"Bolehkah aku meminta senjata?" tanya Estelle pada Tuan Dan.
"Tentu saja boleh. Senjata apa yang kau inginkan?"
"Sniper rifle," jawab Estelle. "Aku juga ingin peluru untuk pistol berkaliber 9 mm."
Tuan Dan berjalan menuju rak senjata. Ia mengambil sebuah kotak besar lalu menaruhnya di atas coffee table. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah senapan dari sana.
"Kau tahu cara pakainya, kan?"
"Ya," jawab Estelle.
"Untuk pelurunya..." Tuan Dan membuka salah satu laci di sana dan mengambil sekotak peluru dari sana. Setelah itu, ia memberikannya kepada Estelle.
"Terima kasih, Tuan Dan," ucap Estelle. “Boleh aku meminta hal lain?”
“Apa?” tanya Tuan Dan.
"Bisakah Tuan meminjamkanku mobil? Aku akan membeli mobil baru minggu depan. Aku hanya ingin memakainya untuk sementara."
Tuan Dan membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari sana dan memberikannya kepada Estelle. Estelle menerima kotak itu dan langsung membukanya. Terdapat sebuah kunci mobil di sana.
“Mobilnya ada di garasi Unit A. Kau bisa langsung mengambilnya. Mobil itu untukmu saja,” kata Tuan Dan.
“Unit A? Bukannya itu garasi milik Tuan Robert?” tanya Estelle.
Tuan Robert adalah bos dari White Mafia. Ia adalah penemu dan pemimpin mafia ini. Ia juga orang yang mengadopsi Estelle dari panti asuhan.
“Ya, itu milik beliau. Tuan Robert memberikannya kepadaku sebagai hadiah atas kerja kerasku,” jawab Tuan Dan. “Namun, sepertinya, ada orang yang lebih membutuhkannya.”
Estelle menutup kotak itu lagi dan hendak mengembalikannya kepada Tuan Dan. “Ini milikmu, Tuan Dan. Aku tidak berhak menerimanya.”
“Tidak apa-apa. Mobil yang aku miliki sudah lebih dari cukup. Anggap saja sebagai hadiah atas kerja kerasmu selama ini.” Tuan Dan menahan tangan Estelle.
“Baiklah. Terima kasih, Tuan Dan.”
“Memangnya, apa yang terjadi dengan mobilmu?”
“Aku menghancurkannya,” jawab Estelle singkat.
“Sebuah jawaban yang singkat namun membutuhkan penjelasan yang panjang,” kata Tuan Dan.
“Sebaiknya Tuan tidak mendengar apa yang terjadi,” jawab Estelle.
“Apa yang terjadi? Aku ingin dengar.”
“Aku berhasil menemukan pembunuh orang tuaku. Aku mengikuti mobil mereka. Namun, mobilku berhasil diretas dan diambil alih,” jelas Estelle.
“Lalu, kamu menabrakkan mobilmu sekalian? Karena sudah diretas?” tanya Tuan Dan.
Estelle mengangguk. “Ya, seperti itu, Tuan.”
“Sejak dulu, aku selalu penasaran – kamu akan menjadi orang yang seperti apa saat besar. Sepertinya, aku sudah menemukan jawabannya sekarang,” kata Tuan Dan.
“Ya?”
“Seseorang yang tidak berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu. Seseorang yang keras kepala. Seseorang yang pikirannya tertutup oleh emosi.”
Jantung Estelle seperti berhenti berdetak. Ia dapat merasakan bagaimana sakitnya perkataan Tuan Dan. Ia seperti ditikam oleh sebuah fakta.
“Maaf, Tuan Dan. Aku akan memperbaiki sikapku.”
“Jangan perbaiki sikapmu hanya untuk mengubah pandanganku terhadap dirimu. Perbaiki sikapmu untuk dirimu sendiri, untuk kebaikanmu sendiri,” jawab Tuan Dan.
“Baik, Tuan Dan.”
“Selesaikanlah misi pembunuhannya dalam tiga hari. Aku sudah memberi waktu yang lebih dari cukup,” kata Tuan Dan. “Kau sudah memiliki senjata dan kendaraan. Jangan berusaha mencari alasan lain.”
Estelle berjalan menuju garasi di markasnya. Tangan satunya membawa tas berisi senjata dan tangan satunya lagi menggenggam kunci mobil. Di sana banyak sekali mobil yang berbaris. Semua anggota mafia pasti memiliki minimal satu mobil.
Garasi itu terbagi menjadi beberapa unit. Unit A berisikan mobil milik boss, consigliere, dan underboss White Mafia. Meski hanya dimiliki oleh tiga orang, garasi itu paling penuh. Unit B berisi mobil para capo atau kapten dari setiap divisi. Beberapa kendaraan milik Tuan Dan juga berada di sana. Sedangkan Unit C berisi mobil dari para anggota biasa seperti Dave.
