Langit Singapura malam itu begitu tenang.
Tidak ada badai.
Tidak ada hujan.
Namun di dalam hati Claire Wong, kekacauan yang selama ini ia pendam akhirnya berubah menjadi keputusan yang tidak mungkin bisa ia tarik kembali.
Di atas meja apartemennya masih tergeletak amplop cokelat bertuliskan:
CONFIDENTIAL – FLIGHT INCIDENT REPORT
Claire menatap amplop itu cukup lama.
Tangannya bergetar ketika perlahan membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen rahasia, foto bangkai pesawat Ethan, rekaman komunikasi terakhir, serta satu laporan investigasi yang tidak pernah dipublikasikan kepada media.
Tatapannya berhenti pada satu kalimat.
“There is evidence indicating external electronic interference prior to loss of communication.”
(Bukti menunjukkan adanya gangguan elektronik eksternal sebelum komunikasi terputus.)
Claire menutup matanya.
“Aku tidak bisa menyimpannya lebih lama…”
Keesokan paginya…
Ethan akhirnya mendapatkan izin untuk kembali menerbangkan pesawat tempur dalam sesi evaluasi.
Seluruh anggota skuadron menyambutnya dengan tepuk tangan.
“Welcome back, Captain!”
Ryan tersenyum lebar.
“Jangan bikin kami panik lagi.”
Ethan tertawa kecil.
“Aku akan berusaha.”
Di luar hanggar, Jessica memperhatikan dari kejauhan.
Melihat Ethan kembali mengenakan flight suit membuat hatinya dipenuhi rasa bangga.
Namun bersamaan dengan itu…
Ketakutan lama kembali muncul.
Bagaimana jika suatu hari nanti langit kembali mengambil Ethan darinya?
Setelah latihan selesai, Ethan menghampiri Jessica.
“Bagaimana?”
Jessica tersenyum.
“Kamu kelihatan bahagia.”
“Aku memang bahagia.”
Ethan menggenggam tangan Jessica.
“Karena kamu ada di sini.”
Belum sempat Jessica menjawab, suara seseorang memanggil mereka.
“Ethan.”
Mereka menoleh.
Claire berdiri tidak jauh dari sana.
Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.
Ia memegang amplop cokelat itu dengan erat.
“Aku perlu bicara denganmu.”
Ethan menghela napas pelan.
“Kalau tentang kita…”
“Bukan.”
Claire memotong ucapannya.
“Ini tentang kecelakaanmu.”
Kalimat itu langsung membuat Ethan dan Jessica saling berpandangan.
Mereka bertiga akhirnya duduk di sebuah ruang rapat kecil yang kosong.
Claire meletakkan amplop di atas meja.
“Aku bekerja di bagian administrasi investigasi selama dua minggu setelah kecelakaanmu.”
Jessica mengernyit.
“Kamu tidak pernah bilang.”
Claire tersenyum hambar.
“Karena aku menandatangani perjanjian kerahasiaan.”
Ethan membuka amplop itu.
Matanya langsung membesar.
“Laporan investigasi?”
Claire mengangguk.
“Versi lengkap.”
Ethan membaca beberapa halaman dengan cepat.
Semakin lama wajahnya semakin serius.
“Ini…”
Jessica memandang Ethan.
“Ada apa?”
Ethan perlahan mengangkat kepalanya.
“Pesawatku mungkin tidak jatuh karena kerusakan mesin.”
Ruangan mendadak sunyi.
Claire menarik napas panjang.
“Tim investigasi menemukan adanya gangguan sinyal beberapa detik sebelum semua sistem mati.”
Jessica memucat.
“Artinya…”
“Seseorang mungkin sengaja melakukannya.”
Beberapa saat tidak ada seorang pun yang berbicara.
Ethan kembali membaca laporan itu.
Di halaman terakhir terdapat satu bagian yang sengaja dihitamkan.
Nama seseorang disensor.
Nama sebuah organisasi juga dihapus.
“Kenapa bagian ini ditutup?”
Claire menggigit bibir.
“Itulah alasan aku datang.”
“Karena seseorang memintaku menghancurkan laporan ini.”
Jessica langsung menatap Claire.
“Siapa?”
Claire menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Perintahnya datang dari atasan.”
“Tapi…”
Ia mengeluarkan flash drive kecil dari dalam tasnya.
“Aku menyimpan salinannya.”
Ethan memandang flash drive itu.
“Kamu melanggar aturan militer.”
Claire tertawa pahit.
“Aku tahu.”
“Aku bisa dipenjara kalau ketahuan.”
Jessica tidak mengerti.
“Kalau begitu kenapa kamu melakukannya?”
Claire menatap Ethan.
Karena…
“…aku tidak sanggup melihat orang yang kucintai mati akibat kebohongan.”
Suasana kembali hening.
Kali ini tidak ada kecemburuan.
Tidak ada pertengkaran.
Hanya ada seorang perempuan yang akhirnya memilih melakukan hal benar meskipun harus mengorbankan kariernya.
Malam itu, Ethan membawa flash drive tersebut ke rumah.
Jessica duduk di sampingnya ketika mereka membuka isi fail menggunakan komputer riba.
Puluhan dokumen muncul.
Rekaman radar.
Percakapan menara kawalan.
Foto satelit.
Lalu…
Satu video.
Video itu memperlihatkan rekaman kamera keamanan pangkalan beberapa jam sebelum Ethan berangkat menjalankan misi.
Jessica memperhatikan layar dengan serius.
Seorang pria berpakaian teknisi terlihat memasuki area pesawat Ethan.
“Siapa dia?”
Ethan menggeleng.
“Aku tidak pernah melihatnya.”
Video kemudian berhenti secara tiba-tiba.
Seseorang sengaja menghapus bagian akhirnya.
Namun sebelum layar menjadi hitam…
Terlihat jelas pria itu menoleh ke arah kamera.
Di dadanya terdapat sebuah pin berbentuk elang berwarna perak.
Ethan membeku.
Pin itu…
Ia pernah melihat lambang itu sebelumnya.
“Tidak mungkin…”
Jessica menoleh.
“Kamu kenal?”
Ethan mengangguk pelan.
“Itu lambang unit operasi rahasia.”
“Tapi unit itu sudah dibubarkan bertahun-tahun lalu.”
Saat itulah ponsel Ethan bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
“Halo?”
Tidak ada suara.
Hanya napas seseorang.
Beberapa detik kemudian, suara pria yang dibuat serak terdengar pelan.
“Captain Ethan Lim…”
“Kalau kamu masih ingin Jessica tetap hidup…”
”…berhentilah mencari tahu penyebab kecelakaan itu.”
Sambungan langsung terputus.
Jessica memegang tangan Ethan yang mulai gemetar.
Mereka saling memandang.
Kini mereka sadar…
Kecelakaan Ethan bukanlah sebuah musibah biasa.
Seseorang benar-benar telah mencoba membunuhnya.
Dan sekarang…
Orang itu mengetahui bahwa mereka mulai menemukan kebenaran.