Sosok cantik itu berjalan tak tergesa di lorong sepi akademi. Bel tanda jam pelajaran di mulai telah berdenting sejak tiga puluh menit yang lalu, tapi dia tetap tak nampak terburu. Dengan statusnya sebagai bangsawan nomor dua setelah keluarga kerajaan, jelas tidak ada yang berani berkomentar. Yang bisa menginjak harga diri mereka hanyalah keluarga kerajaan. Begitulah yang mereka percayai jauh dalam sanubari.
Dan lagipun, tanpa mengikuti jam sejarah yang kini telah dilewatkannya, gadis itu juga tidak rugi. Dia menghapal di luar kepala seluruh seluk-beluk dari sejarah di Vampiria tanpa perlu penjelasan ulang yang membosankan. Itulah sebabnya dia memilih tidak masuk kelasnya. Biarlah Mr. Flix mengomel di belakangnya, dia tidak peduli. Hanya manusia.
Benar. Hanya manusia biasa. Hera tersentak kala dia menghentikan langkahnya. Tusukan rasa sakit jauh terasa di relung dadanya. Tapi sekali lagi, dia mengabaikannya. Mencoba mengabaikannya.
Ketika dia akan kembali melanjutkan langkah, rintihan pelan terdengar dari ujung lorong sebelah kanan. Jauh didepan, sekelompok pemuda mengerumuni seorang gadis selayaknya semut dengan gula. Hera bisa melihat dasi sang gadis yang telah berpindah ke tikungan lorong, sangat jauh dari jangkauan. Beberapa kancing kemeja seragamnya telah lepas tersebar, sementara roknya tersingkap hampir memperlihatkan puncak s**********n. Meski begitu, dia gigih mempertahankan harga dirinya dengan menutupi area tubuhnya yang terbuka dengan tangannya sebisanya.
Pemuda-pemuda itu justru tertawa. Menikmati ekspresi melas sang gadis yang tercampur ketakutan. Salah satu diantara mereka mendekatkan tangan dan meraba paha. Gadis bersurai coklat itu mundur ke belakang meski sia-sia. Semua yang bisa disebut kemalangan itu justru memunculkan binar kesenangan dari mata-mata yang melihatnya. Bagi Hera, itu... menjijikkan!
"Oh!" seruan penuh kejutan itu terdengar di sisi kiri Hera. Dia mengerutkan kening ketika pandangannya beralih menemukan sosok cantik tapi pucat tengah tersenyum dengan tangan bersarung tangan menutupi bibir. "Bukankah ini Putri Hera." itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Hera juga mengenalinya. Gadis Vampir yang berasal dari keluarga peringkat ketiga dari keseluruhan lima kasta di susunan Piramida kekuasaan. Gretell In Reink.
"Apakah, Putri ingin bergabung dengan kami?" Gadis bersurai coklat madu itu menunjuk ke belakangnya. Ruang kelas terbuka yang kosong berisi sekumpulan makhluk vampir dan beberapa gadis manusia dengan kancing kemeja atasan terbuka. Menanti dengan binar bangga darah mereka untuk dihisap.
Jijik! Hanya itu yang bisa dibayangkan Hera sekarang. Dia jijik dengan segala hal yang ada disekitarnya.
"Tidak." katanya, berlanjut meneruskan langkahnya yang terhambat lama.
Samar, dia mendengar kekehan Gretell yang menyayangkan dia pergi terlalu cepat. Entah itu asli atau palsu.
Hal-hal seperti itu, lumrah terjadi di sini. Cleotra—akademi yang menjadi latar belakang kisah dalam novel.
* * * *
13-11-2021
Hai! Ini karya pertama yang aku tulis disini. Aku tidak janji akan rutin, karena memang ada kesibukan di real life.
So, kalo ilang gausah dicari. Ntar muncul sendiri, kok :')