Sore ini, Neva sudah tiba lebih dulu di Rumah Sakit sebelum Darrel tiba. Sebenarnya Neva tidak yakin dengan apa yang terjadi kemarin, yang dia ingat hanyalah tadi pagi Ia terbangun dari tidurnya dengan badan nyeri di sekujur tubuhnya, dan Ia tidak ingat bagaimana caranya Ia pulang. Aneh, Ia seperti habis mimpi digigit vampir. Apakah ini akibatnya jika Ia terlalu sering menonton tv seri Amerika? Tiba-tiba lamunan Neva terhenti karena Damar menghampirinya.
“Neva! Aku sedang butuh bantuanmu. Apakah IGD sedang ramai?” Neva melirik ponselnya, belum ada panggilan apapun dari perawat jaga di IGD, menandakan bahwa saat ini IGD tidak dalam keadaan yang mengharuskannya berada di sana. Akhirnya kemudian Ia mengangguk.
“Ada apa?”
“Baru saja ada jenazah baku tembak dengan polisi. Kau tau kan, aku tidak memiliki kualifikasi yang cukup untuk melakukan otopsi?” Neva terdiam, mengigit bibirnya tipis. Ia ingin melakukannya, tapi bagaimana jika nanti Ia mendapat masalah karena dianggap mangkir dari IGD? “Jangan khawatir, nanti biar aku yang akan bicara dengan dokter Darrel. Kau pergilah, aku akan menunggumu di ruang IGD saat kau selesai.” Seolah mengerti dengan kekhawatiran Neva, Damar tersenyum menyakinkan kepada Neva.
Kemudian keduanya berpisah, Neva menuju ruang jenazah sementara Damar menuju warung kopi di depan rumah sakit. Damar tau, dokter Darrel bukanlah dokter yang ramah di mata orang banyak. Oleh karenanya, paling tidak sebelum Ia kena amukan Darrel karena bersikap seenaknya menyuruh Neva, Ia harus menyiapkan mentalnya dengan kopi terlebih dahulu. Setelah ia menghabiskan kopinya, tibalah Damar di ruang IGD. Ia mendapati Darrel tengah sibuk mencatat di salah satu catatan kesehatan pasien yang hendak dipindahkan ke ruang rawat biasa.
“Selamat sore dokter Darrel.” Darrel melirik sekilas, menemukan Damar tengah mendekatinya. Darrel hanya mengangguk kecil sebagai balasan sapaan dari Damar. “Nungguin Neva ya dok?”
“Nggak, Neva cuti seminggu.” Damar mengerutkan alisnya, yang tertangkap oleh sudut mata Darrel. “Ada apa memangnya?”
“Kok barusan....” Darrel akhirnya mendongak, memandang Damar yang masih berusaha memecahkan entah apa masalah di otaknya saat itu. “Kok barusan saya ketemu Neva, dok? Mau-maunya pula saya mintakan tolong.”
“Maksudnya gimana?” Darrel memandang Damar waspada.
“Maksudnya.... ya tadi saya berpapasan dengan Neva di depan ruang ganti. Terus... terus saya minta tolong otopsi jenazah baru terlebih dahulu.” Mata Darrel membelalak lebar, wajahnya yang pucat semakin terlihat pasi.
“Dimana dia sekarang?!” Darrel menyambar kedua bahu Damar, menuntut jawaban lanjutan dengan cepat.
“Di ruang jenazah dok, sedang melakukan tindakan otopsi.” Jawaban Damar sukses membuat Darrel berlari meninggalkan Damar yang memiringkan kepalanya, bingung dengan reaksi Darrel yang sungguh di luar ekspektasinya. Apa jangan-jangan Darrel naksir Neva?
---
Selepas berpisah jalan dengan Damar, Neva akhirnya menuju ruang jenazah dengan riang. Rupanya, diam-diam Neva merindukan lokasi kerjanya dulu. Hanya bertemankan sunyi, serta canda tawa dan lengkingan tawa dari Laras. Walaupun terkadang suaranya mampu membuat bulu kuduknya berdiri, namun Neva sadar, suasana seperti itu sudah menjadi bagian dari kebiasaannya. Tak pernah disangkanya, Ia bisa merindukan kebiasaan lamanya itu.
