Selxi berusaha masuk ke kamarnya sehening mungkin, tapi hasilnya nihil.
Anna, Aida, dan Naomi ternyata masih terjaga karena menunggu Selxi kembali.
"Lama juga ternyata, kukira dia tidak akan kembali ke kamar ini lagi," ucap Anna dengan mata mengantuknya, ia berusaha tetap terjaga sambil membaca buku.
"Tuh Aida, nggak mungkin namanya tiba-tiba jadi D'VABERS karena ketambahan Selxi." Naomi berceloteh sambil sibuk mengepang rambut Aida.
"Ya kan siapa yang tahu," balas Aida tak mau kalah.
Selxi langsung berjalan masuk ke kamar mandi tanpa menjawab celotehan mereka.
Ia sengaja menghabiskan waktu hingga setengah jam hanya untuk mandi dan mendinginkan kepala serta bersiap untuk menjawab pertanyaan aneh teman-temannya.
Terlalu banyak informasi yang mengagetkan yang ia dapatkan hari ini dan ia butuh waktu untuk menyusunnya satu per satu.
Di bawah tanah tadi, Selxi memang akhirnya bercerita, tapi tidak semuanya.
Ia menyebutkan nama kerajaannya, menyebutkan Violea Kingdom, menyebutkan bahwa istananya sudah diambil alih, dan menyebutkan bahwa ia dikirim keluar untuk mencari bantuan.
Ia tidak menyebutkan sihir Frosset. Ia juga tidak menyebutkan bahwa seluruh penduduk Falennor Kingdom sekarang sedang berada di dalam sebuah liontin kecil yang tergantung di lehernya.
Bukan karena Selxi menganggap mereka pembohong.
Justru sebaliknya. Karena semua yang mereka tunjukkan malam ini terlalu masuk akal, terlalu rapi, dan terlalu cocok dengan apa yang sedang dicarinya.
Ayahnya pernah mengatakan satu hal saat Selxi masih sangat kecil dan hal itu tidak pernah hilang dari kepalanya. Semakin cocok sesuatu dengan yang kamu inginkan, semakin lama kamu harus memeriksanya.
Selxi mematikan keran dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Periksa dulu," gumamnya pelan.
Saat Selxi keluar dari kamar mandi, ketiga temannya masih terjaga dan ketiganya duduk menghadap ke arah pintu kamar mandi seperti tiga hakim.
"Setengah jam," ucap Anna sambil melirik jam.
"Empat puluh menit malah," koreksi Naomi.
Selxi berjalan santai ke kasurnya lalu duduk di pinggir sambil mengeringkan rambutnya.
"Jadi?" tanya Aida yang kepangannya sudah selesai dibuat Naomi.
"Jadi apa?"
"Ya jadi kamu dibawa ke mana aja sama D'VABER sampai jam segini!" seru Anna dengan gemas.
Selxi berpikir sebentar sebelum menjawab, "Ruangan mereka."
"Terus?"
"Terus mereka mengerjakan laporan."
Anna, Aida, dan Naomi diam beberapa detik.
"Sampai jam tiga lewat?" tanya Naomi dengan wajah tidak percaya.
"Laporannya banyak," jawab Selxi dengan wajah datar.
Aida menjatuhkan badannya ke kasur sambil mengerang. Naomi tertawa kecil, sedangkan Anna menatap Selxi cukup lama.
"Ruangannya bagus nggak?" tanya Anna akhirnya, mengalah karena tahu ia tidak akan mendapat jawaban lain.
"Bagus. Rapi. Tidak ada yang menarik selain layar," jawab Selxi.
"Yah, nggak seru," gumam Naomi sambil menarik selimutnya.
"Eh, tapi seriusan deh." Aida bangkit lagi dari kasurnya. "Dean tuh emang gitu ke semua orang, atau cuma ke kamu?"
"Mana aku tahu," jawab Selxi.
"Kan kamu yang tiap hari didatengin."
"Justru karena itu aku nggak punya pembandingnya," balas Selxi dengan santai.
Anna tertawa kecil sampai harus menutup mulutnya sendiri supaya tidak mengganggu kamar sebelah.
"Udah, tidur. Besok pengumumannya pagi," ucap Anna sambil mematikan lampu.
