“Saya bisa membaca pikiran Anda,” kata seorang anak laki-laki yang masih memakai seragam putih sekolahnya. Setelah mengutarakan rahasia yang selama ini dipendamnya, laki-laki itu mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya dengan keras dari mulutnya. Satu kalimat yang dapat membuat sebagian bebannya seakan terangkat. Kelegaan yang membuatnya lupa bahwa mungkin saja orang yang sedang ia ajak bicara tidak percaya dengan ucapannya. Ia tidak peduli dan ketidakpeduliannya terlihat dari tingkahnya yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Dari wajah yang terlihat sangat hampa, kini semua otot pada wajahnya tertarik akibat sebuah tawa.
Di sebuah ruangan berukuran sembilan meter persegi, hanya ada seorang remaja laki-laki yang sedang tertawa pada dirinya sendiri dan seorang laki-laki separuh baya yang diam mengamati orang di hadapannya. Kedua laki-laki itu duduk saling berhadapan dan dibatasi oleh sebuah meja yang penuh dengan tumpukan dokumen. Pekerjaan laki-laki separuh baya itu berkutat dengan sesuatu yang jauh lebih kompleks dari dokumen-dokumen di mejanya. Memberikan arahan pada pasien adalah salah satu tugas seorang psikiater dan menunggu dalam diam juga merupakan salah satu tindakan yang dapat diambil dalam menjalankan tugas tersebut.
“Maafkan saya, Sensei. Sepertinya saya butuh minum terlebih dahulu.”
“Silahkan. Saya masih tetap menunggu di sini untuk Anda, Orikawa-san.”
Setelah pasiennya menunduk untuk mengambil sesuatu di dalam tasnya, pandangan psikiater beralih dari orang di hadapannya menuju selembar kertas yang terhampar di atas meja. Di bawah baris yang menuliskan nama “Orikawa Yuuki” terdapat kata “depresi berat” pada bagian diagnosa. Namun pandangan psikiater tersebut fokus bukan mengarah pada sebuah nama maupun diagnosa yang dituliskannya itu. Fokusnya adalah pada kata demi kata yang telah dicoretnya sehingga kotak bagian pada diagnosa sudah penuh oleh coretan tangan dirinya sendiri sebelum pertemuan ini.
“Anda bisa menanyakan prosedur-prosedur yang bisa dilakukan untuk kasus seperti saya sebelum saya menjawab pertanyaan Anda : bila saya bisa membaca pikiran mengapa saya tetap datang kepada Anda sampai saat ini.”
Psikiater tersebut terdiam saat perkataan yang dipikirkannya beberapa detik lalu telah diucapkan oleh pasiennya dengan kalimat yang sama persis. Hal ini sebenarnya tidak hanya terjadi satu kali. Beberapa momen bersama pasiennya yang satu ini telah membuat seorang psikiater berulang kali ragu dalam memberikan diagnosanya sendiri.
“Tidak ada prosedur bagi orang yang bisa membaca pikiran, Orikawa-san.”
“Anda bisa mengarangnya, bukan? Seperti yang Anda lakukan sejak saya menginjakkan kaki pertama kali di sini. Sebuah prosedur yang telah Anda siapkan untuk setiap kasus depresi remaja yang sama.” Yuuki membuat dua kutip pada keempat jarinya pada saat mengucapkan kata “depresi remaja”.
“Baiklah…” Volume dari psikiater itu melemah, seiring dengan kepercayaan dirinya yang hampir hilang seketika saat pasiennya sendiri sudah tidak percaya padanya. “Silahkan ceritakan ciri-ciri dari hal yang Anda katakan dapat membaca pikiran tersebut.”
Sementara pasiennya berdeham sebagai tanda akan memulai percakapan, psikiater tersebut memegang pena dan bersiap menulis pada selembar kertas kosong di balik kertas yang berisi identitas pasien. Ia tidak berani untuk menyingkat maupun memanipulasi data pasien di hadapannya kembali. Tidak, setelah ia ketahuan telah memanipulasi data dan tentunya setelah ia tahu bahwa pasiennya bisa mendengarkan pikirannya.
“Mendengarkan pikiran orang di sekitar sama saja seperti mendengar orang tersebut berbicara. Namun suara dalam pikiran biasanya mempunyai frekuensi yang berbeda dengan suara yang dikeluarkannya. Saat ini Anda sedang mengecek perbedaannya dan suara pikiran Anda pun mempunyai frekuensi yang lebih rendah daripada yang Anda keluarkan. Betul, bukan?”
