkait masalah itu.
“Aku tidak tahu kalau kematiannya terjadi disini” jawab seorang mahasiswa bernama Chain yang memiliki tubuh sedang dengan kupluk hitam yang selalu menempel di kepalanya. Dengan gaya sok penyair professional dia berjalan pelan mengitari Della, “Hahahaha bisa jadi yang mati berikutnya adalah dirimu” Della semakin dibuat merinding, seakan-akan Chain adalah malaikat maut yang menunjuk siapapun untuk dicabut nyawanya.
“Tenang Della, itu sebuah kasus bunuh diri, bukan pembunuhan. Kalau memang ada dalang di balik kematian itu, Dee pasti sudah berhasil memecahkan dan menemukan pelakunya. Apa kalian lupa? kita memiliki seorang detektif terkenal disini” Dedi mencoba meredam ketakutan Della dan juga teman-teman kelas lain yang sedang menderita alergi parah terhadap kata kematian.
Dee memang sering dihubungi oleh kepolisian untuk membantu kasus-kasus yang sangat sulit dipecahkan di kota Alkanzas. Akibat kemampuan analisisnya yang luar biasa, tak jarang Dee menjadi headline di beberapa media masa.
Ia hanya tersenyum menanggapi tepuk tangan dan puji-pujian yang dialamatkan kepadanya, hingga Stevano yang sedari tadi duduk di bangku-nya dengan wajah gelisah bak terdakwa di ruang sidang tiba-tiba berdiri sembari melantunkan sebuah puisi dengan larik mengerikan, “Silahkan kalian berpikir ini kasus bunuh diri, hingga parah pembunuh tertawa kegirangan, ditemani setan mereka berkuasa, di pucuk pimpinan dewan mahasiswa.”
Kalimat terakhir Vano membuat sebagian mahasiswa terperangah, khususnya mereka yang begitu mengidolakan anggota dewan mahasiswa. Para mahasiswi seakan ingin membunuh Vano karena perkataannya yang secara ter surat menuduh Dewan mahasiswa sebagai otak dibalik kematian mahasiswi dua tahun lalu.
“Haha lihatlah orang aneh ini, dia sendiri tidak mengerti apa yang ia katakan” kata Chain.
“Vano mungkin benar” terdengar suara cempreng dari sudut ruangan. Berdirilah Wahyu, sosok lelaki penggoda wanita yang selalu menggantungkan earphone di lehernya. Entah kenapa Ia selalu memasang mimik jijik dan penuh kebencian setiap kali orang-orang membicarakan dewan mahasiswa di hadapannya “Bisa jadi dewan mahasiswa melakukan semua itu. Kalian bisa lihat kekerasan yang mereka lakukan saat orientasi dan pengelolaan dana mahasiswa yang tidak transparan. Mereka bahkan tidak pandai menulis atau memainkan alat musik”.
“Tutup Mulutmu! kau bahkan tidak mempunyai bukti” tanggapan Chain dibarengi makian yang berasal dari para pencinta dewan mahasiswa, salah tiganya adalah Widya, Jeniffer dan Echa, anggota dari dance club yang mengidolakan dewan mahasiswa layaknya kera yang tidak bisa terlepas dari pisang.
“Kali ini aku setuju dengan Chain bro. Bukannya aku membela mereka, tetapi kinerja Dewan mahasiswa yang kau anggap masih kurang, tidak lantas menjadikan mereka pembunuh” sambung Rocky.
Entah ini merupakan kodrat Ilahi atau hanya kebetulan semata, seorang pria penuh pesona melangkah masuk ke dalam ruangan kelas sambil mengikat perlahan rambut ala Crosszero miliknya. Dilepaskannya batang rokok yang masih lumayan panjang dari mulut lalu menatap para junior yang sekarang diam membatu, seakan Rialdi, ketua umum dewan mahasiswa telah menkonversi kelas musik menjadi tempat pemakaman umum.
“Kalian tidak belajar?” sapa Rialdi dengan nada yang menggetarkan kalbu para mahasiswi.
“Tiii .. tiiidak senior” entah sihir apa yang digunakan oleh Rialdi, yang jelas tak satupun mahasiswi yang dapat berbicara dengan normal tatkala menatap matanya yang hitam legam.