Satu per satu mereka akhirnya tidur, karena besok pagi masih ada pengumuman babak selanjutnya yang harus mereka lihat.
Selxi berbaring, tapi matanya tetap terbuka.
Kata yang terus berputar di kepalanya sejak keluar dari ruang bawah tanah tadi hanya satu.
Korban.
Selama sepuluh tahun, itulah kata yang selalu dipakai Falennor Kingdom untuk menyebut anak-anak yang dibawa pulang Olyver. Selxi pun memakainya tanpa pernah berpikir dua kali.
Tapi malam ini ia melihat sendiri bagaimana enam orang itu berdiri di depan dinding berisi ratusan nama, membicarakan nomor, jalur pengangkutan, dan pola waktu, dengan nada yang sama seperti saat mereka membicarakan jadwal turnamen.
Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat seperti sedang mengasihani dirinya sendiri.
Mereka tidak menunggu ada yang menolong. Mereka membuat daftarnya sendiri, mencari sendiri, dan menandai satu per satu nama yang berhasil ditemukan.
Selxi memiringkan badannya dan menatap langit-langit kamar yang gelap.
Kalau begitu, apa yang sedang kulakukan? batinnya.
Ia membawa ribuan orang di dalam sebuah liontin dan sampai sekarang yang dilakukannya hanyalah mengikuti turnamen, menghindari keramaian, dan bersembunyi di balik topi serta kacamata bolong.
Semua orang di dalam liontin itu juga korban, dan mereka sedang menunggu satu-satunya orang yang bisa membuka liontin itu.
Selxi memegang liontin di lehernya dan menggenggamnya cukup lama.
Dari semua hal yang dilihatnya malam ini, yang paling mengganggu Selxi justru bukan dinding nama atau peta bertitik itu.
Yang paling mengganggunya adalah kenyataan bahwa selama sepuluh tahun, enam orang itu mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakan oleh kerajaan-kerajaan besar, dan mereka mengerjakannya dari sebuah ruangan di bawah kolam kering.
Delapan kerajaan menolak surat ayahnya dulu. Selxi tidak tahu apakah sekarang jawabannya akan berbeda.
Kalau memang tidak berbeda, maka ia tidak boleh menghabiskan waktu untuk mengetuk pintu yang sama.
Selxi mulai menyusun urutannya di kepala. Pertama, memastikan sendiri kebenaran titik yang ada di peta itu. Kedua, memastikan siapa yang sebenarnya berada di balik Violea Kingdom. Ketiga, baru memutuskan apakah keenam orang itu layak dijadikan sekutu atau tidak.
Ia tidak boleh terbalik urutannya. Sekali salah memilih sekutu, yang hilang bukan hanya dirinya.
Setelah beberapa saat, ia bangun dan berjalan pelan ke jendela, berusaha tidak membangunkan siapa pun.
Langit di luar mulai berubah warna. Sebentar lagi pagi.
Saat memasukkan tangan ke saku mantel hitam yang tadi dipakainya, jari Selxi menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Selembar kertas kecil, terlipat empat.
Selxi membukanya perlahan.
Di dalamnya ada tujuh baris nama yang ditulis tangan dengan rapi dan kecil. Semuanya nama lama, tanpa satu pun nama baru di sebelahnya.
Di bagian bawah kertas ada satu kalimat pendek.
Yang belum ditemukan. Kalau kamu memang mau memeriksa sendiri, mulai dari sini.
Tidak ada nama pengirim, tapi Selxi tahu persis siapa yang menuliskannya. Ia sempat melihat tulisan tangan Brenda saat menyalin dokumen di ruangan mereka.
Selxi membaca ketujuh nama itu satu per satu, pelan, dari atas ke bawah.
Sampai matanya berhenti di baris kelima.
Ia membacanya sekali lagi, lalu sekali lagi, memastikan bahwa ia tidak sedang salah lihat karena mengantuk.
Selxi tidak mungkin salah. Ia menghabiskan hampir setengah jam membaca daftar peserta turnamen satu per satu beserta detailnya, dan ingatannya tidak pernah meleset untuk hal seperti itu.
Nama di baris kelima itu ada di daftar peserta turnamen Green Academy.