Bila berhadapan dengan orang normal, tentunya psikiater tersebut tidak perlu memberitahukan orang lain saat dirinya sedang mencoba berbicara dalam hati sebagai respon dari kalimat yang diterimanya. Tapi psikiater tersebut mengangguk. Mengiyakan pertanyaan retoris yang dikeluarkan pasiennya.
Melihat respon yang sudah sesuai dengan ekspektasinya, Orikawa Yuuki memulai cerita panjangnya. Ia menjabarkan masalah yang ia temui sejak masih balita hingga saat ini, setelah ia berpindah dari Tokyo ke Tsuruoka. Ia menjelaskan kembali kepada psikiaternya mengenai semua gejala yang ia alami hingga pingsan dan tak sadarkan diri. Pengulangan yang dilakukan hanya untuk memberikan penekanan dari persepsi yang berbeda saat psikiaternya tidak mengetahui tentang rahasianya yang dapat membaca pikiran orang lain.
“Dan saya hanya ingin Anda memberitahukan hal ini kepada media massa saat saya sudah tidak berada di sini. Saya ingin semua orang mengetahui apa yang telah saya alami. Bukankah hal tersebut juga yang diinginkan oleh anak anda yang telah tiada, bahwa mereka hanya ingin keinginan mereka didengar oleh orang-orang disekitarnya?”
Mendengar nama dari seseorang yang sudah meninggal dan mempunyai hubungan yang sangat dekat pastilah tidak menyenangkan. Psikiater tersebut berusaha menahan emosi dan pemikirannya sendiri di hadapan seorang anak laki-laki berumur tujuh belas tahun. Ia berusaha tidak memikirkan hal-hal buruk terhadap pasiennya itu.
“Baiklah… saya memercayai Anda bahwa Anda bisa mendengarkan pikiran saya,” kata si psikiater sambil mengepalkan tangan kanan kirinya. “Saya akan melakukannya… lalu apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Orikawa-san?”
Sebuah senyuman terukir di wajah seorang pasien laki-laki yang didiagnosa mengidap depresi berat, yang bernama Orikawa Yuuki.
*****
[Beberapa bulan sebelumnya]
“Beep beep beep…”
Suara alarm dari handphone terdengar dari samping ranjang Yuuki. Tangan Yuuki menggapai handphone di atas nakas sambil mendesah dengan kesal, mematikan alarm di handphone nya, kemudian memejamkan mata sekali lagi dalam beberapa detik sebelum ia beranjak dari tidurnya.
Setelah siap untuk membuka mata, Yuuki menegakkan badannya hingga berada dalam posisi duduk di atas kasur dan bersandar pada sandaran dipan. Mendapati dirinya tidak dapat tertidur dari kemarin malam bukan hanya membuatnya kesal dengan kondisinya saat ini, tapi ia juga khawatir dengan apa yang akan dilaluinya pada hari ini. Bila ia menerima terlalu banyak informasi baru di saat kondisinya tidak fit, entah apakah badannya bisa bertahan atau tidak.
Walaupun sudah tahu kondisi badannya tidak baik bila kurang tidur, Yuuki tetap tidak dapat menghentikan pikirannya yang berkeliaran sepanjang malam. Begitu ia mencoba menutup matanya untuk tidur, bayangan masa lalu yang kelam terlintas dalam benaknya. Bayangan masa depan pun membanjiri pikirannya sebagai akibat dari pengalaman di masa lalu. Tidak ada pengalaman yang baik saat ia bertemu dengan orang-orang baru. Apalagi orang-orang baru harus ia hadapi hari ini bukanlah orang-orang yang akan menghilang setelah beberapa saat bertemu.
Perjuangan dari talenta membaca pikiran yang diberikan padanya sejak lahir dimulai saat Yuuki melangkahkan kaki keluar dari kamar. Entah sedang berdoa ataupun mengigau, begitu keluar dari kamar Yuuki langsung mendengar suara dengan kecepatan tinggi hingga lebih terdengar sebagai mantera dibandingkan menjadi sebuah kalimat utuh. Di antara kalimat demi kalimat yang tidak jelas, Yuuki selalu mendengarkan namanya disebut. Hal ini sudah menjadi ritual pagi harinya sehingga ia tidak pernah mencoba mendengarkan suara itu lebih lanjut. Bahkan suara itu kini digunakan oleh Yuuki sebagai tanda bahwa ayahnya, Orikawa Ginji, sedang baik-baik saja di dalam kamar.