‘Tok tok tok’ Neva mengetuk pelan ruangan tak bernyawa itu, kemudian membukanya perlahan. Ia tak menemukan siapapun di dalam. Bahkan hantu dari pemilik jasad itupun tak juga dilihatnya. Apa Ia sudah benar-benar kehilangan kemampuannya?
Alih-alih disambut kesunyian, yang di dapatkan oleh Neva adalah bau segar. Aroma familiar itu, yang sebelumnya tidak terlalu Neva sukai, namun kali ini sungguh aneh, Ia bahagia ketika menghirup aroma itu dalam-dalam; aroma darah segar. Didekatinya jasad itu, kemudian Ia membuka tabir yang menutupi tubuh dan jasad itu. Masih utuh. Sekilas hanya terlihat seperti orang biasa yang tengah tertidur pulas. Namun yang berbeda hanyalah darah segar yang masih sedikit mengalir dari d**a kiri dan pelipisnya. Ada bekas luka tembak dari kedua titik itu. Neva terdiam lama memandangi jasad itu. Sungguh aneh, setengah mati Ia berusaha untuk menghilangkan pikiran liar yang ada di kepalanya.
Neva memakai jubahnya, memasang goggle, kemudian memasang masker untuk menghalangi bau darah segar yang memecah konsentrasinya. Walaupun sungguh, tidak terlalu banyak membantu. Dengan sedikit dengusan, akhirnya Ia memulai proses identifikasi terhadap jasad tersebut. Ia menggoreskan pisau bedah kecil di tengah d**a bidang jasad itu, dan perlahan darah mulai mengalir deras keluar dari sela-sela luka goresan yang Neva buat barusan. Astaga, jasad ini mengalami pendarahan di dalam tubuhnya!
Hal yang selanjutnya dilakukan oleh Neva, adalah hal yang bahkan tidak akan disangka oleh Neva akan dilakukannya! Neva mengusapkan sebelah tangannya di atas tubuh jasad itu yang sudah tergenang darah, dan Ia menjilati darah itu dari setiap jarinya. Tanpa Neva sadari, pandangan matanya berubah menjadi gelap, dan kedua taringnya memanjang. Ia sudah siap untuk merobek d**a jasad di depannya, sebelum akhirnya sebuah tangan menahan terkaman Neva. Dalam sekejap, matanya kembali dalam kesadaran penuh dan gigi taringnya kembali ke ukuran normal.
“Cukup, Neva.” Neva menoleh, mendapati suara familiar itu namun dengan nada halus dan penuh keibaan yang tak pernah Ia dengar sebelumnya.
“Darrel? Apa yang terjadl?” Neva memandang bingung, karena Ia baru saja kehilangan kesadarannya sepersekian detik. Matanya terbelalak ketika mendapati tangan kanannya tengah di hadang oleh Darrel, dalam keadaan bersimbah darah. “Astaga, tanganku! Ada apa, Darrel? Apa kau terluka?!”
“Ayo, kita pulang sekarang.” Neva menghentikan kepanikannya, sedikit terkejut karena mendengar Darrel bersuara sangat halus dan pelan, tanpa ada paksaan dan decihan seperti yang biasanya Ia tampilkan di depan Neva. Lagi-lagi bak dihipnotis, Neva akhirnya mengangguk, kemudian mengikuti Darrel menuju sink untuk mencuci tangannya, dan mengekor Darrel menuju mobil Darrel di parkiran Rumah Sakit.
Perjalanan menuju entah-kemana-ini dihiasi kesunyian yang dingin. Sesekali hanya di selingi oleh suara Darrel yang tengan menelpon ke banyak tujuan. Salah satu panggilan familiar yang Ia dengar adalah, Darrel menghubungi Rumah Sakit untuk mengambil cuti selama seminggu untuk Neva dan untuknya. Panggilan lain, Darrel menghubungi seseorang dengan bahasa asing yang jelas tidak pernah didengar oleh Neva sebelumnya. Entahlah, terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini membuat Neva merasa pusing. Ia sudah tau ada yang tidak beres sejak tadi pagi saat Ia terbangun dari tidurnya, walaupun Ia tak yakin apa yang telah terjadi.