Estelle merasa sangat asing dengan garasi White Mafia. Ia tidak pernah masuk ke sana. Tetapi, ia sering sekali mendengar mengenai bagian-bagian yang ada di garasi. Mobil Estelle juga tidak pernah berada di sana. Estelle selalu memarkir mobilnya di depan rumahnya.
Estelle memang jarang sekali berkunjung ke markas. Ia hanya sempat tinggal di sini saat masih kecil. Tepatnya, saat ia dilatih dengan keras. Berbeda dengan anggota lain yang menjadikan markas sebagai tempat tinggal, Estelle memiliki tempat tinggal sendiri.
Sesampainya di Unit A, Estelle menekan tombol pada kunci mobil yang ia pegang. Salah satu mobil di sana berbunyi dan menyalakan lampu. Estelle pun menghampiri mobil itu. Ia melihat mobil itu dari depan hingga belakang dengan seksama. Kemudian, ia membuka pintunya.
Estelle duduk di kursi pengemudi lalu langsung menyalakan mobilnya. Ia mencoba berkenalan dengan mobil barunya dengan mengendarainya di sekitar markas.
Estelle melihat kaca spionnya sebentar. Ia dapat melihat ada sebuah mobil yang mengikutinya di belakang. Menyadari itu, Estelle langsung membanting setir ke kiri. Untung saja, ia tidak menabrak apapun. Mobilnya sudah berhenti lebih dahulu sebelum menghantam tembok.
Kepala Estelle terbentur setir mobil. Ia segera mengangkat kepalanya kembali lalu mengerutkan dahinya.
Kenapa aku melakukannya? pikir Estelle.
Sepertinya kejadian saat mobilnya diikuti mobil Chester mengakibatkan trauma padanya. Ia menjadi was-was ketika ada mobil yang mengikutinya. Padahal, ia sedang berada di dalam markasnya – yang seharusnya tidak ada yang akan menyerangnya.
Estelle menoleh ke belakang. Mobil yang sebelumnya mengikutinya itu juga berhenti. Beberapa saat kemudian, pintu mobil itu dibuka. Muncul seorang pria berpakaian jas rapi. Estelle yang menyadari siapa orang itu pun ikut keluar dari mobilnya.
“Tuan Robert,” sapa Estelle sambil menunduk.
Pria itu bernama Robert Whitaker. Ia adalah bos dari White Mafia.
“Saya kira, Dan adalah pengemudi yang buruk. Ternyata itu kamu, 07,” kata Tuan Robert. “Kenapa kau mengendarai mobil milik Dan?”
“Tuan Dan memberikannya kepada saya.”
“Ah, saya sedikit kecewa. Saya sengaja memberikan mobil ini kepadanya. Siapa yang sangka jika ia malah memberinya kepada anak buahnya.”
“Jangan salah paham, Tuan Robert. Saya yang meminta mobil kepada Tuan Dan. Sehingga ia memberikan saya mobil ini,” jelas Estelle.
Tuan Robert tertawa. “Senang melihat kamu sudah dewasa seperti ini, Elle. Saya masih ingat jelas bagaimana penampilanmu saat masih kecil.”
Estelle mendongakkan kepalanya dan menatap bosnya itu. “Saya juga masih ingat bagaimana Tuan melatih saya.”
“Bagaimana mobilnya?” tanya Tuan Robert. “Kacanya sudah bulletproof. Kau tidak perlu khawatir.”
“Terima kasih, Tuan Robert.”
“Kau mau membawa mobilnya ke rumahmu?” tanya Tuan Robert.
“Ya.”
“Apa kamu tidak mau tinggal di markas? Masih ada beberapa kamar yang kosong.”
“Tidak, Tuan. Saya tidak ingin membawa bahaya ke White Mafia. Lebih baik, saya menghadapinya sendiri.”
Estelle sudah berpikir panjang tentang di mana dia akan tinggal. Jika Chester berhasil mengikutinya hingga markas, maka White Mafia akan ikut diserang. Itu alasan Estelle tidak ingin tinggal di markas. Ia tidak ingin membuat mafianya terlibat.
“Ah, soal pria dengan penutup mata itu, ya?” tanya Tuan Robert.
“Iya, Tuan,” jawab Estelle. “Tuan, saya sudah menemukan namanya.“
“Nama? Nama siapa?”
“Nama pria dengan penutup mata itu,” jawab Estelle. “Namanya Chester. Apa Tuan kenal –“
“Maaf, Elle. Saya harus pergi sekarang. Hati-hati di jalan,” potong Tuan Robert lalu kembali masuk ke mobilnya.
“Baik, Tuan Robert.” Estelle menunduk.
Estelle menatap kepergian mobil Tuan Robert. Dalam hatinya, ia terus bertanya-tanya mengapa Tuan Robert tiba-tiba bergegas pergi. Padahal, dari nada bicaranya sejak mengajak Estelle bicara, ia tidak terdengar terburu-buru.