Rialdi kini berjalan mengitari sepasang piano yang terletak di depan kelas, dengan ekspressi agak meremehkan ia duduk dan menekan beberapa tuts piano. Wajahnya yang tampan ia palingkan kearah Wahyu yang saat itu sedang berdiri tidak terlalu jauh dari letak piano, “Ku dengar kau tidak menyukai dewan mahasiswa? aku tidak tahu alasan apa yang kau punya, tapi jika kau mengaku lebih hebat dari kami. Silahkan duduk dan kalahkan kami dalam permainan piano”.
Jangankan untuk menolak tantangan yang diberikan Rialdi, menghela napas pun Wahyu tak mampu, seakan ada telapak tangan tak terlihat yang mencekik leher Wahyu.
“Kenapa kau diam? yang lain? apakah beginilah sifat angkatan kalian, munafik!”.
Di tengah hening nya suasana kelas pada saat itu, Dee pun mencoba menampakkan jiwa heroik kesiangan-nya, “Biarkan aku menerima kehormatan itu” ia pun mengatur posisi duduk agar nyaman saat memainkan piano, kemudian dipakainya headband yang semula adalah gelang yang telah diregangkan.
“Bersiaplah untuk dipermalukan Dee” sindir Chain yang sedari tadi ibarat anjing, bahagia karena majikan telah kembali kerumah.
“Rupanya Dee ya, aku tidak tahu kalau kau juga ahli mendentumkan piano” Rialdi mencoba menurunkan semangat Dee dengan sarkasme yang menjadi andalannya.
“Kita lihat saja nanti. Biarkanlah aku yang memulai duluan” ternyata kedua petarung telah terbiasa dengan aturan pada duel piano. Satu dari mereka akan memainkan sebaris nada, setelah itu yang lain akan mencoba meniru nya dengan sebaik mungkin.
Dee tidak mau membuang percuma kesempatan mengawali pertandingan. Dimainkan nya deretan nada pertama pada simfoni No. 5 in C minor karya Beethoven. Sebuah part yang sangat mudah untuk dimainkan apalagi oleh pianis sekelas Rialdi yang dijuluki Pangeran piano. Tujuan si detektif mengumbar kehebatan bermain piano hanya untuk mendapat perhatian Abygail yang hanya sibuk memperbincangkan topik serba korea bersama teman-temannya.
Benar apa yang Dee prediksikan sebelumnya, Rialdi dengan segera memainkan nada yang sama bahkan sebelum Dee menekan tuts terakhirnya. Tepuk tangan bergerumuh dari seluruh penjuru kelas musik pada saat itu. Mahasiswa lain saling memberikan komentar terkait siapa yang diunggulkan pada duel kali ini.
“Ketua memang hebat, jari jemarinya bergerak segesit pianis professional” Glory mencoba memberikan penilaian objektif terkait kehebatan sang ketum dewan mahasiswa.
“Kau benar, tapi keindahan dan kelembuatan permainan piano Dee seperti merasuk ke setiap urat nadi yang mendengar” Della mencoba menambahkan sepenggal kalimat dalam daftar komentar untuk duel piano ini.
“Hanya itu? aku tidak menyangka kau menggunakannya untuk melawanku” Rialdi menampakan ekspresi tersinggung di wajahnya. Ia menganggap Simfoni barusan hanyalah mainan anak kecil.
Rialdi tampaknya tidak ingin memperlakukan Dee dengan lembut. Ia memainkan simfoni No. 25 in G minor karya Mozart. Rialdi berasumsi bahwa Simfoni ini akan terdengar begitu asing di telinga Dee. Teriakan para gadis belia mengiringi dentuman piano yang dimainkan Rialdi. Seperti ter hipnotis aura sempurna milik Rialdi, para wanita mengelu-elukan nama Rialdi tanpa henti.
“Maaf kayaknya tangan kananku pegal” perkataan itu mengawali atraksi Dee yang menghebohkan se-antero kelas. Dengan satu tangan, ia memainkan Simfoni yang dianggap sukar oleh mayoritas penggiat musik. Kini Seluruh mahasiwa berdiri dan meneriakan kata “2014”, tahun kebanggaan angkatan mereka.