Mereka tiba di sebuah komplek apartemen mewah di pusat kota, dimana setiap unitnya hanya terdiri dari apartemen penthouse dengan akses lift langsung menuju kamar masing-masing penghuni. Sesaat Neva ragu untuk mengikuti Darrel yang melangkah dengan mantap, namun melihat bagaimana Darrel sudah akrab dengan banyak petugas keamanan yang bekerja di komplek apartemen ini, pada akhirnya Neva tau bahwa Ia tidak punya pilihan lain.
“Masuklah.” Ucap Darrel singkat. Apartemen Darrel hanya terletak di lantai 5, itu artinya tidak memakan waktu lama bagi mereka untuk bisa segera tiba di tempat tinggal Darrel.
Neva menatap sekeliling, terpukau dengan keindahan dan kemewahan tempat tinggal Darrel. Sungguh, unit rusun yang di sewa oleh Neva mungkin disini hanya seluas dapur saja. Namun Neva tidak bisa terlena dengan kemewahan itu lama-lama, Ia cukup sadar untuk kembali tertampar kenyataan bahwa satu jam yang lalu Ia hampir saja mengoyak jasad di ruang mayat Rumah Sakit.
“Jadi? Apa yang bisa kau jelaskan?” Neva berdiri di tengah ruangan, menyilangkan kedua tangannya sambil memandang Darrel kesal.
“Panjang. Tapi ada yang perlu ku tanyakan terlebih dulu padamu.” Neva hanya mengangkat alisnya, sementara Darrel mendudukkan bokongnya di sofa nyaman di ruang tv nya. “Apakah kau mengenal ayahmu?”
“Apa kau baru saja menghinaku?” Darrel mengerjap, bingung. Sementara Neva mulai merasakan emosi mengalir di tubuhnya karena merasa tersinggung dengan pertanyaan Darrel.
“Tidak, aku hanya perlu tau jawabannya sebelum aku menjelaskan lebih jauh lagi. Saat ini nasibku dan keluargaku berada di tanganmu, Neva.” Jawab Darrel tenang. Dia tahu, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengajak Neva adu mulut. Neva memicingkan matanya, mencoba menelisik kebohongan di antara mata Darrel.
“Aku tidak tau siapa ayahku. Yang selalu disebut Ibuku hanyalah dia menjalin hubungan terlarang dengan monster, dan aku terlahir sebagai monster.” Mendengar jawaban Neva, Darrel menutup matanya dan alisnya bertautan. Pusing.
“Iblis. Lebih tepatnya, Ibumu berhubungan dengan Iblis.” Darrel masih menutup matanya, namun kali ini Ia sambil memijat keningnya, berusaha mengacuhkan energi emosi Neva yang mulai meningkat lagi. “Iblis dalam artian sebenarnya, Neva. Dengar, aku sungguh tidak mengerti perjanjian apa yang sudah dibuat Ibumu dengan Iblis itu, namun kemampuanmu untuk mengetahui keberadaan mahluk lain selain eksistensi manusia biasa bukanlah sebuah kebetulan. Itu adalah kemampuan yang diturunkan.”
Neva terdiam. Sesungguhnya semua ucapan Darrel benar-benar layak dianggap sebagai cerita dongeng yang sempurna, tapi entah kenapa, ada suara hati kecilnya yang ingin mendengar penjelasan Darrel lebih dalam lagi.
“Dan kalau kau penasaran, bau bangkai yang kau cium akhir-akhir ini memang berasal dariku. Kupikir awalnya kau mengoceh tentang bau itu karena kau sengaja menyindirku. Namun Laras berkata lain, ternyata selama ini yang kau tau tentang mahluk lain selain manusia memang cuma hantu.” Neva mengerjap. Kini Ia menyebut Laras, yang sudah lama tak dilihatnya. Apakah Darrel benar berkata yang sebenarnya?
