"Kudengar kau menyelamatkan seorang manusia?" itu Theodore—sepupu Hera.
"Mengganggu pemandangan." jawaban Hera masih serupa. Justru Theodore lah yang terkekeh.
"Itu hal unik lainnya, setelah kau menolak minum darah." katanya.
"Apa itu penting?"
Theodore membelalakkan matanya. Hera berani bertaruh bahwa sebentar lagi bola matanya akan keluar dari soketnya jika lebih lebar lagi. "Kau adalah vampir aneh, kau tahu?"
"Apakah itu merugikanku?"
Theodore berdecak. Inilah Hera—sepupunya yang sejak muda selalu unggul dalam keluarga. Dia nomor dua setelah sepupunya yang lain, Caturra.
Membayangkan mengenai Caturra, Theodore ngeri sendiri. Sepupunya itu adalah orang yang sulit ditebak—meski tidak sesulit Hera. Kedua sepupunya itu adalah orang yang misterius. Theodore berani berkata, di seluruh keluarga Del Vinmae, tidak ada satupun diantara mereka yang mengerti sejauh mana kekuatan Caturra dan Hera.
"Ada apa?" Ah! Dia ketahuan mengamati, ya?
Theodore melirik pada buku yang tengah di baca Hera. «Antologi De Beus». Sebuah buku tebal kisah perjalanan dari Kiyaz—Dewa perang dan angkara murka. Tidak hanya kisah kehidupan dan cintanya, tapi juga beberapa mengenai strategi perang Kiyaz yang telah menghilang dimakan usia. Buku itu mungkin satu-satunya salinan yang ada di dunia.
"Antologi De Beus?"
"Kau sudah melihatnya." —kau sudah tahu, tidak perlu bertanya. Begitulah kata yang ingin disampaikan.
Theodore tersenyum masam. "Setidaknya, berbasa-basilah sedikit," katanya. "Kau tahu, kau membosankan seperti ini. Kau tidak memikirkan pandangan orang lain?"
"Tidak." membalik selembar halaman. "Tidak berguna." katanya.
Sekali lagi, Theodore tertawa hambar. Inilah Hera.
* * * *
Seusai kepergian Theodore, Hera melemparkan Antologi De Beus itu ke sembarang tempat. Menghela napas kasar kala dia memejamkan mata. Punggungnya bersandar di punggung kursi ketika dia menutup kedua matanya dengan lengan kirinya. "Keluar."
Sebuah jas tersampir di tubuh depan Hera. Aroma musk pekat dan samar darah tercium. Hera mengerutkan kening dan melempar jas itu ke sisi lain ruangan. "Sudah kukatakan, bersihkan dirimu sebelum menemui ku. Aku tidak suka bau darah."
"Kau vampir, Hera." pemuda itu mengendik acuh, sama sekali tidak peduli. Bergerak menuju meja kaca dan menuangkan cairan merah pekat dari botol kaca yang dibawanya ke gelas kristal. Mengangkat lantas memutarnya searah jarum jam, membiarkan aroma cairan itu menguar ke udara dan menghirupnya dalam-dalam.
Hera menghela napas kasar. Tidak mengindahkan kata-kata pemuda itu. "Apa yang kau dapat?"
"Tidak berkeinginan membiarkanku istirahat?"
"Kau sudah cukup beristirahat." Hera melirik pada celana pemuda itu yang agak basah. Kentara bahwa itu buru-buru dikeringkan.
Menyadari arah pandang Hera, pemuda itu menguarkan tawa menggema. Dia menyesap cairan itu dan meletakkan kembali gelas kristal itu di meja. Berjalan mendekati Hera dan merengkuh pinggangnya. "Tertarik mencoba? Denganku?" ucapnya dengan seringai nakal.
Hera mendorong d**a pemuda itu menggunakan telunjuk. "Tidak." dia mundur dua langkah. "Kau...menjijikkan!"
Alih-alih tersinggung, pemuda itu kembali tertawa. Mengibaskan tangannya pada celananya yang basah, mengeringkannya sekejab mata. "Sesuai dugaanmu. Ada tikus."
Arah pandang Hera berubah serius bersamaan dengan kata terakhir dari pemuda terucap.
"Apa yang kau dengar?"
"Apa yang bisa kau berikan sebagai ganti informasi yang kudapatkan?" pertanyaan itu memecah keseriusan di udara. Hera hampir melemparkan pisau belatinya jika dia tidak ingat bahwa pemuda di depannya ini berguna.
"Jangan buang waktuku." Salak Hera kemudian.
"Hera, sepupuku sayang. Kau tahu tidak ada yang gratis di dunia ini."
Hera mengembuskan napas, gusar. Dia menyugar surai peraknya ke belakang dan melakukan beberapa gerakan di udara. "Apa itu cukup?"
Senyum sang pemuda memudar seiring dia memperhatikan benda yang diangsurkan Hera. Kilatan tajam melintas di matanya ketika seringai sinis terbentuk di sudut bibirnya. "Kau—!"
"Tidak perlu terkejut. Bukankah itu hal biasa," itu bukan pertanyaan, itu murni pernyataan.
Genderang perang yang bertalu tak kasat mata berkobar di mata sang pemuda. Tapi Hera menolak peduli. "Sekarang, bisa kau katakan?"
"Mereka berencana membawa ular ke sarang musang."
Kening Hera berkerut. "Semudah itu?"
"Ha?"
"Tidak. Lupakan saja. Sekarang pergilah," Hera melambaikan tangannya di udara seolah mengusir lalat. Aba-aba bagi sang pemuda untuk meninggalkan kamarnya.
"Kau sungguh tidak akan merindukanku?" pemuda itu berjalan selangkah demi selangkah mendekati Hera. Hera mengernyit. "Jika kau berani maju lebih dari itu, bisa kupastikan kau tidak akan bisa merasakan apa yang kau sebut nikmat dunia. Aku berjanji."
Kekehan menguar kala sang pemuda menghentikan langkah. "Baiklah. Aku juga tidak bisa melakukan apapun. Kau terlalu...menakutkan."
Selesai mengatakan itu, sang pemuda mulai menghilang. Tapi Hera bisa merasakan, kecupan singkat di pipinya dengan desau angin dingin berhembus di lehernya. "Aku akan sa~ngat merindukanmu, Hera-ku sayang."
Wajah Hera memerah padam. Murka. Dia mengusap jijik bekas kecupan di pipinya yang entah ada entah tidak. Membuat pipinya memerah karena usapan yang terlalu kasar.
"Caturra!" desisnya kemudian.
****
22-11-2022