Euforia dan ketenaran seperti ini bukanlah hal baru bagi Dee, apalagi setelah gelar detektif muda kini disematkan padanya. Tanpa menghentikan permainannya yang menimbulkan decak kagum, Dee memalingkan wajah ke arah wanita yang menjadi alasan ia melakukan semua ini.
”Aby ini untukmu” ingin rasanya Dee menyampaikan isi hati lewat deretan melodi yang dimainkanya. Tetapi Aby dengan sikap cuek khas miliknya, hanya terpaku memandang buku catatan, yang entah Aby menulis segelintir baris mengenai kemampuan Dee bermain piano ataukah Aby mencoba menduplikasi aksinya bermain piano dalam gambar yang mengagumkan? untunglah imajinasi bodoh Dee tidak menurunkan kualitasnya dalam membabat habis simfoni kebanggaan Mozart tersebut.
Kecemasaan Rialdi kiat menguat tak kala semua orang dikelas mengeluh-eluhkan nama Dee. Seakan baru kali ini mendapat lawan setimpal, Rialdi mengangkat tangan, memberi pesan non-verbal kepada seluruh mahasiswa untuk diam.
“Bolehkah aku memainkan satu simfoni lagi.”
Dee menyetujui permintaan seniornya kali ini. Dengan senyum licik yang menyiratkan berjuta makna negatif, Rialdi menekan nada pertamanya.
Seakan mengetahui isi kepala Rialdi, Aditya yang tadi masuk bersama-sama dengan Rialdi segera mendekat dan berbicara pelan kepadanya “Apa kau yakin akan memainkan nya ?”.
“Iya, kita harus memilih sekarang, sang penjaga sudah cukup lama berpuasa”. Tidak ada satu mahluk pun yang dapat mendengarkan mereka bercakap, suara yang begitu pelan membangkitkan hasrat para mahasiswa untuk mencari tahu topik yang sedang dibicarakan dua ikon kampus ini.
Dee mencoba menerka lagu apa yang dimainkan oleh Rialdy, lagu tersebut sama sekali tidak ada dalam daftar simfoni para maestro ternama. Ia berasumsi bahwa Rialdy mengarang simfoni ini. Dee kemudian mencoba menyalin rangkaian Nada yang dimainkan seniornya itu, tapi entah apa penyebabnya, ia merasakan ketakutan luar biasa memasuki setiap jengkal tubuhnya.
Lantunan nada yang dimainkan Rialdi ibarat tangisan seorang wanita yang disembelih secara perlahan. Begitu menyayat hati dan membuat bulu kuduk berdiri. Terlihat semua orang pada saat itu merasakan hal yang sama, ada yang diam dengan mata melotot, ada pula yang tanpa sebab yang jelas menangis tersedu-sedu. Semua reaksi yang terlihat, tidak sebanding dengan yang dialami oleh Della, tubuhnya bergetar sembari berteriak menahan sakit.
Saking fokusnya dengan simfoni j*****m milik Rialdy, para mahasiswa tidak menyadari kehadiran Surya di sudut ruangan dengan potongan rambut mohawk yang membuat dirinya terlihat begitu maskulin. Surya melangkah dengan perlahan ke arah Rialdy sembari membuka kaleng minuman bersoda yang dari tadi berada dalam genggaman-nya.
Berbeda dengan kebiasaan orang pada umumnya, yang segera meneguk minuman ketika penutup kaleng terlepas, Surya malah menumpahkan isi minuman ke salah satu peserta duel piano saat itu.
“s**t! Apa yang kau lakukan?” Rialdy melepaskan jemarinya dari toots piano lalu menatap Surya dengan penuh amarah. Mata mereka seakan saling menembakkan sengatan bertegangan tinggi. Tanpa disadari oleh orang disekitar, pertempuran sengit telah bergemuruh dalam tatapan benci mereka berdua.
“Maaf! kau mengganggu kelasku ketua yang terhormat, aku akan menggantikan dosen musik yang berhalangan hadir siang ini, dan yang barusan adalah caraku menghentikan sumber keributan ini” Surya menatap ke arah tempat duduk mahasiswa baru, berharap mereka mengerti alasan kehadirannya di kelas itu.