“Tunggu dulu....” Neva terhenti. Ada yang baru saja di sadarinya. “Aku tidak mencium bau tengik itu lagi, Darrel.”
“Tidak, sebelum kita sampai disitu, aku masih memiliki pertanyaan lain Neva. Ini tentang keluargaku. Klanku bisa saja terancam—“
“—BAGAIMANA KAU BISA MEMIKIRKAN KELUARGAMU SAJA SEDANGKAN AKU. TIDAK. MENGERTI. APA. YANG. TERJADI. DENGAN. TUBUHKU. INI???!!!!” Neva menjerit, bersamaan dengan itu, pintu kaca menuju balkon pecah dan serpihan kacanya menyebar. Darrel terdiam, tampak tidak terkejut namun tidak berniat menghentikan Neva. Ia hanya memandang Neva yang air matanya keluar, nafasnya terengah-engah. “Kau—kau memikirkan nasib keluargamu dan berkata bahwa nasib keluargamu bergantung padaku, namun kau baru saja menamparkan fakta bahwa aku –aku adalah—anak iblis?! Darrel, apakah kau sungguh tidak berperasaan?”
“Aku tidak bermaksud seperti it—“
“KAU BERMAKSUD SEPERTI ITU, DARREL! ITU JELAS!” Neva kembali menjerit. Kali ini, semua lampu di ruang tengah itu pecah. “Dengar, jika kau sebegitu khawatirnya kepada keluargamu, seharusnya kau mengkhawatirkanku terlebih dahulu! Seharusnya kau memikirkan bagaimana perasaanku ketika kau memberitahu fakta bahwa aku lahir dari hubungan gelap seorang manusia dan—dan mahluk immortal mengerikan!” Darrel terperanjat. Ia benar-benar melupakan kemungkinan bahwa Neva akan terpukul dengan apa yang baru saja Ia katakan.
Darrel bahkan belum sampai pada berita mengejutkan lainnya; Fakta bahwa Neva kini sudah bukan menjadi manusia lagi, dan fakta bahwa Neva kini sudah di ‘tandai’ oleh Darrel sebagai pasangan seumur hidupnya. Entah apa yang akan Neva lakukan jika Ia mengetahui fakta-fakta lainnya, barangkali Ia akan melempar Darrel jauh ke ujung pulau dengan kekuatan barunya sebagai mahluk Immortal.
Keduanya kini tak berbicara lagi. Yang tersisa hanyalah Neva yang masih tersedu dan Darrel yang masih terdiam, menunggu Neva berhenti menangis.
Sudah hampir 2 jam Darrel terdiam sambil memandangi Neva yang isak tangisnya mulai mereda. Mereka masih berada di ruang tengah unit apartemen milik Darrel, dikelilingi dengan pecahan kaca di seluruh penjuru ruangan. Keduanya enggan untuk memulai pembicaraan lagi, namun keduanya juga sadar, ada banyak hal yang harus diselesaikan oleh keduanya.
“Aku bermimpi buruk semalam.” Darrel menegakkan duduknya, tersadar ketika mendengar Neva tiba-tiba berinisiatif untuk membuka obrolan. “Di mimpi itu, aku berdebat denganmu soal pasien yang terkena bisa ular.”
Glek!
“Neva,” Neva mengangkat tangannya, mengindikasikan Ia tak ingin di interupsi.
“Tapi seperti biasa, aku kalah berdebat denganmu. Dan detik selanjutnya, aku bertemu dengan mahluk bertaring panjang. Dia—“ Neva tercekat. “Dia menggigit leherku, aku bisa merasakan Ia mengeluarkan racunnya, Ia tak menghisap darahku.” Neva menutup kedua matanya yang kini berlinangan air mata. “Darrel, itu.... itu mimpi kan?”
Detik itu juga, Darrel merasakan perih di hatinya. Sungguh, Ia seharusnya benar-benar berpikir panjang sebelum Ia membiarkan Neva menghisap darahnya malam itu. Beginilah resikonya jika Ia sudah menandai seseorang sebagai pasangannya seumur hidup, Ia akan turut merasakan semua emosi yang dimiliki pasangannya. Darrel bangkit dari duduknya, kemudian duduk di sebelah Neva yang sudah terisak.