Ruangan yang menjadi tempat tinggal Yuuki dan ayahnya hanyalah sebuah ruangan makan dan dapur yang dipartisi dengan lemari besar di antaranya, dua buah kamar tidur yang saling berseberangan serta satu kamar mandi yang berada di samping dapur. Yuuki melangkahkan kakinya beberapa langkah saja dan ia sudah berada di depan kulkas yang terletak di dapur. Tidak ada seseorang yang dapat menyajikan masakan segar untuk sarapan adalah hal yang wajar bila dua orang laki-laki tinggal bersama. Yuuki mengeluarkan makanan sisa kemarin dan mencampurkan semuanya menjadi satu di atas sebuah wajan penggorengan. Selain memasak nasi dan mie instan, penghuni rumah di ruangan itu hanya bisa memasak nasi goreng.
Dari balik dinding yang tidak tebal, saat itu juga Yuuki mendengar suara yang tidak kunjung berhenti. Sepertinya ada dua orang yang saling berbicara atau mungkin juga hanya salah satu yang berbicara dan yang lain menanggapi dalam pikirannya. Yuuki dan ayahnya baru saja pindah ke Kota Tsuruoka sehingga belum mengenal semua tetangga yang berada di satu rumah susun yang sama. Yuuki belum mengetahui apakah suara yang didengar Yuuki adalah suara yang biasa dikeluarkan oleh tetangganya ataukah suara pikiran mereka.
“Ah, Yuuki. Kamu sudah bangun.”
“Ya, Otou-san.”
Yuuki tidak membalikkan badannya dan masih fokus terhadap masakan yang sedang ia buat. Dan Yuuki memang tidak perlu membalikkan badan untuk mengetahui reaksi ayahnya, karena suara pikiran Ginji terdengar semakin lama semakin keras yang menandakan seseorang sedang mendekatinya.
“Hah… andai saja Saeko berada di sini, kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini, Yuu-chan. Hari ini hari pertama mu masuk kelas. Apakah ada murid lain yang mau berteman denganmu? Apakah kamu akan baik-baik saja? Ah… Aku memang bukan ayah yang baik. Seandainya saja aku bisa memberikanmu sekolah privat di rumah….”
“Pastikan garamnya tidak terlalu banyak, ya. Hahaha." Tawa Ginji di akhir kalimat yang diucapkan telah memenuhi ruang dapur.
Yuuki membalas tawa ayahnya dengan senyuman getir. Ginji terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tidak pernah sadar bahwa Yuuki selalu berusaha memperlihatkan senyum di bibirnya saja namun tidak di matanya. Mata Yuuki tidak bisa berbohong bahwa ia sedang mengasihani kondisi ayahnya dan dirinya sendiri. Setiap kali berbicara, Yuuki hampir tidak bisa memandang lurus ke dalam mata ayahnya. Mendengarkan pikiran ayahnya saja sudah membuat Yuuki kesakitan, apalagi harus melihat pandangan ayahnya yang menyedihkan di matanya.
Betapa ekstrimnya sikap Ginji yang terlihat ceria di permukaan namun sangat rapuh di dalam. Ucapan dan tawa yang begitu hangat dan bersemangat hanyalah suara palsu yang tengah menutupi suara hati yang selalu menyalahkan dirinya sendiri. Setiap Yuuki mendengar suara pikiran ayahnya, selalu ada salah satu dari tiga nama yang disebut yaitu dirinya sendiri, ibu tirinya, Saeko dan adik tirinya, Chihiro. Semua hal kecil yang dilihat oleh Ginji akan disangkutpautkan dengan pengandai-andaian dan berbagai penyesalan akan masa lalu di saat mereka berempat tinggal bersama.
Wajah kedua ayah dan anak yang sedang melangsungkan sarapan bersama terlihat sangat biasa dari permukaan. Terkadang seulas senyuman terlihat dari wajah sang Ayah saat melihat anaknya yang memperhatikan kebutuhan ayahnya seperti menuangkan air mineral ke dalam gelas ataupun memberikan tisu saat air minumnya tumpah. Namun keduanya mempunyai kekhawatiran yang sangat besar satu sama lain. Dan kekhawatiran dari pikiran ayahnya membuat Yuuki semakin tidak ingin pergi ke sekolah.