Aku punya sebuah novel favorit, novel ber tema kerajaan fantasy yang dimana ada sihir dan makhluk mitologi di dalamnya.
Mungkin novel fantasy seharusnya bercerita tentang seorang pahlawan melawan raja iblis dan menjadi penyelamat dunia,
Namun di novel ini sedikit berbeda,
Memang ada pahlawan, namun sang pahlawan ini alih-alih melawan raja iblis, dia melawan seorang raja yang terkenal dengan segala keburukan dan keserakahan.
Novel ini sangat menarik bagiku, bahkan disaat pekerjaan bertani yang selama ini aku lakukan selama 19 tahun menjadi sangat berwarna dan penuh motivasi.
Setiap hari dilalui dengan penuh kesenangan sampai lupa bahwa umurku sudah terlalu tua untuk melajang.
Umurku 43 tahun dan masih tidak punya seorang istri, kedua orang tuaku meninggal 4 tahun lalu dan seluruh saudaraku tinggal di kota sesaat setelah mereka menikah.
Mungkin dengan kesendirian ini, asalkan aku memiliki semangat hidup atau setidaknya masih bisa membaca novel ini, aku akan baik-baik saja sampai rambutku putih nanti,
Namun, sekarang aku terbaring tak berdaya di kamar tidur karena tulang punggung yang patah.
Sial, seharusnya aku tidak mengangkat batu besar itu sendirian.
Seharusnya dulu aku lebih ramah dengan tetanggaku sehingga setidaknya ada orang yang membantuku dan mengurusiku sekarang,
Seharusnya aku tidak putus kontak dengan seluruh saudaraku sehingga mereka sedang menemaniku sekarang.
Yah, penyesalan selalu datang di akhir.
Aku memegang novel volume terakhir dari series The One Who Becomes the Legend ,
Aku ingin menjadi sang tokoh utama yang memiliki impian beserta semua keluarga, teman, dan kekasih yang selalu ada untuk mendukungnya.
Punggungku tiba-tiba merasa nyeri tak tertahankan disaat aku sedang membayangkan plot cerita menakjubkan dari novel favoritku ini.
Semuanya sangat indah dan hidup sehingga seakan-akan segalanya terjadi di depan mataku.
A-apakah ini waktunya diriku mati?
Rasa sakit ini begitu tak tertahankan namun aku tak berani untuk berteriak kesakitan,
hanya membuka mulutku sambil mengeratkan otot leherku, mataku terus mengeluarkan air mata dan seluruh tubuhku seperti tersetrum.
Mungkin saatnya aku mati, hidupku benar-benar tak berguna.
Andai aku bisa mengulanginya lagi dari awal,
Aku akan melakukan terbaik untuk hidup bahagia dan menjadi berarti bagi seluruh manusia.
Kedengaranya memang sangat konyol, tapi tokoh utama di novel ini memang seperti itu, dan aku mengaguminya.
Sial, aku tidak bisa berhenti memikirkan novel bahkan disaat ajalku mau datang.
Hidupku selalu dibayangi dengan novel, dari mencangkul, mengairi, sampai menanam dan memanen selalu terbayang dunia didalam novel.
Apakah otakku baik-baik saja? Aku tidak punya mental disorder kan?
Apa ini? Aku ketakutan! Aku ingin memulainya dari awal! Aku tidak ingin mati dengan kesendirian seperti ini!