“Maafkan aku.” Lirihnya. Ia merengkuh Neva di dalam peluknya, membiarkan Neva menangis semakin keras setelah menyadari maksud maaf dari ucapan Darrel. “Maafkan aku karena tak menyadari keberadaan si b******k itu di sekitar kita.”
“Dimana dia sekarang?” Neva menjauhkan tubuhnya dari pelukan Darrel, matanya nyalang seolah menginginkan balas dendam. “Aku harus menghabisinya!”
“Neva, tenangkan dirimu.” Darrel menangkup wajah Neva dengan kedua tangannya, melupakan fakta bahwa jantung Neva (jika masih berdetak) berdenyut lebih cepat saat Ia memandang Darrel sedekat ini. “Kau kalah kuat dari Julien. Sekarang yang harus kau lakukan adalah melatih dirimu sendiri, karena saat ini keinginanmu akan darah segar mampu mengalahkan ratusan logika dalam dirimu.”
“Apa yang harus ku lakukan Darrel? Haruskah aku berhenti dari pekerjaanku sekarang?” Darrel menggeleng, mendengar pertanyaan pasrah Neva. Salah satu sudut bibirnya naik, menunjukkan betapa tampannya Ia saat tersenyum kecil seperti itu.
“Aku sudah menjalani 1500 tahun berbaur dengan manusia dari waktu ke waktu, kau pasti juga bisa.” Selanjutnya, Darrel berdiri dan menjulurkan tangannya ke depan Neva. “Aku akan menemanimu, kita ke tempat tinggalmu sekarang untuk mengemasi seluruh barang-barangmu. Mulai sekarang, kau akan berada di bawah pengawasanku.”
***
“Mulai sekarang, kamarmu disitu.” Darrel menunjuk satu pintu di sisi kanan kamar mandi, membuat Neva menoleh mengikuti arah pandang Darrel. Namun Neva hanya mengangguk lesu, kemudian kembali berkutat dengan ponselnya. “Kau masih tertekan dengan kondisimu sekarang?”
Neva tak mengucap sepatah katapun. Alih-alih, Ia hanya mengangkat bahunya malas. Neva tidak pernah berurusan dengan n*****a, namun keinginan besarnya untuk darah saat ini bisa Ia kategorikan sebagai candu. Apalagi sebelumnya Ia sudah pernah merasakan darah segar dari manusia walaupun itu hanya dari tubuh mayat.
“Kau harus berpuasa selama 3 hari lagi, setelahnya akan kuberikan kau darah hewan herbivora.” Neva mendengus ketika mendengar penjelasan Darrel.
“Kenapa harus 3 hari lagi? Kenapa tidak bisa sekarang? Kenapa harus hewan? Kenapa bukan manusia? Apa gunanya tumpukan donor darah di palang merah?!” Cerocosan Neva hanya dibalas dengan senyum tipis oleh Darrel. Tanpa harus Neva beritahu, sekarang isi kepala Neva dan suasana hati bagaikan buku terbuka bagi Darrel. Hasil dari kecerobohannya menandai Neva beberapa minggu lalu.
“Agar kau bisa mengendalikan dirimu jika kau berbaur dengan manusia, Neva. Saat ini kondisi seperti hewan buas, kau harus benar-benar bisa bertingkah seperti manusia jika kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu di dunia manusia.” Darrel masih tersenyum, kemudian menyodorkan sepiring sashimi ke hadapan Neva. “Makanlah, itu bisa membantumu mengendalikan dirimu sedikit.”
“Kau masih makan makanan manusia?”
“Yep. Sejauh ini, hanya makanan mentah seperti ini yang membantu mengurangi rasa lapar dan keinginanku untuk menerkam manusia.” Darrel menjawab sembari meraih sumpit kemudian meletakkannya di tangan kanan Neva. “Aku mengkonsumsi darah hanya setahun sekali, itupun hanya darah hewan karnivora. Selama ini aku selalu mengambil cuti tahunan dan beralibi liburan keluar negeri.”
