Kalian penasaran klan vampire di negara mana? Telan saja, karena kami berada di dimensi yang tidak akan kalian temukan.
Aku membopong Taniaku seperti sepasang pengantin baru. Sayangnya ia memilih peran sleeping beauty.
Baru juga aku hendak memanggil mereka, Ayah dan Ibuku sudah berdiri di depan pintu. Ah, penciuman vampire memang tidak diragukan.
“Ayah, Ibu, kabar baik?” Tanyaku.
“Kabar baik son. Tania tertidur?”
Aku mengangguk lalu mengikuti langkah kaki ibuku menuju ke kamar tamu. Saat menurunkan istriku di ranjang, aku menangkap percakapan dari luar.
“Ini milik Luna Tania, Madam.”
Nampaknya sopirku menyusulkan sisa camilan yang kami bawa.
“Ya, kau ikut mampir Antonio?”
“Tidak, terimakasih Madam. Aku akan kembali ke kastil sekarang. Hormat saya Sir, Madam,” pamit Antonio cepat.
Aku keluar kamar, menutup pintu tanpa menimbulkan suara.
“Kau ingin minum?” Jangan berfikir Ayahku menawarkan alkohol. Beliau sangat menjaga staminanya dengan hanya mengkonsumsi darah hewan segar.
“Tidak Yah. Tidak menolak!” Jawabku yang mendapat jitakan dari Ibu. Ayahku hanya tersenyum simpul tanpa menanggapi.
Tanpa diminta, beberapa maid mendekat menyediakan hidangan di meja makan.
“Tris, apa hubunganmu dengan Tania benar-benar baik saja? Apa kalian belum merencanakan untuk mengikuti program hamil lagi?”
Akhirnya pertanyaan ini muncul lagi. Sebenarnya aku tahu, orangtuaku sudah lama ingin menanyakan hal ini. Hanya saja mereka menahan sebisa mungkin untuk menjaga perasaan putranya.
Aku menggeleng.
Nampak raut sedih menaungi wajah orangtuaku.
Aku tersenyum ceria, “Ayah, Ibu, aku dan Tania tidak akan ikut program seperti itu lagi. Tania sudah hamil.”
Ayah menghentikan laju sendok yang akan masuk ke mulutnya. Ibu sendiri menatapku dengan mata melotot seolah tidak percaya.
“Beb.. Benarkah?”
Bahkan ibuku sampai terbata-bata!
“Ini sulit dipercaya son, namun memang ini yang ingin kami dengar.”
Wajah Ayahku nampak konyol, baru pertama ini aku melihat binar bahagia di matanya, namun tidak ada senyum yang tersungging di bibirnya.
“Yeay! Wuuh huuuu!! Kita akan menjadi kakek dan nenek Sam!”
Aku tertawa melihat ibuku yang bangkit dari kursi seraya mengepalkan satu tangannya ke atas dan satu di depan d**a. Persis ekspresi seseorang yang berhasil mendapat kejuaraan.
“Kita akan menjadi pasangan kakek nenek yang hebat Sammy!” Ayahku akhirnya tersenyum. Beliau tak kalah bahagianya dengan ibu.
“Apa kita perlu membuat pesta besar untuk ini? Biar bibi-bibi dan paman mu tahu! Selama ini aku cukup sabar menahan diri untuk tidak merobek mulut besar mereka!”
Ibuku duduk kembali. Kami melanjutkan makan.
Dahulu, beberapa kali juga aku terlibat pertengkaran dengan saudara ayah dan ibuku. Namun, sudahlah menenang masalalu yang pahit hanya menimbulkan dendam. Aku
Aku ingin fokus untuk anakku, enggan untuk mencari pembenaran dalam perdebatan.
Aku menggeleng, “aku rasa, Tania tidak akan suka bu. Aku harap Ayah dan Ibu lupakan saja tentang masalalu. Kami tidak ingin mengingatnya. Lagipun Tania belum ingin memberitakan kehamilannya sebelum usia kehamilannya lebih dari empat bulan. Hanya kalian, mungkin juga mertuaku.”
Selama ini, Taniaku berbesar hati mendengar ledekan-ledekan mengenai dirinya. Beberapa kali aku harus menenangkan tangisnya, namun semakin lama hinaan itu tidak ada artknya untuk kami.
Taniaku justru semakin bersemangat jika memperbincangkan masalah kehamilan dengan Sinta, atau siapapun yang berpengalaman.
Tania memang tidak pernah membahas denganku.
Ratuku itu, hanya ingin lebih siap ketika nanti Moon Goddes memberinya kepercayaan. Nyatanya benar, ia mulai menceramahiku dengan petuah-petuah aneh dengan alasan kehamilannya.
Tentu aku menurut, dia ratuku!
“Lakukan yang terbaik menurut kalian. Ini anak pertama dan cucu pertama kami. Kau harus menjaganya dengan baik son!” Nasehat dari Ayah membuatku ingat tujuan utamaku.
“Nah itu! Aku ingin belajar menjadi papa untuk anakku darimu. Aku ingin menanyakan banyak hal, Ayah!”
Mendengar jawabanku, Ayah memandang wajahku dengan raut ragu.
“Bukankah menjadi Orangtua adalah seni? Kau akan merasakan tantanganmu sendiri nanti.”
“Aku ingin lebih siap.”
Ayahku mengangguk-angguk.
Makanan di piring kami sudah habis, “Jika istrimu bangun suruh dia makan, Tris. Jangan lupa bawakan ia minuman.” Pesan ibu yang aku iyakan.
Ayah dan Ibuku melesat entah kemana. Aku pun memilih berjalan gontai, sesekali bersiul mengisi sepi saat menuju kamar.
Tania tengah duduk mengucek mata. Aku melesat, menangkap tangannya; takut matanya memerah.
“Ingin dicium. hm?” ledekku menatap balik wajahnya yang nampak cemberut.
Cup, cup, cup
Aku mengecup kedua mata dan bibirnya.
“Aku ingin mandi,” gumannya, namun malah meraih tubuhku untuk di peluk.
“Apa ini kode kau minta aku mandikan?”
Ia menggeleng, tangannya semakin mengeratkan pelukan di tubuhku.
Aku yakin, ia tengah menyembunyikan senyum manisnya.
“Minum?” Tawarku menyodorkan cairan pekat dalam gelas. Ia menerima dan meneguknya perlahan.
“Mandilah, lalu aku temani makan.” Aku tersenyum ke arahnya yang mengangguk.
Dengan hati-hati, Taniaku bangun dari tempat tidur.
Setelah badannya tertelan pintu kamar mandi, aku membaringkan tubuh dan menutup mataku.
Ternyata bahagia bisa lelah juga. Aku membatin sebelum masuk ke alam mimpi.