“hahaha aku hanya sedikit memberi demonstrasi tentang bagaimana cara bermain piano. Mungkin ini cara yang baik untuk lebih dekat dengan para junior, dan mengapa kau begitu sensitif? Jangan terlalu protektif lah terhadap mereka!” Rialdy seakan menempatkan Surya dibawah telapak kakinya. Tanpa mempedulikan fisik Surya yang jangkung, Rialdy mencoba mengintimidasi Surya dengan nada suaranya yang meremehkan.
Dee memperhatikan kembali pujaan hatinya di deretan bangku paling belakang, berharap Dee akan menemukan ekspresi yang berbeda dari wajah Aby akibat konflik kecil yang mendera kakaknya itu. Tetapi raut cuek barangkali telah ditentukan Tuhan sejak Aby masih Berada didalam kandungan, ia sama sekali tidak mempedulikan apa yang sekarang menjadi pusat tontonan para mahasiswa di kelasnya.
“Kau tak akan bisa melindungi mereka Surya, seperti kau yang tidak bisa menjaga Sonya dengan baik, dasar lemah!” pernyataan frontal Rialdy tersebut sontak menimbulkan kemarahan dalam diri Surya.
Semua mahasiswa melihat Surya mengepalkan kedua telapak tangannya, sambil mendengus bak banteng yang siap menanduk sang matador “Bisakah kau keluar! aku akan mulai mengajar”
“Baiklah pak guru, akau tidak akan mengganggumu, sebagai ketua Phoenix kau ahlinya. Selamat siang semua dan Dee----” Rialdy menoleh kearah Dee dengan penuh rasa kagum, “nice performance!”.
Bak pembunuh bayaran yang telah sukses menyelesaikan misi, Rialdy melangkah keluar dari kelas bersama Aditya dengan senyum licik di wajahnya.
“Apakah kalian akan diam saja melihat teman kalian pingsan seperti itu” Surya menoleh ke arah Della yang terbaring dalam keadaan pingsan. Wanita itu sebelumnya telah mengerang kesakitan saat duel piano berlangsung. Dengan sigap siaga, layaknya pangeran yang melindungi sang putri, Dedi menunjukan tanggung jawabnya sebagai seorang kekasih. Diantarnya Della menuju UKS untuk beristirahat.
“Baiklah siang ini kita akan belajar bagaimana menciptakan lirik lagu yang luar biasa” itulah kalimat perdana Surya yang ia sematkan kepada para mahasiswa, sebagai penanda bahwa sekarang mereka telah masuk dalam kondisi amat serius dan dibenci kebaanyakan pemuda, Belajar.
* * *
“Apa kau baik-baik saja sayang?” Tanya Dedi sesaat setelah Della siuman.
“Aku tidak mengerti apa yang terjadi kepadaku” Della menampilkan raut wajah kebingungan sambil mencoba mengingat kembali drama yang terjadi di dalam kelas beberapa menit yang lalu ”Oh Tidak! Tidak mungkin !” Seketika Della tersentak dan keringat dingin mengalir membasahi wajahnya yang pucat. Rupanya ia telah berhasil membuka kembali file memori yang terjadi beberapa menit yang lalu. Jika dilihat dari kepanikan yang ia alami saat ini, Dedi mencurigai adanya sesuatu yang buruk menerpa pacarnya.
“Ada apa sayang? kau bisa menceritakannya padaku!”.
“Simfoni itu! Apakah kau mendengarnya?” Della dengan nafas tersengal mencoba mengatakan sesuatu kepada Dedi.
“haha jadi simfoni itu yang membuatmu seperti ini. Lagu itu memang terdengar sangat menakutkan, tapi itu hanyalah sebuah kumpulan note yang tidak bisa menyakiti siapapun” Dedi mencoba menenangkan kekasihnya yang bersikap aneh sejak ia siuman.
“Aku melihat sosok yang begitu menyeramkan mengelilingi kelas, mendengus setiap orang yang dilihatnya. Tanduk dan kulitnya berwarna hitam kelam. Ia mencoba mendekati ku, lalu---” belum sempat menyelesaikan narasinya, Della kembali pingsan, terbaring lemah di kasur UKS.