“Rasanya tawar, Darrel. Aku kehilangan indera perasaku.” Neva merengek gelisah. Ia tak mengerti, namun akhir-akhir rasanya Ia sangat manja jika di depan Darrel. Sepanjang hari, Ia selalu mengeluh sambil merengek di depan Darrel.
“Sudah, makanlah cepat. Sebentar lagi sepupuku akan tiba, Ia perlu memeriksa kondisimu.” Kali ini, Neva tak menolak. Ia hanya melanjutkan makannya dalam diam, sesekali mengunyah makanannya sambil mendesah panjang, tanda bahwa Ia tak menyukai makan siangnya hari ini.
Tepat saat Neva menyelesaikan makan siangnya, lift unit apartemen milik Darrel terbuka. Dua orang perempuan cantik bak model memasuki apartemen Darrel dengan anggun. Neva sungguh terkejut ketika Ia mengenal salah satu tamu itu; seorang publik figur yang cukup terkenal di dunia show business. Tunggu dulu! Artis ini—dia adalah vampir?!
“Kalina? Kau sud—hei! Buat apa kau membawa mahluk langit begini?!” Yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan. Darrel kini terlibat adu mulut dengan Kalina—artis yang Neva duga adalah vampir.
“Bagaimanapun juga kau bilang dia anak Focalor, Darrel! Aku perlu mengajak Reggy untuk berjaga-jaga!” Balas Kalina tak kalah sengit.
“Sudah kukatakan, Ia tidak mengenal Focalor! Ia bahkan tidak tau perjanjian apa yang dibuat oleh Ibunya!” Ucap Darrel masih dengan nada galaknya.
“Makanya itu aku mengajak Reggy! Reggy akan ikut memeriksa gadis ini untuk mengetahui perjanjian apa yang sudah dibuat oleh mereka. Bagaimanapun juga gadis itu juga adalah prioritas teratas yang paling terancam saat ini!” Kalina menatap tajam Darrel dan Neva, membuat Neva salah tingkah karena Kalina menatap Neva dengan tatapan benci.
“Halo, Neva kan?” Wanita disebelah Kalina yang sedari tadi diam, kini melambai pada Neva. Ia tersenyum, kemudian menyodorkan tangannya. “Namaku Reggy. Apakah kau keberatan jika aku memeriksa beberapa sudut tubuhmu sedikit? Aku janji tak akan lama.”
“Boleh, kok.” Neva balas tersenyum, kemudian menyambut uluran tangan Reggy. Namun detik berikutnya, tangan Neva seolah tersengat listrik dan membuat Neva terjengkang. Dibandingkan Kalina dan Darrel, ekspresi Reggy yang tidak terlihat kaget membuat Neva malah menjadi waswas.
“Reg, kurasa tidak tepat jika—“ Teguran Darrel tertahan, Reggy mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan ucapan Darrel.
“Bukan sebuah perjanjian berat sepertinya.” Reggy memandang tangannya yang tadi bersalaman dengan Neva. “Sepertinya hanya perjanjian untuk keuntungan duniawi. Focalor tidak mengambil untung apapun selain hubungan mereka beberapa kali dan perjanjian b***k setelah kematian.” Reggy melamun, kemudian mendongak memandang Darrel. “Tapi Neva bisa jadi akan dimanfaatkan oleh Focalor jika ia tau bahwa sekarang salah satu keturunannya adalah vampir, sebaiknya kau tetap waspada, Darrel.”
***
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam tiba di sebuah kastil besar di tengah hutan. Pintu pengemudi terbuka, dan Darrel keluar dari mobil tersebut. Ia berjalan sendirian, dan sesaat sebelum Ia terlalu dekat dengan pintu masuk kastil, pintu itu terbuka lebar dengan sendirinya. Darrel tidak gentar, Ia malah mempercepat langkahnya hingga masuk ke dalam ruangan besar itu, kemudian pintu kastil kembali tertutup dengan sendirinya.
Seorang lelaki tua menghampiri Darrel, dan membungkuk pelan kepada Darrel.
“Dimana dia?” Suara Darrel terdengar dingin, jauh lebih dingin daripada saat Ia sedang bekerja di Rumah Sakit.
