Langit Singapura sore itu tampak begitu cerah. Awan putih menggantung tipis, sementara suara gemuruh mesin jet tempur sesekali mengguncang udara di sekitar Changi Exhibition Centre. Ribuan orang memenuhi area pameran dirgantara terbesar di Asia itu. Ada keluarga, pelajar, fotografer, hingga para penggemar dunia penerbangan yang datang dari berbagai negara.
Di antara keramaian itu, seorang perempuan berambut hitam panjang berjalan perlahan sambil menggenggam kamera di tangannya.
Jessica Aurellia Pratama.
Perempuan asal Indonesia itu tersenyum kecil saat melihat sebuah jet tempur melintas begitu rendah di atas kepalanya.
“Indah sekali…” gumamnya pelan.
Sejak kecil, Jessica memang menyukai langit. Bukan karena ia bercita-cita menjadi pilot, melainkan karena ayahnya dulu sering mengajaknya duduk di halaman rumah hanya untuk melihat pesawat yang melintas.
“Ayah selalu bilang, setiap pesawat membawa seseorang pulang kepada orang yang menunggu.”
Kalimat itu masih melekat dalam ingatannya, meski sang ayah telah lama meninggal.
Jessica mengangkat kameranya ketika empat jet tempur melesat membentuk formasi berlian. Asap putih membelah langit biru, menciptakan pemandangan yang membuat semua pengunjung bertepuk tangan.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa hasil foto berhasil ia abadikan.
Tanpa sadar, senyumnya mengembang.
“Maaf.”
Suara seorang pria membuat Jessica tersentak.
Saat ia menoleh, bahunya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga kamera yang digenggamnya hampir terjatuh.
“Oh!”
Sebelum kamera itu menyentuh tanah, sebuah tangan lebih dulu menangkapnya.
Jessica membelalak.
“Untung tidak jatuh.”
Suara pria itu terdengar tenang.
Jessica mengangkat kepalanya.
Untuk sesaat, waktu seakan berhenti.
Pria di hadapannya mengenakan flight suit berwarna biru tua dengan emblem Republic of Singapore Air Force di lengan kirinya. Tubuhnya tinggi, bahunya tegap, sementara senyum tipis di wajahnya menghadirkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan.
Matanya yang cokelat gelap menatap Jessica dengan lembut.
“Ini kameramu.”
Jessica segera menerima kameranya kembali.
“Terima kasih… Maaf, aku tidak melihat jalan.”
“Tidak apa-apa.”
Pria itu tersenyum.
“Kalau kameranya rusak, sayang sekali. Sepertinya kamu sedang serius memotret.”
Jessica tertawa kecil.
“Iya. Aku memang suka fotografi.”
“Fotografer profesional?”
Jessica menggeleng.
“Hanya hobi.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Bagus. Foto-foto dari airshow biasanya memang luar biasa.”
Jessica baru menyadari name tag yang terpasang di d**a pria itu.
Captain Ethan Lim
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
“Kamu… pilot?”
Ethan tersenyum.
“Ya.”
“Sungguh?”
“Iya.”
Jessica spontan tertawa kecil.
“Maaf. Aku hanya tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan pilot tempur.”
“Banyak orang berpikir kami terlihat menyeramkan.”
Jessica menggeleng cepat.
“Tidak sama sekali.”
Justru sebaliknya.
Pria itu terlihat begitu ramah.
Tanpa sadar, Jessica mulai merasa nyaman berbicara dengannya.
“Apa ini pertama kalinya kamu datang ke Singapore Airshow?” tanya Ethan.
“Iya.”
“Bagaimana menurutmu?”
Jessica memandang langit yang kembali dipenuhi suara jet.
“Luar biasa.”
Ia tersenyum.
“Aku baru sadar kalau langit ternyata bisa membuat seseorang merasa sangat kecil.”
Ethan mengikuti arah pandangnya.
“Langit memang selalu lebih besar dari rasa takut manusia.”
Jessica menoleh.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terasa begitu dalam.
“Kamu sering berkata seperti itu?”
Ethan tertawa pelan.
“Tidak juga.”
“Hanya kebetulan.”
Mereka sama-sama tertawa.
Untuk beberapa menit berikutnya, percakapan mereka mengalir begitu saja.
Jessica bercerita bahwa ia bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta dan datang ke Singapura untuk berlibur sekaligus menghadiri pameran tersebut.
Sementara Ethan bercerita secukupnya tentang pekerjaannya sebagai pilot tempur RSAF.
Ia tidak banyak membahas pekerjaannya.
Sebagian besar jawabannya singkat.
“Rahasia negara?” goda Jessica.
Ethan tersenyum tipis.
“Kurang lebih begitu.”
Jessica mengangguk mengerti.
“Tidak apa-apa. Aku juga tidak akan memaksa.”
Sesaat kemudian, suara pengeras terdengar.
“All RSAF flight crew, please report to the preparation area.”
Ethan melihat jam tangannya.
“Aku harus pergi.”
Jessica mengangguk pelan.
“Oh… baik.”
Entah mengapa, ada sedikit rasa kecewa yang muncul di dalam hatinya.
Padahal mereka baru saling mengenal sekitar dua puluh menit.
Namun, rasanya seperti berbicara dengan teman lama.
Ethan mengeluarkan sebuah kartu kecil dari saku flight suit-nya.
“Ini.”
Jessica menerimanya.
Sebuah kartu nama sederhana.
Captain Ethan Lim
Republic of Singapore Air Force
“Kalau suatu hari nanti kamu kembali ke Singapura, kabari aku.”
Jessica tersenyum.
“Baik.”
Ethan melangkah pergi.
Namun, sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti dan menoleh sekali lagi.
“Oh ya.”
Jessica mengangkat wajahnya.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena sudah mengabadikan langit hari ini.”
Setelah mengatakan itu, Ethan berjalan meninggalkan Jessica menuju hanggar.
Jessica masih berdiri mematung.
Tatapannya mengikuti sosok pria itu hingga menghilang di balik kerumunan personel militer.
Beberapa menit kemudian, suara mesin jet kembali menggema.
Jessica mendongak.
Sebuah jet tempur melaju cepat di landasan sebelum akhirnya terbang menembus langit biru.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak.
Ia bahkan tidak tahu jet itu diterbangkan oleh Ethan atau bukan.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berdoa untuk seseorang yang baru dikenalnya.
“Semoga kamu selalu kembali dengan selamat.”
Jessica belum menyadari bahwa pertemuan singkat di bawah langit Singapura itu akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
Dan sejak hari itu, setiap kali mendengar suara pesawat yang membelah langit, hatinya hanya mengingat satu nama.
Ethan Lim.