“Nyonya sudah menunggu anda di sayap kanan kastil, Tuan.” Jawab pria itu dengan suara penuh wibawa. Mendengar itu, Darrel menarik nafasnya, kemudian menghembuskan perlahan sebelum Ia akhirnya berjalan melewati pria itu. Darrel berjalan cukup dalam memasuki area kastil, melewati banyak pintu-pintu besar. Langkah panjangnya terhenti di depan sebuah ruangan di paling ujung yang tertutup, sama seperti pintu lainnya. Sekali lagi, Darrel menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian memasuki ruangan itu setelah Ia mengetuk pintu beberapa kali.
Ia mendapati seorang perempuan yang memunggunginya, tengah memandang langit malam melalui jendela ruangan itu dengan penuh khidmat, seolah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Namun pada kenyataannya, wanita paruh baya itu benar-benar sadar dengan kedatangan Darrel bahkan sejak mobilnya tiba di area parkiran kastil. Wanita itu memutar tubuhnya, terlihat tenang dan memandang Darrel dengan pandangan dingin. Bentuk wajahnya yang keras sekilas terlihat mirip dengan wajah Darrel.
“Ku dengar kau akhirnya sudah menandai pasangan hidupmu.” Darrel tersenyum tipis. Sesuai dugaannya, wanita tua ini pasti sudah mengetahui setiap gerak geriknya. “Seleramu sungguh jelek, Darrel.”
“Kau tak menyukainya, Ibu?” Wanita itu mendengus mendengar pertanyaan Darrel.
“Terlalu bagus jika kukatakan aku tak menyukainya. Aku bahkan jijik dengan pilihanmu.” Wanita itu memandang Darrel dengan tatapan penuh kebencian. “Keturunan iblis? Ha! Bisa-bisanya keturunan kerajaan Phillis menikahi seorang keturunan Iblis? Katakan padaku Darrel, tipu daya seperti apa yang dilakukan anak iblis itu hingga kau bisa menandainya? Apakah Ia menggodamu dengan godaan rendahan seperti p*****r?”
“Bu, Neva tidak seperti yang Ibu katakan. Aku tidak melakukan ini karena aku mencintainya, Neva bisa menyelamatkan kita—“
“Cukup! Aku tidak mau mendengarmu membantahku hanya untuk membela p*****r sialan itu.” Wanita itu menyergah ucapan Darrel. “Katakan padaku, kapan kau akan mengadakan upacara pengikatan antara kalian?”
“Itu.... Sepertinya tidak dalam waktu dekat, Bu.” Wanita itu membulatkan matanya, sekilas Ia bingung dengan ucapan Darrel. “Neva masih belum tau jika aku sudah menandainya.”
“Apa maksudmu?!”
“Dengarkan aku Bu, aku awalnya tidak mengetahui bahwa Neva adalah anak Focalor. Namun aku tidak sengaja bertemu dengan Julien, dan Julien lah yang mengubah Neva karena Ia mengetahui Neva adalah keturunan Focalor. Julien ingin menjadikan Neva sebagai panglima perang untuk pembelotannya terhadap kerajaan kita, dan aku tidak berpikir panjang saat itu. Aku memberikan darahku pada Neva saat Ia masih tidak sadarkan diri setelah Ia diserang oleh Julien.” Penjelasan panjang Darrel diakhiri dengan desahan gelisah, sementara wanita di hadapan Darrel semakin membelalak tak percaya.
“Darrel! Kau—kau gila?!” Wanita itu kini menjerit. “Bagaimana mungkin kau menjadikan seseorang sebagai pasanganmu tanpa persetujuannya dia sendiri?!”
“Kupikir kau sudah mengetahui semuanya. Namun ternyata kau hanya mengetahui apa yang ingi kau ketahui.” Darrel menggeleng memandang Ibunya tak percaya. “Ini bukan hanya sekadar permasalahan dia keturunan siapa Bu, namun kita harus tau apa yang harus kita lakukan setelah kita memegang kendali atas seseorang yang kekuatannya bisa disalahgunakan pihak lain.”
***